Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
CAPTER 22
MASIH MEMPERTAHANKAN EGO
Pagi ini Hasan masih belum keluar dari kamarnya, tiga kunyuk mulai mengkhawatirkan keadaan Hasan didalam.
Dengan terpaksa Ilham membuka pintuk kamar Hasan tanpa mengetoknya terlebih dahulu. Dia masuk kedalam dan diikuti oleh kedua temannya, hati mereka sangat terluka ketika mendapati Hasan yang sudah dianggap saudara laki-lakinya berbaring lemah, wajah dan bibirnya terlihat pucat. Mereka segera menghampiri dan mengecek suhu tubuhnya.
“Ya Allah Mas...apa yang bikin kamu kayak gini?!.” suara Ilham bergetar.
Ilham dan Andik membantu membangunkan Hasan sementara Ilyas berlari untuk mengambil segelas air.
“Gimana ini apa kita kasih tahu mba Naura?.” ucap Ilyas yang khawatir.
Namun ide itu dicegah langsung oleh Hasan dengan menggelengkan kepalanya dan menggenggam erat tangan
Ilyas. Dengan sedih mereka bertiga menuruti keinginan Hasan yang sedang sakit. Dia akhirnya memilih untuk membawa Hasan ke klinik kesehatan yang tidak jauh dari rumah meraka.
Begitu mendapat perawataan Ilham mengajak Ilyas keluar dari kamar dimana Hasan dirawat. Sementara Andik menjaga Hasan didalam.
“Ada apa Ham?." tanya Ilyas dengan suara kecil.
“Aku yakin sakitnya Mas ini bukan karena kecapekan gara-gara banyak kegiatan tapi hatinya yang capek.” Ilham menjelaskan.
“Iya aku juga ngerasanya gitu...selama ini kalo dia nggak enak badan dibangunin diajak makan mesti mau.” Menambahkan.
“Itu dia yang aku maksud...Mas kan paling nggak suka manjain badannya.”
“Terus gimana ini?!.”
“Gini aja...aku balik kerumah mau ngambil nomornya mba Naura, aku harus bicara sama dia."
“Ok aku setuju...urusan disini serahin ke kita berdua.”
“Tapi kamu nggak boleh sampek keceplosan ngomong ke dia!.”
“Asiiaapppp bos tenang...sana wes!."
Bagi Ilham ini adalah suasana genting pertama bagi Hasan, secepat kilat dia kembali kerumah dan mengambil telepon genggam Hasan. Mencari nomor Naura didaftar kontak, setelah mendapati apa yang dia inginkan. Ilham langsung mengirim chat ke Naura yang sedang berada dibutik tepatnya dimeja kerjanya.
“Maaf mba Naura ini Ilham." Isi chat
Tidak butuh waktu lama Naura membuka chat itu dan langsung membalasnya.
“Ilham siapa?.” balasan chat Naura.
“Apa boleh saya ketemu sama mba Naura?." balasan Ilham.
“Untuk apa...dan kamu siapa?.” balas Naura.
“Ada sesuatu yang ingin saya omongin.”
“Soal apa?.”
“Nanti mba Naura juga tahu...kira-kira dimana saya bisa ketemu mba Naura?.”
“Hmm...temui aku dibutik.”
Setelah mendapat alamat butik Naura, Ilham langsung segera meluncur kesana dan tidak butuh waktu lama dia sudah sampai.
“Maaf ada yang bisa saya bantu?.” ucap Lisa begitu Ilham masuk.
“Saya mau ketemu sama mba Naura.” Jawab Ilham.
“Ohh silahkan tunggu sebentar....” sambil mempersilahkan Ilham untuk menunggu dikursi tamu didekat tangga.
“Mba Naura ada tamu dibawah.” Lisa memberitahu
“Siapa?.”
“Maaf Mba lupa saya nggak nanyain namanya....”
“Cowok cewek?.”
“Cowok Mba.”
“Ohhh...suruh aja langsung keatas."
Begitu Lisa memberitahunya kalau Naura menunggu diatas, Ilham langsung bergegas kesana. Setelah mengetok pintu kaca ruangan itu, Ilham langsung masuk. Dia mendapati Naura yang tengah fokus mencoret-coret kertas putih.
“Maaf Mba permisi saya Ilham.” Ucap Ilham memperkenalkan diri.
