Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XXII—LANGKAH KAKI
Suasana sore itu berjalan seperti biasanya.
Langit perlahan berubah warna, jingga yang tadi terang mulai meredup sedikit demi sedikit. Cahaya matahari tidak lagi menyilaukan, hanya tersisa hangat yang menyentuh permukaan dari jalan dan dinding rumah-rumah di pinggir kota.
Di dalam mobil, suasana terasa tenang.
Chandra duduk di kursi belakang, bersandar dengan pandangan lurus ke depan. Tangannya terdiam di atas pangkuan, tidak banyak bergerak. Wajahnya masih sama, begitu datar dan sulit ditebak.
Di sampingnya, Alera duduk dengan posisi sedikit condong ke jendela. Ia memperhatikan jalan di luar, namun sesekali matanya beralih ke arah Chandra, lalu kembali lagi seolah tidak ingin terlihat terlalu jelas.
Di depan, Pak Cipto menyetir seperti biasa.
Tenang.
Lihai.
Terbiasa.
Arka tidak ikut untuk hari ini dan entah kenapa…justru malah membuat itu terasa berbeda.
Biasanya ada suara yang mengisi perjalanan. Entah komentar ringan, candaan yang tidak penting, atau sekadar obrolan kecil yang membuat suasana terasa lebih hidup.
Sekarang tidak ada.
Yang tersisa hanya diam.
Diam yang tidak sepenuhnya canggung, tapi juga belum bisa disebut nyaman.
Alera menarik napas pelan, mencoba mencari sesuatu untuk dikatakan.
“Kamu…kenapa selalu menyendiri?”
Chandra tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap ke depan, seolah pertanyaan itu hanya lewat begitu saja.
“Gak kenapa-kenapa” jawabnya akhirnya dengan singkat tanpa tambahan apa pun.
Alera mengangguk kecil. “Gak bosen?”
Chandra melirik sekilas, lalu kembali menatap jalan.
“Biasa aja.” Jawaban yang sama seprti tadi, pendek dan tak ada penambahan kata apapun begitu pula dengan nada bicaranya. Seolah tidak ada yang perlu dijelaskan.
Alera tidak langsung menanggapi. Ia hanya menghela napas kecil kembali, menahan sesuatu yang hampir keluar, lalu membiarkannya hilang begitu saja.
Mobil terus melaju.
Beberapa kendaraan lewat dari arah berlawanan. Cahaya sore memantul di kaca depan, menciptakan bayangan yang bergerak pelan.
Hingga tiba-tiba…
Mesin mobil bergetar. Awalnya pelan, namun semakin terasa getarannya.
Pak Cipto sedikit mengernyitkan kepala, tangannya refleks mengurangi kecepatan. Suara mesin berubah, tidak lagi halus seperti sebelumnya.
Mobil perlahan menepi, lalu berhenti. Suasana menjadi sunyi. Pak Cipto mencoba menyalakan kembali mesin.
Sekali.
Dua kali.
Namun tidak berhasil.
“Waduh mogok kayaknya…” ucapnya pelan.
Alera sedikit menegakkan badan. “Serius, Pak?”
“Iya, Mbak Lera. Bentar Pak Cipto cek dulu.”
Ia turun dari mobil, membuka kap depan. Suara logam terbuka terdengar cukup jelas di udara sore yang mulai sepi.
Chandra membuka pintu mobil.
Turun.
Ia berdiri sejenak di samping mobil, memperhatikan sekitar tanpa benar-benar melihat apa pun. Jalan itu tidak asing baginya.
“Masih jauh?” tanya Alera yang ikut turun.
Chandra menggeleng. “Enggak. Paling satu kiloan dari rumahku.”
Alera mengangguk pelan.
Angin sore berhembus lebih terasa di luar. Tidak terlalu dingin, tapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih tenang.
Pak Cipto masih sibuk dengan mesin mobil. “Mungkin agak lama ini, Mas,” katanya. “Kalau mau nunggu, gak apa-apa.”
Chandra terdiam sejenak.
Ia melihat ke arah jalan di depan, lalu kembali ke arah mobil.
“Saya jalan aja, Pak. Rumah saya sudah deket kog.” Ujar Chandra.
Pak Cipto menoleh sedikit. “Yakin?”
Chandra mengangguk “Iya.” Jawaban itu keluar tanpa ragu.
Seolah ia sudah terbiasa memilih berjalan sendiri.
Pak Cipto mengangguk. “Yawis mas, hati-hati ya.”
Chandra membalas dengan anggukan kecil, lalu menutup pintu mobil. Tanpa menunggu lebih lama, ia mulai melangkah menjauh dari pinggir jalan.
