Tak kusangka aku bahagia bisa memiliki keluarga kecil.
Sebuah cerita perjuangan gadis yang bernama Indira Mahesa, gadis yang memiliki karir begitu baik. Harus menghadapi pernikahan yang terjadi karena pembalasan dendam yang salah sasaran.
Pria tampan yang bernama Abian Malik seorang pengusaha kaya yang mampu mencuri hati semua wanita termasuk sang sekertarisnya yang tidak lain adalah sepupunya sendiri.
Akankah pernikahan mereka mampu bertahan?
Mohon untuk tidak promosi di lapak ini🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebencian
Ruangan yang sudah ramai hingga sudut rumah megah itu terlihat berbagai macam tatapan. Ada yang menatap kagum dengan Indira ada yang menatap penuh tanya dan ada juga yang menatapnya dengan tajam.
Seolah mereka berfikir Indira adalah wanita yang berusaha menyingkirkan calon istri Tuan Abian sebelum pernikahan mereka. Hari begitu panjang membuat Indira merasa kelelahan harus berdiri berdampingan dengan suaminya menyambut para tamu kehormatan yang datang dari berbagai negara.
Tentu kedatangan mereka semua secara tiba-tiba karena Abian memang memberitahunya sehari sebelum acara itu.
Acara begitu padatnya sampai tidak memberi waktu Indira untuk mengisi perutnya. Tubuhnya mulai bergemetar menahan lapar, sementara pria di sampingnya hanya menepis senyuman licik.
Tidak sampai di situ saja, Indira yang berharap acara akan segera selesai melangkah bersama para pelayan menuju ruangan make upnya.
“Huuuhh akhirnya selesai juga, aku lelah sekali.” gumam Indira yang menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Nyonya Indira ayo kita harus cepat bersiapnya.” ucap seorang pelayan yang menghampiri Indira.
“Apa bersiap? Apa lagi ini?” tanya Indira yang terkejut.
Ia salah, hari belum berakhir justru malam ini adalah awal permulaan dari semuanya. Indira yang sedang di make up sibuk dengan makanan yang ada di tangannya. Lapar di perutnya membuatnya lupa diri seperti orang yang tidak pernah melihat makanan.
Sampai ia lupa dengan kesedihannya karena sibuk mengisi perut. Beberapa menit berlalu kini wanita cantik yang kembali menuruni anak tangan membuat mata seorang pria tertegun saat melihatnya.
Gaun berwarna merah membuat kulit Indira begitu terlihat cerah dan semakin cantik. “Astaga apa yang kau lihat Abian?” ucapnya dalam hati sambil mengedipkan mata untuk menyadarkan diri.
Indira yang turun seorang diri tanpa di dampingi oleh Nyonya Ningrum berusaha terlihat kuat. Wajahnya menampakkan senyuman yang berbeda dari siang tadi.
“Cih apa maksudnya tersenyum seperti itu?” ucap Abian yang terdengar oleh Zanna.
Zanna yang berada di belakangnya hanya menggelengkan kepala saja. Ia tidak mengerti apa yang ada di dalam fikiran Tuan mudanya saat ini. Menurut Zanna balas dendam dengan memilih nikah bukanlah hal yang tepat.
“Tuan, saya harap pernikahan ini tidak akan menjadi boomerang untuk diri anda sendiri.” ucap Zanna dengan pelannya.
“Beraninya kau!” bentak Abian dengan menoleh ke samping sedikit tanpa mau menatap wajah sekretarisnya itu.
Zanna menundukkan kepala merasa salah meskipun pada dasarnya Tuan mudanya lah yang bersalah.
Indira yang sudah tiba di depan Abian kini melangkah bersama menuju kursi mereka. Para wartawan yang bisa mengambil gambar dari kejauhan terus memotret dan ada yang menyiarkan langsung.
Para penghuni Kota itu yang tidak bisa hadir hanya bisa menyaksikan pernikahan seorang Abian Malik melalui televisi.
“Abi, istri kamu cantik paman harap kalian bisa bahagia selamanya yah.” ucap pria yang tak lain adalah Ayah dari Zanna.
“Iya Paman, terimakasih.” jawab Abian sambil tersenyum.
Acara berjalan baik selama ada Paman Diko, tentu Abian tidak akan menunjukkan tingkah buruknya di hadapan pria satu-satunya yang ia anggap sebagai orangtua yang tersisa.
Setelah kepulangan Tuan Diko, barulah Abian memulai aksinya. Indira yang berdiri di depan bertanya-tanya kemana Abian akan meninggalkannya sambil terus menatap punggung suaminya itu.
“Abian ayo sini.” panggil salah satu wanita yang berada di kumpulan beberapa wanita lainnya.
Mereka terlihat memberikan ruang untuk Abian duduk di tengah-tengah kerumunan wanita itu. Abian yang sudah mendaratkan bokongnya mulai melepas beberapa kancing kemeja untuk merenggangkan pakaiannya. Ia terlihat tertawa senang dengan beberapa wanita yang mengumpulinya.
Sesekali matanya melirik ke arah Indira yang terbengong melihatnya. Abian yang meraih gelas berisi wine segera meneguknya.
“Apa-apaan ini? Acara belum selesai dia sudah menampakkan wujud aslinya membuatku malu saja?” Indira yang tidak tahan melihat tingkah Abian akhirnya memilih untuk keluar dari acara itu.
Ia menepi ke pinggir kolam, matanya tak lagi mengeluarkan tangis. Hatinya yang tersayat-sayat seakan ingin menyusul Papinya. Beberapa kali Indira menatap bintang di atas yang begitu ramai terlihat sangat indah.
