NovelToon NovelToon
The God Ashura

The God Ashura

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Kebangkitan pecundang
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: jazzy bold

Dianggap sampah karena kehancuran jiwa beladirinya, Keluarganya di asingkan dan bahkan hampir mati dengan tulang belakang yang hancur.

Namun tidak ada yang tahu…

Di dalam tubuhnya bangkit jiwa beladiri ganda legendaris yang belum pernah muncul di dunia ini.

Dengan kehidupan kedua di tangannya, dia hanya memiliki satu tujuan..

Menginjak semua orang yang pernah merendahkannya dan berdiri tak terkalahkan di bawah langit.

Tapi saat rahasianya perlahan terungkap, musuh yang datang untuk menghancurkannya semakin kuat…

Akankah dia menjadi penguasa tak terkalahkan, atau justru jatuh sebelum mencapai puncak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jazzy bold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zhang Bailong Yang Sombong

Keesokkan harinya, Zhang Tiangxia berjalan ke area bendahara keluarga Zhang sendirian.

Ini bukan kunjungan pertama kalinya dia datang kesini. Sebelum jiwa beladirinya di hancurkan, dia selalu datang beberapa hari sekali.

Namun setelah jiwa beladirinya di hancurkan, dia tidak pernah lagi datang. Hanya adiknya Yuer yang biasanya datang hingga terjadilah kejadian terakhir kali Yuer di permalukan di lapangan keluarga Zhang.

 Karena dia masih bisa berlatih lagi, kini dia datang menagih hak sumberdaya untuk mereka.

Terutama untuk dia dan ayahnya.

Pil pemurni tulang jatah bulanan keluarganya sudah ditahan beberapa bulan. Ditambah uang tunjangan yang seharusnya diterima setiap bulan juga tidak di berikan. Meskipun lima ribu keping perak bagi Zhang Tiangxia tidak bernilai saat ini, namun itu tetap hak yang harus di terima ayahnya.

Terlebih lagi, setelah dia menjadi cacat, ayahnya sudah menghabiskan tabungan mereka untuk mengobatinya, jadi saat ini keluarga mereka hampir tak punya uang untuk makan.

 Selama ini ayahnya hanya membiarkan saja karena tidak punya kekuatan untuk melawan.

Dia takut jika melawan maka mereka akan di usir, belum lagi saat itu ayahnya masih terkena racun dan dia masih terbaring di tempat tidur setelah menjadi cacat.

Tapi kali ini racun di tubuh ayahnya sudah sembuh total, dan hanya masalah waktu sebelum kembali ke kultivasinya lagi.

Adapun ibunya baru beberapa hari lalu menerobos alam pembuka Meridian, dan dia sendiri bisa berlatih lagi dengan kultivasi di tingkat ke enam alam Pemurnian tubuh.

Karena dia bisa berlatih lagi, dia tidak akan membiarkan keluarganya diperlakukan seperti itu selama satu hari pun seperti sebelumnya.

. . .

Area bendahara keluarga Zhang terletak di sisi barat kediaman utama. Sebuah bangunan memanjang dengan beberapa ruangan penyimpanan di belakangnya. Di meja depan, seorang pemuda berusia dua puluh tahun sedang duduk dengan kaki diangkat ke atas meja sambil memainkan sebilah pisau kecil di tangannya.

Zhang Tiangxia berdiri di depan meja menatap pemuda yang terbaring malas di atas meja.

"Aku datang mengambil jatah bulanan keluarga Pil pemurni tulang dan uang tunjangan tiga bulan terakhir."

Pemuda itu tidak langsung menjawab. Dia menatap Zhang Tiangxia dari atas ke bawah dengan ekspresi meremehkan.

Matanya menatap sinis ke arah Zhang Tiangxia dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Jatah bulanan keluarga kalian?" Dia tertawa terbahak-bahak. "Kau adalah bocah cacat yang jiwa beladirinya hancur, tapi kamu masih berani datang kemari meminta sumberdaya keluarga untuk keluarga sampah kalian?"

Pemuda itu mencibir dengan tatapan acuh, "Jangan berfikir karena kejadian di lapangan keluarga itu membuatmu besar kepala." Pemuda itu berdiri dengan dagu terangkat, "Paman ku tidak akan memberikan kalian sumberdaya apapun meskipun itu hanya seonggok kotoran."

"Apa maksudmu?" Zhang Tiangxia berkata dengan alis berkerut. "Ini aturan yang sudah ada di keluarga Zhang, bahwa setiap orang yang bisa berlatih dan berasal dari keluarga berhak mendapatkan sumberdaya."

"Jangan bilang kamu ingin merubah aturan keluarga hanya karena kamu adalah keponakan Zhang Fei?"

