Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melintasi cakrawala
Persiapan keberangkatan ke Kairo terasa seperti badai kecil di rumah nomor 12. Adeeva sibuk membongkar muat kopernya, bingung memilih pakaian yang pantas untuk cuaca Mesir sekaligus tidak membuatnya terlihat seperti "santriwati paksaan" di depan teman-teman Adiba.
Shaheer masuk ke kamar, melihat tumpukan baju yang berserakan di atas kasur. Ia menggeleng pelan sambil meletakkan paspor dan tiket mereka di atas nakas.
"Kita hanya tujuh hari di sana, Deeva. Kamu tidak sedang pindah asrama," ujar Shaheer tenang.
Adeeva menoleh dengan wajah cemberut, tangannya memegang dua pashmina berbeda warna. "Aku harus tampil sempurna. Aku tidak mau mempermalukan Kak Adiba di depan calon suaminya. Apalagi Kak Zaki itu katanya jenius."
Shaheer mendekat, mengambil alih pashmina dari tangan Adeeva dan mendudukkan gadis itu di pinggir ranjang. "Kamu sudah cukup sempurna dengan menjadi dirimu sendiri. Pakai saja yang nyaman."
Bandara Soekarno-Hatta malam itu menjadi saksi keberangkatan mereka. Keluarga Jenderal Ali melepas mereka dengan formalitas yang kaku, sementara dari pihak pondok hanya Umi yang datang karena Abi masih bersikeras dengan kemarahannya.
Kaysan, seperti biasa, muncul dengan alasan "mengawal Kapten," padahal matanya terus melirik Fathiyah yang berdiri di pojok sambil memegang botol air mineral.
"Bang Shaheer, hati-hati di negeri para Nabi. Jangan sampai Mbak Deeva diculik orang Arab ya, mereka suka yang matanya galak begini," seloroh Kaysan yang langsung mendapat hadiah injakan sepatu dari Adeeva.
Setelah melewati pemeriksaan imigrasi, Adeeva dan Shaheer duduk di ruang tunggu keberangkatan. Adeeva menatap keluar jendela besar, melihat pesawat-pesawat yang bersiap lepas landas. Jantungnya berdegup kencang; ini adalah penerbangan internasional pertamanya tanpa Adiba di sampingnya.
"Takut?" tanya Shaheer.
Adeeva menggeleng, meski tangannya mencengkeram erat pegangan tasnya. "Hanya... merasa aneh. Biasanya kalau ada hal besar seperti ini, aku selalu memegang tangan Kak Adiba."
Shaheer terdiam sejenak. Ia kemudian mengulurkan telapak tangannya yang lebar ke depan Adeeva. "Kalau begitu, pakai tanganku dulu. Anggap saja sementara."
Adeeva menatap tangan itu, lalu perlahan menyatukan jemarinya dengan jemari Shaheer. Genggaman Shaheer sangat mantap, memberikan rasa aman yang instan.
"Lagipula," suara Shaheer merendah, tepat di dekat telinga Adeeva saat pengumuman boarding bergema. "Anggap saja perjalanan ini adalah bulan madu kita yang tertunda. Aku tahu kita tidak memulainya dengan romantis, tapi aku ingin kita mengakhirinya dengan cerita yang berbeda."
Adeeva tersentak. Wajahnya memanas. "Bulan madu? Kapten, kita ke sana untuk menginterogasi calon suami Kak Adiba, bukan untuk liburan!"
"Tugas intelijen dan bulan madu bisa dilakukan bersamaan, Deeva. Itu namanya efisiensi prajurit," jawab Shaheer dengan senyum tipis yang mematikan.
Penerbangan belasan jam itu terasa lebih singkat bagi Adeeva karena ia menghabiskan sebagian besar waktunya tertidur di bahu Shaheer. Saat roda pesawat menyentuh landasan Bandara Internasional Kairo, udara kering dan hangat langsung menyambut mereka.
Keluar dari pintu kedatangan, Adeeva langsung berteriak saat melihat sosok wanita dengan gamis cokelat dan kerudung lebar melambaikan tangan.
"Kaaaaak Adibaaaaa!" Adeeva berlari kecil, mengabaikan protokol asrama yang biasa ia jaga. Ia menghambur ke pelukan kembarannya. Keduanya menangis sesenggukan, melepaskan rindu yang sudah menumpuk berbulan-bulan.
Di belakang Adiba, berdiri seorang pria muda berkacamata dengan kemeja rapi. Zaki. Pria itu tampak gugup melihat Shaheer yang berdiri tegak dengan tatapan mengintimidasi layaknya sedang menginspeksi pasukan.
"Zaki," pria muda itu mengulurkan tangan dengan sopan.
"Shaheer," balas Shaheer pendek. Genggamannya sangat kuat, seolah sedang menguji kekuatan mental pria di hadapannya.
Malam pertama di Kairo, mereka makan malam di sebuah restoran di pinggiran Sungai Nil. Adeeva dan Adiba asyik mengobrol tanpa henti, sementara Shaheer mulai melancarkan pertanyaan-pertanyaan strategis kepada Zaki.
"Jadi, Zaki, apa rencana jangka panjangmu setelah lulus S3 nanti? Bagaimana kamu akan menjamin kehidupan Adiba di negeri yang sedang tidak stabil ini?" tanya Shaheer tanpa basa-basi.
Zaki menjawab dengan tenang, menjelaskan rencana kariernya di dunia akademisi dan tabungan yang sudah ia siapkan. Adeeva memperhatikan dari jauh, ia menyadari bahwa Shaheer benar-benar menjalankan perannya sebagai "pengganti ayah" bagi Adiba dengan sangat serius.
Saat malam semakin larut dan mereka berjalan menuju penginapan, Shaheer merangkul bahu Adeeva yang mulai kedinginan karena angin malam Nil.
"Bagaimana menurutmu? Dia cukup layak?" tanya Shaheer.
Adeeva menatap kakaknya yang sedang tertawa malu-malu di depan Zaki. "Kak Adiba terlihat bahagia, Shaheer. Itu sudah cukup bagiku. Terima kasih sudah membawaku ke sini."
Shaheer berhenti melangkah, membuat Adeeva ikut berhenti. Di bawah lampu jalan Kairo yang temaram, Shaheer menatap istrinya dalam-dalam. "Aku ingin kamu juga merasa seperti itu, Deeva. Bukan hanya Adiba. Aku ingin suatu hari nanti, kamu melihatku dan merasa bahwa hidup bersamaku adalah kebahagiaan, bukan sebuah tugas."
Adeeva terdiam. Kata-kata puitis yang biasanya ia benci kini terdengar sangat tulus jika keluar dari mulut Shaheer. Ia tidak menjawab, namun ia mengeratkan pelukannya pada lengan Shaheer, berjalan beriringan di antara sejarah dan masa depan yang mulai tampak lebih cerah.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...