NovelToon NovelToon
Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Contest / Tamat
Popularitas:147k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ratih mirna sari

Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.

Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.

Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.

Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penguntit sejati

"Mau kemana loe urakan?!" Levin menahan lengan Sheerin dan membuat langkahnya terhenti disaat itu juga.

Deg!

Sheerin terkejut, benar-benar terkejut. Ini adalah penyamaran terbaik yang pernah dia lakukan, tapi kenapa masih ada saja orang yang mengenalinya?

"Maaf, salah orang." Meskipun sudah ketahuan, Sheerin masih saja tidak mau mengaku, suaranya sengaja dia buat berbeda agar Levin percaya kalau dia salah orang. Tapi Levin tidak sebodoh itu, dia membuka masker yang Sheerin kenakan, Sheerin dibuat gelagapan dengan kelakuannya.

"Hah, masih mau ngeles loe? Ngapain loe ditempat ini? Pulang sana! Nanti mak loe nyariin. Dasar tukang kelayapan." Ucap Levin dengan seringai liciknya, dia telah berhasil menciduki Nindi yang gelagatnya mencurigakan, tentu itu suatu kebanggan bagi dirinya.

'Mati gue, gimana kalau ada yang ngenalin gue?' Sheerin berusaha merebut kembali masker yang di ambil Levin. Tapi Levin dengan sengaja menaikkannya ke udara, Sheerin yang tidak tinggi-tinggi amat dibuat kesusahan untuk menjangkaunya, meskipun dia sudah ber jinggit dan melompat, Levin terlalu tinggi.

"Plis balikin, gue bakal pulang setelah urusan gue disini selesai." Ucap Sheerin menghiba setelah merasa menyerah dipermainkan oleh Levin.

"Sok banyak urusan loe, ini kawasan komplek elit, cewe preman kaya loe ada urusan apa di tempat ini? Oh, gue tau, atau jangan-jangan loe mau nyopet, ya. Gelagat loe mencurigakan banget." Ucap Levin nyeroscos, mulutnya sudah melebihi mulut emak-emak yang sedang bergosip.

Sheerin hanya melongo mendengar Levin yang berasumsi sesuka hatinya itu, tanpa tau yang sebenarnya apa yang terjadi.

"Udahlah urakan, mendingan sekarang loe tobat deh, cari kerjaan yang halal, tinggalin dunia hitam loe itu. Gue tau loe bodoh, tapi jangan sampai loe tersesat kejalan yang dibenci sama Allah." Si Levin ini benar-benar minta dihajar. Jika saja yang berhadapan dengannya saat ini adalah Nindi, mungkin wajah tampannya itu akan babak belur, atau lecet-lecet bernasib sama dengan motornya.

"Loe ngomong apa sih? Kenapa loe ikutin gue?" Tanya Sheerin mulai naik pitam, benar apa kata Nindi, berhadapan dengan Levin bisa membuat orang terkena hipertensi. Sheerin saja yang jarang sekali marah jadi tersulut emosi.

"Gue disini buat menunjukkan loe jalan yang lurus, harusnya loe berterimakasih karena ada gue yang menyadarkan loe dari pekerjaan haram loe ini."

Levin terus saja bicara seolah dia manusia paling benar disana dan menghina Nindi palsu habis-habisan, Sheerin hanya bisa menahan nafasnya yang memburu mendengar setiap perkataan sok bijak yang keluar dari mulut Levin.

Ocehan Levin masih terus berlanjut.

Kita tinggalkan dulu Levin yang sedang menceramahi Sheerin, dan Sheerin yang hanya diam saja menghadapi ke nyinyiran mulut laki-laki tengil itu. Kita intip sejenak aktifitas pengantin baru didalam kamar.

Nindi memegangi perutnya yang terasa pengap setelah di isi penuh dengan makanan, setelah perut kenyang, rasa kantuk rentan menyerang, apalagi jam-jam segini adalah waktu yang cocok untuk tidur siang. Nindi beberapa kali menguap, tapi sebisa mungkin dia mempertahankan kesadarannya agar tidak tumbang.

Dia tidak ingin tidur, jika nanti dia kembali bangun, dia takut kalau semua yang terjadi hanyalah mimpi, dia takut tidak mendapati Bima tidak ada disisinya sebagai suaminya lagi. Dia harus tetap terjaga, untuk memastikan Bima tidak akan kemana-mana.

Bima sedang sibuk dengan laptopnya, entah apa yang sedang dia lakukan. Nindi masih setia memantaunya dengan mata hampir padam.

Bima menoleh kearah Nindi, memastikan jika ponselnya sudah selesai digunakan atau belum. Tapi Bima malah mendapati Nindi yang merem melek seperti menahan kantuk.

"She, ponselnya sudah selesai?" Tanya Bima lirih.

