NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Romantis / Cintamanis
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Hanya satu pilihan

Keanu akhirnya mengalihkan pandangannya. Dari layar ponsel di tangannya, kini beralih pada sosok di hadapannya. Seorang mahasiswi yang berdiri di samping meja, masih dengan senyum percaya diri yang belum pudar.

Tatapan Keanu naik perlahan, datar tanpa ekspresi. Tidak ada kehangatan di sana, berbeda jauh dari beberapa menit lalu saat ia bersama Anindia.

Ia menatap gadis itu sekilas, cukup untuk menunjukkan bahwa ia sadar akan keberadaannya, tidak lebih.

Di atas meja, dua minuman dingin masih setengah penuh. Beberapa makanan ringan juga tersisa, jelas bukan untuk satu orang. Tapi, Keanu merasa tidak perlu menjelaskan apapun.

"Kenapa?" Tanya Keanu singkat, nada suaranya rendah, dingin, dan tanpa basa-basi.

Mahasiswi itu terdiam sesaat, mungkin tidak menyangka respon yang ia dapatkan akan setenang dan sejauh itu menjaga jarak.

Namun, gadis itu tetap mencoba tersenyum. Tangannya menyentuh sandaran kursi di depan Keanu, seperti ingin memastikan posisinya.

"Boleh duduk?" Ulangnya, kali ini lebih pelan mencoba terdengar santai.

Keanu tidak langsung menjawab, tatapannya masih sama tanpa perubahan. Seolah, pertanyaan itu tidak cukup penting untuk segera ia tanggapi.

Anindia masih berdiri di tempat yang sama. Sejak keluar dari toilet tadi, tatapannya tidak pernah lepas dari arah meja itu. Ia sudah melihatnya, dan sampai sekarang gadis itu masih di sana.

Anindia tidak langsung mendekat. Langkahnya tertahan beberapa meter dari meja, cukup untuk mendengarkan dan menangkap setiap gerak kecil.

Tatapan Anindia tertuju ke arah meja sejenak, dua gelas minuman dan makanan yang belum habis. Masih sama seperti yang ia tinggalkan, alias tidak ada yang berubah. Hanya saja, kini ada orang ketiga yang mencoba masuk.

Anindia mengangkat pandangannya lagi, kali ini langsung tertuju pada Keanu, bukan gadis itu. Seolah, yang ia tunggu bukan situasinya, tapi respon pria itu.

Ekspresinya tetap tenang, tidak ada amarah, tidak pula cemburu yang berlebihan. Tapi, diamnya punya arti. Anindia berdiri di sana dan memperhatikan. Karena untuk satu hal ini, ia ingin melihatnya sendiri.

Keanu menatap gadis itu tanpa benar-benar mengubah ekspresinya. Datar, tenang, namun jelas tidak memberi ruang.

Beberapa saat berlalu dalam diam, seolah memastikan dirinya tidak salah mendengar. Lalu, tanpa menggeser posisi duduknya sedikitpun, ia akhirnya menjawab.

"Kursi ini ada yang punya," ujar Keanu dingin, tapi tegas.

Gadis itu sempat terdiam, senyumnya tertahan sesaat. Seolah tidak menyangka akan mendapat respon secepat dan setegas itu.

Keanu kembali melanjutkan, kali ini tanpa menatapnya lagi. Tatapannya turun ke arah ponsel di tangannya, seolah percakapan tadi telah selesai.

"Istri gue," tambah Keanu cepat.

Tidak ada penjelasan panjang. Dan cara ia mengatakannya sudah lebih dari cukup untuk menutup perbincangan ini.

Senyum yang tadi sempat terukir di wajah gadis itu langsung memudar perlahan. Ia terlihat sedikit kaku, matanya berkedip beberapa kali, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"I-istri?" Ulang gadis itu pelan, nada suaranya berubah gugup.

Keanu tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Gerakannya tenang tapi tegas, tidak ada keraguan sedikitpun.

Tatapannya tetap dingin saat kembali menatap gadis itu. "Gak percaya?"

