NovelToon NovelToon
Kesempatan Dari Sistem

Kesempatan Dari Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Artha Jayendra adalah seorang pemuda yang kini menjadi pengangguran setelah dikhianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dan bahkan oleh kekasihnya. Pengkhianatan itu menghancurkan hidupnya hingga membuatnya terpuruk dalam keputusasaan. Dalam kondisi depresi, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sebuah jembatan. Namun sebelum ia melompat, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit, dan sebuah menara raksasa misterius muncul di tengah kota. Bersamaan dengan itu, sebuah sistem aneh muncul di hadapannya. Alih-alih terkejut, Artha justru melihatnya sebagai kesempatan baru. Dengan tekad yang dingin, ia bersumpah dunia telah berubah dan dia akan menjadi lebih kuat dan membalas semua penghinaan, penindasan, dan pengkhianatan yang pernah ia terima. Dari sinilah perjalanan Artha Jayendra dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab XXII—Menari Dalam Keputusasaan

Lantai The Bone Graveyard bukan lagi sekadar pijakan batu, namun telah berubah menjadi instrumen kematian yang bergetar hebat. 150 Skeleton Knight bergerak dalam sinkronisasi yang mengerikan, menciptakan dentuman ritmis dari kaki-kaki baja yang menghantam lantai. Setiap langkah mereka seakan memeras udara yang keluar dari paru-paru Jay. Zirah mereka yang hitam legam berderit pelan, mengeluarkan uap hitam pekat yang membawa aroma busuk daging yang telah lama membusuk dan besi berkarat. Sebuah aroma kematian yang murni.

Jay berdiri di tengah-tengah kepungan itu. Napasnya memburu, keluar dalam uap kecil di udara dingin dalam ancient dungeon. Poin stat yang baru saja ia habiskan untuk vitality dan luck kini mulai menunjukkan efeknya. Otot-otot di lengannya berkedut hebat, terasa panas seolah-olah lava mengalir di bawah kulitnya. Pembuluh darah di pelipisnya menonjol, berdenyut seiring dengan detak jantungnya yang berpacu kencang. Ini adalah kartu terakhirnya. Tidak ada lagi poin cadangan. Tidak ada lagi jaring pengaman. Hanya ada dia, pedangnya, dan 150 ksatria abadi.

“Asha... kunci target. Jangan biarkan satu pun lepas dari pandanganku!” desis Jay, suaranya serak akibat debu tulang yang terhirup.

...[Target Terkunci]...

...150 Skeleton Knight....

...Peringatan: Rasio Kemenangan sangat rendah. Fokus pada efisiensi gerakan dan titik vital. Jangan biarkan musuh mengunci pergerakan Anda. Disarankan untuk melarikan diri kembali ke lantai satu....

“Jangan…jangan bercanda sialan.” Ujar Jay “dikehidupanku yang dulu aku boleh lari, tapi untuk sekarang jangan harap…”

ZRAASH!

Satu ksatria di baris terdepan melesat tanpa peringatan. Greatsword hitamnya menebas secara vertikal dengan kekuatan yang bisa membelah pilar batu. Dalam kondisi normal, Jay pasti akan hancur. Namun, dengan skill assasinnya, dunia seolah melambat di mata Jay. Ia bisa melihat setiap inci pergerakan bilah pedang itu, bahkan debu yang terbang tertiup angin tebasannya.

Jay menggeser tubuhnya hanya satu inci ke samping, sebuah gerakan minimalis yang membiarkan mata pedang itu merobek udara tepat di samping telinganya. Dinginnya baja terasa menyentuh kulitnya. Tanpa membuang momentum, Jay memutar tubuhnya dan menghantamkan Goblin King’s Blade tepat ke celah sempit di leher sang ksatria.

CRACK!

Kepala tengkorak itu terlepas, terbang ke udara dengan api ungu yang meredup di rongga matanya. Namun, Jay tidak sempat bersorak senang. Lima ksatria lainnya melompat serentak dari arah yang berbeda. Tombak-tombak panjang mereka berkilauan dengan cahaya keemasan redup. Sihir Aridius yang menyiksa energi suci ke dalam wadah iblis. Jay terjebak. Ujung-ujung tombak itu hanya berjarak beberapa senti dari jantungnya.

“Elemental Overlord : Wind Blast!”

Jay menghentakkan kaki kirinya, melepaskan ledakan angin terkompresi dari bawah kakinya. Tekanan angin itu menghantam area sekitar, memberi Jay ruang sedetik untuk berguling di sela-sela kaki ksatria. Namun, satu tombak masih berhasil menggores bahu kirinya.

