Sebutan sebagai wanita perusak rumah tangga orang tersemat pada diri Hanindya Ayu, Hanin tak menyangka jika kisah cintanya dengan Senggala Bimantara akan serumit ini.
Kisah ini di mulai setelah kejadian malam itu dan berlanjut saat Gala resmi bercerai dengan mantan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShaNisha_icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertanggung Jawab
Lombok 2 Tahun Lalu.
𝙎𝙀𝙉𝙂𝙂𝘼𝙇𝘼.
Di bawah pengaruh alkohol aku menjadi pria brengsek, kami dibutakan gairah aku menyentuh wanita yang haram aku sentuh.
Pertahananku runtuh godaan itu membuatku lupa diri, aku terjatuh dalam dosa menyentuh yang belum halal bagiku.Mengingkari janji suci ku dan sama dengan Anggun menghianati pernikahanku.
Hanin menikmati sentuhan ku, mungkin jika dalam keadaan sadar wanita itu akan menamparku dan hal ini pasti tidak akan terjadi. Kami menghabiskan malam ini dengan terus mengejar kenikmatan.
Dan terlelap menjelang pagi, aku memeluk tubuh polos Hanin dalam selimut wanita itu bergelung dalam pelukanku, kami tertidur karena kelelahan.
Hingga aku merasakan pergerakan hempasan kasar di tanganku,aku memicingkan mata menatap Hanin duduk memeluk selimut menutupi tubuhnya air matanya mengalir tiada henti, seketika aku ikut terduduk tuhan apa yang aku lakukan.
"Hanin,, maaf aku,,," isaknya makin keras wanita itu hanya menunduk menatap ke arah sprei aku mengusap kasar rambut ku.
Aku mengikuti arah pandang Hanin dan
"Hanin maaf,, aku bakalan tanggung jawab," noda merah di atas seprai membuatku merasa menjadi ba ji ngan, aku mengambil mahkota Hanin bang sat.
"Hanin,,," aku mendekat mencoba untuk menenangkannya.
"Jangan mendekat pak,, jangan,," ujarnya menggelengkan kepala.
"Hanin,, aku benar-benar minta maaf aku janji akan,,"
"Gak usah janji apa-apa sama saya pak," menatapku menghapus air mata dengan tangannya.
"Anggap saja ini tidak pernah terjadi pak," ujarnya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan bergeser menjauh.
"Au,, au,," aku menatap nya meringis kesakitan saat turun dari atas ranjang.
"Kamu duduk dulu biar aku,,," aku mencari celanaku, karena tubuhku polos berada di balik selimut yang sama.
"Gak usah pak,," tolak nya menunduk memungut dress yang aku campakan semalam, aku bergegas memakai celanaku.
Tanpa persetujuan dia aku menuju kamar mandi mengisi bathtub dengan air panas untuk Hanin berendam.
"Sudah aku siapkan airnya kamu bisa berendam dulu,," ujarku saat berpapasan dengan Hanin di pintu kamar mandi, aku menatap nya berjalan tertatih memasuki kamar mandi menyeret selimut.
Wanita itu hanya mengangguk dan berlalu,melemparkan selimut keluar dan membanting pintu kamar mandi.
Aku terduduk di atas ranjang memandangi bercak merah di atas seprai, aku menjadi pria br eng seek yang merebut hal paling berharga dalam diri Hanin, aku harus bertanggung jawab.
Hal pertama yang harus aku lakukan adalah menyelesaikan masalah dengan Anggun karena tak ada lagi yang bisa kami pertahankan aku sama bre ngs eknya dengan Anggun, karena aku juga berkhianat dengan tidur bersama wanita lain.
Ini bukan rasa bersalah pada Hanin tapi aku putuskan mulai hari ini aku akan mengejar Hanin aku akan bertanggung jawab aku gak mau jadi pengecut aku akui aku jatuh cinta dengan Hanin.
Aku baru mengakui perasaan ini bukan karena peristiwa ini tapi aku harus memantapkan hatiku jika benar aku telah jatuh cinta.
Pintu kamar mandi terbuka Hanin berjalan tertatih keluar menggunakan dress semalam.
"Pak bisa saya istirahat di sini sampai kondisi saya membaik," ujarnya duduk di sofa.
"Hanin,, aku,,"
"Bapak di situ aja, kita perlu bicara pak," potong Hanin saat aku akan mendekat.
"Boleh saya bicara dulu pak," ujarnya tenang dan datar, aku mengangguk mengiyakan permintaannya.
"Soal apa yang kita lakukan semalam anggap saja tak pernah terjadi pak,"
"Gak bisa,,," cegah ku..
"Boleh saya bicara dulu pak?" ujarnya menginterupsi, lagi aku hanya mengangguk.
