NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 22: Langkah Menuju Rumah

Sejak kencan pertama itu, sesuatu berubah antara Aisha dan Arka. Bukan perubahan yang dramatis—mereka tidak tiba-tiba menjadi pasangan mesra atau saling mengirim pesan cinta setiap saat. Tapi ada kehangatan baru yang menyelinap di antara mereka, seperti sinar matahari yang perlahan menembus awan setelah hujan panjang.

Arka kini datang ke rumah hampir setiap hari. Bukan hanya di akhir pekan, tapi juga di sore hari setelah bekerja. Ia bilang ingin melihat Baskara, tapi seringkali ia berakhir duduk di dapur menemani Aisha memasak, atau di ruang tamu berbincang tentang hal-hal sepele.

Aisha menikmati kehadirannya. Tidak ada tekanan, tidak ada harapan yang berlebihan. Mereka hanya dua orang dewasa yang belajar untuk saling mengisi kekosongan yang pernah mereka ciptakan sendiri.

---

Pagi itu, Aisha sedang menyiram tanaman di taman belakang ketika ponselnya berdering. Arka.

“Selamat pagi, Aisha. Aku minta tolong.”

“Pagi juga, Arka. Tolong apa?”

“Bisa tidak aku titip Baskara hari ini? Aku ada rapat mendadak sampai sore. Aku tidak sempat menjemputnya sepulang sekolah.”

“Tentu saja bisa. Aku akan jemput Baskara. Dia bisa main di rumah sambil nunggu kamu selesai rapat.”

“Terima kasih, Aisha. Aku benar-benar terbantu.”

“Sama-sama, Arka. Itu anak kita juga.”

Panggilan berakhir. Aisha tersenyum kecil. Kini Arka tidak lagi sungkan meminta bantuan padanya. Itu adalah tanda bahwa kepercayaan di antara mereka perlahan pulih.

---

Sepulang menjemput Baskara dari sekolah, Aisha memasak makan siang. Baskara membantu memotong sayuran di dapur, sesekali bertanya tentang Arka.

“Bu, Ayah jadi makan siang di sini?”

“Ayah ada rapat, Nak. Nanti sore baru ke sini.”

“Oh, Ayah sibuk terus.”

“Ayah sibuk karena Ayah harus bekerja, Nak. Untuk kita.”

Baskara mengangguk, meski wajahnya sedikit cemberut. Aisha mengusap rambutnya, lalu kembali memasak.

---

Sore harinya, Arka datang dengan wajah lelah. Ia melepas sepatu di teras, lalu masuk ke ruang tamu.

“Ayah!” Baskara berlari memeluk Arka.

“Nak, Ayah kangen.”

“Aku juga kangen, Ayah. Tadi Ibu masak rendang. Aku simpen buat Ayah.”

Arka menatap Aisha. “Kau simpan rendang untukku?”

Aisha tersenyum. “Baskara yang minta. Dia bilang rendang kesukaan Ayah.”

“Terima kasih, Nak.” Arka mengusap rambut Baskara. “Ayah laper. Ayo makan.”

Mereka bertiga makan di meja ruang tamu. Baskara bercerita tentang sekolahnya, tentang nilai matematika yang sempurna, tentang teman yang berbagi bekal. Aisha dan Arka mendengarkan dengan saksama, sesekali tertawa bersama.

Setelah makan, Baskara pamit ke kamar untuk mengerjakan PR. Aisha dan Arka duduk di teras belakang, menikmati teh hangat.

“Aisha, aku ingin bicara sesuatu.”

“Apa?”

“Aku sudah berpikir tentang masa depan. Tentang kita.”

Aisha menegakkan tubuh. “Apa maksudmu?”

Arka menarik napas panjang. “Aku ingin kita tinggal bersama lagi, Aisha. Bukan sebagai suami istri—aku tahu kita belum siap untuk itu. Tapi sebagai... keluarga. Aku ingin dekat dengan Baskara setiap hari. Aku ingin melihatnya tumbuh. Aku ingin... aku ingin pulang ke rumah yang hangat, bukan apartemen yang sunyi.”

Aisha terdiam. Permintaan itu tidak pernah ia duga. “Arka, kau yakin? Ini keputusan besar.”

