Adara terpaksa menerima kehadiran seorang madu di rumah tangganya, dia tidak dapat berbuat apa-apa karena sang suami dan mertua yang begitu kekeuh menghadirkan madu tersebut. Madu bukannya manis, tapi terasa begitu menyakitkan bagi Adara.
Awalnya Adara merasa sanggup bila dirinya berbagi suami, tapi nyatanya tidak. Hatinya terasa begitu sakit saat melihat sang suami dan adik madunya sedang berduaan. Apalagi hubungan sang mertua yang terlihat sangat dekat dengan adik madunya. Ditambah lagi suami dan mertuanya juga memperlakukan sang adik madu dengan begitu istimewa, bak seorang putri yang harus selalu dilayani dan tidak boleh melakukan pekerjaan apapun. Berbanding terbalik dengan Adara yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah termasuk menyiapkan kebutuhan sang adik madu.
Hati Adara sangat sakit menerima perlakuan tidak adil tersebut.
Sejauh mana Adara sanggup bertahan membina rumah tangganya yang tak sehat lagi?
Yuk ikuti terus cerita ini. InsyaAllah happy ending.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 01Khaira Lubna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil
Semua orang yang ada di rumah itu begitu cemas melihat kondisi Winda yang tiba-tiba mengalami mual dan muntah hebat.
Yulia meminta pembantu yang ada di rumahnya untuk mengambil minyak kayu putih.
Lalu dia mengoleskan minyak ke perut serta punggung Winda.
''Kamu kenapa muntah muntah begini, Win? Apa kamu ada salah makan atau telat makan? Apa mungkin mag kamu kambuh,'' ucap Yulia khawatir, dia membelai punggung sang putri.
Sementara Sari, dia memijat pelan tengkuk sang menantu kesayangan.
''Tidak Ma, aku rasa semuanya baik-baik saja tadi. Rasa mual ini mendadak saja aku rasa,'' lirih Winda dengan kondisi tubuh semakin lemas.
Huek.
Baru saja keluar dari kamar mandi, dia masuk lagi, kali ini dia tidak memuntahkan apapun. Hanya air ludah nya saja yang keluar.
''Hah, hah ....,'' Winda terduduk di lantai kamar mandi karena tubuh nya yang semakin terasa lemas. Wajah nya pun tampak pucat dengan keringat dingin membanjiri kening.
''Erlang!'' panggil Sari panik.
Erlang yang menunggu di depan pintu kamar mandi lalu bergerak masuk.
''Ya ampun Sayang,'' dengan cepat Erlang menggendong tubuh Winda, lalu dia membawa Winda ke kamar Winda semasa masih gadis dulu atas titah Yulia.
''Mama akan hubungi dokter langganan keluarga kita,'' kata Yulia, dia berlalu ke kamar nya untuk mengambil ponsel.
Alex berdiri di sisi ranjang sang putri, dia juga sangat mencemaskan keadaan sang putri semata wayang. Dia harap semuanya akan baik-baik saja.
*
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya seorang pria berkemeja putih datang. Pria berusia sekitar lima puluh tahun, dia adalah dokter senior yang berpengalaman.
Dia langsung saja memeriksa keadaan Winda. Dia mengeluarkan stetoskop serta tensimeter dari dalam tasnya.
Sambil memeriksa tekanan darah Winda, dia menanyakan beberapa pertanyaan kepada Winda.
''Kalau boleh saya tahu, kapan terakhir kali kamu datang bulan?''
''Em, bulan kemarin udah, tapi bulan ini aku telat sih Dok. Udah lewat tanggal kayak biasanya,''
''Apakah kamu bisa berdiri dan berjalan ke kamar mandi? Sepertinya kamu harus memeriksa urin kamu dengan menggunakan tespeck ini,'' sang dokter memberikan tespeck kepada Winda.
Mendengar itu, senyum bahagia terukir jelas di wajah Erlang, Sari serta kedua orang tua Winda.
Dengan sigap Erlang menggendong tubuh sang istri ke kamar mandi, dia tidak memberi kesempatan Winda untuk berdiri.
''Kamu masih lemas Sayang. Jadi lebih baik biar Mas gendong saja,'' kata Erlang tersenyum simpul.
Semua orang yang ada di ruangan yang sama tersenyum melihat keharmonisan pengantin baru tersebut.
Winda mengalungkan kedua tangan nya pada leher sang suami. Rasanya saat ini dialah istri satu-satunya Erlang. Dia merasa sangat bahagia.
Saat sudah tiba di kamar mandi, Erlang dengan gesit membantu sang istri. Dia bahkan tidak merasa jijik saat dia membantu mencelupkan tespeck ke urin Winda yang di tampung ke dalam wadah kecil.
''Aku harap kamu benar-benar hamil Sayang. Mama pasti sangat bahagia mendengar kabar baik ini,'' ucap Erlang.
''Iya, Mas. Akupun berharap begitu,''
''Ini bagaimana Sayang, kalau hamil gimana tandanya?'' kata Erlang bingung seraya memperhatikan garis yang ada di alat tes kehamilan.
''Kalau hamil tandanya ada dua garis merah pada tespeck nya, Mas,'' jawab Winda.
''Benarkah?''
''Iya,''
''Wah, berarti kamu hamil dong Sayang,'' Erlang bersorak senang dengan tangan gemetar karena dia tidak menyangka sang istri akan hamil secepat ini.
''Mana, sini coba aku lihat,''
''Wah iya, Mas,'' ucap Winda saat dia sudah melihat alat tes tersebut.