Mata Zhang Tiangxia menatapnya dengan tatapan dingin.

"Haha, aturan?" Pemuda itu menurunkan kakinya dari meja, tapi ekspresinya tidak berubah. "Keluarga sampah macam kalian masih berani bicara soal aturan?" Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepala lagi dan lagi.

"Jangan lupa, kamu memukuli Zhang Lei hingga cacat dan memukuli pengawal keluarga. Keluarga tidak memberikan hukuman apapun padamu saja sudah bersyukur, namun berani-beraninya datang untuk meminta sumberdaya?"

"Keberadaan keluarga kalian di sini saja sudah jadi beban untuk keluarga Zhang yang lain, jadi tidak ada sumberdaya apapun untuk kalian."

Setelah berkata, pemuda itu langsung menutup matanya mengabaikan Zhang Tiangxia.

Zhang Tiangxia menjawab singkat. "Keluarkan pil dan uang yang harus di berikan, aku tidak punya waktu untuk di habiskan disini."

Melihat Zhang Tiangxia masih belum mau pergi juga, pemuda itu berdiri dengan marah.

Dengan posturnya yang tinggi, dia menatap Zhang Tiangxia dari atas.

 "Tidak ada sumber daya untuk keluarga yang tidak berguna. Dan keluarga kalian tidak berhak mendapatkan sumber daya keluarga. Kalau mau protes, pergi temui kepala keluarga. Aku juga tidak punya waktu untuk meladeni sampah sepertimu."

Ada tatapan dingin di mata Zhang Tiangxia, dia ingin sekali membunuh orang yang ada di depannya dengan satu tebasan pedang. Namun kepalanya masih sadar kalau tidak boleh membunuh sesama anggota keluarga.

Jika dia ceroboh dan melakukan itu, maka ayah ibu dan adiknya akan mengalami bahaya.

"Apakah kamu Cucu dari Zhang Muren?" Zhang Tiangxia bertanya.

"Benar. Aku adalah cucu dari Zhang Muren. Jadi kalau kamu mau membuat masalah di sini, pikir dua kali." Pemuda itu menjawab dengan nada bangga sambil membusungkan dada.

"Selain kakekku, tentu saja pamanku Zhang Fei tidak akan membiarkan jika kamu berani membuat masalah disini."

Saat berbicara, nadanya penuh kesombongan seolah-olah bahkan jika langit runtuh, tidak akan ada sesuatu yang terjadi padanya.

"Jadi kamu Adalah Zhang Bailong?" Tanya Zhang Tiangxia lagi.

Pemuda itu mengangguk lagi, "Tentu saja aku adalah Zhang Bailong, cucu kesayangan Zhang Muren."

Zhang Tiangxia tentu saja tahu siapa Zhang Muren. Dia adalah tetua tingkat rendah di keluarga Zhang di kota Linbao.

Zhang Muren dulunya berasal dari keluarga Zhang di desa cansu, namun lima tahun lalu dia pindah ke kota Linbao karena kultivasinya sudah menembus alam Pemurnian Qi.

Namun meskipun begitu, dia tidak merasa takut. Dia hanya takut saat dirinya di injak seperti saat ini, dia tidak punya keberanian untuk melawan.

Zhang Tiangxia menatap Zhang Bailong sebentar lalu tangannya terangkat....

Plakkk!

Suara tamparan menggema seperti Sambaran petir di kepala Zhang Bailong.

Tamparan itu sangat keras hingga menggema di seluruh ruangan. Tamparan itu membuat kepalanya terputar ke samping. Pipinya langsung memerah karena jari-jari Zhang Tiangxia meninggalkan bekas di wajahnya

Butuh waktu sebelum Zhang Bailong kembali sadar.

Lalu dia berbalik dengan wajah yang di penuhi niat membunuh.

"Kamu.... Beraninya kamu menamparku" tangannya menunjuk Zhang Tiangxia dengan gemetar.

"Mati.."

Dia melayangkan tinju sekuat tenaga ke arah wajah Zhang Tiangxia.

Bersamaan juga aura alam pemurnian tubuh tingkat enam meledak dari tubuhnya membuat udara di ruangan itu terasa lebih berat seketika.

Melihat kultivasi Zhang Bailong sama seperti dirinya, Zhang Tiangxia tampak meremehkan.

Dia melangkah mundur satu langkah membiarkan tinju itu melayang di depan hidungnya tanpa mengenai apapun.

Zhang Bailong menyerang lagi, kali ini jauh lebih cepat.

Tapi Zhang Tiangxia mundur lagi, menghindar tanpa membalas. Bukan karena dia takut, tapi dia tidak ingin membuat keributan.

