Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.
Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.
Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Linda menatap dirinya di depan cermin besar, matanya meneliti setiap detail penampilannya dengan teliti.
Rambutnya sudah rapi, makeup-nya pas, dan sentuhan terakhir ia selesaikan dengan mengaplikasikan lipstik berwarna merah muda.
"Sempurna," ucap Linda puas, sudut bibirnya terangkat tipis.
Ia mengedipkan mata ke arah bayangannya sendiri sebelum akhirnya berbalik.
Linda berjalan ke arah kasur, mengambil tas kecilnya yang tergeletak di sana. Tangannya cekatan memeriksa isi tas, ponsel, dompet, lipstik, semuanya lengkap.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, ia melangkah menuju pintu kamar dan membukanya.
"Astaga!"
Linda langsung membulatkan mata kaget.
Jantungnya seperti melonjak seketika. Satu tangannya refleks mengelus dada, sementara tangan lainnya mencengkeram gagang pintu untuk menahan tubuhnya yang sedikit melemas.
Di depan pintu.
Dewangga berdiri santai.
Pelaku utama yang membuat Linda hampir jantungan pagi-pagi itu hanya menyengir tanpa rasa bersalah.
Linda menatapnya tajam.
Aura permusuhan langsung terpancar jelas dari wajahnya, membuat nyali Dewangga yang tadi santai mendadak ciut.
Tanpa aba-aba
Plak!
Linda langsung memukul Dewangga dengan tas kecil di tangannya.
"Sakit, Linda, udah, stop! Sakit ini!" ucap Dewangga sambil meringis, refleks mengangkat tangan untuk melindungi diri.
Ia mundur beberapa langkah, bahkan sempat berlari kecil menghindari serangan Linda yang bertubi-tubi.
Sementara Linda terus mengejar beberapa detik sebelum akhirnya berhenti.
Napasnya masih sedikit memburu, tapi ekspresinya berubah puas melihat kakaknya kesakitan.
"Siapa suruh bikin orang jantungan pagi-pagi," ucap Linda sambil berkacak pinggang, menatap Dewangga yang masih meringis kesakitan.
"Siapa juga yang mau kagetin sih," balas Dewangga tidak terima, masih mengusap bagian lengannya yang kena pukulan.
"Orang Mas tadi cuma berdiri di depan pintu kamar kamu. Kamunya aja yang kagetan."
Linda langsung menatapnya lebih tajam.
"Ya mikirlah, Mas!" balasnya jengah.
"Siapa yang nggak kaget? Pagi-pagi Mas udah nongkrong di depan kamar aku, pasang muka senyum lebar banget. Itu kalau ditarik dikit lagi bisa robek bibirnya!"
Linda menggerutu panjang.
"Nyeremin, tau nggak," tambahnya dengan nada kesal.
Dewangga hanya menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, sedikit kikuk.
"Ya. Mas kan cuma nungguin adik Mas yang cantik ini keluar kamar," ucapnya mencoba membujuk Linda.
Linda langsung menatapnya dengan ekspresi jijik, lalu mendecih pelan.
"Ngapain pagi-pagi nungguin aku keluar?" tanyanya curiga, matanya menyipit, mencoba mencari alasan Dewangga yang sebenarnya.
"Nggak ada, Mas beneran cuma mau nungguin kamu buat ngajakin sarapan," bantah Dewangga.
Nada suaranya terdengar santai, tapi matanya sedikit menghindar, seolah ada sesuatu yang disembunyikan.
Linda mengangguk pelan, mencoba percaya meskipun masih ada rasa ragu di wajahnya.
"Tumben?" ucapnya sambil menyipitkan mata.
"Biasanya juga sarapan nggak pernah tuh Mas manggil, apalagi nungguin aku."
Dewangga berdecak pelan.
"Apa salahnya Mas pengen ngajakin kamu sarapan doang?"
Linda mengangkat bahu kecil.