“Aku sudah memikirkannya berminggu-minggu, Aisha. Aku sudah berkonsultasi dengan psikologku, dengan Tono, bahkan dengan Mia. Mereka semua mendukung.”

“Mia mendukung?”

“Mia bilang, keluarga adalah hal paling berharga. Dan jika aku punya kesempatan untuk memperbaikinya, aku harus ambil.”

Aisha menunduk. Tangannya memegang cangkir teh lebih erat. “Arka, aku takut. Aku takut kita terlalu cepat. Aku takut kita akan melukai satu sama lain lagi.”

“Kita tidak akan melukai jika kita belajar dari kesalahan, Aisha. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku akan ada untukmu. Aku akan mendengarkanmu. Aku tidak akan membiarkanmu merasa kesepian lagi.”

“Tapi aku yang berselingkuh, Arka. Aku yang menghancurkan kepercayaan.”

“Dan aku sudah memaafkanmu, Aisha. Bukan karena aku mudah melupakan, tapi karena aku tidak ingin kehilanganmu. Aku sudah kehilangan terlalu banyak orang dalam hidupku. Aku tidak ingin kehilanganmu juga.”

Aisha terisak. Arka memeluknya.

“Kita tidak perlu terburu-buru, Aisha. Kita bisa coba dulu. Aku bisa tinggal di sini beberapa hari dalam seminggu. Kita lihat bagaimana perasaannya. Jika tidak nyaman, aku akan kembali ke apartemen.”

“Dan Baskara? Apa kau sudah bicara dengannya?”

“Belum. Aku ingin mendengar pendapatmu dulu.”

Aisha mengusap air matanya. “Baik. Kita coba. Tapi perlahan. Jangan pindahkan semua barangmu sekaligus.”

Arka tersenyum. “Aku janji.”

---

Malam harinya, setelah Baskara tidur, Aisha dan Arka duduk di ruang tamu. Mereka menyusun rencana—Arka akan tinggal di rumah tiga hari dalam seminggu, dimulai dari akhir pekan ini. Kamar tidur tamu akan dijadikan kamar Arka. Mereka akan tetap memiliki ruang masing-masing, tidak ada kewajiban untuk bersama jika tidak nyaman.

“Kedengarannya seperti kontrak bisnis,” kata Aisha sambil tersenyum.

“Lebih seperti percobaan. Tidak ada yang mengikat. Jika tidak berhasil, kita bisa kembali ke keadaan semula.”

“Aku harap ini berhasil, Arka. Aku harap kita bisa menjadi keluarga yang utuh lagi.”

“Kita tidak akan pernah utuh seperti dulu, Aisha. Tapi kita bisa menjadi lebih baik. Kita bisa menjadi versi baru dari kita.”

Aisha mengangguk. “Aku suka itu. Versi baru dari kita.”

---

Akhir pekan tiba. Arka datang dengan satu koper kecil—hanya pakaian dan perlengkapan mandi. Baskara terkejut ketika Arka mengatakan bahwa ia akan tinggal di rumah selama beberapa hari.

“Ayah tinggal di sini? Serius?” tanya Baskara dengan mata berbinar.

“Serius, Nak. Ayah akan coba tinggal di sini. Tapi kamar Ayah di sebelah, ya. Bukan di kamar Ibu.”

“Aku seneng banget, Ayah! Sekarang kita bisa sarapan bareng setiap hari!”

Arka tertawa, mengusap rambut Baskara. “Belum setiap hari, Nak. Ayah hanya tinggal tiga hari dalam seminggu. Tapi nanti kalau sudah terbiasa, mungkin bisa lebih sering.”

“Semoga Ayah betah.”

“Ayah pasti betah, karena di sini ada kamu dan Ibu.”

Baskara tersenyum lebar. Ia membantu Arka membawa koper ke kamar tidur tamu, lalu sibuk menunjukkan di mana letak lemari, di mana stop kontak, di mana kamar mandi.

Aisha memandangi mereka dari dapur, tersenyum kecil. Rumah yang dulu sunyi, kini mulai terasa hangat kembali.