Nindi terkesiap, rasa kantuknya lenyap seketika. Suara berat itu menyapanya, Nindi cepat-cepat memperbaiki posisinya yang sedikit melorot disofa.

Apa dia biang tadi? Ponsel, bahkan Nindi hanya baru menyentuhnya saja, belum sempat menekan tombol on ataupun membuka kunci. Terlalu sibuk memperhatikan Bima sampai dia lupa akan tujuan utamanya, apa yang akan dia lakukan dengan ponsel itu.

"Belum kak." Balas Nindi dengan cengir khasnya yang menyebalkan.

"Ya." Sesingkat itu Bima menjawab, lalu kembali beralih menatap layar laptopnya.

"Kalau gitu, aku mau telfon dulu diluar sebentar, boleh?" Tanya Nindi.

"Hemm." Bima hanya berdehem pertanda mengizinkan.

Nindi memanyunkan bibirnya mendapat tanggapan singkat dari sang suami, namun tidak bisa dipungkiri, ada segurat senyum di bibirnya yang berkerut saat melihat wajah tampan yang selalu tampak serius itu.

Sebenarnya Nindi tidak rela pergi dari sana, dia tidak ingin sedetik saja berpaling dari wajah Bima. Tapi apalah daya, tidak mungkin kan Nindi bicara dengan Sheerin dihadapan Bima? Apa yang akan dipikirkan Bima nantinya?

Akhirnya setelah berlama-lama menatap Bima diambang pintu, Nindipun keluar juga dari kamar itu meskipun rasa tidak rela masih merajai hatinya.

'Aku akan segera kembali kak Bima, tunggu aku.' Dengan lebay nya Nindi bergumam dalam hati.

Saat melewati ruang tengah, terlihat wanita paruh baya yang tadi berbincang dengan Bima sedang mengelap perabotan, dia menoleh saat menyadari keberadaan Nindi, dengan sopan dia membungkukkan badannya.

"Nyonya." Ucapnya.

"Tidak usah berlebihan, aku bukan nyonya dirumah ini." Ucap Nindi.

"Tapi di rumah ini tidak ada nyonya, jadi saya fikir istrinya Tuan Bima akan menjadi nyonya." Ucapnya.

"Oh, ya? Memang ibunya kak Bima kemana?" Tanya Nindi.

"Saya kurang tau nyonya, saya baru beberapa bulan ikut kerja dirumah ini." Jawabnya.

"Ya udah, aku kedepan sebentar ya." Nindi pamit undur diri.

"Baik nyonya." Balasnya.

Nindipun mencari tempat yang strategis untuk menelfon, di pilihnya halaman samping rumah itu. Tempatnya terlihat sepi, tersembunyi dan tidak terlalu mencolok jika ayah Luis pulang secara tiba-tiba nanti.

Dia mulai menekan tombol on di ponsel Bima, ehh ternyata ponselnya tidak memakai pola ataupun pin. Nindi hanya tinggal menggeser kunci lalu dia bisa langsung menggunakan benda itu.

Dengan fasih dia menekan 12 angka nomor telfon miliknya. Dan, nada sambung telfon itupun terdengar, Nindi dengan tidak sabaran menunggu Sheerin mengangkat panggilan darinya.

***

Telinga Sheerin mulai panas mendengar omong kosong yang terus keluar dari mulut Levin, dia ini sebenarnya waras atau tidak sih? Kok semakin kesini bicara nya semakin ngelantur, ya?

"Sebenernya ya, gue itu nggak perduli sama loe, mau loe di hajar warga karena ketauan nyopet, mau loe di jeblosin ke penjara gara-gara kepergok lagi maling. Gue nggak perduli sama sekali, malahan ya gue seneng-seneng aja karena populasi penjahat di kota ini berkurang. Tapi inget mak loe dirumah, dia pasti jadi orang yang paling sedih saat liat loe diborgol nantinya." Tuh, kan. Apa maksudnya coba? Ini benar-benar sudah keterlaluan, bicaranya dia sudah tidak wajar.

"Dasar gila!" Sheerin tidak bisa berbuat lebih, hanya sebuah umpatan yang keluar dari mulutnya. Dia tidak habis fikir, bagaimana bisa Nindi menghadapi orang gila seperti ini setiap harinya.

Sheerinpun memutuskan untuk mengalah daripada dia ikut-ikutan menjadi tidak waras. Yang sehat harus mengalah, bukan?

Dia pergi meninggalkan Levin yang terus mengoceh begitu saja.

"Hei, tunggu urakan, mau kemana loe? Gue belum selesai bicara." Levin berteriak sambil berusaha untuk mengejar Sheerin.

"Bicara aja sama sepatu loe!" Sheerin mempercepat langkahnya saat menyadari Levin mengikutinya.