“AGHHH!” Jay mengerang tertahan. Luka itu tidak sekadar sobekan fisik. Tombak itu membakar dagingnya dari dalam. Rasanya seperti disiram air keras.

Jay bangkit dengan cepat, mengabaikan rasa perih yang menjalar ke sarafnya. Ia menyadari satu hal krusial, bertarung di ruang terbuka melawan 150 ksatria yang disiplin seorang diri hanya akan dilakukan oleh orang bodoh seperti dirinya. Ia harus memecah formasi mereka. Matanya melirik ke sekeliling dan tertuju pada deretan pilar batu besar yang menyangga langit-langit aula.

“Sini, kalian rongsokan baja sialan! Apa kalian hanya bisa menyerang bersama-sama seperti pengecut?” teriak Jay memancing amarah musuhnya.

Para ksatria itu merespons dengan raungan tanpa suara, langkah kaki mereka semakin cepat. Jay berlari kencang menuju pilar terdekat. Saat barisan terdepan ksatria hanya berjarak lima meter di belakangnya, Jay berbalik mendadak. Dengan memanfaatkan stat Strength-nya, ia memutar tubuh dan menghantamkan pedangnya dengan kekuatan penuh ke dasar pilar batu yang sudah retak.

BOOM!

Pilar raksasa itu runtuh dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Bongkahan batu sebesar mobil menghantam lantai, mengubur belasan ksatria yang tidak sempat menghindar. Debu putih mengepul tinggi, membutakan pandangan.

...[NOTIFIKASI SISTEM]...

...Anda telah membunuh 16 Skeleton Knight...

...LEVEL UP...

...Lvl 21–>22...

Namun, musuh tidak memberi celah untuk bernapas. Dari balik kabut debu, sisa ksatria lainnya mulai melemparkan pedang pendek dan pecahan tulang yang tajam. Jay menangkis beberapa dengan pedangnya, denting logam terdengar tanpa henti. Namun, sebuah bilah kecil yang dilempar dengan sudut rendah berhasil menancap di paha kanannya.

Jay tersungkur. Rasa sakit yang tajam menusuk hingga ke tulang. Darah merah segar merembes deras, membasahi debu tulang putih di bawahnya hingga menjadi merah kecokelatan.

“Sial... sakit sekali,” bisik Jay. Ia mencengkeram gagang bilah di pahanya, menggertakkan gigi hingga hampir pecah, lalu mencabutnya dengan satu tarikan paksa. “ARGHH!”

Pandangannya mulai berputar. Kehilangan darah dan kelelahan mental mulai menyerang lebih cepat daripada luka fisiknya. Para Skeleton Knight mulai mengepungnya kembali, kali ini dalam lingkaran yang lebih rapat. Mereka mengangkat pedang raksasa mereka secara bersamaan, membentuk kanopi baja yang siap turun menumbuk Jay menjadi serpihan daging.

Jay menatap ke atas. Ia melihat bayangan kematian yang dingin. Saat pedang-pedang itu mulai turun, Jay menutup matanya sedetik, mengumpulkan seluruh sisa Mana yang tersisa di dalam intinya.

“Elemental Overlord : Thunder Burst!”

Ini adalah teknik job magenya yang di mana mencampurkan ketiga elemen menjdi satu diantaranya ialah api, angin dan petir. Ia memaksanya keluar dengan intensitas yang lebih tinggi. Petir ungu becampur angin tajam dan api biru menyambar liar dari tubuh Jay, menghantam lingkaran ksatria yang mengepungnya secara horizontal. Ledakan itu menciptakan lubang besar di formasi musuh, mementalkan mereka seperti boneka kain.

Jay merangkak keluar dari lubang itu, menyeret kakinya yang terluka. Ia tidak membiarkan kesempatan ini hilang. Dengan sisa tenaganya, ia menghabisi tiga ksatria yang masih terjatuh dengan tusukan brutal tepat di pusat zirah dada mereka.

...[Level Up!]...

...22–>23...

...HP dan Mana telah di pulihkan...

Cahaya hangat level up menyelimuti tubuh Jay. Rasa hangat itu bagaikan obat bius yang sangat kuat. Luka di pahanya menutup sepenuhnya, dan tenaganya kembali seperti disuntik adrenalin murni. Jay tidak menyia-nyiakan waktu. Ia tahu bahwa para musuhnya masih belum ia kalahkan semua.

Ia kembali menyerbu. Kali ini ia lebih taktis, lebih licin. Ia menggunakan tubuh ksatria yang sudah hancur sebagai tameng hidup, mendorong mereka ke arah rekan mereka sendiri. Setiap kali ia berhasil menghancurkan satu zirah, ia memanfaatkan ledakan energi dari zirah tersebut.

