Apakah waktu adalah dapat mengubah semuanya? Termasuk setiap kehidupan. Mungkin iya. Dan itulah yang dirasakan oleh gadis biasa yang terlempar ke dunia lain, dalam seketika dia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri.
Sebuah Negara yang amat besar harus terpecah belah menjadi dua sehingga memiliki latarbelakang yang sangat buruk.
Kehadiran gadis itu mungkin bukan main-main. Sehingga siapa saja dapat mengira bahwa gadis itu adalah 'Sebuah Ancaman'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMENANGAN!
"Woooooa!!! Hiragi mampu mengalahkan kekuatan Nona Muda Krista!"
Tiada hujan tiada panas dan angin. Krista yang masih terdiam di bawah tatapan dingin Hiragi langsung memberikan sinyal pada beberapa bawahannya.
DUAR!
Dentuman petir begitu kuat membuat seisi stadion menjadi riuh, berantakan.
"Ka-kami rasa ada kesa-"
"Ini bukanlah kesalahan!"
Fresa yang muncul entah dari mana membuat banyak orang bingung. Hiragi tak mampu lagi menahan dirinya. Kepalanya terasa sakit. Dengan wajah santai, Fresa berusaha membuat orang-orang tenang kembali.
"Mahiru, bukankah seperti ada hal aneh pada Hiragi." Tanya Gorsa yang langsung menempel padanya.
Memang saat ini adalah waktunya. Waktu bagi Krista dan Ibunya beraksi Harui saat ini masih terdiam dan menyerahkannya pada Hiragi, walaupun kekhawatiran dalam dirinya menyeruak.
Erthan sudah mengeluarkan beberapa sihir samar-samar pada daerah stadion agar tidak ada yang terluka.
Orang-orang terdekat Hiragi pun sama sekali tidak percaya dikeadaan seperti ini.
"Krista Hans apa sebenarnya yang kau lakukan!" Ucap Hiragi serasa ingin merusak wajah Kirsta.
"Tentu saja babak final." Jawab Krista dengan enteng.
Wuuuuuuu...
DUAAAAAAAAAAR!!
KRAAAAK~
Sesuatu benda yang besar jatuh tepat di tengah-tengah arena. Hiragi langsung membuat pelindung untuk dirinya sendiri, entah apa rencana Krista dan Ibunya. Saat membuka mata dan sekelilingnya terlihat jelas Hiragi terkejut bukan main, di depannya saat ini adalah dua ekor Serigala yang kelaparan.
Harui merasa Deja Vu saat melihatnya. Erthan langsung menghampiri Harui untuk menghentikan ini semua, namun tak ada reaksi dari Harui. Dia tetap menatap kejadian mengerikan itu di bawah arena.
"Ini adalah tahap akhir, karena Nona Katsura Hiragi menang dibabak sebelumnya, bukankah hal yang wajar mengujinya seperti ini." Krista menjelaskan itu di luar pikiran Harui.
Dia sudah menyangka bahwa Krista dan Ibunya sama sama keras kepala dan licik. Erthan melihat Harui dengan wajah dipenuhi amarah serta gertakan di giginya. Jika memang Hiragi tidak memohon untuk hal-hal aneh sebelumnya, Harui saat ini pasti langsung turun menuju arena.
"Kau akan tamat Hiragi."
Di sisi lain, Hiragi sangat mengkhawatirkan dirinya sendiri, dari pada orang lain. Karena ada Erthan di sana, dia tau apa yang harus dia lakukan disaat tegang seperti ini.
Racun yang menyerbak dirinya semakin liar. Membuat Hiragi lumayan sulit untuk menghindar dari dua serigala putih itu.
"Mahiru itu kan seri-"
"Serigala malam... Aku tau."
"Kau ini bodoh! Hiragi dalam bahaya dan kau hanya menonton dari atas." Gertak Gorsa yang mulai tidak setuju dengan keadaan sekarang.
"Gorsa, tenanglah, lagipula Harui telah berjanji akan turun tangan jika terjadi hal lebih buruk."
Harui tetap mengabaikan perdebatan Pamannya dan Gorsa. Saat ini yang lebih penting adalah keadaan Hiragi yang harus baik-baik saja.
...☄☄☄☄...
DUAGH!
Hiragi mengerahkan beberapa staminanya agar bisa membuat dua hewan liar ini mati. Tapi Hiragi merasa semua itu sia-sia. Seperti tidak ada ruang sama sekali untuk melumpuhkan hewan itu. Hiragi menyerang dari segala arah namun selalu gagal, hewan ini menurutnya mempunyai perhitungan.
Hiragi berpikir keras, bagaimana dia mengatasi dua mahkluk itu. Jika tidak mempan dengan fisik, maka gunakan akal.
"Gunakan otakmu, jangan hanya pada kekuatanmu." Batin Hiragi, yang terus membuatnya kewalahan dengan racun yang ada di tubuhnya.
Ucapan Harui dan Pamannya, teringat dipikiran Hiragi. Saat ini Hiragi aku memikirkan
cara untuk mengelabuhi kedua hewan itu.
Hiragi melakukan gerakan seperti yang dia lakukan pada saat melawan Krista. Hiragi yakin ini akan berhasil, tapi jika tidak Harui ada bersamanya, dia tahu bahwa dari tatapan Harui, pria itu sangat ingin turun ke arena. Tapi belum waktunya
"Gadis bodoh ini menggunakan trik basi kepada Serigala malam, alangkah indahnya hari ini dengan kepergianmu, Hiragi."
"Gadis bodoh itu! Mengapa dia lakukan trik yang sama?!" Teriak Harui dengan histeris, membuat beberapa penonton mengarahkan padangan pada dirinya. Begitu pula dengan Krista.
