Menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga orang lain. Tentu bukanlah hal yang di inginkan oleh wanita baik-baik, bukan?
Tapi bagaimana? Jika semua itu sudah bagian dari takdir seseorang? Seperti takdir dari gadis cantik yang bernama Farida Pasha (23 tahun) pelayan di salah satu hotel bintang lima di kota besar itu.
Karena tragedi satu malam yang merenggut kehormatan nya, membuat ia terpaksa menikah dengan Aditia Putra Aditama (32 tahun) pria yang sudah memiliki istri.
Akankah Farida bahagia menjadi istri simpanan? Atau ia akan berakhir menyedihkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BOLEH SENTUH GAK, MAS?
Farida yang duduk bersandar di sandaran ranjang sembari bermain ponsel suaminya. Segera mengalihkan fokusnya pada Aditia yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya.
Aditia yang menyadari tatapan istrinya pun segera bertanya. "Sayang, kenapa kok liatin mas kayak gitu?" Tapi, istrinya itu hanya menggeleng dengan mata yang masih menatap tubuhnya.
"Hey.. Kenapa sih, yank? Apa ada yang aneh?" tanya Aditia lagi sembari mendekati istrinya.
"Gak ada yang aneh," kata Farida dengan serius. Lagi-lagi, matanya itu terus menatap tubuh bagian atas suaminya yang polos. "Cu-cu-cuman Ida mau pe-pe-pengen pegang itu!" tunjuk Farida dengan wajah memerah.
"Hahaha.. Astaga, yank! Kenapa gak ngomong?" Aditia tertawa sembari menarik tangan istrinya itu dan menempelkan nya perutnya yang sixpack.
"Farida kan malu," ucap Farida, wanita hamil itu menundukkan kepalanya dengan tangannya yang mengusap perut kotak-kotak suaminya. "Yang lain boleh enggak?" tawar Farida lagi.
"Terserah deh mau yang mana, asal istri mas puas," kata Aditia. Pria itu sembari menahan geli pada perutnya yang seakan di gelitik oleh telapak tangan halus istrinya itu.
"Mas nya naik sini," pinta Farida. Pria yang belum memakai pakaiannya sehabis mandi itu pun segera naik ke atas ranjang. Tangan halus Farida bergerak dari dada hingga ke pusat suaminya, membuat sesuatu yang ada di bawah sana ikut bangkit karena ulah nya.
"Yank, kamu mancing?" Aditia yang bersandar pada sandaran ranjang itu mulai merasakan gejolak di dalam tubuhnya.
"Heheee.. Dah lah, biar Mas Adi yang mulai," batin Farida. "Udah mas," kata wanita licik itu sembari melirik wajah suaminya yang terpejam. Terlihat, J*kun suaminya itu sudah naik turun.
Sebenarnya bukan dada suaminya itu yang di inginkan Farida, melainkan sentuhannya. Wanita itu ingin meminta, tetapi ia begitu malu. Karena sudah 3x dalam waktu seminggu ia lah yang meminta lebih dulu kepada Aditia.
"Enak aja, udah bikin bangun malah mau udahan," ucap Aditia sembari menahan tangan istrinya hingga istrinya itu terjerembab di atas tubuhnya.
"Mas.. Ida capek," ucap Farida berbohong. Jual mahal, pura-pura menolak tapi sebenarnya ia begitu menginginkan permainan panas itu berlanjut.
"Sebentar aja, yank," pinta Aditia sembari mengusap bokong istrinya dengan lembut. Sesuatu miliknya yang hanya terbungkus oleh lilitan handuk itu sudah menonjol dan siap bergerak menjelajah lembahnya.
"Tapi Ida yang main, ya? Mas diem aja," kata Farida pada Aditia.
"Iya, tapi kalau kamu capek. Bilang ya," Farida segera mengangguk dan menyambar bibir suaminya dengan tidak sabaran. Bahkan wanita muda itu menyesapnya dengan rakus.
Setelah puas bermain pada bibir suaminya, bibir Farida pun berpindah dan bergerak pada area leher dan dada suaminya itu, ia mengkecup dan menggigit kecil disana hingga meninggalkan banyak jejak cinta. Sama hal nya dengan apa yang sering dilakukan oleh Aditia padanya saat mereka bercinta.
"Ouchhh.. Pelan-pelan, yank. Ingat anak kita," ucap Aditia dengan lirih saat istrinya itu sudah memasukan miliknya dan bergerak dengan liar.
Permainan itu terus berjanjut hingga Farida merasa puas dan kelelahan. Kini, wanita itu begitu haus akan S*x. Padahal, ia melakukan hubungan badan untuk pertama kalinya di hotel dengan Aditia saat ia masih gadis. Itupun terjadi dalam keadaan di paksa oleh Aditia saat berada dalam pengaruh alkohol.
.
.
.
Di kediaman orangtua Karina, wanita itu terus mengadu pada papa nya dan mengarang cerita yang mengada-ada.
"Arin gak mau pisah dari Mas Adi, pa. Arin mohon bantu Arin," ucap Karina pada papanya, sebut saja Papa Yan.
"Kalau dia berselingkuh dan membawa istri mudanya ke rumah kalian. Untuk apa kamu bertahan?" Papa Yan marah setelah mendengar aduan buruk Karina tentang anak menantunya itu.
"Arin mencintai Mas Adi, pa. Arin gak mau pisah," kata Karina sembari mengusap airmata biawak dari sudut matanya.
"Kalau seperti ini, sama saja kamu menyiksa diri kamu sendiri Karina!" geram Papa Yan. "Apalagi, istri muda nya itu sedang mengandung dan kamu yang sudah menikah dua tahun lamanya sama dia, belum ada tanda-tanda akan mengandung, kan?"
"Hiks.. Arin mohon bantu Arin, pa. Arin gak mau cerai, tolong papa bilang sama Mas Adi biar Mas Adi mau rujuk lagi sama Arin. Arin akan coba buat ikhlas se rumah sama istri mudanya, asal Arin gak di ceraikan." Tidak tahu malu! Bukan Karina yang tidak ikhlas, tetapi Farida yang tidak sudi lagi berbagi cinta suaminya.
"Karina Karina.. Baiklah, papa akan bicarakan semuanya baik-baik dengan Adi. Semoga dia mau mendengarkan Papa untuk rujuk kembali sama kamu," kata Papa Yan.
Setelah mendengar persetujuan papa nya, Karina pun tersenyum puas. Ia begitu yakin, bahwa papa nya akan dapat meyakinkan Aditia untuk membatalkan perceraian itu dan kembali sama-sama lagi seperti dulu.