Pertarungan itu berubah menjadi pembantaian yang sunyi namun brutal. Suara benturan logam, ledakan energi, dan pecahan tulang yang hancur menjadi satu-satunya musik di aula itu. Jay kehilangan hitungan berapa kali pedang musuh menyerempet kulitnya. Jubahnya kini benar-benar hancur, dadanya penuh sayatan silang, dan wajahnya berlumuran darah yang mulai mengering. Namun, matanya tetap menyala dengan api dendam yang tak kunjung padam.

Setelah hampir satu jam pertarungan yang memeras nyawa maupun jiwanya, jumlah ksatria menyusut drastis. Dari 150, kini tinggal 30.

Setiap kali Jay merasa paru-parunya akan meledak atau jantungnya akan berhenti, sistem memberikan notifikasi Level Up dari akumulasi pembantaiannya. Setiap kilatan cahaya putih itu memberinya dorongan stamina tambahan yang sangat ia butuhkan untuk terus bergerak dan bergerak.

...[Level Up!]...

...[Level Up!]...

...[Level Up!]...

...[Level Up!]...

...[Level Up!]...

Kini tinggal 10 ksatria elit yang tersisa. Mereka berbeda dari yang lain. Mereka adalah pengawal inti, lebih besar dan lebih cerdas. Mereka tidak lagi menyerang secara membabi buta sepert yang lainnya. Mereka membentuk formasi Testudo, merapatkan perisai dan tombak mereka, menciptakan benteng berjalan yang hampir mustahil ditembus.

Jay terengah-engah. Goblin King’s Blade miliknya sudah penuh dengan gompal dan retakan. “Hanya sepuluh lagi... tinggal sedikit lagi...”

Ia berlari dengan sisa kekuatannya, seolah-olah ia tidak merasakan rasa sakit lagi. Saat ksatria pertama menusukkan tombaknya, Jay melompat dengan presisi gila, menginjak bilah tombak itu sebagai pijakan, melenting ke udara melewati pagar perisai mereka. Di udara, ia memutar tubuhnya dan menghujamkan pedangnya tepat ke puncak helm ksatria yang berada di tengah formasi.

CRASH!

Helm itu hancur berkeping-keping. Jay mendarat di tengah-tengah mereka. Pertarungan jarak dekat yang kacau pecah. Jay bertarung seperti orang kesurupan. Ia tidak lagi peduli pada tarian teknik pedang yang indah. Ia menggunakan sikutan untuk menghancurkan sendi leher, sundulan kepala untuk memecahkan pelindung mata, dan tarikan tangan kosong untuk mencopot paksa bagian-bagian zirah musuh yang longgar.

Hingga akhirnya, ksatria ke-150 tersungkur di depannya. Jay menghantamkan tinjunya ke tengkorak terakhir itu sampai hancur menjadi debu putih.

Jay berdiri di tengah lautan puing baja dan pecahan tulang. Sunyi total kembali menguasai aula. Hanya suara napas Jay yang berat, berbunyi ngik di setiap tarikan karena paru-parunya yang kepayahan. Detak jantungnya terasa berdenyut hingga ke ujung jari jemarinya.

...[NOTIFIKASI SISTEM]...

...Selamat Anda telah mengalahkan 150 Skeleton Knight....

...LEVEL UP...

...23–>28...

...HP dan Mana telah kembali pulih...

...Anda memiliki Stat Poin 70...

Jay menatap telapak tangannya. Tangan itu gemetar hebat, dipenuhi luka gores dan memar biru keunguan. Tidak ada keajaiban instan di sini. Hanya ada rasa sakit yang nyata dan kekuatan yang ia peras dari setiap inci keberadaannya.

Ia perlahan mendongak. Di ujung aula, cahaya obor di dinding bergoyang hebat. Aridius, Sang Raja yang selama ini hanya duduk terdiam, perlahan melepaskan pegangannya pada singgasana batu. Ia berdiri, dan seketika itu juga, atmosfer di ruangan tersebut berubah menjadi sangat berat, seolah-olah gravitasi telah berlipat ganda.

Jay menyeringai pahit, menunjukkan gigi-giginya yang berlumuran darah. “Sekarang... giliranmu, Raja pemalas.”

1
ラマSkuy
agak lambat alurnya tapi seru Thor , lanjutkan 👍
ラマSkuy
Hem ini latar ceritanya tentang apocalypse monster ya kayak komik solo leveling, keren Thor 👍
Yikkii: Terimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!