ini menceritakan tentang kisah radiska dan Arvin yang terjerat oleh pernikahan kontrak.
namun siapa sangka cinta itu tumbuh dalam pernikahan kontrak mereka.😊😊
warning!!
cerita ini mengandung adegan dewasa!! mohon bijak dalam membaca ya guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon umi whiby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertama kali berpisah
Adis membanting pintu mobil Arvin dengan kuat hingga membuat dua pria didalam nya terlonjak kaget.
“Apa kau tidak bisa sedikit lebih lembut? Kau memang bar-bar.” Ujar Arvin menatap tajam Adis yang sedang duduk disampingnya.
“aku sudah katakan pada tuan, jangan mencampuri urusan pribadi masing-masing!” geram Adis membalas tatapan mata Arvin yang tajam. "aku bisa pulang sendiri, lagian ini kan masih sore.." gumam Adis memeluk ketiga boneka barunya.
Arvin tersenyum sinis lalu mengalihkan pandangannya lurus kedepan, “aku sedang tidak mencampuri urusan mu gadis bodoh! Kau pasti ingat dengan perjanjian kita sebelum nya? Aku adalah aturan mutlak dalam hidupmu, jadi jangan sekali kali kau bertindak sesuka hatimu.”
“Cih, anda aneh sekali tuan muda, aku tidak pernah berbuat sesuka hati ku, kau saja yang terlalu sensitif.” decih Adis tak kalah sinis, “aku benar-benar muak dengan semua ini! Kau benar-benar menjebak ku kedalam lubang kesengsaraan.”
Arvin hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Adis, ia sama sekali tidak perduli. Yang terpenting saat ini ia bisa membuat ibunya bahagia. Sekilas Arvin menatap beberapa boneka yang sedang dipeluk oleh Adis, ia yakin, tadi pasti istrinya itu sedang berkencan dengan gebetan nya.
"apa kau semarah itu ketika waktu kencan mu terganggu?" ledek Arvin semakin membuat hati Adis panas.
"kau memang perusak suasana..!"
Arvin membiarkan saja Adis berceloteh sesuka hatinya, ia tak perduli. yang penting ia tak kena Omelan ibunya karena pulang tanpa menantunya.
"Jalan..” perintah Arvin pada Juna.
Selama diperjalanan mereka semua hanya diam dan fokus dengan pikirannya masing-masing. Namun tidak dengan Juna, pria itu terus saja memperhatikan dua manusia yang berada dibelakangnya. Juna seperti menjadi penonton setia dari pergulatan mereka setiap harinya.
Sesampainya di rumah mereka disambut langsung dengan mommy dan bunda. Mereka berdua menyalami kedua sosok ini mereka tersebut.
“Wajah mu kenapa nak? Mengapa cemberut?” tanya mommy mengusap wajah menantunya, sementara matanya sudah menatap tajam putranya.
Tak mau ambil pusing, Arvin langsung melangkah kan kakinya menuju kamar. Bunda dan mommy menarik Adis masuk kedalam ruangan.
“Kamu kebapa kak? Kamu sakit?” tanya bunda meletakkan punggung tangannya di kening sang anak.
Adis langsung memegang tangan bunda dan menggenggam nya dengan erat. “Adis oke bunda, Cuma sedikit lelah saja.” Ucap Adis tersenyum.
“Yasudah kalau begitu, bunda sekalian pamit sama kamu nak! Bunda dan adik-adik pulang sekarang..” seru bunda mengusap kepala Adis yang nampak bersedih.
“Adis ikut bunda!” pinta Adis memeluk lengan bundanya.
“Tidak boleh sayang, kamu harus tinggal dimana suamimu tinggal nak.”
Mommy langsung membuka suara, “mbak tinggal disini saja ya! Biar rame mbak..”
Adis memberikan tatapan memohon nya agar Bunda setuju, “ayolah bunda, Adis tidak bisa jauh dari bunda.” Lirih Adis yang mulai berkaca-kaca, matanya sudah memerah menahan air matanya.
“Tidak bisa nak, bunda sudah nyaman disana. Lagian kasian mbok sum sendirian di sana. Kalau terjadi sesuatu bagaimana!” ibu coba memberikan pengertian, “maaf ya Nit, mbak gak bisa tinggal disini. Dika dan Diki harus sekolah besok.” Tolak ibu halus.