“Ohhh...silahkan ditunggu sebentar ya disana.” Sambil menunjuk kursi tamu.
Setelah menyelesaikan desainnya Naura segera menghampiri Ilham yang sudah tidak terlihat sabar lagi.
“Maaf apa yang mau dibicarakan ke saya...soalnya saya rasa saya nggak kenal sama anda.” Begitu duduk.
“Sebelumnya kenalin Mba saya Ilham saya ini bisa dianggap adiknya mas Hasan.”
Naura sedikit terkejut mendengar nama Hasan disebut olehnya.
“Ohhh....” Seolah tidak perduli tapi sebenarnya dihati dia mengharapkannya.
“Kok cuma oh Mba...emang segitu nggak pedulinya sama Mas?.” mulai emosi.
“Kenapa harus peduli toh dia nya yang pergi nggak pamit.” Suaranya dengan acuh.
“Pasti ada sikap mba yang nyakiti dia...mas Hasan itu tipikal orang yang suka menyimpan sendiri masalahnya atau perasaannya!."
“Jadi kamu datang kesini cuma buat ceramahin aku!.” Suara meninggi.
“Kalo Mba nggak punya perasaan sama dia sebaiknya Mba lepaskan!.”
“Apa hakmu ngatur aku!!.” Bentak Naura.
“Saya nggak ngatur Mba...ini buat kebaikan semuanya, saya cuma kasian lihat mas Hasan, kasian mas Hasan kenapa menerima wanita yang salah sementara ada wanita dengan hati bersih yang mencintainya dan bahkan rela menunngu hati mas Hasan untuknya.”
“Ohhh..kamu pikir dia paling sempurna, sekarang aja dia pergi nggak pamit dan nggak ada kabar!.” Sentak Naura.
“Gimana mau ngasih kabar kalo dianya aja sekarang lagi dirawat...sudahlah nggak ada gunanya juga bicara sama wanita berhati batu!.” Tak kalah emosinya dari Naura.
Ilham segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan itu dan juga membanting pintu kaca dengan keras. Naura masih terdiam membisu, meski diluar dia selalu ketus dan menjaga egonya kalau berkaitan dangan Hasan. Namun sebenarnya didalam hatinya sakit tak kala tahu keadaan suaminya. Dia terus merenungi sikapnya selama ini pada Hasan, jauh dilubuk hatinya dia ingin memutar kembali waktu dan memperbaiki sikapnya.
“Apa yang harus aku lakuin sekarang.” Gumannya bingung.
Belum juga menemukan solusi kini giliran papanya yang menceramahi Naura lewat sambungan telepon karena bersikap acuh padahal sudah semalam suaminya tidak pulang dan bahkan tidak ada kabar. Nomor teleponnya juga tidak bisa dihubungi, sebenarnya bukan masalah sambungan tapi Hasan dengan sengaja memasukkan dua nomor itu pada kontak hitam saat ini.
-------
Dua hari sudah berlalu meski sudah tahu keadaan Hasan namun Naura belum tergugah hatinya untuk mengambil tindakan. Dia lebih memilih bersikap seolah tidak tahu dimana suaminya sekarang. Pak Malik yang marah dengan sikap angkuh Naura selalu berdebat dengan putrinya itu. Dan seperti biasa Naura akan meninggalkannya dan lebih memilih mengurung diri dikamar.
Bik Siti yang tidak kuasa melihat kecemasan diraut wajah pak Malik akhirnya memberanikan diri untuk bicara. Sebenarnya pagi itu dia melihat Hasan yang sudah balik dari jalan paginya, pria malang itu bahkan hanya diam mendengar istrinya melontarkan perkataan yang menyinggung hati.
“Maaf Tuan....” Ucap bik Siti sambil berjalan mendekat.
“Iya Bik ada apa?.” tanya pak Malik.
“Itu Tuan soal den Hasan!.” Dengan ragu.
“Iya Bik kenapa sama mantuku itu?.” tanya pak Malik sambil menyuruhnya duduk.
“Sebenarnya Tuan pagi itu den Hasan denger ucapan mba Naura.”
“Ucapan yang mana Bik?.” tidak sabar.
“Itu Tuan...saat Non bilang makanan kesukaan den Hasan cuma tahu tempe....”