Dia bisa saja menghajar pemuda ini habis-habisan dalam dua tarikan nafas atau langsung membunuhnya.

Tapi jika dia melakukan itu, maka itu akan mengekspos kekuatan aslinya sekarang.

Belum lagi di depan area bendahara keluarga Zhang yang pasti ada orang lain menonton. Bahkan jika tidak ada satu orang pun, dia tidak akan melakukan hal itu. Karena jika keluarga menyelidiki dengan detail, dia tetap akan terbongkar juga.

Zhang Bailong menyerang ketiga kalinya. Keempat. Kelima.

Semuanya mengenai angin.

Dia berdiri terengah-engah, wajahnya merah campuran antara kelelahan dan malu yang mendalam. Dia adalah seorang kultivator tingkat enam alam pemurnian tubuh, dan usianya sudah lima belas tahun. Namun meskipun berusaha keras, dia tetap tidak bisa menyentuh bocah tujuh tahun yang ada di depannya..

"Berdiri diam!" Dia meraung.

Zhang Tiangxia tidak menjawab. Dia hanya menatap Zhang Bailong dengan ekspresi yang sama, acuh tak acuh.

Prilaku Itu justru yang membuat wajah Zhang Bailong semakin gelap.

"Kamu meremehkan aku?" Napasnya mulai memburu karena kelelahan "Kamu pikir dengan menghindar kamu bisa menang? Dasar pengecut."

Zhang Tiangxia tidak berkedip, dia mengabaikan provokasi yang di lakukan Zhang Bailong padanya.

"Sampah cacat, apakah kamu hanya bisa lari-lari menghindar seperti ini?" Dia berhenti di beberapa meter, lalu Zhang Bailong meludah ke tanah. "Cuih."

"Kalau kamu memang punya nyali, lawan aku satu lawan satu di lapangan keluarga." Zhang Bailong menunjuk ke arah luar.

"Oh." Zhang Tiangxia akhirnya membuka mulut. "Apakah kamu serius ingin bertarung denganku?"

"Apa? Jangan bilang kamu takut?" Zhang Bailong mencibir.

Zhang Tiangxia menggelengkan kepala. "Takut? Bukan itu. Aku hanya malas menimbulkan masalah."

"Cuih." Zhang Bailong meludah lagi. "Kalau takut tinggal bilang takut tidak perlu cari alasan."

Zhang Tiangxia tidak menjawab, karena dia benar-benar tidak ingin membuat masalah sekarang.

Zhang Bailong melihat Zhang Tiangxia terdiam menganggap dia takut padanya. Dia menganggap itu sebagai kemenangan.

Senyumnya melebar dan tampak semakin meremehkan Zhang Tiangxia.

"Begini saja." Dia melipat tangannya di dada. "Kalau kamu menang, aku setuju untuk memberikan sumberdaya dua kali lipat pada keluarga kalian, namun jika kamu kalah, kamu harus memotong dua tanganmu."

Zhang Tiangxia diam sejenak lalu menggelengkan kepala, "Tidak perlu bertarung di lapangan keluarga. Disini saja agar lebih cepat selesai."

"Haha, kalau begitu kita bertarung disini, tapi kita akan beradu pukulan. Jangan ada yang menghindar." Zhang Bailong menatap Zhang Tiangxia dengan senyum lebar.

Sebelumnya dia khawatir Zhang Tiangxia akan menolak, namun karena dia setuju, dia bisa memberinya pelajaran yang pantas.

Jika dia bisa mengalahkan Zhang Tiangxia dan memotong dua tangannya, pamannya pasti akan memujinya.

1
syarif ibrahim
jauhnya dari siang sampai sore baru sampai.... 🤔🤔🤔
aldo
up lah author
Ibad Moulay
Gasss terus, jangan kasih kendor 🐎🐎🐎
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥🔥
aldo
lanjut author semangat terus🙏🙏🙏🙏
selenophile
min jiwa beladiri gk ke pake ya...
Ibad Moulay
Pemburu
Ibad Moulay
Kelompok
Ibad Moulay
Uraaa🐎🐎🐎
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
ammank firman
heran kenapa harus jual air roh kalo hanya untuk membeli pil kan koin emas banyak di cincin
Ibad Moulay
Gasss Terus,,,Jangan Kasih Kendor 🐎🐎🐎
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Gasss Terus,,,Jangan Kasih Kendor 🐎🐎🐎
Ibad Moulay
Lanjutkan 🔥🔥🔥
Ibad Moulay
Teknik Bayangan Kematian
Ibad Moulay
Rubah Roh Ungu
Ibad Moulay
Token
Ibad Moulay
Cairan Spiritual
Ibad Moulay
Walikota
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!