Gadis itu menggeleng pelan, senyumnya kembali dipaksakan meski terlihat jelas tidak se-yakin sebelumnya. "Enggak mungkin sih," ujarnya, mencoba tetap santai. "Masih muda juga."

Keanu menghela nafas kasar. Tatapannya yang tadi datar, kini berubah sedikit lebih tajam. Rahangnya mengeras, jelas tidak menyukai arah pembicaraan itu.

"Terus?" Balas Keanu singkat.

Belum sempat gadis itu bersuara, Keanu kembali berujar. "Muda itu alasan buat gak serius?" Lanjut Keanu, sebelah alisnya terangkat sedikit.

Keanu menyandarkan punggungnya lagi ke kursi, tapi sorot matanya tidak berubah. "Gue nikah bukan main-main."

Tidak ada emosi berlebihan, namun justru karena itu terasa lebih menekan. Ia kemudian memberi jeda sebentar, sebelum menambahkan satu kalimat lagi, terdengar lebih tegas.

"Dan gue gak pernah kasih tempat buat yang lain."

Gadis itu langsung memanyunkan bibirnya, jelas tidak puas dengan jawaban yang ia dapatkan. Ekspresinya berubah sedikit, ada rasa kesal yang mulai terlihat.

"Galak amat, sih," ujar gadis itu.

Keanu menatapnya sekilas, tanpa tertarik untuk memperpanjang. "Lebih baik galak di awal," jawabnya singkat. "Daripada ngasih harapan yang gak pasti."

Dari tempatnya berdiri, Anindia masih memperhatikan. Sejak tadi, tidak ada satu momen pun yang ia lewatkan. Respon Keanu semuanya terlihat jelas, bahkan lebih dari itu. Dan entah mengapa, hatinya terasa ringan.

Sudut bibir Anindia naik tanpa sadar. Hari ini terasa jauh berbeda dari hari sebelumnya. Saat itu, ia sempat dibuat kesal. Bukan karena Keanu memberikan kesempatan, tapi karena cara Keanu menanggapi gadis-gadis itu terasa terlalu santai. Meski ujung-ujungnya yang dikasih nomor tukang galon.

Anindia hampir terkekeh mengingat itu. Namun sekarang, Keanu bahkan tidak memberi celah sedikit pun. Jelas saja membuat hatinya terasa hangat.

Anindia tahu bahwa sikap itu bukan sekedar penolakan, tapi pilihan. Dan tanpa diumumkan pada siapapun, Keanu sudah menunjukkan hal yang paling jelas, bahwa hanya ada satu orang yang ia pilih.

Gadis itu jelas tidak senang, ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit berkerut. Namun anehnya, ia tidak beranjak pergi.

Tangan gadis itu masih berada di sandaran kursi, seolah belum siap melepaskan posisi itu. Ada rasa gengsi yang menahannya untuk mundur begitu saja. Ia menghela nafas pelan. Lalu, ia kembali menatap Keanu, kali ini tanpa senyum.

"Serius amat," ujar gadis itu, nada suaranya terdengar lebih datar. "Cuma duduk doang juga."

Keanu tidak langsung menjawab. Ia meletakkan ponselnya di atas meja perlahan. Tatapannya naik lagi, kali ini langsung mengarah ke tangan gadis itu, lalu kembali ke wajahnya.

"Ada yang gue tunggu," ujar Keanu dingin.

Gadis itu mendengus pelan, jelas belum menyerah. "Orangnya juga belum datang, kan?" Ujarnya, nada suaranya terdengar sedikit memaksa. "Masa duduk doang gak boleh?"

Keanu menarik nafas dalam, ada sedikit emosi yang naik, tapi masih ia tahan. Rahangnya mengeras sesaat, sebelum akhirnya ia memilih tetap tenang.

Keanu mengangkat dagunya sedikit, menunjuk ke arah deretan kursi lain di kantin yang masih kosong.

"Masih banyak tempat kosong," tegas Keanu. "Bukan di sini."

Gadis itu terdiam. Beberapa saat berlalu, tapi ia tetap di tempat. Sementara Keanu yang melihat itu menghembuskan nafas pelan, kesabarannya mulai menipis.