“Ya Allah...apa itu yang bikin dia nggak sarapan dengan alasan puasa!."
“Mungkin begitu Tuan soalnya pas waktu dengar Non bilang gitu den Hasan tertunduk.”
“Ya Allah...semua ini aku yang salah Bik....” Mulai menyalahkan diri.
“Jangan gitu Tuan...sekarang yang harus dilakukan hanyalah meluruskan kembali."
“Iya Bik iya....”
“Itu lagi Tuan...."
“Apa Bik?."
“Saya sempat ngelihat barang-barangnya den Hasan ditaruh dipojokan bukan dilemari.”
Pak Malik bagai disambar petir ketika mendengar hal itu, wajahnya merah padam dan langsung bangkit dari duduknya. Berjalan menaiki tangga menuju kamar Naura, tanpa mengetok pintu terlebih dahulu dia langsung menerobos masuk. Apa yang dikatakan bik Siti benar adanya, pak Malik mendapati barang-barang ditumpuk dipojok kamar.
“Nana jelaskan sama papa apa itu maksudnya?!." bentak pak Malik sambil menunjuk kearah pojok.
“Dia sendiri yang naruh disana!.” Ucap Naura.
“Harusnya kamu yang punya inisiatif...bukan ngebiarin kayak gitu!.”
“Kenapa Papa selalu belain dia!." Tidak mau mengalah.
“Karena kamu salah!.” Bentak pak Malik yang nyaris menampar putrinya.
“Ok Papa tidak akan mencampuri hidupmu lagi...papa akan minta David buat ngurusin perceraian kalian!.” Lalu pergi dari kamar Naura.
Tangis Naura meledak begitu papanya tidak terlihat lagi, harusnya hatinya bahagia tapi yang dirasakan justru sebaliknya. Hatinya serasa ditusuk-tusuk, suara, senyum dan aroma tubuh Hasan secara tiba-tiba menempel dihatinya.
“Naura kenapa kamu nangis bukannya ini yang kamu inginkan.” Ucapnya mencoba menyadarkan diri namun tidak berpengaruh.
Naura menoleh barang-barang milik Hasan yang ditata dipojok, dia melangkah kesana. Tangannya membuka tas jinjing warna biru, mengeluarkan isinya satu-satu. Kembali dia menemukan kotak jam tangan yang sebelumnya dia lihat, dibukanya kotak hitam itu dan mengambil jam tangan berwarna kuning didalamnya, secarik kertas yang dilipat terjatuh. Tangan Naura segera memungutnya, membuka lipatan kertas dan membaca tulisan didalamnya.
“Maaf hanya bisa memberikan barang murah...semoga mba Naura berkenan memakainya.”
Naura meneteskan air mata tak kala membaca tulisan itu, hadiah yang sebenarnya sudah dia lihat sebelumnya. Hasan hanya bisa menyimpan hadiah itu dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk memberikannya. Dia menangis tersedu-sedu dipojok kamar dengan menggengam erat jam tangan ditangannya.
Dia melangkah kembali ke kasur dan mengambil telepon genggamnya yang tergeletak diatas kasur. Dan mengirim chat ke Ilham untuk menanyakan dimana Hasan dirawat. Tidak butuh waktu lama Ilham membalas chat Naura dan memberitahu dimana dia dirawat.
Setelah mencuci mukanya dan berganti pakaian, Naura segera membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju klinik dimana Hasan dirawat. Begitu sampai disana dia langsung menanyakan kamar Hasan pada perawat yang bertugas. Dengan sopan perawat itu memberitahu kamar Hasan, Naura langsung berjalan mencari kamar Armina 1 blok A.
Begitu menemukan kamar itu Naura langsung memutar gagang pintu dan berhambur masuk, didalam Ilham, Ilyas dan Andik menemani suaminya. Hatinya sedih tak kala melihat Hasan terbaring lemah diatas kasur klinik, matanya berkaca-kaca ketika berjalan kearahnya. Tiga kunyuk langsung tanggap dan segera undur diri dari kamar itu untuk memberikan ruang penuh pada keduanya.
Naura tidak bisa berkata, dia berhambur memeluk tubuh suaminya yang terbaring lemah. Meski masih lemah Hasan menggerakkan tangannya untuk memegang kepala Naura dan membelai rambutnya.
“Jangan nangis Mba!.” Mencoba bersuara meski sangat lemah.
