Sinopsis:
Aku Rendy Purnomo, seorang pria biasa yang mendapatkan aplikasi yang tidak diduga yaitu Aplikasi Oracle. Aplikasi ini adalah aplikasi chat yang bisa menjawab pertanyaan apapun yang kita ajukan.
Selain itu, aku juga terpilih menjadi Agen Oracle yang dimana aku akan mendapatkan hadiah poin yang bisa ditukarkan dengan aplikasi-aplikasi yang tidak masuk akal lainnya seperti Camera Indigo, sebuah aplikasi yang mampu melihat makhluk tak kasat mata dan masih banyak lainnya.
Aplikasi Oracle itu didapatkan olehku disaat aku dan sekeluarga mengalami kecelakaan namun dalam kecelakaan itu hanya aku yang selamat. Saat pemakaman, aku bertemu dengan paman Andika yang tinggal di Fukuoka, Jepang dan mengajak diriku untuk tinggal bersama di sana.
Aku pun menyetujuinya dan kembali ke rumah. Saat itulah, tiba-tiba ponsel pintar milik ibuku menyala sendiri dan muncul aplikasi Oracle. Setelah mempelajari aplikasi tersebut. Aku barulah tahu bahwa diriku telah mendapatkan System di dunia nyata seperti didalam novel atau Anime.
Dan inilah kehidupanku dengan adanya System di Smartphone milik Ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjenguk Adine.
Chapter 21. Menjenguk Adine.
Saat ini aku sedang berada di rumah sakit untuk mengunjungi Adine dan setibanya disana, Adine terlihat malu dan dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut diatas kasur.
Aku yang merasa khawatir maka dari itu, aku bertanya kepadanya.
“Menurutku, kamu dirawat pasti bukan usus buntu, kan? Apa kamu baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja. Cuman pemeriksaan rutin saja dan aku diberikan nasihat setelah seminggu aku diizinkan keluar.” jawab Adine dari balik selimutnya.
Aku yang merasa lega saat Adine berjawab seperti itu dan aku pun bisa tersenyum kembali kepadanya.
“Syukurlah.”
Beberapa saat kemudian, aku ingin membantu dalam belajar karena dirinya yang sudah seminggu lebih tidak masuk sekolah.
“Apa kamu bawa buku catatan?”
“Kenapa?” tanya Adine masih dibalik selimutnya.
“Adine, mari belajar bersama!”
Saat aku mengatakan itu, Adine langsung melepaskan selimut yang dikenakannya dan duduk menghadapku.
“Benarkah? Kita belajar bersama!” ucap senang Adine.
“Hm,” jawabku sambil menganggukan kepala.
“Yoroshiku onegaishimasu!” ucap Adine sambil membungkukan badannya.
“Do itashimahite.”
Seusai mengatakan itu kami pun saling bertukar senyum dan aku memulai pengajarannya.
Aku pun memulai menjelaskan pelajaran-pelajaran yang tertinggal oleh Adine dan Adine pun dengan serius menyimak dan mencatat dari pelajaran yang aku utarakan. Dalam proses itu tanpa terasa dua jam pun berlalu.
Dan aku mengakhiri pengajaranku.
“Begitulah pembahasannya,” ucapku sambil menutup buku.
“Iya, Arigatou!” jawab Adine yang juga mengakhiri tulisannya.
“Sama-sama.”
Sesudah itu, Adine melihat kearahku dan tersenyum.
“Kenapa?” tanyaku yang menyadari tatapan Adine tersebut.
“Rendy, apa kamu pernah terpikir untuk menjadi guru?”
“Heh?”
Aku terkejut disaat Adine mengatakan itu karena aku tidak pernah terpikir untuk menjadi seorang guru.
“Soalnya, kamu terampil dalam mengajar,” ucap Adine.
“Tapi, aku lebih suka sendirian maka mana mungkin aku bisa cocok dengan pekerjaan yang mengharuskan terlibat dengan banyak orang.”
“Kamu tahu, Rendy. Aku ini sangat pandai untuk menilai seseorang,” ucap bangga Adine kepadaku.
“Begitu ya. Mungkin aku akan mempertimbangkannya!”
“Baguslah,” ucap Adine yang tersenyum lebar kepadaku.
