Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Raja Baru Dunia Bawah
Malam setelah pertemuan dunia bawah itu seharusnya menjadi malam yang tenang.
Setidaknya menurut sebagian besar orang.
Valdarez berhasil mempertahankan wibawanya.
Tidak ada penghinaan terbuka.
Tidak ada tantangan langsung.
Tidak ada organisasi yang berani menyatakan perang di hadapan semua pemimpin yang hadir.
Secara teknis...
Malam itu adalah kemenangan.
Namun Kael justru tidak bisa tidur.
Karena pengalaman mengajarkannya satu hal.
Musuh yang tersenyum di depanmu sering kali lebih berbahaya daripada musuh yang mengangkat senjata.
Pukul dua dini hari.
Lampu ruang kerja masih menyala.
Kael sedang memeriksa laporan keamanan ketika Ravian masuk tanpa mengetuk.
Wajahnya terlihat serius.
Sangat serius.
Kael langsung tahu ada masalah.
"Apa yang terjadi?"
Ravian melempar sebuah map ke atas meja.
"Kita kehilangan dua orang."
Kael mengangkat kepala.
"Kapan?"
"Satu jam lalu."
Ruangan langsung hening.
Kael membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat foto dua anggota lapangan Valdarez.
Keduanya ditemukan tewas di distrik timur.
Tidak ada tanda penyiksaan.
Tidak ada perlawanan.
Hanya satu luka tembak di kepala.
Bersih.
Profesional.
"Mereka dibungkam."
gumam Kael.
Ravian hanya mengangguk saja.
Dan itu berarti seseorang sedang bergerak.
Seseorang yang tidak ingin informasi tertentu sampai kepada Valdarez.
Sementara itu.
Di kamarnya.
Arda masih terjaga.
Bukan karena laporan.
Ia bahkan belum mengetahui apa yang terjadi.
Pikirannya masih tertuju pada pertemuan malam tadi.
Dan terutama...
Pada reaksi orang-orang yang hadir.
Untuk pertama kalinya sejak Leon meninggal.
Mereka tidak melihatnya sebagai anak kecil.
Mereka melihatnya sebagai penerus.
Sebagai Valdarez.
Namun anehnya...
Perasaan itu tidak memberinya kebanggaan.
Justru sebaliknya.
Ia merasa semakin berat.
Karena semakin besar pengakuan yang ia terima...
Semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.
Ia teringat surat dari Leon.
"Jangan kehilangan dirimu sendiri."
Kalimat itu kembali terngiang di dalam pikiran arda.
Dan entah kenapa...
Semakin hari semakin sulit untuk dilakukan.
Pagi datang lebih cepat dari yang diharapkan.
Rumah persembunyian kembali sibuk.
Laporan kematian dua anggota lapangan langsung menjadi topik utama.
Arda hadir dalam rapat.
Duduk di tempat yang sama seperti kemarin.
Dan kali ini tidak ada seorang pun yang mempertanyakan keberadaannya.
Kael menunjukkan beberapa foto.
"Eksekusi profesional."ucapnya.
"Bukan pekerjaan kelompok jalanan."
Darius memperhatikan foto-foto itu.
Kemudian menunjuk satu bagian.
"Tangan kanan."
Semua orang melihat lebih dekat.
Pada salah satu korban terdapat bekas luka kecil di pergelangan tangan.
Luka yang terlihat tidak penting.
Namun Darius mengenalinya.
Sangat mengenalinya.
"Itu tanda interogasi."ucapnya.
Ravian langsung mengernyit.
"Maksudmu mereka ditangkap dulu?"
Darius mengangguk.
"Lalu dibunuh setelah informasi diambil."
Ruangan kembali sunyi.
Karena jika itu benar...
Maka musuh sedang mencari sesuatu.
Dan sesuatu itu cukup penting hingga mereka rela membunuh untuk mendapatkannya.
"Apa yang mereka cari?"
tanya Elena.
Tidak ada yang bisa menjawab.
Namun Arda memiliki firasat.
Dan firasat itu membuat perutnya terasa tidak nyaman.
Orang kelima.
Semuanya selalu kembali ke sana.
Siang hari.
Sebuah kabar lain datang.
Dan kali ini jauh lebih menarik.
Beberapa kelompok kecil di distrik utara mulai meminta perlindungan Valdarez.
Secara sukarela.
Tanpa tekanan.
Tanpa ancaman.
Mereka ingin bergabung.
Ravian membaca laporan tersebut dua kali.
Kemudian tersenyum kecil.
"Ini baru menarik."
Kael mengangguk pelan.
Karena mereka memahami alasan di baliknya.
Pertemuan dunia bawah telah mengubah persepsi banyak orang.
Kelompok-kelompok kecil yang sebelumnya ragu kini mulai melihat sesuatu.
