NovelToon NovelToon
The Baskara'S Bride

The Baskara'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Pagi harinya, suasana di lobi kediaman Mahendra terasa sangat formal.

Di samping kursi roda Baskara, berdiri seorang pria tegap dengan setelan jas hitam yang rapi.

Wajahnya datar tanpa ekspresi, dengan sorot mata tajam yang menyapu setiap sudut ruangan seolah sedang memindai ancaman.

"Ambar, perkenalkan. Ini Thomas," ucap Baskara dengan nada suara yang berat dan tidak menerima bantahan.

"Mulai hari ini, dia adalah bayanganmu. Ke mana pun kamu pergi—ke butik, ke pasar, bahkan jika kamu hanya ingin sekadar menghirup udara di taman—dia akan berada dua langkah di belakangmu."

Thomas membungkuk hormat dengan sangat sopan.

"Selamat pagi, Nyonya Ambar. Saya akan memastikan keselamatan Anda dengan nyawa saya."

Ambar tertegun, matanya beralih dari Thomas ke suaminya yang tampak begitu serius.

"Bas, ini berlebihan. Aku hanya mau ke butik, bukan mau pergi ke medan perang. Aku merasa seperti tawanan kalau terus diikuti seperti ini."

Baskara meraih tangan Ambar, menariknya mendekat hingga wajah mereka sejajar.

Genggamannya sangat erat, mencerminkan ketakutan luar biasa yang ia rasakan semalam saat melihat Ambar tak bernapas di gudang itu.

"Tidak ada yang berlebihan jika itu menyangkut nyawamu, Ambar," desis Baskara, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan.

"Aku tidak mau melihatmu diikat lagi. Aku tidak mau merasakan tubuhmu dingin karena kehabisan napas lagi. Jika aku tidak bisa berjalan di sampingmu untuk melindungimu setiap detik, maka Thomas yang akan melakukannya untukku."

Ambar terdiam, ia bisa melihat luka trauma di mata suaminya.

Baskara ternyata jauh lebih ketakutan daripada dirinya sendiri. Ia menghela napas panjang, akhirnya luluh oleh rasa cinta posesif pria itu.

"Baiklah, Bas. Kalau itu memang bisa membuatmu tenang dan bisa tidur nyenyak nanti malam. Aku terima Thomas," ucap Ambar lembut sambil mengelus pipi Baskara.

Baskara tampak sedikit rileks, ia mencium telapak tangan Ambar.

"Terima kasih, Sayang. Sekarang pergilah ke butikmu. Ferrari merahmu sudah dipanaskan, dan Thomas akan mengawalmu dengan mobil keamanan di belakang."

Deru mesin Ferrari Purosangue merah marun itu berhenti dengan anggun tepat di depan lobi butik.

Tak lama, sebuah SUV hitam besar berhenti tepat di belakangnya.

Thomas keluar dengan gerakan taktis, membukakan pintu untuk Ambar, dan berdiri tegak dengan tangan tertaut di depan tubuhnya.

Ambar melangkah masuk ke butiknya yang sudah hampir rampung direnovasi. Namun, suasana pagi itu terasa berbeda.

Begitu Ambar masuk diikuti oleh Thomas, aktivitas di dalam butik seolah terhenti seketika.

Para karyawan wanita yang sedang merapikan manekin dan menata kain sutra mendadak mematung.

Mata mereka tidak tertuju pada Ambar, melainkan pada sosok pria di belakangnya. Thomas, dengan wajah tegas, rahang yang kokoh, dan setelan jas yang melekat sempurna di tubuh atletisnya, benar-benar mencuri perhatian.

"Wah, siapa itu? Pengawal baru Bu Ambar?" bisik salah satu penjahit pelan, namun matanya tak berkedip.

"Ganteng sekali, seperti aktor film aksi," timpal karyawan lainnya dengan pipi yang sedikit merona.

Thomas tetap pada posisinya, wajahnya datar tanpa ekspresi, seolah ia adalah mesin yang diprogram hanya untuk melindungi.

Ia tidak terpengaruh sedikit pun oleh tatapan kagum yang tertuju padanya.

Ambar yang menyadari situasi itu hanya bisa menggelengkan kepala pelan.

Ia tahu suaminya, Baskara, tidak akan memilih sembarang orang—dan tampaknya Baskara memilih seseorang yang tidak hanya ahli bela diri, tapi juga memiliki penampilan yang mencolok.

Ambar berdeham pelan, mencoba memecah keheningan yang penuh pesona itu.

