NovelToon NovelToon
GILA! IDOLA SMA-KU JADI ATASAN YANG GENIT BANGET

GILA! IDOLA SMA-KU JADI ATASAN YANG GENIT BANGET

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Idola sekolah
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Zea pernah diam-diam mencintai Bara, sang kakak kelas di SMA . Namun sebuah kejadian memaksanya pergi, meninggalkan perasaan itu tanpa sempat terungkap.

Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda yaitu Bara sebagai atasan dan Zea sebagai bawahan.

Perasaan lama yang Zea kira telah hilang, ternyata masih tersimpan rapi. Tanpa ia sadari, Bara pun menyimpan hal yang sama selama ini.

Namun waktu telah mengubah banyak hal. Rahasia masa lalu, jarak yang dulu tercipta, dan keadaan sekarang menjadi penghalang yang tak mudah dilewati.

Kini, keduanya harus memilih bertahan dalam diam, atau akhirnya memperjuangkan cinta yang sempat tertinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makanan rasa cinta

Suasana di depan pintu rumah masih terasa hangat, meski angin malam berhembus pelan.

Zea menggenggam erat kantong berisi makanan hangat itu, hingga tiba-tiba sebuah pertanyaan yang lama mengganjal di hatinya kembali muncul. Ia pun memberanikan diri bersuara, tepat sebelum Bara melangkah masuk ke dalam mobil.

"Tuan... Tunggu sebentar, ada yang mau saya tanya." seru Zea lantang namun lembut, memecah keheningan malam yang sunyi.

Bara yang tangannya sudah menyentuh gagang pintu mobil, langsung berhenti dan berbalik perlahan. Ia menatap Zea dengan tatapan bertanya yang lembut.

"Kenapa, Sayang? Masih kurang makanannya? Atau ada yang tertinggal?" ujar Bara lembut, suaranya terdengar penuh perhatian.

Zea menggelengkan kepalanya cepat. Ia mengeratkan pelukan pada kantong makanan itu ke dadanya, lalu menatap lurus ke manik mata Bara dengan wajah serius yang bercampur rasa penasaran tinggi.

"Tuan... Ingat nggak sama Nayla? Kakak kelas yang dulu pernah menyatakan perasaannya langsung ke Tuan waktu SMA, tapi Tuan tolak mentah-mentah saat itu?" tanya Zea pelan, namun nadanya terdengar menuntut jawaban.

Bara mengernyitkan dahi sebentar, seolah sedang menggali ingatan lama, lalu mengangguk santai sambil tersenyum tipis.

"Oh Nayla... Iya saya ingat. Memangnya ada apa dengan dia?" jawab Bara dengan nada datar, seolah nama itu hanyalah kenangan tak berarti.

Zea mendecakkan lidah kesal kecil, lalu melontarkan pertanyaan utama yang sudah lama menjadi tanda tanya besar di hatinya.

"Itu lah masalahnya! Dia kan kakak kelas yang paling populer, cantik, berani, dan dia yang datang mengungkapkan rasa sukanya langsung ke Tuan. Tapi Tuan tolak seenaknya begitu saja. Terus... gimana bisa Tuan ingat hal-hal detail banget soal saya? Mulai dari makanan kesukaan, kebiasaan sehari-hari, sampai hal-hal kecil yang bahkan saya lakukan diam-diam biar nggak ketahuan orang lain?!" seru Zea, suaranya sedikit meninggi karena penasaran yang memuncak.

Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu melanjutkan dengan nada tak percaya.

"Saya kan cuma adik kelas biasa, Zea yang pendiam, yang jarang bicara sama orang asing. Sejak kapan Tuan tahu nama saya dan semua hal soal diri saya? Apa cuma karena waktu itu Tuan jadi Ketua OSIS dan harus mengurus acara MOS dulu ya?" lanjut Zea, matanya menatap tajam mencari kebenaran.

Mendengar pertanyaan itu, sudut bibir Bara perlahan terangkat membentuk senyum yang sangat lembut, dalam, dan penuh makna mendalam. Ia sama sekali tidak buru-buru masuk ke mobil, malah berjalan kembali mendekat ke arah Zea hingga jarak mereka sangat dekat.

Pria itu menatap mata Zea dalam-dalam di bawah remang cahaya lampu jalan, seolah ingin menelusuri setiap sudut wajah wanita itu.

"Benar banget, Sayang... Justru semuanya bermula tepat dari waktu Masa Orientasi Siswa dulu. Waktu itu saya memang jadi Ketua OSIS, harus berdiri di depan dan memberi arahan ke kalian semua." ujar Bara pelan namun tegas, nadanya penuh kenangan manis.

Bara tersenyum lebih lebar, seolah sedang melihat kejadian masa lalu berputar di depan matanya.

"Waktu itu kalian semua baru masuk sekolah, wajah-wajah masih polos, canggung, dan terlihat takut semua. Tapi di antara ratusan murid baru itu... ada satu cewek, yaitu kamu, Zea. Kamu berdiri di barisan paling belakang, berusaha sembunyi, tapi matamu... matamu menatap saya tanpa henti. Tak berkedip sedikit pun." lanjut Bara bercerita dengan nada lembut dan gemas.

