Kisah seorang istri yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan oleh keluarga suami nya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang yang kaya.....Nasibnya begitu miris bahkan selalu dibandingkan dengan istri adik suaminya sendiri yang dianggap dari keluarga terhormat oleh sang mertua.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasutan
***
"Aku merasa cocok sama tempat nya Mas, Ratna. Menurut aku tempatnya sangat strategis, apalagi didepan nya langsung jalan raya, gimana menurut kalian?" Tanya Tania meminta pendapat Rendra dan Ratna.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang, mereka baru saja selesai melihat-lihat ruko yang akan Tania sewa.
Tania langsung merasa cocok dan berniat mengambil ruko tersebut, walaupun sedikit mahal tapi Tania yakin sama tempat nya.
"Aku sih setuju-setuju saja Tan, yang penting di kamu nya cocok, aku dukung." Balas Ratna sembari tersenyum.
"Kalau menurut aku sih tempat nya memang bagus Tan, tapi ya, semua terserah kamu juga. Dan soal harga nanti aku akan bantu nego sama teman aku," Ucap Rendra sembari terus fokus menyetir.
"Semoga saja dikasih diskon, lumayan kan buat nambah-nambah modal nanti nya. Itupun kalau yang punya mau, kalau nggak juga nggak papa Mas, karena menurut aku untuk ukuran ruko yang bagus seperti itu sesuai sih kalau harga nya segitu." Balas Tania tidak keberatan, karena dia sudah benar-benar merasa sangat cocok sama tempat itu.
"Kamu tenang aja Tan, kalau nanti modal nya kurang, jangan sungkan minta aja sama kami. Ya kan Mas." Ujar Ratna menyenggol suaminya.
Rendra mengangguk
"Nggak usah, insya Allah cukup kok Na. Seadanya aja dulu, aku nggak mau terus merepotkan kalian, kalian udah banyak sekali membantu aku. Makasih banyak ya Na, Mas." Ucap Tania merasa terharu atas kebaikan sahabat nya itu.
"Kamu kayak sama siapa aja Tan....Kita kan sahabat, sudah sewajarnya kita saling bantu, nggak usah sungkan, kalau kamu butuh aku akan bantu semampu aku. kalau pun masih belum cukup, bila perlu kita gadaikan suami kita juga bisa," Celetuk Ratna cekikikan.
Tuk
Tania mengetok kepala Ratna pelan, saking geram nya sama sahabat nya itu yang tidak pernah serius.
"Kamu ya!" Geram Tania sembari tertawa kecil Rendra ikut terkekeh melihatnya.
"Tapi ngomong-ngomong, apa suami kamu setuju sama rencana kamu ini Tania?" Tanya Rendra tiba-tiba, Tania terdiam sejenak.
"Mm, aku belum kasih tau dia sih Mas. Nanti aku coba bicara dulu, mudah-mudahan Mas Raka tidak keberatan dan mau mendukung aku. Doain aku ya!" Tania mencari dukungan orang terdekat nya.
Tania memang sengaja tidak memberitahu Raka dulu, dia tidak ingin sampai mertuanya tau dan menghasut suaminya nantinya agar tidak mengizinkan Tania membuka usaha.
Dia tau betul bagaimana sifat mertuanya itu.
Sesampai nya dirumah, Tania langsung turun dari mobil Rendra dan mengajak mereka juga untuk ikut turun.
"Masuk dulu yuk, kayak nya Mas Raka juga udah pulang, biar aku kenalin sama suami aku." Ajak Tania.
Karena Ratna dan Rendra buru-buru, mereka menolak halus ajakan Tania.
"Besok-besok lah aku dan Mas Rendra kesini lagi ya. Soalnya ini juga udah keburu magrib, nggak enak lah sama mertua kamu nantinya, masak bertamu jam segini." Tolak Ratna halus.
Meski sedikit kecewa, Tania akhirnya membiarkan Ratna pergi.
Tania menutup gerbang lebih dulu, lalu bergegas masuk kedalam rumah.
"Bagus, udah cukup keluyuran nya?"
Deg
Begitu masuk Tania di kaget kan dengan suara nyaring Mertuanya, diruang tamu terlihat semua keluarga berkumpul termasuk Raka suaminya juga ada disitu.
"Mas, kamu udah pulang?" Tania mendekati suaminya, meraih tangan suaminya dan mencium nya dengan takzim.
Dinda tersenyum sinis menatap menantunya.
"Begini kah kelakuan kamu Tania? Suami pulang kerja tapi istrinya malah nggak ada dirumah, entah keluyuran kemana kamu. Nggak becus jadi istri." Omel Dinda lagi, Tania tidak mempedulikan omongan mertuanya. Dia lebih memilih diam, tidak mau masalah semakin panjang kalau ia menanggapi.
"Lihat kan Mas, gimana kelakuan Mbak Tania, setiap hari keluar tapi nggak tau entah kemana pergi nya. Untung hari ini Mas Raka pulang nya cepat, jadi tau kan kelakuan Mbak Tania gimana!" Timpal Sindi sengaja memojokkan Tania.
Tania menghela nafas nya pelan, matanya melirik sekilas kearah Bella yang diam-diam seperti tersenyum puas melihat Tania terpojok.