"Sepatu gue nggak salah, dia nggak perlu diceramahi. Disini gue cuma mau membuat loe insaf." Levin tidak menyerah, dia berhasil menyamai langkah Sheerin.

Insaf katanya? Memangnya si Nindi ini beneran copet apa? Sampai-sampai Levin bersikeras ingin membuatnya insaf? Kenapa Sheerin jadi meragukan Nindi? Apa Sheerin mulai terhasut oleh omongan Levin yang padahal sama sekali tidak ada benarnya itu? Levin hanya bicara omong kosong saja.

'Nindi, kemana sih loe? Kita harus meluruskan kesalah pahaman ini, gue nggak mau dituduh sebagai copet.' Sheerin membatin, takut juga kalau sebenarnya Nindi adalah seorang penjahat. Mereka kan baru bertemu sekali, Sheerin belum mengenal latar belakang Nindi secara keseluruhan, dia mengenal Nindi hanya dari apa yang diceritakan perempuan itu saja. Tapi bisa saja, kan Nindi berbohong untuk mendapatkan uang, soal masalah dia tidak lulus SMA saja tidak diceritakan pada Sheerin.

Ditengah kelimpungan nya, si Levin terus saja bicara membuat Sheerin semakin ketakutan. Dia menggigit bibir bawahnya saat mendengar kata penjara yang keluar dari mulut Levin.

'Apa gue salah ya udah minta dia buat tukar peran? Tapi kalau nggak, mungkin sekarang gue udah dinikahkan secara paksa sama laki-laki yang nggak jelas itu. Tenang Sheerin, loe jangan sampai termakan sama omongan cowo tengil ini, Nindi orang baik, orang-orang yang ada disekitar dia juga semua orang baik. Loe harus percaya itu. Jangan sampai iman loe goyah.' Begitu Sheerin meyakinkan dirinya sendiri.

'Ya Allah, lindungi aku dari godaan setan yang terkutuk ini.'

Levin semakin curiga, kenapa tidak ada reaksi berlebihan yang ditunjukkan oleh Nindi, padahal dia sudah mengeluarkan semua kata-kata pancingan dan mematikan agar Nindi marah. Tapi dia sama sekali tidak terpengaruh, Levin bukanlah orang gila seperti apa yang dipikirkan Sheerin ternyata, dia hanya berusaha untuk mengembalikan Nindi ke wujudnya semula.

Kenapa Levin merasa kecewa saat Nindi tidak balik memarahinya? Kenapa semua yang dia katakan terasa sia-sia, sampai dia bingung harus bicara apalagi karena Nindi sama sekali tidak membalas cacian juga hinaan darinya.

Setelah banyak bicara, akhirnya Levin diam juga. Sebenarnya, diamnya Levin adalah dia sedang berpikir, apa yang terjadi dengan Nindi? Apa yang membuatnya jadi pendiam seperti ini? Bagaimana cara mengembalikan Nindi agar kembali pada bentuk aslinya?

Levin kehabisan akal, berpikir namun tidak menemukan ide yang cemerlang. Mereka berjalan beriringan menyusuri trotoar, entah kemana tujuan Sheerin sekarang, ini sudah keluar dari jalur yang dia rencanakan sebelumnya, bahkan gerbang kompleks rumahnya pun sudah terlewat jauh. Sheerin hanya ingin menggiring Levin agar segera pergi menjauh, tapi kenapa dia masih saja setia menguntit Sheerin?

'Ah, dasar cowok tengil ini, sekarang aja dia diam seperti orang bisu, nggak sadar apa beberapa menit yang lalu suara loe seperti petasan banting yang memekakkan telinga? Bicara tanpa titik koma. Seperti ini kan lebih bagus.'

Tring Trong Tring Trong (anggap saja nada dering ponselnya Sheerin)

Sheerin melihat ponsel yang sedari tadi di genggamnya, biar mudah jika nanti Nindi menelfon atau membalas pesannya, begitu.

Sheerin mengerutkan kening saat melihat nomor asing itu memenuhi layar ponsel.

'Siapa yang telfon? Angkat nggak ya?' Sheerin nampak ragu.

"Angkat aja, siapa tau penting." Ucap Levin tiba-tiba. Sheerin menoleh kearahnya. Nah, itu baru caranya bicara kepada sesama manusia, pikirnya.

Sheerin mengabaikan Levin, lalu beralih mengangkat telfon itu.

"Halo." Ucap Sheerin saat panggilannya telah terhubung.

"Sheerin, ini gue Nindi. Kita perlu ketemu, ada banyak hal yang harus kita bicarakan." Ucap Nindi disebrang sana, ada sebuah kecemasan dalam nada bicaranya.