“Papi ada di sana yah? Papi tidak menyesalkan sudah meninggalkan Indira secepat ini? Indira belum dewasa Pi menghadapi semua ini kalau Papi masih ada pasti Indira akan sukses saat ini bukan menjadi bahan hinaan seperti sekarang kan?” ucap Indira seolah berbicara dengan satu bintang yang paling terang di antara yang lainnya.
“Dan kau Federic, kemana dirimu saat aku seperti ini? Bukankah kau pernah berjanji akan bersamaku apa pun yang terjadi?” ucap Indira yang sudah tersungkur di pinggir kolam lemas.
Tubuhnya seakan tak kuat lagi menopang beban hidup saat ini. Terlalu tiba-tiba tanpa ada persiapan apa pun darinya.
Sementara Abian yang merasa geli dengan kerumunan para wanita itu segera berdiri dan meninggalkan mereka.
Matanya mencari sosok wanita yang sejak tadi menghilang dari pandangannya.
“Kemana wanita itu?” ucapnya kesal.
“Ada apa Tuan?” tanya Zanna yan melihat sorot mata panik Tuan mudanya.
“Cari dia dan beritahu aku, jangan sampai wanita itu kabur.” pintah Abian dengan tegasnya.
Zanna langsung mengerahkan seluruh pasukannya mencari Indira. Rumah bak istana itu tentu membutuhkan tenaga untuk mengelilingi satu persatu.
Tidak sampai lima menit salah satu pasukannya melihat Indira berada di pinggir kolam sendiri sedang duduk melamun.
Dengan cepat ia menyampaikan informasi itu, Abian yang mendengar tanpa menunggu lama segera melangkahkan kaki jenjangnya.
“Jika kau ingin bunuh diri pintarlah mencari tempat bukan di kolam.” ucap Abian yang membuat Indira terbangun dari duduknya.
Kini keduanya saling berhadapan dengan tatapan mata penuh kemarahan. Terlebih mata Abian yang memandang Indira sambil terus melangkah mendekat.
“Mau apa kau?” tanya Indira yang terus mundur dan langkah minta terhenti saat hampir jatuh ke kolam.
Tangan Abian dengan cepatnya menggenggam kedua bahu Indira. “Kau akan mati, tapi tidak sekarang.” ucap Abian yang menatap dekat pada wajah Indira.
Kini tubuh wanita itu mulai terarah ke atas kolam namun dengan tenaganya ia kembali membalikkan tubuh seolah ingin mendorong Abian ke kolam. Sampai akhirnya “byuuurrr” keduanya pun jatuh bersama.
“Beraninya kau!” teriak Abian yang marah karena sudah basah seluruh pakaiannya.
“Apa? Kau fikir aku takut padamu hah?” sahut Indira dengan beraninya.
Abian yang semakin kesal mendengar tantangan istrinya akhirnya mencekik leher Indira. Ia terbayang ketika melihat jenazah Maudi yang bercucuran darah. Kebencian di sorot matanya terlihat jelas.
Sampai Abian tak lagi bisa mengendalikan dirinya. Beberapa kali ia mencekik Indira dan menenggelamkan kepala wanita itu.
“Lepaskan aku?” teriak Indira yang berusaha mengangkat kepalanya dari genangan air kolam itu. Abian tak memperdulikannya sampai berulang kali ia menyebutkan kepala Indira sesekali mengangkatnya.
Setelah beberapa menit akhirnya Indira tak lagi melawan dorongan tangannya. Tubuhnya sudah lemas terdengar batuk yang berulang kali keluar dari mulutnya.
Abian yang tersadar segera melepas cekikannya dan segera naik dari kolam. Tubuhnya yang basah mengantar kepergiannya kembali ke dalam rumah. Matanya tampak memerah air kolam dan air mata sepertinya sudah menjadi satu saat kejadian di kolam itu.
“Ya Tuhan apa salahku?” gumam Indira yang menyandarkan kepalanya di pinggir kolam sambil terus mengatur nafasnya. Ia tidak tahu akankah nyawanya bisa bertahan cukup lama. Nafas yang terengah-engah kini ia usahakan untuk mengaturnya kembali.
Terlihat lemah tubuhnya sampai beberapa kali terjatuh lagi ke kolam saat ingin naik.
“Kakak.” panggil Gibran yang kini membantu wanita itu naik ke pinggir kolam.
“Gibran.” ucap Indira yang terkejut melihat kehadiran adiknya.
“Kakak kenapa?” tanya Gibran yang menangis sambil memeluk tubuh wanita di depannya.
“Tidak, Kakak tidak apa-apa sayang. Jangan menangis.” jawab Indira yang berusaha terlihat kuat meskipun matanya menunjukkan tatapan yan begitu lemah.
Mereka berdua kini berpelukan, Indira yang sudah tak kuasa lagi seketika tangisnya pecah di pinggir kolam itu. Hanya pindah Gibran satu-satunya tempat ia bersandar mengadukan semua hal yang tidak adil padanya.
Gibran yang ikut menangis memeluk erat tubuh Kakak wanitanya. Matanya terlihat penuh kebencian dengan semua orang yang berada di sekelilingnya. Cukup lama mereka berada di pinggir kolam saling melepaskan rindu sampai akhirnya Zanna mengantar Indira masuk ke rumah.
Gibran yang merasa berat melepaskan pelukan itu terpaksa melakukannya. Ia harus pulang bersama kedua orangtuanya.
membaca smbil meraba2 jalN ceritanya...
rada bingung
apa latiahan karate...
oohh AQ tkungfuu Jecky Chen
naah ituu baru nama panjangnya thorrrr....
😅😅
ternyata kau bisa juga malu2 meong...
karya mu luar biasa