Saat aku berbincang dengan Adine, tidak lama suara wanita menegurku.
“Oh, ada Rendy!”
Aku yang mendengar itu sontak menoleh kearah luar dan terlihat kakaknya Adine datang menjenguk. Maka, aku pun berdiri dan membungkukan badannya.
“Maaf, kak. Aku datang tidak bilang-bilang.”
“Tidak, tidak. Terima kasih, kamu sudah mengunjungi Adine,” jawab kakaknya Adine.
Aku pun menegakan badanku kembali dan memberikan senyuman kepada Kakaknya Adine.
“Hari juga semakin malam. Aku pamit dahulu, Adine,” ucapku sambil berpamitan dengan Adine.
“Oh, iya. Terima kasih sudah datang ya, Rendy!” ucap Adine yang menganggukan kepala dan tersenyum lebar.
“Berhati-hatilah, Rendy!” ucap Kakaknya Adine.
Sesudah berpamitan aku pun pergi meninggalkan ruangan dan pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, aku telah membulatkan tekad untuk melakukan banyak misi agar poinku tercapai dan aku bisa mengunduh aplikasi Navigasi Universal. Pada malam itu, aku menjalani misi [Pengetahuan] lagi yaitu belajar bahasa Prancis dari tingkat D sampai tingkat A dan aku mendapatkan 55 poin sehingga aku telah terkumpul 260 poin.
Hal itu membuatku bergadang semalam dan berangkat kembali dipagi harinya tanpa tidur. Hal itu membuatku lelah dan kurang focus dalam pelajaran bahkan aku tertidur dikelas.
Dok! Dok!
Suara itu membangunkanku dari tidurku dan ketika sudah bangun. Aku menyadari bahwa suara itu berasal dari guru yang berada dikelas dan sedang memukul meja yang aku jadikan bantalan.
“Nyenyak tidurnya!” ucap ejek guruku.
Aku pun berdiri dan membungkukan badan.
“Maaf, Sensei!”
“Haha … hehehe …”
Sikap ku itu membuat tawa kecil dari teman-teman sekelasku lalu, guru itu menghukumku dengan menjawab beberapa pertanyaan yang diajukannya. Aku pun bisa menjawabnya dan guru itu pun tersenyum.
“Kamu memang anak yang pandai. Tapi, jangan diulangi! Kamu mengerti!” seru guruku.
“Baik, Sensei!”
Sesudah itu Aku melanjutkan pelajarannya.
Sepulang sekolah, aku melihat kakaknya Adine berdiri di pintu masuk. Lalu, aku pun menghampirinya.
“Kakak?!” sapaku kepada kakaknya Adine.
Saat aku menyapanya, kakaknya Adine menoleh kearahku dan tersenyum.
“Rendy, Syukurlah. Aku bertemu denganmu!” ucap senang kakaknya Adine.
“Ada apa, Kak?”
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya ajak kakaknya Adine.
Aku tidak berpikiran buruk tentang ajakan itu maka dari itu, aku menerimanya.
“Iya, silahkan!”
Setelah itu, kami pergi ke café terdekat dan kami duduk berhadapan.
“Lalu, kakak. Apa yang kakak ingin bicarakan?”
“Rendy, terima kasih telah mau menjadi temannya Adine dan membuatnya tersenyum,” ucap Kakaknya Adine.
“Tidak, kak. Aku hanya ingin akrab saja kepadanya.”
“Adine itu orang yang bisa menyembunyikan perasaan dan pemikirannya. Tapi, dia selalu memikirkan orang-orang disekitarnya dibandingkan dengan dirinya sendiri,” ucap Kakaknya Adine.
“Iya, kak. Aku mengerti.”
“Maka dari itu, aku mohon untuk menjaganya dan jangan menyakitinya. Jika kamu menyakitinya maka aku tidak akan memaafkanmu!”
“Hm, aku mengerti kak,” ucapku sambil menganggukan kepala.
Sesudah itu kami pun saling bertukar senyum dan aku pun menyadari bahwa sosok Adine merupakan sosok yang berharga dimata kakak dan keluarganya. Hal itu membuatku semakin bersemangat untuk mendapatkan poin lalu, aku mencari pendonor yang cocok.
biar mcnya dpt kekayaan juga
wiklworpp