'Hah, Nindi, akhirnya loe hubungin gue juga. Tapi kenapa loe telfon diwaktu yang nggak tepat, saat ada makhluk asing ini disamping gue?' Ingin sekali rasanya Sheerin bicara seperti itu, tapi dia tidak bisa melakukannya, sehingga kalimat itu hanya terucap dalam hati saja.

Sheerin juga ingin menyerbu Nindi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi berputar di otaknya, dia menoleh kearah Levin, kapan dia akan pergi, sih?

"Halo Sheerin? Pokonya kita harus ketemu besok setelah ibu tiri loe itu balikin hp loe." Ucap Nindi.

"Jadi hp loe disita?"

"Ya."

"Ya udah, besok kita ketemu, sekarang bukan waktu yang tepat." Sheerin berusaha untuk memberi Nindi kode kalau situasinya sedang tidak aman, semoga Nindi mengerti.

"Apa lagi ada orang lain disebelah loe?" Nindi bertanya karena merasa aneh dengan jawaban Sheerin.

"Ya, loe bener. Jangan lupa hubungi gue besok, gue tunggu kabar dari loe selanjutnya." Ucap Sheerin.

"Jadi beneran lagi ada orang disamping loe? Siapa? Vena?" Tanya Nindi.

"Bukan."

"Ibu? Kak Yuvi? Geng amburadul?"

"Bukan juga."

"Terus siapa, nggak mungkin si tengil, kan?"

"Iya, loe bener."

"Apa? Jadi si tengil ada sama loe sekarang. Hati-hati Sheerin, dia bisa aja membuat loe terkena serangan stroke." Ucap Nindi.

"Ya udah, gue selalu nunggu kabar dari loe." Sheerin bicara setengah berbisik, supaya Levin tidak banyak mendengar apa yang dia katakan, sayangnya telinga Levin masih berfungsi dengan baik, dia masih bisa mendengar apa yang dikatakan Sheerin.

Setelah panggilannya terputus, Sheerin merasa sedikit lega, setidaknya dia tau keadaan Nindi saat ini baik-baik saja, hanya saja ponselnya ditahan oleh mama Anya.

Levin mengintip sedikit kearah layar ponsel milik Nindi, namun secepat kilat Sheerin menutupnya dengan telapak tangan.

"Apa sih loe? Pulang sana! Kenapa masih ngikutin gue?" Tanya Sheerin sinis, dia mulai risih dengan keberadaan Levin, dia seperti benalu saja.

"Gue akan pulang kalau loe juga pulang." Ucap Levin.

"Dasar gila, gila, gila!" Sheerin berjalan lebih cepat meninggalkan Levin, kebetulan sebuah angkot lewat, dia cepat-cepat menyetopnya. Akhirnya siang itu Levin benar-benar menjadi penguntit sejati, mengikuti Sheerin sampai masuk kedalam rumahnya.

Dan hasil dari menguntit hari ini, Levin belum juga bisa mengembalikan Nindi ke bentuknya semula.

_________________

Budayakan like setelah membaca... berikan corat coretnya juga di kolom komentar...

1
🌷💚SITI.R💚🌷
sprtiy di bunuh luis sm anya ini
🌷💚SITI.R💚🌷
lanjuuut
🌷💚SITI.R💚🌷
lama² mereka jatuh cinta de..skrng ribut trs tr sdh berpisah br rindu de
🌷💚SITI.R💚🌷
urakan tp kamu suka kan....🤣🤣
🌷💚SITI.R💚🌷
nyimak dl..lanjuut
Asrinda 24
Aku mampir
Imelda Nurrahmah
next
TiiehAtieh: udah habis kak, lanjut baca THE SECRET yuk, masih on going, banyak misterinya disana 🙏
total 1 replies
Imelda Nurrahmah
kejrm banget si bima
Imelda Nurrahmah
keren
anthy haryanti
kasihan banget sih loe levin,,,hampir nggak jadi nikah,,,hehehehe
anthy haryanti
wahhh nindi udah hamidun nih
abimasta
akhirnya nindi punya anak,happy ending selamat ya thor sudah memberikan bacaan yg menarik
anthy haryanti
rumah kosong itu bener2 bakal jadi angker,,,
TiiehAtieh: baca juga ekstra partnya ya kak 😊
total 1 replies
anthy haryanti
waduhhh siapa lagi tuh yg kena
anthy haryanti
siapa tuh yg kena
anthy haryanti
waduhhhh
anthy haryanti
kok aku yg deg degan yah
anthy haryanti
makin seru nihhh
abimasta
aku sudah selesai bacanya..makasih ya thor meskipun saya telat mampir disini
abimasta: menurut ku ceritanya bagus,cm kasian nindi blm punya momongan
total 3 replies
anthy haryanti
wahh kebiasaan si nindi,,kasihankan si tengil,,,hehehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!