"Kita melakukan itu dalam keadaan tidak sadar bukan paksaan bapak apalagi saya tapi kita sama-sama mau melakukannya, saya tahu kita salah pak jadi saya mohon cukup sampai sini saja pak, saya tidak mau dituduh menjadi perebut suami orang," ujarnya begitu tenang, kenapa Hanin bisa bersikap setenang itu padahal tadi dia menangis dan terlihat rapuh.
"Bapak harus janji ke saya untuk melupakan semuanya," ujarnya menatap sendu kearah ku.
"Gak bisa Hanin, aku gak akan bisa melupakan ini aku bukan pria brengsek yang pergi begitu saja setelah mendapatkan apa yang kamu jaga," ujarku nekat mendekat.
Aku berlutut di depannya menggenggam tangannya persetan jika dia akan menolak.
"Jangan jadikan aku pria bejat Nin, ijinkan aku bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan,"
"Dengan cara apa pak? Menikahi saya gak mungkin pak, bapak punya istri," ujarnya menatap tangannya yang aku genggam.
"Saya gak mau pak, semua orang mencemooh saya mengatakan saya perebut suami orang saya gak mau pak, anggap saja kesalahan ini tak pernah ada," dia menangis lagi kali ini aku beranikan diri memeluknya.
"Maaf kan aku,, aku salah Nin," ujarku mengecup ujung kepalanya.
"Aku yang salah pak, harusnya aku gak minum pak dan harusnya aku,, aku masuk ke kehidupan bapak,," suaranya teredam di dadaku karena aku memeluknya erat.
"Kamu gak salah Hanin, saya yang harusnya bisa mengendalikan diri dan seharusnya saya tidak membawamu masuk ke kehidupan saya," aku mengurai pelukan menghapus air matanya.
"Izinkan aku untuk bertanggung jawab Hanin, aku akan menikahimu setelah urusan ku dengan Anggun selesai,"
"Bapak jangan,,, jangan seperti ini pak gak perlu bapak bertanggung jawab bapak cukup berjanji untuk menyimpan rapat dan melupakan kejadian ini, saya gak mau menjadi perusak rumah tangga bapak," matanya menatap penuh harap padaku.
Rumah tanggaku sudah lama rusak, hanya saja aku bodoh dan naif bersandiwara di depan umum menampakan keharmonisan semu.
Aku membiarkan beristirahat, setelah tadi meminta pelayan mengantar makanan dan memastikan Hanin makan, aku pamit untuk keluar dari kamar.
Aku harus membiarkan Hanin menenangkan diri, dan aku juga perlu untuk menenangkan diri aku harus berpikir jernih untuk mengambil keputusan yang terbaik.
Karena bisa saja apa yang sudah aku tebar akan tumbuh di rahim Hanin, hal pertama yang harus aku lakukan adalah berpisah dengan Anggun.
Anggun mengingat wanita itu aku segera membuka rekaman CCTV.
"Bre ngsek,,, " makiku saat aku memutar rekaman dua hari lalu.
𝙃𝘼𝙉𝙄𝙉𝘿𝙔𝘼.
Tuhan maafkan aku, bapak ,ibu ,Lima maafkan aku, aku bukan wanita baik-baik semua salahku aku yang penasaran dengan bagaimana suasana bar dan penasaran dengan cocktail hingga berakhir seperti ini.
Aku melepas sesuatu yang aku jaga selama ini pada atasanku pria yang aku kagumi, pria beristri.
Mau marah aku tak bisa karena ini bukan paksaan aku melakukan suka rela dan menikmati nya, aku menikmati di bawah pengaruh minuman haram.
Meski pak Galla mengatakan akan bertanggung jawab tapi aku meminta padanya untuk melupakan semuanya, aku gak mau menjadi perebut suami orang.
Tapi pak Galla terus meyakinkanku bahwa dia akan bertanggung jawab, dengan cara apa? Menjadikan aku istri kedua?
Tentu aku menolak meski aku hancur tapi aku masih punya perasaan, aku gak mau menjadi perusak rumah tangga pak Galla dan bu Anggun pasangan yang menjadi idola dan panutan saat ini.
Semua mengagumi keharmonisan keluarga itu, lalu aku datang menjadi perusak keharmonisan itu? Aku datang sebagai pelakor? Tidak aku tidak sejahat itu merebut milik orang lain.
Aku berusaha kuat dan tegar di depan pak Galla meski nyatanya aku hancur karena kehilangan sesuatu yang berharga tapi aku gak mau membuat pak Galla merasa bersalah karena memang bukan salah pak Galla ini salahku, dan pak Galla tidak perlu bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku.
mmh icha tetap semangat