NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Perangkap Cahaya dan Suara Sirene

​Layar monitor yang kami sadap dari jarak puluhan kilometer itu menampilkan sebuah pertunjukan horor psikologis yang sempurna.

​Di dalam ruang kerja lantai eksekutif yang tadinya mewah dan nyaman, Haris kini melompat dari kursi kebesaranku seolah kursi itu baru saja dialiri listrik tegangan tinggi. Gelas kristal berisi minuman keras di tangannya terlepas, pecah berkeping-keping di atas karpet mahal.

​Lampu di ruangannya mati total, menyisakan pendaran merah berkedip dari layar monitornya sendiri yang menerangi wajahnya yang kini sepucat kain kafan.

​Pesanku dan Bumi terpampang nyata di layarnya. Sebuah ancaman terbuka.

​Haris terlihat merogoh ponselnya dengan tangan bergetar hebat. Ia menempelkan benda itu ke telinganya, mulutnya bergerak-gerak panik, jelas sedang berusaha menghubungi Rendra yang koneksi video call-nya baru saja diputus sepihak oleh Bumi.

​"Dia panik," bisikku, mataku tak berkedip menatap layar. "Haris bukan pembunuh. Dia hanya birokrat korup yang rakus. Ancaman maut langsung seperti ini akan menghancurkan mentalnya."

​"Orang panik selalu membuat kesalahan," jawab Bumi dengan nada sedingin es. Tangannya bergerak lincah menekan kombinasi keyboard. "Aku akan menghapus jejak peretasan ini dan memutuskan koneksinya sekarang sebelum teknisi IT Rendra bisa melacak IP address kita."

​Layar di depan kami menjadi hitam, lalu kembali ke tampilan desktop normal.

​Bumi menutup laptop itu dengan bunyi klik yang tajam. Ia mengusap wajahnya, lalu menoleh ke arahku. Zirah ksatria itu kembali membalut tubuhnya.

​"Rendra tidak akan mundur," ucap Bumi, menatapku dengan keseriusan yang membuat napasku tertahan. "Dengan hilangnya uang delapan puluh miliar itu dari sistem, Rendra tahu dia kehabisan waktu untuk membeli diamnya para pemegang saham lain. Dia akan semakin nekat. Pesan tadi bukan hanya gertakan, Aruna. Aku sengaja memancing mereka untuk datang malam ini."

​Keningku berkerut. Jantungku berdebar kencang. "Memancing mereka? Bumi, kenapa kita harus mengambil risiko seberbahaya itu? Kita bisa memanggil Kombes Herman untuk berjaga di sini!"

​"Karena kita butuh bukti fisik untuk menyeret Rendra, bukan sekadar tuduhan," potong Bumi cepat. Ia meraih kedua tanganku, menggenggamnya dengan erat untuk menyalurkan ketenangan. "Kombes Herman tidak bisa bertindak tanpa bukti bahwa Rendra yang mengirim mereka. Jika kita membiarkan mereka datang dan masuk ke dalam perangkap kita, Garda bisa menangkap mereka hidup-hidup malam ini juga."

​Aku menelan ludah. "Tapi bagaimana jika kita kalah jumlah?"

​Bumi tersenyum, sebuah senyuman asimetris yang memancarkan arogansi seorang jenius yang tahu persis seberapa besar kapasitas otaknya.

​"Mereka pikir mereka akan menyerang sebuah rumah," gumam Bumi pelan. "Mereka tidak tahu bahwa mereka akan masuk ke dalam mesin."

​Tepat pukul sebelas malam, Safe House Kemang ini berubah wujud.

​Aku, Bumi, dan Garda berkumpul di ruang kontrol keamanan di lantai dua, yang letaknya tepat di sebelah panic room tempat Sifa dan Hajah Fatimah disembunyikan.

​Di hadapan kami, terdapat enam layar monitor besar yang menampilkan puluhan sudut CCTV dengan mode Night Vision (inframerah).