Mommy tidak bisa memaksa kehendak besannya, padahal ia sudah membayangkan ketika semua orang berkumpul di mansion nya dan membangkitkan semangat nya disini.
“Kalau begitu kita makan malam dulu mbak! Nanti biar supir yang antar mbak dan twins D pulang..”
Bunda mengangguk setuju dan merangkul bahu Adis sambil tersenyum. “Jangan cemberut dong nak, kamu bisa jenguk bunda kapanpun kak..”
***
Adis diam dan makan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia menatap tak suka pada suaminya, “ini semua karena beruang kutub itu, gara-gara dia aku harus hidup berjauhan dengan bunda dan adik-adik..” batin Adis s dih.
Seusai makan malam, bunda sudah bersiap-siap begitu juga dengan twin D. Sejujurnya bunda memang sangat berat meninggalkan putri cantik nya itu, apalagi jika mengingat masalalu nya bunda dibuat takut sendiri. Tapi Bunda selalu berpikir positif dan berdoa untuk keduanya.
Mata Adis sudah berkaca-kaca saat menatap wajah cantik bundanya, “ingat Bun, jangan kerja terlalu berat. Bunda harus rutin minum obatnya..” ujar Adis mengingat kan, bunda menutup mulutnya menahan tawa. Adis berkata seperti ibu dari bundanya saja.
“Iya kak, sudah jangan nangis lagi! Malu sama mertua kamu.” Bisik bunda memeluk tubuh mungil putrinya. “Jadi istri yang baik untuk suami kamu nak, bunda selalu mendoakan kebahagiaan kamu.” Bunda melepaskan pelukannya lalu mengecup kening putri nya dengan sayang.
Kini Adis bergantian memeluk tubuh kedua adiknya yang tampan. “Jaga bunda dengan baik, ingat! Jangan menyusahkan bunda..” Adis mengecup paipi kedua adiknya tersebut.
“Kakak jaga diri baik-baik, kalau terjadi sesuatu bilang sama kita berdua, kita bakal pukul siapapun yang gangguin kakak.” Ujar Dika mencium punggung tangan Adis.
“Nak Arvin, bunda titip anak bunda padamu nak! Tolong jaga dia dengan baik. Ibu tidak sanggup melihat dia disakiti oleh siapapun..” lirih bunda memeluk menantunya yang berubah lebih tinggi dan tegap.
Arvin mengangguk dan memberikan senyuman, “bunda tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja disini.”
Setelah dirasa semua sudah cukup, bunda masuk kedalam mobil menatap putri nya dengan mata yang berkaca-kaca. Setiap ibu pasti akan merasakan apa yang dirasakan oleh bunda. Sangat sulit melepaskan anak yang memiliki masa lalu yang buruk seperti anaknya itu. Setelah mobil berjalan bunda memeluk kedua putra nya menangis menumpahkan segala kesedihannya. Harapan nya sangat besar untuk kebahagiaan putrinya.
Mommy mengusap bahu Adis yang menangis sesenggukan melihat mobil yang kian menghilang dari pandangannya. Ia memeluk mommy dan menangis sampai hati nya benar-benar sudah lega.
“Ayo sayang kita masuk kedalam, jangan menangis lagi!”
Arvin iba melihat Adis yang menangis didepan matanya, kalau bukan karena kepentingan nya mungkin wanita yang ia nikahi tidak akan menangis seperti ini.
Adis masuk kekamar merebahkan tubuhnya diatas sofa yang lumayan besar dan cukup untuk tubuh nya yang mungil. Ia tidur tengkurap menyembunyikan wajahnya dan tak menghiraukan keberadaan Arvin.
Beberapa saat tangis Adis mereda tinggalah sesegukan dan akhirnya tertidur pulas. Arvin memperhatikan Adis dari tempat tidurnya, ia mendekat dan memeriksa gadis yang sudah tertidur pulas dengan posisi tengkurap.
“Gadis ini benar-benar bodoh, bagaimana dia bisa tidur dalam keadaan seperti ini.” Batin Arvin menggeleng tak percaya. Ia membalikkan tubuh Adis lalu perlahan mengangkat tubuh Adis dengan hati-hati. “Ternyata dia berat sekali..” gumam Arvin meletakkan tubuh Adis keatas kasur.
*****
jangan lupa tinggalkan komentarnya ya kak..! biar aku makin semangat lanjutin ceritanya..!! 😍😍😘
seruh deh