Naura tidak menjawab dia terus menangis dan membenamkan dirinya ditubuh lemah Hasan. Tiga kunyuk yang penasaran dengan suasana didalam mencoba mengintip dari kaca kecil didaun pintu. Mereka bahkan menangis bahagia mendapati Naura memeluk erat sementara tangan Hasan mengelus rambutnya.
“Kayaknya mas Hasan harus lebih berjuang keras kalo mau dapetin hati dia sepenuhnya.” Ucap Ilham.
Sementara itu pak Malik yang sangat cemas memikirkan hati menantunya yang pasti terluka, meminta David untuk mencari tahu keberadaannya sekarang baru setelahnya mengurus perceraian mereka berdua. Dengan berat hati pak Malik harus membuat keputusan, tentunya juga demi kebaikan menantunya itu sendiri. Dia tidak ingin lebih lama menyakiti hatinya dan membuatnya terkekang berada dirumahnya. Namum pak Malik masih menjaga etika untuk merundingkan semua itu dengan Hasan setelah dia bisa menemuinya.
Raut wajah kesedihan, penyesalan dan kemarahan tergambar diwajah pak Mailk yang duduk lesu diruang kerjanya, wajahnya tertunduk dan ditopang oleh tangannya. Pikirannya terus menerawang entah kemana, bahkan wajah mendiang istri juga singgah dan membuat hatinya semakin terluka. Air matanya tak sengaja terjatuh dan dia pun menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Telepon berdering dan pak Malik segera mengangkatnya, panggilan itu dari David yang menyampaikan informasi kalau menantunya tengah dirawat disebuah klinik didekat rumahnya.
Begitu mendapat kabar dari David pak Malik segera meminta pak supir mengantarnya ke klinik yang dimaksud.
“Tolong lebih cepat pak Said.” Ujar pak Malik yang sudah tidak sabar lagi.
“Iya Tuan!.” Jawab pak supir dan menambah kecepatan.
Setelah beberapa saat lamanya menembus jalanan yang lumayan padat, mobil BMW hitam itu tiba dihalaman klinik. Pak Malik yang tidak sabar segera turun tanpa menunggu pak supir memarkirkan mobil dengan benar.
Langkah cepatnya menelursuri lorong klinik sembari mencari kamar yang ditempati Hasan. Tiga kunyuk yang melihat kedatangan pak Malik segera menyambutnya dengan bersalaman dan membukakan pintu kamar dan mereka mengikuti dari belakang.
Pak Malik sedikit terkaget ketika mendapati putrinya sudah disana dan duduk disamping suaminya.
“Ya Allah Nak kenapa ndak ngabari papa!.” Begitu masuk.
“Sakit apa kata dokter?." tanya pak Malik ke Ilham, Ilyas dan Andik.
“Lambung Pak.” Jawab Ilham pelan.
“Lambung?!.” melirik ke arah Naura yang hanya terdiam.
“Iya Pak....”
Pak Malik langsung mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menelfon David, memintanya
memindahkan Hasan kerumah sakit. Namun Hasan segera menolaknya.
“Ya sudah kalo gitu...kamu jangan banyak pikiran juga, mengenai biaya rumah sakit biar David yang urus.” Ucap pak Malik.
“Maaf Pa ijinkan saya bertanggungjawab setidaknya pada diri saya sendiri.” Masih dengan suara lemah.
Pak Malik yang tidak ingin berdebat mengingat kondisinya yang masih lemah dengan terpaksa menyetujui semua
permintaan Hasan. Namun dia memaksa mengirim bik Siti ke klinik untuk mengurusnya selama dirawat dan Hasan tidak bisa menolak. Dan untuk putrinya pak Malik memintanya untuk merenungkan kembali sikapnya dan tidak mengganggu suamianya yang sedang sakit.
Tiap hari setelah selesai memasak bik Siti diantar pak supir ke klinik untuk menjaga Hasan sampai malam setelah tiga kunyuk datang. Dan seperti biasa sepulangnya dari sana Naura senantiasa menanyakan perkembangan kesehatan Hasan.
“Gimana Bik keadaannya?.” tanya Naura.
“Masih lemah Non tapi sudah mulai membaik.” Jawab bik Siti.
“Ohhh. ..” Lalu kembali ke kamar