Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.
...~•Happy Reading•~...
"Gak pingin berjauhan." Bisik Laras dan langsung memeluk Rafael untuk meredam suasana hati agar mereka tidak bertengkar, sehingga Rafael bisa berubah pikiran.
"Kalau semua sudah selesai, kita akan bersama. Sekarang perlu bagi tugas, supaya bisa selesai tepat waktu. Jangan terus repotkan Papa Mama." Rafael berkata pelan di pinggiran kepala Laras.
"Iya. Nanti berapa lama di kampung?" Laras masih butuh kepastian, sebab keraguan belum beranjak dari hatinya.
"Belum tahu. Aku tidak bisa bilang hari apa kembali, karna mengurus surat di sana tidak bisa ditebak. Kadang cepat, kadang lambat, tergantung sikon. Bantu doa, supaya bisa selesai minggu depan."
"Iya, aku ngerti. Nanti kabari." Laras melepaskan pelukan.
"Duduk lagi, aku perlu kepastian sebelum bicara dengan Ibuku." Rafael mengajak Laras duduk.
"Ada apa?" Laras bertanya serius.
"Aku mau memastikan. Ini bukan tidak percaya padamu. Tapi suasana hati dan pikiran seseorang bisa berubah sewaktu-waktu."
"Kalau pekerjaanku sudah stabil, aku tidak perlu tanyakan ini. Tapi dengan ikut ke tempat tugasmu, aku akan mulai dari nol lagi."
"Ya, Rafa. Aku serius. Aku tidak apa-apa, kalau kau tidak kerja. Yang penting, kau mendukung karierku yang sekarang..." Laras mengulang lagi kesepakatan mereka tentang pekerjaan masing-masing.
"Baik. Aku memastikan ini, sebab aku harus menjelaskan kepada Ibu yang mungkin agak keberatan, karna pekerjaanku belum stabil."
"Apa aku perlu bicara dengan Ibu dan kasih tahu pekerjaanku?"
"Sssstttt... Ibuku hanya wanita sederhana. Beliau tidak mengerti dengan kondisi wanita sepertimu. Justru kalau tahu pekerjaan dan jabatanmu, mungkin beliau akan sangat berat merestui."
"Jadi biarkan aku yang bicara dan jelaskan pada Ibu. Kau urus saja di sini. Nanti aku telpon, kalau sudah bicara dengan Ibu." Rafael menutup pembicaraan, sebab khawatir Laras menuntut sesuatu yang akan memperpanjang bahasan mereka.
"Baiklah. Sudah beli tiket?"
"Belum. Nanti saja di stasiun." Jawab Rafael sambil berdiri.
"Kalau begitu, aku antar ke stasiun." Laras ikut berdiri.
"Sebentar. Aku mau ketemu Juan. Sekalian pamit sama Papa Mama." Rafael mengusap lengan Laras dengan hati lega, sebab tidak menuntut sesuatu yang membuat mereka berdebat dan membuang waktu.
Rafael segera meninggalkan Laras menuju kamar Juan. "Pak, saya pamit pulang kampung..." Rafael menjelaskan rencananya.
Pak Yafeth dan Bu Ester yang sudah bergabung menggangguk. "Hati-hati di perjalanan. Karna mendadak, kami gak bisa nitip sesuatu buat Ibu dan adikmu."
"Tidak apa-apa, Bu. Terima kasih. Saya mau temui Juan sebentar." Rafael menunjuk kamar Juano.
"Iya, temui dia. Dari tadi dia cemas, karna kira Rafa kurang sehat." Pak Yafeth mendorong pundak Rafael. Hatinya lega melihat wajah Laras tidak mendung lagi.
Setelah mengetok pintu, Rafael masuk ke dalam kamar. Dia terkejut melihat Juano sedang main monopoli sendiri. "Sudah beli berapa stasiun, Juan?" Rafael meledek dengan wajah cerah.
"Kak Rafa sudah baikan? Gak sakit lagi?" Juano berdiri dan langsung memeluk pinggang Rafael.
"Siapa bilang sakit?" Rafael mengacak rambut Juano dengan sayang.
"Juan kira Kak Rafa sakit. Abis Papa minta Juan dan Kak Laras gak boleh naik ke atas."
"Oh, mungkin karna Papa lihat saya mau istirahat. Ayo, duduk lagi. Kita bicara sebentar."
"Gak main, Kak?"
"Tidak. Saya mau pulang kampung." Juano langsung melepaskan pelukan dan melihat wajah Rafael. "Jangan begitu..." Rafael menjelaskan rencananya dengan kata-kata sederhana yang mudah dimengerti Juano.
