Fatimah dan Farrel, dua nama yang kalau disebut bareng, seluruh sekolah pasti langsung heboh. Bukan karena mereka pacaran, tapi karena setiap kali bertemu, pasti berantem. Farrel terkenal sebagai cowok jenius yang santai tapi super jail, tapi herannya jailnya cuma sama Fatimah. Sementara Fatimah dikenal sebagai cewek pintar yang gampang kesal dan nggak tahan lihat tingkah konyolnya.
Mereka dijuluki “Tom & Jerry versi sekolah” selalu ribut. Sampai suatu malam, sebuah kecelakaan tak terduga mengubah segalanya, setelah pertengkaran besar.
Saat sadar di rumah sakit, dunia mereka terbalik — Fatimah terjebak di tubuh Farrel, dan Farrel di tubuh Fatimah.
Dunia seakan berputar terbalik.
Farrel harus belajar jadi cewek yang biasa dandan, sementara Fatimah harus berpura-pura jadi cowok santai yang senyumnya bisa bikin satu sekolah teriak walaupun di saat dengannya kayak monyet. Bisa gak mereka bertahan di tubuh yang salah dan gak sesuai dengan gander mereka? Penasaran yuk baca Guys😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Cutꪻᶠᵃᵗᶦ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Ternyata dia selalu kesepian...
🧸🦋 Happy Reading 🦋 🧸
"Apa-apaan coba, kenapa wajah gue kayak panas yaa ... perasaan malam ini dingin," batin Farrel bertanya-tanya heran, dan sedikit meringis saat merasakan perih di betisnya.
Tubuh Farrel tiba-tiba menegang saat merasakan hembusan angin kecil mengenai luka betisnya. Menatap dalam Fatimah yang saat ini meniup kecil betis putih dan mungil itu, "L-lu ngapain?" tanya Farrel terbata-bata.
"Niup biar gak terlalu perih," jawab Fatimah santai dengan wajah polosnya. "Emangnya kenapa?" tanya Fatimah heran sambil memiringkan sedikit kepalanya.
Napas Farrel tercekat, "Shit! Apa-apaan dengan wajahnya itu, itu wajah gue kenapa jadi semenggemaskan itu! Pengen gue gigit jirr," batin Farrel menjerit dengan dada yang entah kenapa kayak lari dan pengen lompat keluar.
Pipi Farrel merona, seperti tomat matang membuat Fatimah mengerut heran, menangkup wajah Farrel dengan tangan besarnya, "Kenapa muka lu merah gini jirr! Lu sakit?! Yok, gue bawa ke ruang inap biar di cek sama dokter, gue gak mau kalo tubuh gue kenapa-kenapa," oceh Fatimah dengan panik.
Wajah Farrel tiba-tiba datar, mendengus sebal, "Asem! Lu cuma khawatir sama tubuh lu?! Lu gak khawatir sama–" perkataan Farrel terhenti saat menyadari sesuatu.
"Sama siapa?" tanya Fatimah heran.
Farrel kelabakan, mencari jawaban yang tepat, keringat dingin nampak di pelipisnya, " Sama, sama ... sama Zaza maksudnya! Iya! Sama Zaza, hehe..." ucap Farrel sambil terkekeh paksa, mendengar ucapan Farrel membuat Fatimah mengaguk.
"Gila! Asem! Gue kenapa sih?! Apa-apaan coba, kenapa lu kecewa pas dia cuma khawatir sama tubuh dia sendiri, bukan gue..." batin Farrel frustasi kenapa dengannya, sepertinya dia kerasukan deh. Iya kerasukan pasti, dia gak mungkin berharap hal memalukan kayak gitu.
"Jadi gimana, kita masih tukeran, dan kita gak tau masing-masing tentang keluarga kita. Jadi, lu harus cerita ke gue semua tentang keluarga lu, biar gue gak kayak anak idiot di rumah lu!" ucap Farrel berusaha mengalihkan topik, walaupun emang rencana untuk membahas ini dengan musuhnya.
"Lu juga! Tapi ... gue gak terlalu pusing sih, soalnya di rumah kagak ada siapa-siapa, ortu lu jarang di rumah ya? Pas mereka anterin gue ke rumah setelah itu mereka langsung pergi lagi," cerita Fatimah pelan, ia sedikit penasaran.
Mendengar itu Farrel meringis, "Itu ... nyokap sama bokap gue kerja jadi gitu deh, mereka sibuk mulu, jadi udah biasa, so? Makanya rumah sepi mulu, mereka pulang biasanya malam, berangkatnya pagi," jelas Farrel pelan.
Membuat Fatimah menatap Farrel prihatin, membuat Farrel tidak senang.
"Ck! Jangan natap gue gitu, jirr! Gue gak semenyedihkan itu, gue fine kok..." sahut Farrel mendengus kesel, dia tak suka orang melayangkan tatapan kayak gitu ke dia, apalagi yang melakukan itu adalah musuhnya.
Tiba-tiba Farrel mematung, telinganya merah, jantungnya berdisko ria di dalam, dan matanya hampir melompat dari sarangnya, saat melihat Fatimah tiba-tiba memeluknya erat, tangannya bingung mau narik atau dorong, "Lu ngapain, jirr!?" tanya Farrel keras.
Lampu jalan masuk lewat kaca mobil, bikin bayangan bergerak di wajah mereka.
Fatimah mendongak sedikit tanpa melepaskan pelukannya, menatap Farrel dengan mata berkedip lucu, "Gue peluk lu, emang lu gak liat?" tanya Fatimah polos, masih belum ngeh apa yang ia lakukan.
Farrel menatap Fatimah sebal, walaupun lucu wajahnya benar-benar aneh pas di pakai sama musuhnya, apa-apaan itu, mata itu berkedip lucu, membuat napas Farrel tercekat, "Maksud gue, alasan lu meluk gue apa?" tanya Farrel berusaha sabar walaupun saat ini wajahnya sama kayak warna tomat mateng, gak ada bedanya.
"Ohh, alasan meluk lu ... karena gue kasian sama– APA? Gue meluk lu?!!" pekik Fatimah tiba-tiba dengan bola mata yang melebar, tangannya gemetar pelan, napasnya tersendat, ia baru sadar, menatap posisi mereka membuat ia buru-buru melepas pelukannya. Wajahnya memerah, ia meringis, "Malu bet, jirr! Kok bisa gue meluk dia gitu?! Apa karena gue kasian ya, karena ternyata dia selalu kesepian ... jadi gue reflek meluk dia!" batin Fatimah menjerit keras pengen deh agar ia bersembunyi di dalam tanah, sangking malunya.
Sedangkan Farrel terkekeh melihat kelakuan musuhnya, baru sadar kalo musuhnya itu sedikit menggemaskan. Sedikit yaa permisah gak banyak ,cuma seupil! pikir Farrel gak ada akhlak.
🧸🦋 Bersambung 🦋🧸
Begitulah rasanya yaya sebelum ini 🤭
itu pantas bagi kalian... karena kalian telah melakukan kejahatan yang begitu mengerikan/Angry/
Kok bisa g saling cinta punya anak 2 🤭
Sekarang terjadi di kalian 🤭
Mungkin alasan ini jg jiwa Fatimah & Farel ketukar 🤗