''Kalian kenapa? Cepatlah keluar, kami juga ingin melihat hasilnya,'' kata Sari seraya mengetuk daun pintu.
Mereka bisa mendengar suara bahagia Erlang dan Winda di kamar mandi.
Begitu Erlang dan Winda sudah keluar, dia menunjukkan tespeck kepada sang dokter, dan dokter pun mengatakan kalau Winda positif hamil. Dokter tersebut memberikan beberapa vitamin kepada Winda, lalu dia permisi pulang.
Sari menangis bahagia mendengar itu. Dia memeluk tubuh Winda serta mengucap selamat berulangkali.
''Kamu memang menantu Mama yang dapat diandalkan Sayang. Terimakasih banyak dan selamat ya. Mama akan membantu kamu menjaga kandungan mu,''
''Duh Jeng, sebentar lagi kita akan punya cucu, senang banget deh,'' ucap Yulia.
''Iya Jeng,''
''Ternyata kamu tokcer juga Erlang. Bagus, bagus. Papa ikut senang mendengar kabar baik ini. Papa percaya sama kamu, jaga putri kesayangan papa dengan baik,'' Alex menepuk-nepuk kecil bahu Erlang. Erlang semakin senang mendengar pujian dari sang mertua.
Setelah selama setahunan ini dia selalu mendapat pertanyaan dari orang-orang sekitar nya kenapa Adara tak kunjung hamil, dia selalu bingung harus menjawab apa, dan bahkan tidak sedikit dari orang sekitar nya yang mengatakan kalau dia lelaki lemah serta mandul. Kini dugaan itu terbantahkan, Erlang sudah bisa membanggakan dirinya kalau dia lelaki tulen dan bisa mencetak generasi penerus.
''Ternyata selama ini Adara lah yang bermasalah. Lihatlah, belum lama aku dan Winda menikah, kini Winda sudah dinyatakan hamil anakku. Ah, aku bahagia sekali sekarang,'' ucap Erlang di dalam hati.
Malam itu, Erlang, Sari dan Winda menginap di rumah orang tua Winda. Karena sudah terlalu malam bagi mereka untuk pulang ke rumah selain itu juga karena kondisi Winda yang masih belum memungkinkan untuk duduk di kendaraan.
Winda dan Erlang tidur dengan perasaan teramat bahagia, mereka saling berpelukan sepanjang malam. Bahkan Erlang terus mengelus perut Winda yang masih datar.
Sejenak Erlang melupakan sosok sang istri tua yang masih belum dia ketahui dimana keberadaan nya.
*
Keesokan paginya, Winda bersikap begitu manja kepada sang suami. Untuk makan saja, dia ingin Erlang sendiri yang memasak.
Alhasil, untuk pertama kalinya Erlang bermain di dapur, memegang spatula hingga mengiris bawang dan dedaunan.
Dia akan membuat nasi goreng sesuai dengan keinginan Winda.
''Kamu tidak usah ke kantor hari ini Erlang. Urus saja istrimu. Wanita hamil memang begitu, manja dan banyak mau nya. Kamu tidak usah khawatir, kamu bisa kapan saja masuk kerja, karena kamu sudah punya posisi khusus di perusahaan Papa,'' kata Alex. Dia menemui Erlang di dapur sebelum berangkat ke kantor.
Setelah selesai memasak, Erlang menyuapi Winda dengan sabar, beberapa kali Winda memuntahkan kembali makanannya, sehingga Erlang harus turun tangan sendiri membersihkan muntahan sang istri.
Pukul sepuluh pagi, Erlang pamit pulang sebentar. Dia akan mengambil pakaian gantinya di rumah, karena Yulia melarang mereka agar jangan pulang dulu.
Sari dan Yulia tampak sangat akrab, mereka begitu kompak menjaga Winda serta menggosip tentang topik yang sedang hangat-hangatnya.
*
Setelah melewati perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya Erlang tiba dikediaman nya.
Dia memarkirkan kendaraan roda empat miliknya di halaman rumah, lalu dia melangkah menuju pintu utama.
Saat dia akan membuka pintu, terdengar seseorang memanggil namanya dari belakang.
Dia menoleh, dan melihat seseorang yang tidak dia kenal sudah berdiri tepat di belakang nya.
''Pak Erlang, ya?''
''Iya, kamu tukang pos?''
''Iya, Pak. Saya ingin mengantarkan ini kepada Anda,''
''Apa ini?''
''Baca saja sendiri, Pak. Oh ya, tolong di tandatangani sebentar tanda terima nya, Pak,''
Saat sudah selesai menandatangani dan kurir pos juga sudah pamit pergi, Erlang membuka pintu rumahnya, lalu dia menjatuhkan pantatnya di sofa ruang keluarga. Rasanya dia sudah tidak sabar lagi ingin membuka amplop putih yang masih belum dia tahu isinya.
''Apa? Surat cerai,'' gemetar tangan Erlang membaca kertas yang sudah di bukanya.
''Kapan Adara mengurus surat gugatan cerai ini? Berarti dia baik-baik saja saat ini. Tidak, aku tidak akan pernah menceraikan Adara,'' gumam Erlang dengan wajah memerah, giginya bergemeletuk. Dia lalu meremas kertas yang di pegangnya.
Usai mengganti pakaian nya, dia berangkat ke panti, karena dia yakin saat ini Adara berada di panti, dia menduga Ibu panti sengaja menyembunyikan Adara di panti.
Bersambung.
saga kasihan Thor😢😢