"Iya deh, percaya," ucapnya akhirnya, tidak ingin memperpanjang perdebatan yang tidak penting.
"Tapi maaf ya, hari ini aku nggak bisa nemenin Mas Dewangga sarapan. Aku mau pergi dulu."
Ia sudah bersiap melangkah pergi, namun tangannya langsung ditahan oleh Dewangga.
"Kemana?" tanya Dewangga cepat, nada penasarannya tidak bisa disembunyikan.
Linda hanya melirik sekilas.
"Ada deh. Mas nggak usah kepo," jawabnya santai sambil mulai melangkah.
Namun sebelum benar-benar pergi, Dewangga langsung menahan kembali tangan Linda.
"Kamu mau ketemu Cici ya?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Mas ikut ya," pintanya, nada suaranya berubah penuh harap.
Linda langsung berhenti.
Perlahan ia menoleh, lalu menyipitkan mata menatap Dewangga dengan ekspresi curiga.
"Nah kan, ketahuan," ucapnya sambil menunjuk wajah kakaknya.
"Mas dari tadi nungguin aku karena ada maunya."
Dewangga hanya menyengir lebar, tidak berusaha menyangkal.
Ia bahkan mengangkat tangannya membentuk huruf V dengan santai.
"Mas boleh ikut ya," ulangnya, nada suaranya sedikit manja.
Linda langsung menghempaskan tangan Dewangga dari lengannya.
Ia menatap kakaknya jengah, campuran kesal dan lelah.
"Mas, tolong ya," ucapnya lebih serius sekarang.
"Aku tahu Mas nekat, tapi nggak senekat ini juga."
Tatapannya berubah lebih tegas dan penuh peringatan.
"Tolong kasih Zeya waktu buat mikir. Ini semua demi kebaikan kalian juga."
Beberapa detik suasana terasa hening.
Dewangga tidak menjawab.
Tangannya perlahan turun, ekspresinya yang tadi penuh harap kembali meredup.
Linda tidak berkata apa-apa lagi.
Ia langsung berbalik dan berjalan pergi, langkahnya tegas tanpa menoleh kembali.
Sementara Dewangga tetap berdiri di tempatnya.
Kepalanya sedikit tertunduk, bahunya turun, dan sorot matanya kembali kosong, seolah semua harapan yang tadi sempat muncul untuk bertemu anaknya perlahan runtuh lagi.
...****************...
Riko yang baru datang dengan membawa sebuah kantong plastik berisi makanan dibuat heran saat melihat bosnya duduk sendiri di meja makan.
Sendok di tangan Dewangga hanya bergerak pelan, mengaduk-aduk makanan di piring tanpa pernah benar-benar menyuapkannya ke mulut.
Ekspresinya kosong. Tatapannya tidak fokus.
Riko hanya mengangkat bahu acuh, lalu tetap melanjutkan langkahnya ke arah dapur.
Ia mengambil piring dan sendok, kemudian mengeluarkan makanan dari kantong plastik tadi. Aroma nasi goreng langsung memenuhi ruangan.
Setelah semuanya siap, Riko kembali ke meja makan dan duduk di depan Dewangga.
Ia mulai makan.
Namun, meski tangannya sibuk menyendok nasi goreng, matanya terus melirik ke arah bosnya.
Dewangga masih sama.
Tidak ada perubahan.
Sendoknya masih mengaduk makanan yang mulai dingin.
Bahkan saat nasi goreng di piring Riko sudah tersisa setengah, piring Dewangga masih utuh seperti tadi.
Riko akhirnya menghela napas, jengah melihat pemandangan itu.
"Bos kenapa sih? Dari tadi bengong terus," ucapnya akhirnya, tidak tahan lagi.
"Tidak ada," jawab Dewangga singkat, nada suaranya datar.
Riko langsung memutar bola mata.
"Jangan kayak perempuan deh, Bos. Kalau dijawab nggak ada, aslinya pasti ada."