​Bumi duduk di kursi kendali utama. Sejak tiga jam yang lalu, ia telah mengambil alih seluruh Smart Home System (Sistem Rumah Pintar) dari properti ini. Rumah ini awalnya kubangun dengan fasilitas IoT (Internet of Things) mewah: lampu, kunci pintu otomatis, tirai baja, dan sistem penyiram taman yang bisa dikendalikan lewat aplikasi. Di tangan Bumi, fasilitas kemewahan itu diubah menjadi sistem pertahanan militer.

​"Nyonya, Tuan," suara Garda memecah keheningan yang mencekam. Mantan anggota pasukan khusus itu berdiri di sebelah Bumi dengan alat komunikasi menempel di telinganya. "Sensor perimeter luar baru saja terpicu. Ada dua mobil van hitam tanpa pelat nomor berhenti di ujung jalan. Sesuai prediksi Tuan Bumi, mereka datang."

​Napas ku terasa tercekat. Aku secara refleks memundurkan langkahku, namun Bumi segera mengulurkan tangan kirinya tanpa menoleh dari monitor, meraih tanganku dan menggenggamnya erat.

​"Tarik napas, Aruna. Kita yang memegang kendali," bisiknya menenangkan.

​Di layar monitor nomor tiga, kami bisa melihat enam siluet berpakaian serba hitam memanjat pagar beton belakang rumah dengan sangat profesional. Mereka tidak membawa senjata api bising, melainkan parang panjang, tongkat kejut listrik, dan pistol berperedam suara. Mereka adalah tim jagal.

​"Instruksikan tim luar untuk mundur dan bersembunyi. Biarkan mereka masuk ke halaman," perintah Bumi pada Garda.

​Garda mengangguk dan memberikan komando melalui earpiece-nya. "Tim Alpha, Beta. Tahan posisi. Biarkan target masuk ke Kill Zone."

​Keenam penyusup itu mendarat di atas rumput halaman belakang. Mereka bergerak mengendap-endap menuju pintu kaca geser yang menghubungkan taman dengan ruang tamu utama. Dua orang dari mereka mulai mengotak-atik panel kunci digital di pintu kaca tersebut.

​"Mereka menggunakan alat bypass elektronik," gumam Bumi, memperhatikan layar. Jari telunjuknya melayang di atas tombol Enter di keyboard-nya. "Tiga... dua... satu. Silakan masuk, Tuan-tuan."

​Bumi sengaja membuka kunci pintu itu dari jarak jauh.

​Di layar, keenam penyusup itu tampak saling memberi isyarat tangan, mengira mereka berhasil meretas pintu. Mereka meluncur masuk ke dalam ruang tamu raksasa di lantai satu yang gelap gulita. Mereka menyebar dengan cepat, formasi taktis yang sangat terlatih.

​Namun, begitu orang terakhir dari mereka melangkah melewati ambang pintu dan berada di tengah ruangan...

​Bumi menekan tombol Enter.

​BAM! BAM! BAM!

​Suara logam berbenturan terdengar menggema hingga ke lantai dua. Tirai baja penahan badai ( rolling door lapis baja) yang biasanya tersembunyi di langit-langit, tiba-tiba meluncur jatuh dengan kecepatan tinggi, menutup dan mengunci semua pintu kaca serta jendela ruang tamu.

​Keenam penyusup itu terkurung seketika di dalam kotak beton dan baja.

​Mereka tampak panik di layar CCTV, menodongkan senjata ke segala arah.

​"Nyalakan sistemnya," perintah Bumi dingin.

​Jari Bumi menari cepat.

​Tiba-tiba, lampu sorot LED bertenaga puluhan ribu lumen yang terpasang di ruang tamu menyala secara serentak. Tidak hanya menyala, lampu itu berkedip dengan efek strobe (kilatan cepat) yang sangat menyilaukan mata, dirancang khusus untuk merusak orientasi visual dan menyebabkan vertigo.

