Ingin adalah karya yang sebelumnya dan Sudah direvisi di beberapa bagian.
Naura menerima tawaran kakak sahabatnya dengan imbalan tiga puluh juta rupiah. Tugasnya juga mudah hanya membatalkan pernikahan seseorang. Tanpa bertemu, hanya berbicara melalui telpon, dan uang muka juga sudah dia terima, Tentu saja gadis itu bersedia, dan pergi ke acara pernikahan dengan cara menyamar.
Tapi siapa sangka aksinya itu justru membuat dirinya terjebak pernikahan dengan pria yang dia batalkan pernikahan nya. Pria itu memaksanya, jika tidak mau di laporkan ke polisi. Tentu saja dia menolak karena takut identitas nya ketauan,
Bagaimana Naura menghadapi suaminya?
Bagaimana pernikahan nya?
Apakah akhirnya rahasia dia terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiss
Dewa memarkirkan mobilnya dengan asal, Perasaannya masih belum sepenuhnya tenang. Dia masih marah, kesal dan tentu saja kecewa dengan sikap Laras.
Dewa membanting pintu mobilnya dan berjalan masuk kedalam dengan langkah gontai.
Dia terus berjalan menuju ke kamarnya, membuka pintu lalu membanting tubuhnya di sofa. Kepalanya menatap ke atas, melihat langit-langit ruangan. Dua kancing bagian atas tubuhnya sudah terbuka, wajahnya kusut, jelas terlihat jika dia benar-benar kacau.
Berulang kali terdengar hembusan nafasnya yang kasar, seakan dia berusaha mendorong kuat beban berat yang saat ini menimpa dadanya.
Laras dan Naura, dua wanita berbeda yang hadir di dalam hidupnya.
Keputusan Dewa menikah dengan Naura adalah efek samping karena Laras meninggalkan nya, bukan hanya sekedar karena Naura memfitnah dirinya. Baginya sangat mudah membuktikan Jika dia tidak menghamili gadis itu, tinggal memanggilkan dokter dan memeriksa Naura hamil atau tidak Itu juga cukup mudah, dan bila wanita itu benar hamil dia bisa melakukan tes DNA, tapi bukan hanya itu. Perasaan gagal dan kecewa yang diakibatkan oleh tindakan Laras membuatnya memutuskan untuk menikah dengan gadis lain,.dan gadis itu Naura.
Lalu kenapa saat dia sudah coba melupakan Laras dan berusaha menerima takdirnya wanita itu kembali, untuk apa?
pertanyaan itu terus terngiang di kupingnya sayangnya dia juga tidak mampu menemukan jawabannya.
kembali sebuah ******* panjang keluar dari bibirnya pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.
lelah berpikir sendiri, Dewa pun melangkah menuju kamar dan bersiap untuk tidur. mungkin dengan tidur semuanya akan terlupakan setidaknya untuk beberapa saat.
Pria itu terkejut mendapati tempat tidurnya kosong, tidak ada Naura di sana, timbul pertanyaan "ke mana perginya gadis itu?"
Dewa melangkah cepat masuk dan membuka pintu kamar mandi kosong wanita itu juga tidak ada di sana perasaan tidak enak dan pikiran negatif mulai menghantui kepalanya dia pun keluar mencari keberadaan Naura. Ke dapur tetap tidak ada, Dewa memasuki kamarnya berpikir juga Gadis itu mungkin tertidur di balkon kamar langkahnya cepat menuju tempat itu, namun hasilnya tetap sama Naura tidak ada disana.
Dewa kembali mengusap wajahnya, dia kembali ke ruang tamu, langkahnya terhenti pada satu ruangan kosong, yang tidak dia tempati.
Dengan cepat Dewa menekan handle dan mendorong pintunya namun dia terkejut pintu tersebut terkunci dari dalam segera Dewa kembali ke ruangannya dan mengambil kunci cadangan dia pun membuka pintu itu.
Sesaat pria itu terpaku, namun dia juga bernapas lega, Naura ada disana.
atak ingin mengganggu Naura dia pun kembali ke kamarnya dan memberikan tubuhnya yang lelah.
**
Pagi-pagi sekali Dewa sudah bangun dan melakukan olahraga pagi. mungkin dengan berolahraga dan mengeluarkan banyak keringat bisa sedikit membuat pikirannya menjadi segar,
Sementara Naura masih nyenyak tidur di balik selimut. Karena terlalu banyak berpikir dan begadang tadi malam, hingga saat ini dia belum.juga bangun padahal hari sudah menunjukkan pukul tujuh, Naura kesiangan.
"Uuah..." gadis itu menggeliat dengan santainya.
Setelah beberapa saat, dia pun mulai membuka mata dan mengumpulkan seluruh jiwanya dan matanya tiba-tiba terbuka sempurna saat menyadari pintu kamarnya terbuka.
Refleks gadis itu membuka selimut dan melihat dirinya kemudian dia bernapas lega. "Alhamdulillah..." ucapnya bersyukur.