"Selamat pagi semuanya," sapanya dengan nada tegas namun ramah.

"Selamat pagi, Bu Ambar!" jawab mereka serempak, meski mata mereka sesekali masih melirik ke arah Thomas yang kini berdiri di dekat pintu masuk, mengawasi setiap orang yang lewat.

Ambar tersenyum tipis, lalu menepuk tangannya sekali untuk mengembalikan fokus mereka.

"Ayo, waktunya kerja! Kain-kain itu tidak akan menjahit dirinya sendiri hanya dengan kalian memandangi Thomas."

Mendengar godaan halus dari sang bos, para karyawan itu tertawa kecil secara bersamaan.

Suasana yang tadinya kaku karena kehadiran pengawal baru, seketika mencair menjadi penuh keceriaan.

"Baik, Bu! Habisnya, pemandangannya segar sekali pagi ini!" celetuk salah satu staf senior yang membuat tawa mereka semakin pecah.

Ambar ikut tersenyum, lalu melangkah menuju meja desainnya.

Sambil mulai menggoreskan pensil di atas kertas, ia sesekali melirik ke arah Thomas.

Dalam hati, ia merasa bersyukur. Meskipun ia merasa perlindungan ini sedikit berlebihan, ia tahu bahwa di balik ketampanan dan ketegasan Thomas, ada cinta luar biasa dari Baskara yang ingin memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.

Pensil sketsa di tangan Ambar terhenti saat ia mendengar keributan kecil di pintu depan.

Suara Thomas yang berat dan dingin terdengar tegas menghalau seseorang.

Ambar meletakkan pensilnya, merapikan blusnya, dan melangkah keluar menuju lobi.

Di sana, pemandangan yang sangat kontras tersaji.

Thomas berdiri bak tembok karang yang tak tergoyahkan, sementara di hadapannya, seorang wanita dengan pakaian kusam, rambut lepek, dan wajah tanpa riasan sedang memohon dengan suara serak.

"Nyonya, wanita ini memaksa masuk tanpa janji temu," lapor Thomas tanpa mengalihkan pandangannya dari Gea, tangannya bersiap jika wanita itu melakukan gerakan mencurigakan.

Ambar memberi isyarat agar Thomas sedikit memberi ruang.

Ia menatap Gea dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan datar, namun tak bisa dipungkiri ada rasa miris melihat kondisi adiknya yang begitu memprihatinkan.

"Lepaskan dia, Thomas. Dia hanya, tamu tak diundang," ucap Ambar tenang.

Ambar melipat tangannya di dada, berdiri dengan keanggunan yang alami.

"Ada apa, Gea? Kenapa penampilanmu jadi seperti ini? Mana suamimu, Jayden? Bukankah kamu sudah berhasil merebutnya dariku dengan segala cara? Harusnya kamu sedang bersenang-senang sekarang, bukan?"

Gea tertunduk lesu, air mata mulai menetes di pipinya yang kuyu.

"Kak, tolong aku. Jayden, dia berubah menjadi monster. Kami diusir, kami tidak punya uang, bahkan untuk makan pun sulit. Aku tahu aku salah, tapi tolong kasihanilah Mama dan Papa..."

Ambar tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung luka masa lalu.

"Kasihan? Lucu sekali kata itu keluar dari mulutmu, Gea. Di mana rasa kasihanmu saat kamu dan ibumu mengusirku dalam keadaan hancur? Di mana Jayden yang kamu banggakan itu saat ini?"

Ambar menatap Gea dengan tatapan dingin. Luka yang digoreskan adik tirinya itu terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan beberapa tetes air mata buatan.

"Thomas, usir dia. Aku tidak punya urusan lagi dengan keluarga Wijaya," ucap Ambar tegas, lalu berbalik badan hendak kembali ke ruang desainnya.

"Kak! Tolong! Setidaknya beri aku sedikit uang untuk makan Mama!" teriak Gea histeris, mencoba mengejar Ambar namun tertahan oleh lengan kokoh Thomas.

Tiba-tiba, sebuah mobil tua yang berisik berhenti mendadak di depan butik.

Jayden keluar dari mobil dengan wajah merah padam, matanya menyalang penuh amarah.

Ia melangkah lebar ke arah Gea yang masih bersimpuh di depan pintu.

PLAK!!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Gea hingga wanita itu terlempar ke lantai marmer.

"Bikin malu saja! Sudah kubilang cari kerja, bukan mengemis pada wanita ini!" raung Jayden.