​Di layar, kami melihat para pembunuh bayaran itu menjerit tanpa suara, menutup mata mereka dengan tangan, terhuyung-huyung kehilangan keseimbangan.

​Namun Bumi belum selesai.

​Ia menggeser tuas volume di sistem audio rumah ( Home Theater ) hingga mencapai batas maksimal, lalu memutar sebuah file audio berfrekuensi sangat tinggi ( High-Frequency Sound ) yang langsung ditembakkan ke seluruh speaker di ruang tamu.

​Suara itu tidak terdengar oleh kami di ruang kontrol yang kedap, namun dari monitor, kami bisa melihat dampaknya yang mengerikan. Para penyusup itu menjatuhkan senjata mereka, berlutut di lantai sambil memegangi telinga mereka yang pasti terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Beberapa dari mereka bergulingan dalam kesakitan yang melumpuhkan.

​Tidak ada setetes darah pun yang tumpah, tidak ada baku tembak. Bumi melumpuhkan enam pembunuh bayaran profesional hanya dengan cahaya dan suara.

​"Garda," ucap Bumi tenang, melepaskan tangannya dari keyboard. "Bungkus mereka."

​Garda menatap Bumi dengan kilat kekaguman yang tak bisa disembunyikan. "Luar biasa. Tim Alpha, masuk sekarang. Gunakan kacamata taktis dan pelindung telinga. Ikat mereka semua."

​Dalam waktu kurang dari lima menit, tim Garda yang telah bersiap menyergap masuk ke ruang tamu yang masih menjadi neraka disko tersebut. Keenam penyusup yang sudah nyaris kehilangan kesadaran akibat disorientasi itu dilumpuhkan, diikat dengan kabel ties militer, dan ditutup kepalanya menggunakan karung.

​Bumi mematikan efek lampu dan suara berfrekuensi tinggi tersebut.

​Aku membuang napas yang sedari tadi tertahan di dadaku. Lututku terasa lemas, namun aku berdiri dengan bangga. Aku menatap pria yang duduk di kursi kendali itu.

​"Kamu jenius," bisikku takjub. "Kamu benar-benar jenius, Bumi."

​Bumi memutar kursinya, menatapku dengan senyum lega. Cambang halusnya dan rambutnya yang sedikit berantakan tidak mengurangi ketampanannya sedikit pun malam ini. "Sudah kubilang, Aruna. Kita bertarung dengan otak, bukan otot. Besok pagi, kita serahkan mereka ke Bareskrim bersama bukti transfer yang akan kita paksa keluar dari mulut mereka. Rendra tamat."

​Kami saling bertatapan, meresapi kemenangan pertama yang murni ini. Beban ketakutan yang menghantuiku perlahan menguap. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku merasa Rendra bisa dikalahkan.

​Namun, di dunia nyata, kebahagiaan sering kali adalah jeda sesaat sebelum badai yang sesungguhnya menghantam.

​Tepat saat Garda bersiap untuk menginterogasi para tahanan di lantai bawah, suara bising yang memekakkan telinga terdengar dari luar rumah.

​Bukan suara dari dalam, melainkan dari jalanan.

​Ngiung... Ngiung... Ngiung...

​Suara sirene. Dan jumlahnya bukan hanya satu. Setidaknya ada empat atau lima kendaraan berat yang melaju dengan kecepatan tinggi, mengoyak keheningan perumahan elite Kemang di tengah malam.

​Aku dan Bumi bergegas mendekati monitor yang menampilkan kamera gerbang depan.

​Napas ku terhenti sepenuhnya.

​Di luar gerbang baja setinggi tiga meter itu, berjejer empat mobil patroli polisi dengan lampu rotator merah-biru yang menyilaukan. Beberapa petugas berseragam lengkap dan bersenjata laras panjang melompat turun, mengambil posisi taktis di depan gerbang kami.

