Sebuah desa yang penduduknya paling sedikit, berpenghasilan rendah namun hampir semuanya memilki rumah yang bagus, hidup santai dan kehidupan sehari-hari pun terpenuhi.
Tetapi penduduk desa lain enggan tinggal di sana dan mereka mengaku jika memandangi desa itu awalnya tampak indah dan tenang namun semakin lama auranya semakin aneh seperti ditutupi oleh awan gelap.
Tina memilih ikut pindah bersama keluarganya untuk membuka lahan pertanian setelah menyelesaikan kuliahnya dari jurusan agribisnis. Desa itu adalah tempat neneknya dari ayahnya. Dia memliki seorang adik berumur sembilan tahun dan akan pindah sekolah di sana.
Sebagai pendatang Tina pergi ke berbagai tempat di desa itu hingga dia berhenti di sebuah gubuk yang penuh darah dan sesajen. Dengan perasaan tak tenang dia keluar dari sana namun diluar seorang pria dan wanita tua dan pendek menunggunya. Tubuh mereka yang pendek karena tulang punggung yang bungkuk hampir seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna 020, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan Tempat Sakral Mahluk Aneh
Tina kaget melompat menjauhi ular itu. Sangat besar dan lidahnya keluar seperti akan menerkam mereka. Beberapa lama, ular itu bergerak dengan perlahan namun Tina penasaran dia akan pergi kemana.
"Aku akan mengikutinya dan kamu bisa cari tumbuhan itu sebelah sana" ucap Tina.
"Apa Mba yakin, baiklah. Jika tidak sesuatu segera berteriak" balasnya mereka mulai berpencar.
Tina mengikuti ular itu dari belakang dan mulai menjauh dari titik bertemu mereka. Melewati semak belukar, batu besar dan jalur yang dilewati seperti bekas aliran sungai.
Tina tetap waspada dengan melihat-lihat sekitarnya namun hanya ada burung-burung aneh, suara hewan buas sehingga dia mengeluarkan pisau kecil dari tasnya untuk berjaga-jaga.
Semakin jauh, ular itu masuk dalam batu besar di pintu sebuah gua. Tina menghentikan langkahnya dan kepala ular itu berbalik ke arahnya seakan dia mengerti maksud Tina.
"Apa aku baik-baik saja masuk ke sana?" ucapnya dalam hatinya.
Dia kembali melangkah mengikuti ular itu hingga berhenti di sebuah pembatas seperti tirai dari bambu.
"Dimana dia?" gumamnya seketika ular itu menghilang dari hadapannya.
"Aku harus menuntaskan ini" dia masuk perlahan ke dalam goa itu.
Sedikit gelap dan beberapa obor menyala dan tempat itu sangat luas. Dia tak tahu harus berjalan ke arah mana dan tiba-tiba sesuatu lewat, tak jelas apakah itu manusia atau hewan.
Dengan sigap dia mengikuti dari belakang dengan diam-diam tanpa membuat keributan. Menuruni sebuah tangga yang terbuat dari batu dan sedikit demi sedikit sebuah cahaya keluar dari bawah sana.
Sebuah mata air yang besar dikelilingi lilin dan ular-ular kecil yang menjulurkan lidahnya. Beragam sesajen, tulang belulang, dan tengkorak manusia bahkan entah itu manusia apa bukan, kepalanya tertutupi topeng serigala dan tubuhnya berbulu sedang mengaduk adonan yang dibakar dan kelihatan agak menjijikkan.
Beberapa lainnya merapikan makanan daging mentah yang cukup banyak dan semuanya seperti akan menyambut seseorang.
"Siapa yang mereka akan tunggu. Sepertinya ini acara khusus" ucap Tina yang tatapannya tidak lepas dari mereka.
Semuanya berlutut dengan posisi seperti menyembah dan sesuatu atau apakah itu dapat disebut sebagai manusia atau bukan datang menghampiri.
Ukurannya sangat besar, sepasang tanduk besar di kepalanya, kulitnya kecoklatan seperti akan meleleh dan matanya hanya berwarna hitam dan gigi taring yang tajam menjulang keluar. Sepasang kaki yang berbulu dan jari-jarinya hanya ada enam.
Dia duduk di tempat yang telah disediakan di sebuah batu emas.
"Makhluk apa itu? Apakah itu ada kaitannya dengan warga? Semoga saja aku tak pernah berurusan dengan dia" ucapnya dalam hati merasa merinding.
Makhluk aneh itu melahap semua daging mentah dan menghisap semua adonan tadi hanya menggerakkan tangannya tentunya itu adalah sihir.
Sangat menjijikkan dan kotor. Para suruhannya memakan sisa-sisa adonan yang berserakan dibawah.
Serasa kenyang, makhluk aneh itu membuka sebuah kendi besar dan beberapa bayangan hitam keluar dari dalam.
Satu per satu bayangan itu berubah menjadi manusia yang tak lain adalah Pak Jaya.