---

Hari pertama Arka tinggal berjalan dengan lancar. Mereka sarapan bersama, Baskara membantu Aisha memasak sementara Arka membaca koran di ruang tamu. Tidak ada kecanggungan, tidak ada suasana canggung yang mengganggu.

Sore harinya, mereka bertiga pergi ke taman dekat rumah. Baskara bermain ayunan dan perosotan, sementara Aisha dan Arka duduk di bangku taman.

“Aisha, aku nyaman di sini. Aku tidak merasa tertekan.”

“Aku juga nyaman. Aku kira akan canggung, tapi ternyata tidak.”

“Karena kita sudah dewasa. Kita sudah belajar dari kesalahan.”

Aisha mengangguk. “Aku berharap kita bisa terus seperti ini.”

“Kita bisa, Aisha. Asalkan kita terus berkomunikasi. Tidak ada rahasia lagi. Tidak ada kebohongan lagi.”

Mereka berdua terdiam, menikmati sore yang cerah. Baskara berlari menghampiri mereka, wajahnya basah oleh keringat.

“Bu, Ayah, aku haus.”

Aisha mengeluarkan botol minum dari tas. “Minum, Nak. Jangan terlalu kencang ayunannya, nanti jatuh.”

“Iya, Bu.” Baskara minum, lalu berlari kembali ke ayunan.

“Dia anak yang baik,” kata Arka.

“Ya. Dia mewarisi sifat baik dari kita berdua.”

Arka tersenyum. “Aku berharap dia tidak mewarisi kesalahan kita.”

“Dia akan belajar dari kesalahan kita. Itu sudah cukup.”

---

Malam harinya, setelah Baskara tidur, Aisha dan Arka duduk di teras belakang. Bulan bersinar terang, bintang-bintang bertaburan di langit.

“Arka, aku ingin bertanya sesuatu.”

“Apa?”

“Apa kau tidak takut? Takut bahwa suatu hari nanti aku akan melakukan kesalahan yang sama lagi?”

Arka menatap Aisha lama. “Aku takut, Aisha. Tapi aku lebih takut kehilanganmu. Aku sudah memaafkanmu. Aku sudah melepaskan masa lalu. Aku memilih untuk percaya bahwa kau telah berubah.”

“Aku telah berubah, Arka. Aku tidak akan mengulangi kesalahan itu. Aku tidak akan menyakiti Baskara lagi. Aku tidak akan menyakiti kamu lagi.”

“Aku percaya padamu, Aisha. Itu sudah cukup.”

Aisha meraih tangan Arka. “Terima kasih, Arka. Karena masih mau memberiku kesempatan.”

Arka membalikkan tangannya, menggenggam jari-jari Aisha. “Kita beri kesempatan untuk diri kita sendiri, Aisha. Bukan hanya untukmu atau untukku. Tapi untuk kita.”

Mereka berdua diam, menikmati malam yang sunyi. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma bunga melati dari taman.

---

Dua minggu berlalu. Arka kini tinggal di rumah lima hari dalam seminggu. Hanya Senin dan Selasa ia kembali ke apartemen untuk menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi penuh.

Baskara bahagia. Ia tidak perlu menunggu akhir pekan untuk bertemu ayahnya. Setiap pagi, ia sarapan bersama Aisha dan Arka. Setiap sore, ia mengerjakan PR dengan ditemani Arka. Setiap malam, ia tidur dengan perasaan tenang karena orang tuanya ada di rumah yang sama.

Aisha juga bahagia. Rumah yang dulu terasa berat, kini terasa ringan. Ada tawa, ada canda, ada obrolan ringan di dapur. Arka membantunya memasak, mencuci piring, bahkan membersihkan taman.

“Aisha, aku merasa seperti di rumah,” kata Arka suatu malam.

“Karena ini rumahmu, Arka. Dulu, sekarang, dan selamanya.”

“Kita tidak perlu menikah lagi, Aisha. Cukup begini. Kita bertiga, bersama, saling mendukung.”

“Aku setuju. Tidak perlu ada label. Yang penting kita bahagia.”

Arka tersenyum. “Aku bahagia, Aisha. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar bahagia.”

“Aku juga, Arka. Aku juga.”