DEG!

Rasa malu seketika menyelimuti sekujur tubuh Zea. Ia langsung menutup separuh wajahnya dengan tangan, tak percaya hal itu diketahui.

"Ya ampun... Ternyata ketahuan ya?! Padahal saya pikir saya sudah sembunyi dan mengamati dengan baik-baik biar nggak ada yang sadar!" seru Zea dengan suara tertahan, pipinya memerah merona.

Bara terkekeh pelan melihat reaksi polos itu, lalu melangkah selangkah lebih dekat lagi.

"Gimana mungkin nggak ketahuan? Tatapan kamu itu beda banget dibanding yang lain. Bener-bener menatap dengan penuh perhatian, penuh kekaguman, dan sangat tulus. Detik itu juga, hati saya rasanya seperti tersentuh keras. Saya jadi penasaran setengah mati sama cewek yang berani menatap tajam tapi ternyata pemalu itu." ujar Bara, suaranya bergetar halus karena emosi.

Ia mengusap pelan pipi Zea dengan punggung tangannya, sentuhannya begitu lembut dan penuh kasih sayang.

"Maka dari itu, begitu acara MOS selesai, saya langsung cari tahu siapa nama kamu, kelas berapa, apa hobi kamu, sampai hal-hal kecil yang kamu suka. Sejak hari itu, saya perhatikan kamu terus diam-diam. Semakin sering saya lihat, semakin saya hafal luar dalam segala hal tentang kamu." lanjut Bara dengan nada yang membuat hati Zea bergetar.

Ia menatap dalam ke manik mata Zea yang mulai berkaca-kaca terharu.

"Saya tahu kamu suka makan ayam geprek dengan sambal ekstra pedas. Saya tahu kamu suka duduk di pojok kantin yang paling sepi. Saya tahu kamu sering lewat depan kelas saya cuma buat sekadar mencuri pandang sebentar. Dan saya tahu... kamu itu cewek paling manis, paling tulus, dan paling berharga yang pernah saya temui seumur hidup saya." ujar Bara tegas dan penuh keyakinan.

Ia berhenti sejenak, lalu mengucapkan kalimat yang paling telak.

"Jelas dong saya ingat semua hal tentang kamu. Sejak hari MOS itu juga... mata saya udah cuma bisa nyari keberadaan kamu di mana pun saya berada. Nayla atau gadis lain sepopuler, secantik, atau seberani apa pun, tetap nggak akan pernah bisa menggeser tempat kamu yang paling utama di hati saya."

JLEB!

Air mata bahagia hampir menetes dari sudut mata Zea. Rasanya semua perjuangan diam-diamnya dulu, semua rasa sukanya yang dipendam bertahun-tahun, kini terbayar lunas sepenuhnya. Ternyata sejak pertama kali mereka bertemu, pria itu sudah sadar akan keberadaannya.

"Ya ampun... Ternyata udah dari dulu banget ya... Saya sama sekali nggak nyangka, tatapan saya yang berlebihan dan saya kira rahasia itu, malah bikin Tuan sadar dan memperhatikan saya balik..." gumam Zea pelan, suaranya bergetar menahan haru.

Bara tersenyum lebar, lalu mencubit pipi Zea dengan penuh rasa gemas dan kasih.

"Iya dong... Berkat kamu yang menatap saya terus-terusan waktu MOS dulu, sekarang nasib kita jadi begini kan? Waktunya pas banget, tepat di saat ini. Kamu ada di depan mata saya, kamu jadi milik saya, dan sekarang... nggak bakal bisa lari ke mana-mana lagi, Sayang. Sudah ya, sekarang masuk sana, istirahat dan makanlah yang banyak." ujar Bara dengan nada sangat manis dan penuh kepemilikan.

"Hah!! Tuan bilang apa sih?! Saya sama Tuan kan sampai sekarang belum ada hubungan resmi apa-apa, jangan asal ngomong begitu deh! Gak lucu tau bercandanya!" sangkal Zea cepat, berusaha menutupi rasa senang yang meluap di dadanya.

"Siapa yang sedang bercanda, Zea? Apakah kamu tidak melihat keseriusan yang terpancar dari mata saya? Semua yang saya ucapkan itu kenyataan, tapi kok malah cuma dianggap bercanda ya?" ujar Bara pelan sambil tetap tersenyum lembut, namun sorot matanya begitu tulus dan mendalam.

Senyuman itu... senyuman yang begitu tulus dan memikat, membuat Zea rasanya tak sanggup menahan diri lebih lama lagi. Jika ia diam lebih lama, ia yakin pasti akan pingsan karena kebahagiaan dan rasa malu yang berlebihan tepat di depan pintu rumahnya.

"Saya... saya masuk aja dulu ya. Terima kasih banyak, Tuan. Dadah... selamat jalan!" seru Zea terbata-bata, buru-buru berpamitan dan berbalik badan cepat, tak berani menatap lebih lama lagi.

1
paijo londo
aduuuh zea kamu bikin bara gregetan campur penasaran tuh🤦🤦🤭🤭🤭
paijo londo
lucu ya kalo malu malah g mau ketemu🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!