"Apa??Pak Jaya? Bukankah dia sudah meninggal?" gumam Tina sangat terkejut bahwa mereka ada di sana.
Semua bayangan itu adalah orang yang berada dalam kebakaran malam itu dan mereka bersujud seakan memohon ampun.
Tak ada pembicaraan diantara mereka dan hanya beberapa pergerakan saja seolah mahluk halus itu kecewa dengan semua bayangan hitam itu.
Namun mahluk itu menarik semua mereka dengan menghisap melalui mulutnya dan.... dia semakin membesar, nadinya keluar dan otot-ototnya mengencang, matanya bersinar merah seperti kekuatannya bertambah.
Bayangan desa Sabo tampak didepannya dengan menggunakan sihir hitamnya. Semuanya jelas ada disana bahkan dia menunjuk rumah Tina dan Pak Iman.
Dia mengambil darah dari kendi dan membacakan mantra selagi gambar desa itu masih ada di depannya.
"Dia yang mengusai desa ini" gumam Tina, sedetik pun pandangannya tak lepas dari semua itu.
Dia mendekati mata air tadi dan mengelus-ular yang menjaganya. Tiba-tiba cahaya hitam mencul dari permukaan air itu dengan bentuk kurungan dan mahluk itu terseyum lebar entah apa maksudnya.
Sepertinya aktivitas mereka telah selesai dan Tina belum mengerti hubungannya dengan Ibunya dan belum tahu alasannya kenapa ular itu membawanya ke sana.
Dia memutuskan untuk keluar dari goa itu dengan berhati-hati.
"Sekarang aku harus mencari tumbuhan itu" ucapnya sambil berjalan arah samping pintu keluar gua itu.
Bebatuan yang besar dipanjatnya dengan berani dan mencari-cari tumbuhan liar berwarna ungu. Rerumputan tumbuh hanya beberapa tempat saja karena banyaknya bebatuan.
Hari semakin siang dan dicari belum ditemukan. Dia duduk dibawah pohon besar dan meneguk air minum dari tasnya. Jarak lima meter di belakangnya, terlihat sebuah pohon lumayan besar dan tumbuhan ungu.
Tina beranjak dari duduknya dan mendekati pohon itu.
"Ternyata kamu disini" ucapnya dengan bangga dan mencabut tumbuhan itu.
Benar, tumbuhan berwarna ungu dan berakar tunggang. Segera dimasukkannya beberapa ke dalam tasnya.
Sewaktu meninggalkan pohon itu dia berbalik dan merasa ada yang aneh. Dia mendekati dan menyentuh pohon itu.
Batangnya terasa lembek dan seperti berisi air. Dia kembali membuka peta itu dan tempat itu menandakan simbol segitiga.
Tentu dia tak paham arti simbol itu dan mencoba menebak-nebak maksud peta itu.
"Dari peta ini yang aku cari ada di sini dan sesosok mahluk halus sedang berada disini yang jelas ada kaitannya dengan warga desa."
"Apa maksud peta dan menurutku semua ini ada hubungannya. Tapi aku tak tahu dimana titik temunya" gumamnya berpikir keras.
"Aungg...g.g....!!!" seekor binatang buas muncul di depan Tina namun kakinya tak menyentuh tanah seakan bisa melayang.
Tina perlahan mundur dan hitungan detik dia kabur dengan langkah yang cepat.
Binatang buas itu mengikutinya dan....
"Siapa yang berani masuk ke tempat sakral ku ini?!" terdengar suara di dalam hutan itu.
Tak ada pilihan Tina mempercepat langkahnya dan bayangan-bayangan hitam keluar dari tanah, ular-ular bermunculan dari pohon, burung-burung tanpa mata berterbangan di atas dan suara hewan buas menyelimuti hutan itu dan pastinya akan menganggung konsentrasi.
Bebebagai bisiskan-bisikan penuh dalam telinganya bahkan suara Sani ada di sana.Namun Tina menahan rasa takutnya dia berlari sekencang-kencangnya ke arah jalan setapak disebelah hutan itu.
Binatang tadi semakin cepat mengejarnya dan beberapa ekor ular sudah hampir sampai di tanah yang turun dari pohon dan Tina terjatuh.
"Mundur....!!"
"Jangan mendekat!" sahut menodongkan pisaunya namun seakan tak mempan dia semakin didekati.
"Blurrr.....r..r..." semburan serbuk dari tangan Firman yang tiba-tiba datang.
"Ayo bangun" ucap Firman, sementara binatang itu tiba-tiba hilang.
Dengan sekuat tenaga mereka telah keluar dari dalam namun burung-burung diatas masih mengikuti mereka dan mendekat ke bawah.
Firman melemparkan daging mentah ke arah berlawan dari mereka dan burung itu melahap dengan rakus dan matanya yang sudah bolong dan berdarah-darah tampak mengerikan.
semangat kak..
jangan lupa mampir ya kak