Raut wajah Juano langsung berubah dan matanya tidak lepas dari wajah Rafael. "Kak Rafa janji akan kembali lagi?" Juano memberikan jari kelingking untuk dikaitkan sebagai tanda ikatan janji.
"Iya, janji." Rafael mengaitkan jarinya, agar tidak membuat Juano sedih. "Sekarang ikut antar ke stasiun dengan Kak Laras, ya." Rafael mengajak Juano untuk menyenangkan hatinya.
"Iya, Kak." Wajah Juano jadi cerah mendengar Rafael akan diantar Laras. Dia jadi yakin, Rafael tidak sedang marahan dengan kakaknya.
~••
Setelah Rafael kembali dari kampung, seperti yang diinginkan Laras. Pernikahan mereka dicatat di catatan sipil. Tidak ada pesta perayaan. Hanya makan malam sekeluarga di rumah, sebab Laras sangat sibuk mempersiapkan penempatannya di tempat tugas baru.
Hari ini, menjelang akhir pekan di akhir bulan April, Pak Yafeth, Bu Ester dan Juano mengantar Laras dan Rafael ke bandara. "Sudah bawah semua keperluanmu?" Bisik Bu Ester yang duduk di belakang kepada Laras.
"Sudah, Ma. Kami hanya bawa outfit. Yang lain sudah disiapkan kantor." Bisik Laras sambil menggenggam tangan Mamanya untuk menenangkan.
"Pintar-pintar atur hidup di sana. Kalau adikmu libur, mungkin kami bisa berlibur lihat kalian." Hati Bu Ester tetap was-was, walau mereka sudah menikah.
Saat tiba di bandara, Bu Ester memeluk Rafael lama. Tanpa bisa ditahan, air matanya mengalir sambil memeluk Rafael. Berbagai rasa berkecamuk dalam hatinya. "Rafa, tolong sabar dan bimbing Laras, ya." Bisik Bu Ester.
"Iya, Ma. Jaga kesehatan. Hanya 6 bulan. Kami kembali, Mama dan Papa harus tetap sehat." Rafael menguatkan hatinya agar bisa berbicara baik dan tenang, walau hatinya sangat sedih.
Pak Yafeth memeluk Rafael setelah Bu Ester memeluk Laras. "Hati-hati di sana."
"Iya, Pa. Jaga kesehatan." Ucap Rafael pelan dan segera melepaskan pelukan sebab dia bisa merasakan keharuan hati Pak Yafeth.
"Kak, Juan gak bisa ikut?" Tanya Juano yang sudah menangis.
"Sssstttt... Sebentar lagi mau naik-naikan. Belajar yang benar. Nanti kita vc, ya." Rafael coba menghibur.
"Iya, Kak. Juan akan kasih tunjuk, kalau juara kelas." Juano jadi berhenti menangis.
"Bukan juara kelas. Juara sekolah." Rafael menyemangati.
"Mari kita masuk." Laras menepuk bahu Rafael. "Jangan sering main, ya." Laras mengusap kepala Juano lalu meninggalkan mereka. Juano dan Papa Mamanya melambai dengan mata berkaca-kaca.
Ketika sedang cek-in, mereka dikejutkan oleh suara teguran yang dikenal. Rafael dan Laras melihat sumber suara. "Ke mana-mana nempel seperti prangko." Ucap Jarem yang sedang cek-in di seberang.
"Kemana perampokmu? Tumben, biarkan kau berkeliaran sendiri." Rafael mendekati Jarem sambil menyeret koper sebab Laras yang cek-in.
Jarem jadi emosi. Dia segera cek-in dan mengikuti Rafael. "Kau ikut juga?" Jarem terkejut melihat 2 koper di dekat Rafael.
"Saya sudah rekrut Laras jadi istri." Rafael menggerakan jari manisnya.
"Kalian sudah menikah?"
"Seperti yang anda lihat. Problem?"
"Kau berkali-kali aku ajak menikah, tidak mau. Ternyata sudah janjian mau menikah dengan dia." Jarem jadi emosi dan marah pada Laras yang datang mendekati Rafael.
"Mungkin ajakan anda tidak menarik..." Rafael tidak meneruskan, tapi simpan di hati. Dia menjaga harga diri Laras yang sudah jadi istrinya, dengan tidak mengatakan Laras yang mengajak dia menikah.
Walau heran dengan keberadaan Jarem di bandara, Rafael mendekatinya. "Jangan coba-coba dekati dan mengusik istri saya." Ancaman Rafael membuat Jarem melangkah mundur. "Dan jangan terulang lagi memarahi istri saya, kalau tidak mau gigimu lari tinggalkan gusi." Rafael meneruskan ancaman.
...~•••~...
...~•○♡○•~...