Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.
Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merajut Asa
Waktu terasa berlalu dengan cepat. Hampir setiap hari bertemu dan menghabiskan waktu bersama Nana membuat Vanya merasa semakin nyaman dengan Nana, setiap kali Vanya merasa sakit, senang atau pun sedang ada masalah Nana lah yang selalu berada di sisi nya menemani nya dan menenangkan nya. Nana terlalu sempurna di mata Vanya. Hingga pada suatu hari yang cerah Vanya mendapatkan kejutan yang sangat indah dari Nana.
"Van..."
"Kenapa Na"
"Jalan jalan yuk besok kan libur"
"Kemana?"
"Ke aquarium jakarta aja yuk udah lama gue mau kesana"
"Boleh, mau jam berapa"
Vanya memang sangat menyukai binatang binatang entah itu binatang darat atau laut, melihat dan merawat binatang merupakan salah satu hobi nya sejak kecil.
"Jam 9 jalan mau ga?"
"Ok Na"
...☘️☘️☘️...
Telpon masuk dari Nana dan ini adalah telpon yang ke 5.
"Kenapa Na, sorry gue baru bangun"
"Ayo cepet beres beres dikit lagi jam 9"
"Eh ya ampun lupa banget Na, bentar bentar ya gue mandi dulu bye Na"
Telpon di tutup begitu saja bahkan Nana belum sempat berbicara satu kata pun. Akhirnya Nana hanya mengirim pesan singkat kalau ia menunggu Vanya dan Vanya tak harus terburu buru.
20 menit Nana menunggu kabar dari Vanya dan akhirnya Vanya mengabarkan Nana kalau ia sudah siap dan menunggu Nana di depan gerbang rumah nya.
"Van ayo"
"Maaf ya Na gue lupa kita udah janjian"
"Gapapa santai aja tutup nya juga sore kok" Hening tak ada jawaban, Vanya memilih untuk fokus memakai helm di kepalanya.
"Ok, udah siap Na" Kata Vanya dengan ceria, ia tak sabar ingin melihat ikan ikan besar disana, ia juga ingin melihat pertunjukan putri duyung.
Nana melajukan motor nya dengan kecepatan sedang. Di jalan Nana mendengarkan Vanya yang terus mengoceh tentang hal yang ingin ia lakukan di sana. Nana terkejut karna Vanya sudah punya planning yang cukup tersusun rapih dan banyak.
"Na dengerin gue kan dari tadi"
"Iya Vanya gue denger kok, tapi sekarang kita makan dulu ya, lo belum sarapan kan"
"Hehehe tau aja Na, gue laper banget belum makan dari tadi malem"
"Kenapa ga makan?"
"Males ke bawah nya, ga ada orang di rumah mama sama papa dinas lagi abang pulang malem"
"Yaudah sekarang mau makan apa"
"Eh itu ada nasi padang udah buka, itu aja yuk Na"
Nana hanya mengangguk dan memberhentikan motor nya di depan tempat makan nasi padang itu. Vanya memesan nasi padang untuk dirinya dan Nana.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju aquarium dengan canda tawa. setelah 10 menit mereka berhasil sampai dengan selamat.
"Ayo masuk Na" Vanya berjalan terburu buru ia sudah tak sabar ingin melihat ikan ikan yang besar.
"Vanya pelan pelan"
"Tunggu sini Van biar gue beli tiket nya dulu"
Tak lama Nana balik dengan membawa 2 tiket masuk. Vanya tersenyum kearah Nana dan berjalan menuju loket masuk dengan menggandeng tangan Nana.
Vanya bersenang senang didalam sana, ia terus berjalan kesana kemari dengan mata berbinar binar dan Nana dengan sabar mengikuti Vanya dari belakang menjaga agar ia tidak menabrak orang lain atau tersandung sesuatu.
Sampai pada saat waktu pertunjukan putri duyung tiba, Nana berusaha menerobos kerumunan sambil menarik tangan Vanya agar mereka mendapatkan tempat paling depan.
"wih Na keren banget" teriak Vanya kegirangan
Nana hanya mengangguk dan tersenyum kecil, diam dia Nana memfoto Vanya, hasil yang indah sangat indah hinga membuat Nana ingin sekali memiliki nya.
"Van... "
"hmm"
"lo mau ga jadi pacar gue"
Vanya terdiam, ia terpaku mendengar nya, ini kali pertama Vanya mendengar hal seperti itu.
"Van" Nana sedikit mengguncang tubuh Nana.
"Na, lo ngomong apa sih" Vanya bingung harus merespon seperti apa.
"gue serius Van, gue suka sama lo, lo mau kan jadi pacar gue"
Vanya tak bisa lagi menutupi wajah bahagia nya. sejujurnya ini lah yang selama ini Vanya harapkan
dan hari ini harapan itu terkabul.
Vanya tersenyum dan mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Nana tadi. Nana yang melihat itu langsung memeluk Vanya dan tersenyum bahagia.
"udah ih Na malu" Vanya mendorong bahu Nana untuk menjauh.
"Iya iya sayang"
"ih apa sih" Vanya tersipu malu.
Nana sangat bahagia melihatnya, waktu perjalanan pulang Nana tak henti henti nya tersenyum, mungkin orang lain yang melihat nya seperti orang gila.
"Makasih ya Na" Vanya melepaskan helm nya dan ia ingin segera masuk kedalam rumah nya. tak jauh berbeda dari Nana Vanya juga terus tersenyum sepanjang perjalanan pulang.
"eh eh bentar"
"apalagi sih"
"kalo udah pacaran tuh harus romantis Vanya"
"ih apa sih gausah ngomongin pacaran nanti ada yang denger" Vanya memukul bahu Nana pelan dan muka nya sudah seperti kepiting rebus.
Nana yang melihat itu tersenyum dan akhirnya menyuruh Vanya untuk masuk dan segera beristirahat.
"yaudah sana masuk, mandi trus langsung tidur ya cantik jangan begadang"
"iya bawel, bye Na ati ati di jalan ya"
"iya"
Nana berjalan menjauh dari rumah Vanya. dan meninggalkan Vanya yang tersenyum menatap nya.
"woi, abis kemana lo dek" Raka menepuk pundak Vanya dan membuat Vanya terkejut
"apa sih ngagetin aja, tumben udah pulang"
"iya lagi mau di rumah gue"
sejujurnya Vanya takut kalau abang nya mendengar perkataan Nana tadi, ia tak tau apakah ia sudah boleh pacaran atau belum karna ia tak pernah membicarakan soal itu dengan keluarga nya sebelum nya. bagaimana kalau abang nya tau dan mengadu ke orang tua nya, bagaimana jika ternyata orang tua nya melarang nya, bagaimana jika orang tua nya sampai nekat memindahkan sekolah nya agar Vanya tak pacaran, pemikiran negatif itu terus berputar di kepala nya tanpa ia sadari.
"woi bengong"
"eh, abang dari kapan di luar"
"baru juga tadi gue keluar mau beli makan, eh lo udah ada disini sendirian lagi, siapa tadi yang nganter"
Vanya merasa lega, berarti Raka tidak mendengar perkataan Nana barusan.
"Nana tadi yang nganterin tadi abis kerja kelompok"
"kenapa ga di suruh masuk dulu Nana nya"
"udah malem bang"
Vanya berjalan masuk kedalam rumah nya meninggalkan abang nya.
"eh bang kalo mau beli makan aku juga beliin ya 1"
teriak Vanya yang sekarang sudah berada di depan pintu rumah nya.