Dewangga menghela napas berat.
Ia menatap Riko sekilas dengan ekspresi malas, lalu kembali menunduk.
"Saya cuma kepikiran sama Zeya dan anak saya, kira-kira masih ada nggak kesempatan saya buat memperbaiki semuanya. Melihat sikap Zeya kemarin, dia bahkan tidak mau melihat saya."
Nada suaranya melemah di akhir kalimat.
Riko mengangguk pelan, kini mulai mengerti.
"Oh, masalah Nona Zeya," ucapnya.
"Ya apalagi masalah saya kalau bukan Zeya," balas Dewangga lelah.
Riko menatapnya beberapa detik.
Dalam hati ia hanya bisa menghela napas.
"Emang beneran budak cinta nih bos," batinnya.
"Yaelah, Bos, baru ditolak sekali aja udah mau nyerah aja," ucap Riko santai.
Dewangga langsung mengangkat alisnya bingung.
Reaksi itu membuat Riko berdecak pelan.
Ia menaruh sendoknya ke piring, lalu menjoandokkan tubuhnya sedikit ke depan, fokusnya diarahkan penuh pada Dewangga.
Sementara Dewangga juga mulai memperhatikan dengan lebih serius.
"Gini ya, Bos, ibaratnya Bos udah ngelakuin kesalahan besar, ya Bos juga harus punya tekad yang lebih besar buat memperbaiki semuanya."
Dewangga diam mendengarkan.
"Tapi dia bahkan nggak mau menemui saya," balasnya pelan.
"Makanya itu," jawab Riko cepat.
"Tambah lagi effort-nya, Bos. Kalau ditolak, coba lagi besok. Ditolak lagi, coba lagi besoknya. Sampai Bos diterima."
Nada suaranya santai, tapi tegas memberikan Dewangga nasihat.
"Mendapatkan maaf itu gampang. Yang susah itu dapetin kepercayaan lagi, sama ngilangin rasa trauma yang terus muncul tiap ketemu pemicunya."
Dewangga mengernyit bingung, fokusnya semakin dia arahkan pada setiap ucapan Riko.
"Maka dari itu, ubah rasa trauma itu, jadi momen manis."
Dewangga langsung mengangkat satu alisnya.
"Caranya?" tanyanya, penasaran.
Riko tersenyum tipis. "Pertama-tama, Mas harus deketin anak Mas dulu. Rebut kasih sayang dan perhatiannya. Bikin dia nggak mau jauh dari Bos, bahkan sedetik aja."
Dewangga mulai membayangkan.
Sorot matanya perlahan berubah.
"Nah, kalau udah begitu," lanjut Riko,
"Nona Zeya pasti nggak bisa nolak kehadiran Mas buat ada di sekitar mereka."
Riko sedikit mencondongkan tubuhnya.
"Lalu setelah itu, Bos ambil kesempatan buat deketin Nona Zeya lagi. Pelan-pelan aja."
Ia mengangkat bahu santai.
"Kalau memang masih ada cinta di antara kalian, lama-lama juga pasti luluh."
Ruangan sempat hening beberapa detik.
Perlahan, wajah Dewangga berubah.
Matanya yang tadi redup kini kembali berbinar.
Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum penuh rencana.
Tanpa sadar, ia langsung berdiri dan menghampiri Riko.
Langkahnya cepat dengan senyumnya lebar yang terkesan misterius.
Dan itu justru membuat Riko merinding.
"Riko… kamu emang jenius," ucap Dewangga dengan penuh semangat.
"Thanks, Riko. Gaji kamu bulan ini akan saya naikkan."
Riko langsung terdiam sebentar.
Lalu wajahnya berubah cerah.
Senyumnya melebar lebar.
Sementara di sisi lain, Dewangga sudah kembali dipenuhi tekad untuk merebut Zeya dan anaknya kembali.