Naura turun dan segera merapikan tempat tidur, lalu berjalan keluar menuju kamar Dewa seluruh pakaiannya ada di sana dan Gadis itu ingin segera mandi sebelum menyiapkan sarapan pagi.
Naura tersenyum saat menyadari kamar itu kosong, ternyata Dewa juga tidak ada dirumah. Dengan bersiul dia membuka lemari dan mengambil pakaian ganti kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
setengah jam kemudian Naura keluar dengan wajah segar rambut basah dan tubuh yang wangi.
Kaos oblong dan celana pendek adalah pakaian kesukaannya, dia pun melangkahkan ke dapur, sebelah tangannya masih betah mengusap rambutnya yang masih basah. Naura tak suka menggunakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya yang panjang.
Dia berjalan tanpa memperhatikan sekelilingnya, dan sambil bernyanyi gembira, hatinya bahagia tak mendapati pria itu disana.
Padahal sejak semalam dia sudah berpikir keras bagaimana harus bersikap terhadap Dewa nantinya. Perasaan malu masih terus menghantuinya.
Gadis itu memasak mie instan yang dia beli kemaren dengan menggunakan uang pribadinya.
Baru saja dia meletakan mienya diatas meja, saat seseorang masuk ke dalam rumah. Karena tak menekan bel Naura tidak menyadari jika Dewa sudah masuk ke dalam.
Gadis itu terkejut saat Dewa menyebut namanya, "Siapa yang mengijinkan mu makan makanan itu, Naura!"
Naura menoleh, tapi tidak menjawab pertanyaan Dewa, dia malah duduk dan mulai menyantap mienya yang masih mengepul hangat.
"Naura!"
Gadis itu tak menoleh, dia tetap fokus pada makanannya.
"Mana sarapan ku?"
"Beli saja, aku tidak bisa masak,"
Dewa duduk di samping Naura dan menarik mie gadis itu, "Kembalikan!" protes Naura
"Tidak, mana bisa kamu makan sedangkan suamimu kelaparan." ejek Dewa
"Berikan, aku malas berdebat dengan mu, cepat!!!" kali ini Naura bicara sedikit meninggi, dia kesal dengan ucapan Dewa.
"Kalau aku tidak mau, kamu mau bilang apa?"
"Aku!!! Huh!" Naura mendorong dada Dewa karena kesal, dia marah, tapi bukan dewa jika dia menyerah.
Dewa menangkap tangan Naura kemudian menariknya mendekat dengan sekali hentakan. Sebelah tangannya dengan cepat menarik pinggang gadis itu, hingga tubuh keduanya menempel satu sama lain. Naura gelagapan, bayangan peristiwa tadi malam kembali muncul, "Kamu mau apa?" ucapnya menantang
"Aku mau apa?" ulang Dewa dengan nada mengejek, dan dia semakin mencondongkan wajahnya, hingga jarak keduanya hanya tinggal hitungan centi saja.
Tapi kali ini Naura tidak panik, Gadis itu teringat peristiwa tadi malam di mana Dewa Hanya mengerjainya, Jadi dia tidak takut.
"Lepaskan aku," ucapnya yang masih coba berontak sayangnya tubuhnya terkunci sempurna.
"Hahaha...kau takut?"
"Aku takut? tidak, aku tidak takut denganmu, kau hanyalah pria yang beraninya cuma mengancam, kau.."
"Emmpth...." bibirnya Naura terkunci dengan bibir Dewa hingga dia tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Sontak saja gadis itu membeku, dia tidak menyangka Dewa akan berani melakukan itu, untuk sesaat pikirannya melayang, namun segera kesadarannya muncul dan dia berontak. Melihat sang istri berontak Dewa semakin memperdalam ciumannya bahkan dia sampai menggigit bibir Naura hingga berdarah.
"Bajingan," maki Naura setelah ciuman itu terlepas.
Dewa terkekeh, "kenapa?"
"Kau!!" ucap Naura dengan mata berkaca-kaca, dia masih coba melepas tangannya tapi tak bisa, Dewa memegangnya erat.
"Jangan bertingkah seolah ini ciuman pertama mu, jangan sok suci, karena aku tau kau sering pergi ke klub bersama teman-teman mu, iya kan?" tanya Dewa dengan tatapan sinis
Dengan tatapan penuh amarah Naura bicara, "jangan samakan aku dengan mantan calon istri mu atau wanita lain yang pernah kau temui di klub, karena tidak semua orang yang kesana itu bajingan dan tidak semua orang yang bersikap sok manis itu pria baik baik,"
"Lepas!" ucap Naura,dan pegangan Dewa melonggar, gadis itu segera berlari menuju kamarnya.
Dewa terdiam dan tertegun, dia sendiri tidak sadar, mengapa dia bisa melakukan itu, entah dorongan darimana dia mencium Naura.
Lagi dia mengusap wajahnya kasar, dan menghembuskan napas berat.
nggak usah bikin cerita yang banyak tapi gantung 😔
ceritanya nanggung nih...