"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.
Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?
Atau ia justru ikut terjerumus juga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMBILAN BELAS
Suara Adel serak dan tertahan.
Bastian perlahan mendekat, langkahnya tenang, wajahnya tersenyum lembut... namun bagi Adelia, senyum itu terasa seperti kabut yang menyembunyikan sesuatu.
"Kenapa kamu kaget?" Suaranya stabil, seakan tidak ada yang janggal.
Adelia memegang kelinci itu lebih erat, seolah itu bisa melindunginya. "Ma- maksud Papa... apa? Surat ini untuk apa?"
Bastian menatap kertas itu di tanah lalu menatap Adelia lagi.
"Oh itu..." katanya santai. "Cuma pesan kecil. Bentuk kasih sayang mertua pada menantu yang baik."
Adelia menelan ludah. "Papa... nggak perlu melakukan hal seperti itu. Saya... saya jadi salah paham."
Bastian berhenti satu meter di depannya. Cukup dekat untuk membuat Adelia mundur setengah langkah.
"Adelia..." Ia bicara dengan nada rendah. "Papa cuma ingin menunjukkan perhatian ke kamu. Kamu kan sendirian sementara Lukas pergi. Papa cuma ingin kamu merasa gak sendiri."
Adelia memaksa tersenyum, tapi bibirnya bergetar. "I
-Iya. Terima kasih, Pa... tapi saya harus masuk dulu. Saya mau minum."
Ia membungkuk cepat mengambil kertas itu, kemudian bergegas masuk.
Bastian tidak menahannya. Namun, tatapannya mengikuti setiap langkah wanita itu, sampai Adelia menghilang ke dalam rumah.
Di dalam ruang makan, Adelia meletakkan kelinci di lantai dan berjalan menuju dispenser untuk mengambil minum.
Tangannya masih bergetar saat ia mengambil gelas.
"Tenang... tenang... aku kan cuma mau ambil minum.
Biasa saja, jangan tunjukkan kalau kamu panik!"batinnya.
Namun, jari-jarinya terlalu labil. Gelas itu tergelincir dan lalu-
PRANG!!
Suara pecahannya menggema di lantai. Adelia terlonjak dan langsung berjongkok untuk membersihkannya.
"Duh, ya ampun!" lirihnya.
Belum sempat ia menyentuh pecahan pertama-
Seseorang menangkap pergelangan tangannya Kuat.
"Del, jangan!"
Adelia mendongak.
Bastian berdiri tepat di depan wajahnya.
Wajahnya dekat-terlalu dekat. Tangan besar itu memegang tangan Adelia, mencegahnya menyentuh pecahan kaca.
"Jangan! Kamu bisa terluka," ucap Bastian pelan namun tegas.
Adelia berusaha menarik tangannya, tapi genggaman itu tidak langsung dilepas.
"A-Pa... saya bisa bersihin ini sendiri."
"Kamu gemetar," ucap Bastian tanpa melepas tatapannya. "Papa lihat dari tadi."
Adelia tersentak, merasa napasnya tercekat. Ia mencoba melepaskan tangan pelan-pelan.
"Pa... lepas dulu! Saya takut nginjek pecahannya."
Bastian akhirnya melepaskannya.
Ia lalu berjongkok, membersihkan pecahan kaca satu per satu. Diam, fokus. Namun, atmosfernya membuat Adelia ingin kabur sejauh mungkin.
Setelah selesai, Bastian membuang pecahan itu ke tempat sampah lalu berdiri dan menatap Adelia.
"Kamu harus hati-hati, Del." Ia mendekat setengah langkah. "Lukas titip kamu sama Papa. Papa nggak mau kamu luka... walau sedikit pun."
Adelia menelan udara getir.
"Saya ke kamar dulu," ucapnya cepat.
Bastian tidak menghalangi.
Namun saat Adelia berbalik, ia mendengar suara Bastian memanggil pelan-suara yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Del.."
Adelia berhenti.
"Papa sayang sama kamu," ucapnya lirih.
Adelia tidak bisa bicara.
Ia hanya berjalan cepat menuju tangga sambil menahan diri agar tidak terlihat berlari.
Di luar rumah, kelinci kecil itu masih berada di taman. Kertas kecil masih tergeletak di atas tanah.
Dan dari jendela, Bastian melihat semuanya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Adelia memutuskan mandi untuk menenangkan dirinya karena pikirannya masih berantakan setelah kejadian pagi tadi bersama Bastian. Ia merasa dadanya sesak dan tubuhnya masih menyimpan rasa takut yang sulit dijelaskan.
Setelah masuk ke kamar mandi, ia menggantungkan pakaian yang ia lepas di rak kecil, lalu menyalakan shower. Air hangat mengalir dari atas, membuat kulitnya perlahan rileks. Ia menutup mata, menarik napas dalam-dalam, mencoba membuang semua bayangan buruk tentang Bastian, namun entah kenapa-sosok pria itu justru seperti muncul di kepalanya.
Ia langsung membuka mata, memegang dinding dan menggeleng keras untuk mengusir bayangan itu.
"Hapus, Del... jangan pikirin dia!" gumamnya sambil kembali membiarkan air mengalir ke tubuhnya.
Ia mandi agak lama, menenangkan diri semampunya, hingga tubuh dan pikirannya sedikit lebih teratur.
Setelah selesai, Adelia keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Ia berjalan cepat menuju meja rias, duduk, dan mengambil krim wajah sambil memandangi refleksinya di cermin. Rambutnya masih basah, pipinya sedikit memerah karena air hangat.
Ia mencoba fokus pada dirinya sendiri, mengatur napas perlahan. "Tenang, Del... kamu aman di kamar ini. Nggak ada siapa-siapa di sini," ucapnya pada bayangannya sendiri. Ia mengambil sisir dan mulai merapikan rambutnya pelan-pelan.
Namun tiba-tiba, tanpa suara ketukan, pintu kamarnya terbuka begitu saja.
"Del, Papa mau kasih i-"