​Garda yang baru saja tiba di lantai bawah berbicara melalui interkom. "Nyonya Aruna, Tuan Bumi! Polisi ada di depan gerbang. Apakah Anda yang memanggil Kombes Herman?"

​"Tidak!" jawabku panik, merebut mikrofon interkom. "Bumi berencana menyerahkan tahanan itu besok pagi! Kombes Herman tidak tahu apa-apa soal ini!"

​Di layar monitor, seorang pria berpakaian preman dengan jaket kulit hitam—sepertinya seorang perwira reserse—berjalan ke depan gerbang, mengangkat sebuah megaphone.

​Suara beratnya menggema menembus dinding rumah.

​"PERHATIAN KEPADA PENGHUNI RUMAH! KAMI DARI DIREKTORAT TINDAK PIDANA EKONOMI DAN KHUSUS BARESKRIM POLRI! BUKA GERBANG INI SEKARANG JUGA!"

​Aku menoleh menatap Bumi. Wajah suamiku kini menegang. Otaknya yang brilian sedang berusaha keras memproses apa yang terjadi. Rendra tidak mungkin memanggil polisi saat orang sewaannya sedang menyusup! Itu sama saja bunuh diri!

​Lalu, suara dari megaphone itu kembali terdengar, dan setiap katanya adalah paku yang menancap lurus ke jantungku.

​"KAMI MEMBAWA SURAT PERINTAH PENANGKAPAN UNTUK SAUDARA BUMI ARKAN! ATAS TUDUHAN PERETASAN ILEGAL, PENIPUAN, DAN PENGGELAPAN DANA KORPORAT WIRATMADJA TECH SEBESAR DELAPAN PULUH MILIAR RUPIAH! BUKA GERBANG ATAU KAMI AKAN MENDOBRAK MASUK SECARA PAKSA!"

​Bumi terhuyung mundur satu langkah. Matanya membelalak tak percaya.

​Duniaku runtuh seketika.

​Transfer delapan puluh miliar.

Uang yang dipindahkan Bumi tiga jam yang lalu untuk menyelamatkan asetku.

​Rendra tidak panik saat uang itu hilang. Rendra justru memanfaatkan jejak digital perpindahan uang bernominal fantastis itu untuk memutarbalikkan fakta. Dengan kekuasaan Haris sebagai Plt. CEO, mereka langsung melaporkan Bumi ke polisi malam ini juga.

​Mereka membangun narasi yang sempurna: Seorang programmer miskin yang memanipulasi CEO yang sedang sakit, meretas sistem banknya, dan membawa lari delapan puluh miliar rupiah.

​Pembunuh bayaran yang kami tangkap di bawah hanyalah umpan, atau lebih buruk lagi... mereka adalah aktor yang dibayar Rendra untuk membuat situasi seolah-olah Bumi sedang merencanakan sesuatu yang berbahaya.

​"Tidak..." bisikku, menggelengkan kepala dengan air mata yang kembali merebak. "Tidak, ini uangku! Bumi tidak mencurinya!"

​Bumi berdiri mematung. Untuk pertama kalinya, sang ksatria kehabisan langkah. Ia menatap tangannya sendiri, menyadari bahwa keyboard yang ia gunakan untuk menyelamatkanku, kini menjadi senjata pembunuh yang diarahkan tepat ke kepalanya.

​"Garda!" teriakku melalui interkom, suaraku pecah oleh kepanikan dan kemarahan murni. "Jangan buka gerbangnya! Tahan mereka!"

​"Nyonya, mereka aparat resmi dengan surat perintah!" balas Garda dengan nada terdesak dari bawah. "Jika kita melawan, kita akan dituduh melawan hukum dan menyembunyikan buronan! Mereka bisa menggunakan senjata api!"