"Mbak Tania butuh sensasi yang baru mungkin, mungkin sudah bosan sama Mas Raka yang terlalu kaku itu." Davin kali ini ikut berbicara dengan tersenyum sinis menatap Tania.
"Mas, Mbak Tania tidak seperti itu kok, jangan ngomong gitu." Bela Farah, dengan menyenggol sedikit lengan suaminya agar diam.
Tania memutar matanya dengan malas, lama-lama kesal juga, mulutnya rasanya sudah sangat gatal ingin membungkam mulut keluarga toxic suaminya.
"Orang bicara bukan nya jawab malah diam aja kamu. Darimana kamu sebenarnya? Kamu tau nggak, stok makanan di dapur sudah habis semua, bukan nya belanja malah keluyuran kamu ya!" Ujar mertuanya dengan mata melotot.
"Dirumah ini bukan hanya aku saja yang punya kaki dan mulut bu." Jawab Tania yang sudah mulai kesal, ujung-ujungnya dirinya hanya diperlukan untuk dijadikan alat sebagai pembantu.
"Dek." Raka menatap Tania tajam
"Kamu lihat kan, bahkan sekarang dia sudah mulai terang-terangan menjawab ibu, dasar menantu durhaka," Dinda menunjuk wajah Tania dengan perasaan kesalnya.
"Bu, sudahlah, Tania juga baru saja pulang. Jangan terus menekan dia." Bela Raka, berharap ibu nya tidak memperpanjang masalah.
"Kamu masih belain dia Raka, mau jadi anak durhaka juga kamu ha...."
"Bu, bukan gitu maksud Raka." Lelaki itu jadi serba salah sekarang, dia berbalik menatap Tania.
"Dek, kamu mengalah ya sama ibu, jangan menjawab ibu lagi, Mas mohon ya."
"Mas, yang aku katakan benar, kenapa selalu aku yang harus mengalah. Kamu kepala keluarga disini Mas, kamu harus bisa adil Mas," Tania tidak mau terus disalahkan, dia tidak akan mau terus-terusan di tindas.
Raka memijit pelipisnya, lama-lama frustasi juga dia, Tania sekarang benar-benar keras kepala menurutnya.
"Mas, aku mau ke kamar. Malas kalau harus terus berdebat sama keluarga kamu, karena Dimata mereka aku akan tetap selalu salah." Tanpa menunggu jawaban dari suaminya Tania bergegas melangkah kan kakinya menuju ke kamar.
"Mas Raka kamu jangan terlalu lemah sama Mbak Tania, sekarang saja dia sudah berani terang-terangan menjawab Ibu, bahkan didepan Mas Raka langsung. Padahal ibu selama ini begitu baik sama Mbak Tania, tapi lihat apa balasannya." Ucap Sindi mulai menjelekkan Tania lagi, berharap Raka memarahi Tania.
"Tania memang sudah sangat keterlaluan sekarang, dia benar-benar sudah tidak menghargai ibu sama sekali. Bahkan sekarang putra ibu sendiri lebih mau membela istrinya sendiri ketimbang ibu yang sudah melahirkan nya dengan susah payah." Ucap Dinda memasang wajah sedih.
"Mas keterlaluan, udah bikin ibu sedih, puas Mas sekarang!" sentak Sindi
"Sindi sudah, jangan terus menyalahkan Mas Raka. Kasihan Mas Raka, walau bagaimanapun Mbak Tania itu istri Mas Raka, jadi pasti Mas Raka bingung harus bersikap seperti apa. Meskipun Mbak Tania tadi pergi sama laki-laki, aku yakin pasti Mbak Tania sudah minta izin sama Mas Raka lebih dulu. Jadi Tante harus maklum." Jelas Bella tiba-tiba, Raka segera menoleh dengan kening berkerut.
"Maksud kamu apa? Laki-laki siapa?" Tanya Raka meminta penjelasan
Seringai kecil muncul disudut bibir Bella, Raka sudah masuk perangkat.
Bella langsung memasang wajah bingung sekaligus perasaan bersalah." Ka-kamu nggak tau Mas? Aku pikir Mbak Tania___
"Nggak usah bertele-tele Bella, katakan saja. Apa maksud kamu? Tania pergi sama siapa?" Tanya Raka menekan, raut wajah nya memerah.
"Ma-maaf Mas, tadi siang aku nggak sengaja lihat Mbak Tania pergi sama laki-laki dijemput pakai mobil, aku kira Mas Raka tau. Makanya aku tadi keceplosan ngomong sama kamu, Aku mohon Mas, kamu jangan marah sama Mbak Tania ya. Mungkin saja itu hanya teman nya Mbak Tania." Jelas Bella lagi.
Raka terlihat marah, rahang nya mengeras, ia tau betul Tania tidak pernah punya teman laki-laki.
"Kamu serius Mbak, kenapa nggak kasih tau aku sama ibu tadi?" Tanya Sindi penasaran.
"Lihat wanita yang kamu bela itu, bahkan sekarang dia sudah berani membawa laki-laki lain kerumah ini. Dia sama sekali sudah tidak menghargai kamu sebagai suaminya." Ucap Dinda seolah mempunyai celah untuk menyalahkan Tania.
Tangan Raka terkepal, dengan wajah memerah lelaki itu bergegas melangkah masuk ke kamar nya.
"Mampus kamu Tania." Batin Bella tersenyum puas dengan seringai nya yang licik.