Mereka melihat bahwa Valdarez belum jatuh.
Dan yang lebih penting...
Mereka melihat bahwa pewaris Valdarez benar-benar ada.
Sore itu.
Arda ikut menemui perwakilan salah satu kelompok tersebut.
Pertemuan berlangsung di sebuah gudang tua.
Tempat netral.
Tidak terlalu besar.
Namun cukup aman.
Saat Arda masuk.
Empat orang sudah menunggu di dalam.
Pemimpin mereka bernama Riko.
Pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan wajah penuh bekas luka.
Tatapannya tajam.
Namun berbeda dari para pemimpin lain.
Ia tidak memandang Arda dengan meremehkan.
Ia justru terlihat sedang menilai.
Dengan serius.
"Kau Leon muda."
ucap Riko tiba-tiba.
Arda sedikit terkejut.
"Aku bukan Leon."
Riko tertawa kecil.
"Benar."
"Tapi cara kau melihat orang..."
"...mirip sekali."
Percakapan berlangsung hampir satu jam.
Membahas kerja sama.
Wilayah.
Perlindungan.
Dan ketika pertemuan berakhir...
Riko berdiri.
Kemudian mengulurkan tangan.
"Mulai hari ini."ucapnya.
"Kami bersama Valdarez."
Arda menjabat tangan itu.
Dan tanpa disadari...
Ia baru saja mendapatkan sekutu pertamanya.
Bukan karena nama Leon.
Bukan karena Kael.
Bukan karena Ravian.
Melainkan karena dirinya sendiri.
Malam hari.
Kael berdiri di balkon rumah persembunyian.
Dari sana ia bisa melihat sebagian kota.
Lampu-lampu menyala di kejauhan.
Kota yang sama.
Namun situasinya berbeda.
Perang sedang mengubah segalanya.
Langkah kaki terdengar dari belakang.
Arda muncul.
Membawa dua cangkir kopi.
Satu diberikan kepada Kael.
Pria itu menerimanya tanpa bicara.
Beberapa saat mereka hanya berdiri memandang kota.
"Aku bertemu Riko."ucap Arda.
"Aku tahu."
"Dia bergabung."
Kael mengangguk.
Kemudian tersenyum tipis.
"Kerja bagus."
Arda tidak mengatakan apa-apa.
Namun pujian sederhana itu terasa berbeda.
Karena datang dari Kael.
Pria yang hampir tidak pernah memuji siapa pun.
"Kau tahu apa yang membuatku khawatir?"
tanya Kael tiba-tiba.
Arda menoleh.
"Apa?"
Kael terdiam beberapa detik.
Seolah sedang memilih kata-kata.
Kemudian akhirnya menjawab.
"Kau belajar terlalu cepat."
Arda mengernyit.
"Itu buruk?"
Kael menatap kota.
"Kadang-kadang."
Karena ia pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.
Pada Leon.
Dan pada dirinya sendiri.
Orang-orang yang tumbuh terlalu cepat biasanya kehilangan sesuatu.
Sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.
Namun sebelum percakapan berlanjut...
Telepon Kael berdering.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Kael langsung mengangkatnya.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
Semua ketenangan menghilang.
Dalam sekejap.
"Apa?"ucapnya tajam.
Arda langsung waspada.
Karena ia belum pernah melihat ekspresi itu sejak lama.
Kael mendengarkan beberapa detik lagi.
Lalu menutup telepon.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Namun justru itulah yang membuat situasi terasa lebih mengerikan.
"Ada apa?"tanya Arda.
Kael menatapnya.
Dan jawaban yang keluar membuat malam itu berubah total.
"Kasino distrik barat diserang."
Jantung Arda langsung berdetak lebih cepat.
Kasino itu bukan tempat biasa.
Kasino distrik barat adalah salah satu sumber pendapatan terbesar Valdarez.
Dan hanya sedikit orang yang cukup gila untuk menyentuhnya.
"Siapa pelakunya?"tanya Arda.
Kael menggeleng.
"Belum tahu."
"Tapi mereka meninggalkan pesan."
Keheningan menyelimuti balkon.
Angin malam terasa jauh lebih dingin.
"Apa pesannya?"
Tatapan Kael berubah keras.
Sangat keras.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir...
Arda melihat kemarahan murni di mata pria itu.
"Mereka menulis satu nama di dinding."
Arda merasakan firasat buruk.
Sangat buruk.
Kemudian Kael mengucapkan nama itu.
Nama yang selama ini hanya muncul sebagai bayangan.
Nama yang mungkin menjadi awal dari semua kekacauan.
"Victor."
Dan untuk pertama kalinya...
Mereka akhirnya memiliki nama.
Musuh yang sesungguhnya mulai menunjukkan dirinya.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