Langkahnya pelan.
Tenang.
Menikmati suasana sore yang semakin menggelap.
Namun baru beberapa langkah ia berjalan. “Aku ikut.”
Suara itu datang dari belakang. Chandra berhenti. Menoleh kebelakang. Alera sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan tasnya masih tergantung di bahu.
“Ngapain?” tanya Chandra.
“Aku mau ke rumah kamu.” Jawaban yang terdengar sederhana, namun tetap saja…tidak biasa.
Chandra mengernyit sedikit. “Gak usah.”
Alera mengangkat kedua alisnya. “Ehhh…Kenapa?”
“Kau nunggu Pak Cipto aja paling bentar lagi selesai.” Dalihnya agar Alera mengurungkan niatnya untuk ikut.
Namun perkataannya tidak cukup untuk menghentikan Alera.
“Anggap aja aku lagi gak mau pulang dulu,” balasnya ringan.
Chandra menatapnya beberapa detik. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun pada akhirnya…tidak ada yang keluar.
Ia berbalik dan kembali berjalan. Alera menyusul dibelakangnya. Hingga kini mereka berjalan berdampingan. Tidak terlalu dekat namun juga tidak sejauh sebelumnya.
Jalanan sore itu terasa lebih panjang dari biasanya. Deretan rumah mulai terlihat, pagar-pagar yang berdiri rapi, pohon-pohon yang diam tanpa banyak bergerak.
Beberapa langkah berlalu dalam diam.
Namun kali ini…tidak sepenuhnya sama.
“Aku ganggu ya?” tanya Alera pelan.
Chandra tidak langsung menjawab. “Tau,” katanya singkat.
Alera menahan senyum kecil. “Tapi tetep dibiarin ikut tuh?”
Chandra melirik sedikit. “Udah terlanjur.” Jawaban itu pendek, tapi cukup untuk membuat Alera tidak berkata apa-apa lagi.
Langkah mereka kembali berjalan.
Lebih tenang.
Lebih pelan.
“Kamu capek gak sih?” Pertanyaan itu muncul lagi.
Chandra mengernyit tipis. “Capek apaan?”
Alera menatap jalan di depannya. “Jadi kayak gitu terus.”
“Kayak gimana?”
“Sendirian.”
Langkah Chandra sedikit melambat. Namun tidak berhenti. “Biasa aja.” Jawabnya yang begitu singkat.
Alera menghela napas pelan. “Kamu selalu bilang gitu.”
Chandra tidak menjawab. Ia tetap berjalan, tapi pikirannya tidak lagi sepenuhnya di depan.
“Padahal,” lanjut Alera, “orang yang bilang ‘biasa aja’ itu biasanya lagi gak biasa aja.”
Chandra menoleh sedikit. Tatapannya tidak setajam tadi. tetapi juga belum terbuka. “Kamu sok tau banget sih.”
“Iya.” Jawaban itu cepat, tanpa ragu.
Chandra terdiam sejenak. Tidak melanjutkan. Tidak juga membantah. Langkah mereka kembali selaras.
Angin sore kembali berhembus, kali ini terasa lebih pelan, seolah mengikuti ritme langkah mereka.
“Aku dulu juga gitu,” ucap Alera.
Chandra melirik. “Apanya?”
“Pura-pura gak butuh siapa-siapa.” Ia tersenyum kecil. “Padahal cuma takut.”
Chandra tidak langsung merespon. Namun kali ini…ia benar-benar mendengarkan.
“Takut kalau ternyata kita butuh orang lain…” lanjut Alera, “…tapi mereka gak butuh kita.”
Langkah Chandra berhenti. Hanya sebentar, lalu kembali berjalan. Namun langkahnya lebih lambat dari sebelumnya.
Tidak ada bantahan. Tidak ada penolakan. Hanya diam. Meskipun diamnya sekarang yang terasa berbeda.
Jalan di depan mereka mulai berubah. Rumah-rumah terasa lebih familiar bagi Chandra. Ia mengenali setiap sudutnya, setiap belokan, setiap pagar.
“Kita hampir sampai di rumahku,” ucapnya pelan.
Alera mengangguk dan melanjtkan perkataannya “Kamu gak harus selalu sendirian.” Kalimat itu keluar begitu saja.
Chandra tidak menjawab. Ia merasa ada sesuatu yang tertinggal. Di pikirannya, di dalam dirinya, dan untuk pertama kalinya.
Perjalanan pulang yang biasanya ia lalui sendiri…Tidak terasa sepenuhnya kosong. Hingga ia berkata “Kita udah sampai…”