Dengan melihat Harui begitu panik, Krista merasa telah diambang kemenangan. Karena situasi yang menurutnya sedang berpihak padanya. Harui beranjak dari tempatnya dan menuju tempat kursi paling depan
"Hiragiiiiii!"
"Ayooo Hiragi."
"Kau pasti bisaa!"
"Kalahkan monster jelek itu Hiragii!"
Teriakan dukungan merambai di mana-mana, dengan dukungan mereka Hiragi merasa diberikan dorongan yang tinggi.
Hiragi dengan cepat dan tepat melompat ke arah Serigala itu dengan memegang dua buah pedang Naga sekaligus.
BUMB!!!!!
"Tamatlah kau Hiragi."
TRANG!!
"HYAAAAAA!!!!!"
CRUUUUUUAKH!
Semua mata penonton ingin lepas. Serta jantung Harui yang tak karuan saat ini membuatnya ingin meledak. Apa yang dia lihat saat ini sungguh mengerikan.
"ROOOOOOAARH!!!"
Darah merembes di mana-mana, ketegangan menghantui semua orang, kemenangan, itulah yang dirasakan Krista dan Fresa. Remuk dan hancur itulah yang dirasakan orang-orang terdekat Hiragi termasuk Harui yang masih terbelak melihat kejadian di arena.
Dengan ancang-ancang Harui sudah mempersiapkan dirinya untuk menyusul kebawah. Tapi pergerakan itu buyar saat asap dan debu menjadi satu itu padam.
WUSH!!
Dengan gagah beraninya Hiragi menebas kedua hewan liar itu dengan menusuk bagian bawah.
《Sebelumnya.》
Hiragi menggunakan pelindung yang sangat kuat untuk dirinya sendiri dan langsung menyerang Serigala itu dengan salah sasaran, Hiragi akan membuat satu serangan yang luar biasa dan memang harus berhasil. Memang benar pergerakan itu seperti yang dia lakukan tadi saat melawan Krista, namun sedikit berbeda dengan ini.
Dia mengeraskan pelindungnya sekeras mungkin agar bisa menangkis serangan maut hewan liar itu dalam sekali pertahanan. Dan hal itu berhasil, dengan cepat Hiragi merubah posisinya menuju bawah Serigala itu dan langsung menusuk mereka dari rahang bawah.
Mempunyai dua pedang saat ini memang menguntungkan baginya.
《Di Arena.》
Hiragi mengangkat pedang Naga hitam milik Harui dengan penuh perjuangan, pengorbanan.
"HIRAAAAGII!"
"KAU HEBAAAAT!"
"HIRAGIII!"
Dukungan dari beberapa penonton masih terdengar jelas di kedua telinga Hiragi, namun pada seketika itu tubuh Hiragi tidak mampu bertahan, gadis itu mengeluarkan banyak darah dari kepalanya serta goresan-goresan yang lumayan parah, tapi dengan gerakan gesit dan juga cepat. Harui melompat ke arah tempat Hiragi dan langsung mengangkap tubuh gadis itu.
Erthan dan Gorsa langsung menyusul ke bawah.
"Menakjubkan! Nona Hiragi pemenang dari acara latih tanding ini!"
Krista langsung merebahkan dirinya ke kursi besar miliknya tepat di dekat arena lapangan. Dia tak habis pikir rencana yang dia buat mengapa tak berhasil. Dan dua Serigala malam itu dibunuh begitu saja, padahal saat ingin memburunya membutuhkan nyawa dua puluh pasukan.
Saat seusai pertandingan, Erthan pun mewakili Hiragi untuk meminta imbalan, yaitu sebuah buku, dengan tatapan benci Krista pun menurutinya.
Krista memerintahkan pelayannya untuk mengambil buku itu. Krista dapat melihat jelas Harui merangkuh tubuh Hiragi yang tidak sadarkan diri, dia kalah lagi dan lagi.
"Mengapa gadis itu dengan mudahnya mengukir senyuman Tuan Muda Harui!" Batinnya dengan kesal.
Tak membutuhkan waktu lama untuk mengambil buku itu. Krista dengan secara langsung dan terhormat memberikan buku itu. Kenapa dia merasakan seperti aman disaat dirinya kalah dari Hiragi yang tidak sadarkan diri.
"Tenang saja Nona Muda Krista Hans yang terhormat, saat ini aku hanya sebagai pewakilan, dan setelah ini akan dilakukan oleh keponakan kedua ku." Ucap Erthan dengan nada halus dan lembut namun menusuk.
Pertarungan berhasil, semua berjalan dengan lancar. Hiragi dapat membuat orang-orang di sekitarnya mempercayainya, termasuk dengan Harui.
Percayalah daun yang jatuh tak harus menyentuh tanah, dan hati yang tenang tak harus selalu sendiri. Kini ada Hiragi bersamanya.
《Di Kediaman Mansion Keluarga Hans.》
"Panggil pendeta itu kesini!" Teriak Krista sambil melempar barang yang ada di sekelilingnya.
Dua pengawal yang dia perintahkan pun langsung membawa pendeta itu. Krista dengan amarah yang memuncak langsung meraih pedangnya dan dia dekatkan pada pendeta yang memberikan obat padanya.
"Aku sudah memperingatkanmu, tapi mengapa jadi seperti ini." Ucap Krista yang berhasil membuat goresan di leher pendeta itu.
"No-Nona, yang ku lakukan tidaklah salah, hanya saja dia dapat menahan ra-"
CRUAAAK!
Dengan kejam Krista membunuh pendeta itu tanpa ampun.
"Mungkin dengan cara sederhana tidak akan membuat dirimu sadar Katsura Hiragi."
Moga komen ma like nya tersampaikan okey, yaa walau cuma 'Abc' ma 'Xyz'😆😆
Knp sad ending????