---

Suatu sore, ketika Aisha sedang memasak di dapur, Arka masuk dengan wajah serius.

“Aisha, ada sesuatu yang harus aku katakan.”

“Apa?”

“Mia minta bertemu dengan Baskara.”

Aisha berhenti mengaduk sup. Ia menoleh, menatap Arka. “Apa?”

“Dia minta bertemu Baskara. Hanya sekali. Dia ingin melihat keponakannya. Dia tidak akan mendekat. Hanya dari kejauhan.”

“Arka, Baskara masih trauma. Dia masih sering mimpi buruk tentang Mia.”

“Aku tahu. Tapi terapis Mia bilang, pertemuan ini penting untuk proses penyembuhan Mia. Dan terapis Baskara juga bilang, jika dilakukan dengan hati-hati, pertemuan ini bisa menjadi terapi untuk Baskara juga. Untuk menghadapi ketakutannya.”

Aisha ragu. “Aku harus bicara dengan Baskara dulu. Aku tidak akan memaksanya.”

“Tentu. Aku tidak akan memaksa. Jika Baskara tidak mau, kita batalkan.”

Aisha menghela napas. “Baik. Aku akan bicara dengan Baskara malam ini.”

---

Malam harinya, setelah Baskara mandi dan berganti piyama, Aisha duduk di tepi tempat tidurnya.

“Nak, Ibu mau cerita sesuatu.”

“Apa, Bu?”

“Kamu ingat Bibi Mia?”

Wajah Baskara berubah. Ia menunduk, tangannya menggenggam erat selimut. “Ingat, Bu. Dia yang mau bunuh Ibu.”

“Bibi Mia sedang sakit, Nak. Sakit di pikirannya. Tapi sekarang dia sudah berobat. Dia sudah lebih baik. Dan dia minta maaf. Dia ingin bertemu dengan kamu. Hanya melihat dari kejauhan. Tidak akan mendekat.”

Baskara diam lama. Aisha tidak memaksanya bicara.

“Bu,” Baskara akhirnya bersuara. “Aku takut.”

“Tidak usah takut, Nak. Ibu dan Ayah akan menemani kamu. Kita akan di taman umum, banyak orang. Bibi Mia hanya akan duduk di bangku jauh. Dia tidak akan mendekat.”

“Dia janji tidak akan mendekat?”

“Dia janji. Dan Ibu percaya dia. Karena dia sudah berubah.”

Baskara menggigit bibirnya. “Baik, Bu. Aku mau. Tapi kalau dia mendekat, kita langsung pulang.”

“Iya, Nak. Janji.”

---

Keesokan harinya, Aisha, Arka, dan Baskara pergi ke taman dekat sekolah. Mereka duduk di bangku yang telah disepakati. Di kejauhan, di bawah pohon rindang, Mia duduk di kursi roda, ditemani oleh pendampingnya.

Baskara memegang erat tangan Aisha. Matanya tertuju pada Mia, sesekali berkedip, sesekali menunduk.

“Bu, dia kelihatan kurus,” bisik Baskara.

“Dia sakit, Nak. Tapi sekarang dia lebih baik.”

“Dia menangis, Bu.”

Aisha melihat ke arah Mia. Wanita itu benar-benar menangis. Tangisnya pelan, tertahan, tapi air matanya mengalir deras.

“Dia menyesal, Nak. Dia menyesal sudah menakuti kamu.”

Baskara diam sejenak. Lalu ia berkata, “Bu, aku mau melambai.”

“Kamu yakin, Nak?”

Baskara mengangguk. Ia mengangkat tangan kirinya—tangan yang dulu patah karena kecelakaan—dan melambai kecil ke arah Mia.

Mia terisak. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, membalas lambaian Baskara.

Aisha menangis. Arka juga.

Mereka bertiga duduk di bangku taman, di bawah sinar matahari sore, menyaksikan seorang wanita yang pernah menjadi momok dalam hidup mereka, kini menangis haru karena lambaian seorang anak kecil.

Dunia memang bulat. Orang bisa berubah. Luka bisa sembuh.

Dan cinta, meskipun tersembunyi di balik rasa takut, akan selalu menemukan jalannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!