​"Aku tidak peduli!" raungku, air mataku tumpah. Zirah ratuku telah lenyap, digantikan oleh naluri seorang istri yang siap mencabik siapa pun yang berani menyentuh suaminya. "Mereka polisi bayaran Rendra! Jika Bumi dibawa ke sel tahanan malam ini, dia tidak akan selamat sampai pagi! Rendra akan membunuhnya di dalam sel dan menyebutnya bunuh diri!"

​Aku berbalik ke arah Bumi, mencengkeram kedua sisi kemejanya. "Bumi, kita kabur. Kamu, Ibu, dan Sifa masuk ke panic room, aku akan menelepon pengacaraku untuk menghadapi mereka di gerbang—"

​Kata-kataku terhenti saat tangan besar Bumi menangkup pipiku.

​Wajahnya sudah kembali tenang, meskipun ada kepedihan yang mendalam di matanya. Ia tersenyum tipis, mengusap air mataku dengan ibu jarinya.

​"Kamu adalah Ratu Wiratmadja Tech, Aruna," bisiknya lembut, mengabaikan suara gedoran keras yang mulai terdengar dari gerbang depan. "Jika aku bersembunyi seperti tikus, namamu akan ikut terseret dalam skandal ini. Mereka akan menuduhmu sebagai komplotan, dan perusahanmu akan benar-benar hancur."

​"Persetan dengan perusahaan!" tangisku pecah. Aku meremas kemejanya erat-erat. "Aku tidak peduli pada saham itu lagi! Aku hanya peduli padamu! Jangan pergi, Bumi. Kumohon..."

​Bumi menundukkan kepalanya, menempelkan keningnya di keningku. Napas kami berbaur dalam ketakutan dan keputusasaan yang sama.

​"Allah tidak akan pernah salah menuliskan takdir, Aruna," gumam Bumi, suaranya sedikit bergetar, membuktikan bahwa ia pun sedang menahan tangis. "Jika malam ini ruang tahanan adalah takdirku, maka aku akan menjalaninya. Ingat janjiku padamu. Aku akan pulang. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi janda untuk kedua kalinya."

​Bumi melepaskan pelukannya dariku dengan sangat perlahan, seolah ia sedang mengoyak dagingnya sendiri. Ia berbalik menuju interkom.

​"Garda. Buka gerbangnya," perintah Bumi dengan nada final yang tak terbantahkan. "Biarkan mereka masuk. Aku akan menyerahkan diri."

​____________________________________________

Jeritanku membelah udara malam saat melihat Bumi berjalan menuruni tangga, menyongsong pasukan polisi berseragam yang mendobrak masuk ke ruang tamu. Borgol besi dingin itu langsung mengunci kedua tangannya. Tepat sebelum kepalanya ditekan masuk ke dalam mobil polisi, Bumi menoleh menatapku yang ditahan oleh Garda di ambang pintu. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya memberikan satu senyuman tulus sebelum pintu mobil tertutup. Dan di kejauhan, melalui layar ponselnya di sebuah kamar hotel mewah, Rendra menyaksikan penangkapan itu sambil menyesap anggur merahnya. "Raja caturmu sudah mati, Aruna," kekeh Rendra dalam kesendiriannya. "Sekarang, giliran sang Ratu yang berlutut."

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐤 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐮𝐦𝐢, 𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐝𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐧 🤪🤪
Pardjan Yono
duh2 ..... aku liat bang Rendra senyum2 , saham nya kan 20%
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐣𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐢 𝐭𝐮𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐲𝐚

𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨𝟐 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐥𝐨𝐭 𝐭𝐰𝐢𝐬𝐭 𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐤𝐡𝐢𝐚𝐧𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐲𝐚, 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐨𝐧𝟐𝐧𝐲𝐚 😊😊🤪🤪🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐛𝐨𝐦𝐛𝐚𝐲 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐚𝐧𝐤 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧? 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚

𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣

𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...


𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢, 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐥....

𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Rio Mario
kok sepi sih padahal cerita bgus banget .. semangat kak💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐪 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐤 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
total 1 replies
Erna Lisa
mantap
Erna Lisa
lanjutkan
Erna Lisa
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!