"HENTIKAN!!" teriak Ambar.

Ia berbalik dan terkesiap melihat Gea yang sudah tergeletak pingsan di lantai, sudut bibirnya berdarah.

Jayden menatap Ambar dengan kebencian yang mendalam, lalu menatap Thomas yang sudah bersiap menerjangnya. Sadar ia kalah jumlah dan kekuatan, Jayden meludah ke samping.

"Urus saja sampah ini! Aku muak!"

Tanpa rasa bersalah, Jayden masuk ke mobilnya dan memacu kendaraan itu pergi, meninggalkan istrinya yang tak sadarkan diri di depan butik mantan istrinya.

"Thomas! Cepat bawa dia ke rumah sakit!" perintah Ambar, suaranya gemetar melihat kondisi Gea yang sedikit mengenaskan.

Thomas segera memberi kode melalui handy-talky di kerahnya.

Dua anak buahnya yang berjaga di mobil keamanan segera turun, dengan sigap mengangkat tubuh Gea yang lemas ke dalam mobil dan melesat menuju rumah sakit terdekat.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Ambar segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor pribadi Baskara.

"Bas..." suara Ambar sedikit tercekat.

Ia menceritakan semuanya; tentang kedatangan Gea, kekejaman Jayden, hingga Gea yang kini dilarikan ke rumah sakit.

Di seberang telepon, suara Baskara terdengar tenang namun penuh otoritas.

"Tenanglah, Sayang. Kamu tidak perlu mengotori tanganmu atau pikiranmu dengan urusan mereka lagi. Kamu tetaplah di butik, selesaikan pekerjaanmu di sana dengan aman bersama Thomas."

"Tapi Bas, bagaimana dengan Gea?"

"Biar aku yang ke rumah sakit," ucap Baskara dengan nada dingin yang menyiratkan ada rencana lain di kepalanya.

"Aku ingin melihat sejauh mana kehancuran yang sudah mereka ciptakan sendiri. Tetap di sana, Ambar. Aku mencintaimu."

Baskara menutup telepon. Di kantornya, ia memutar kursi rodanya menghadap jendela besar, menatap jalanan kota dengan tatapan tajam.

Ia tidak hanya akan melihat Gea di rumah sakit, ia akan memastikan Jayden mendapatkan balasan yang jauh lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan.

1
falea sezi
g perawan. kah kok. ambar. langsung ke atas g skit kah/Smug/
tiara
waduh thor bikin deg-degan aja nih,akhirnya Badkara kembali sadar semoga Jayden tertangkap segera ya
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
tiara
semoga Jayden dapat di hadang oleh pengawal Ambar yah.dan dibuat tidak bisa berulah lagi
tiara
sabar Ambar berdoa saja semoga lancar operasinya dan cepat bisa berjalan lagi
tiara
lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: ok kak
total 1 replies
tiara
keluarga Wijaya masih terus membuat Ambar ga nyaman sepertinya,
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
apa keluarga Wijaya menginsyafi kesalahannya atau tabah tetpuruk ya,lanjuut
tiara
cepat sembuh Ambar biar bisa lihat kejutan apa yang dibuat oleh suamimu yang kaya
tiara
wah pa Baskara ko bisa kecolongan sih
Alex
sambil nahan nafas Thor bacanya
tiara
lanjuut thor
tiara
nasi sudah jadi.bubur, bekerjalah kalian pa Wijaya jika ingin punya uang
tiara
dimulainya kehancuran keluarga wijaya,lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
tiara
perjanjian pra nikah mulai di hapus satu demi satu hingga akhirnya mungkin dihapus semua 😄😄😄
tiara
bagus pa Baskara hempaskan mantan sejauh mungkin
tiara
wah mantan Bastian mau melakukan apa ya terhadap Ambar.lanjuut thor
tiara
pa Wijaya nikmatilah hasil kejahatanmu pada anak kandung sendiri dan lebih membela anak tirimu
tiara
lanjuut thor semangat upnya,ga sabar lihat kehancuran keluarga Wijaya.agak aneh juga sih mengapa ayahnya begitu benci sama anaknya atau karena Gea dan ibunya yang sudah menghasut ps Wijaya ya
tiara
lanjuut thor seru niih, jadi deg-degan aku nunggu reaksi keluarga wijaya
tiara
Mereka mulai saling terbuka dan saling membutuhkan semoga kebahagian selalu menyertai tuan Baskara dan istrinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!