"Oke," ujar Keanu tiba-tiba.

Gadis itu langsung menatapnya, matanya sedikit berbinar.

"Silahkan duduk," nada Keanu terdengar santai, tidak setegas sebelumnya.

Gadis itu jelas tidak menyangka, ekspresinya langsung berubah senang. Tanpa pikir panjang, ia langsung menarik kursi itu, bersiap untuk duduk.

Namun, belum sempat ia benar-benar duduk, Keanu sudah lebih dulu berdiri. Tangannya meraih ponsel di atas meja. Tanpa melirik lagi ke gadis itu, Keanu langsung melangkah pergi begitu saja.

Gadis itu terpaku di tempatnya. Tatapannya mengikuti punggung Keanu yang berjalan menjauh. "Serius gue diginiin?" Gumamnya lirih pada dirinya sendiri.

Keanu sama sekali tidak menoleh ke belakang, ia benar-benar tidak peduli dengan gadis itu. Keanu melangkahkan kakinya menuju koridor toilet.

Sementara itu, beberapa meter dari sana, Anindia masih berdiri di tempat yang sama. Tatapannya mengikuti setiap langkah Keanu sejak tadi.

Dan yang lucunya, Keanu sama sekali tidak sadar bahwa sejak tadi sedang disaksikan langsung oleh orang yang paling ia maksud.

Anindia tersenyum kecil, tanpa terburu-buru ia mulai mengikuti Keanu. Jarak di antara mereka perlahan memendek, hingga akhirnya ia sudah cukup dekat di belakang pria itu.

Tanpa kata, Anindia mengangkat tangannya, menepuk pundak Keanu pelan dari belakang.

Refleks, Keanu langsung berhenti. Bahunya sedikit menegang. Tanpa menoleh, ia sudah lebih dulu bicara, nada suaranya terdengar kesal.

"Ngapain sih masih ngikutin gue?" Ujar Keanu. "Perlu gue jelasin lagi?"

Tidak ada jawaban, Anindia tetap diam. Tapi, sudut bibirnya tidak bisa bohong. Ia berusaha keras menahan tawa yang hampir lepas.

Keanu berdecak pelan, ia mengira orang yang sama masih mengganggunya. "Gue udah bilang-" ujarnya tegas, sembari membalikkan badan.

Kalimatnya langsung terhenti, begitu tubuhnya menghadap sepenuhnya. Keanu langsung terdiam, tatapannya bertemu dengan Anindia. Dan dalam sekejap, ekspresinya langsung berubah.

Anindia menatap Keanu dengan wajah polos, seolah tidak terjadi apa-apa. Kepalanya sedikit dimiringkan, alisnya terangkat samar.

"Kamu kenapa sih, Mas?" Tanya Anindia. "Kok ngomel sendiri?"

Anindia memberi jeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sama santainya. "Kesal sama siapa?"

Keanu masih menatap Anindia, seolah sedang memastikan, lalu menyadari situasi barusan. Ujung telinganya memerah, disusul pipinya yang mulai memanas sedikit demi sedikit.

Keanu langsung mengalihkan pandangannya, lalu berdehem pelan berusaha terlihat biasa saja. Tapi jelas terlambat, ia baru saja mengomel ke istrinya sendiri.

Anindia yang melihat itu semakin susah menahan diri. Bibirnya bergetar, menahan tawa yang hampir pecah.

Keanu mengusap tengkuknya sekilas, sedikit canggung. "Gue kira tadi..." Gumamnya pelan, kalimatnya menggantung seolah enggan melanjutkan.

Keanu kembali berdehem, lalu memperbaiki nada suaranya. "Maksud aku," lanjut Keanu cepat, membetulkan dirinya sendiri.

Keanu masih berdiri di depan Anindia, jelas belum sepenuhnya pulih dari rasa canggungnya. Beberapa saat berlalu dalam hening. Lalu, tanpa peringatan ia melangkah mendekat. Dan begitu saja menjatuhkan dagunya di pundak Anindia.

Anindia sedikit terkejut, tubuhnya refleks kaku sesaat. Tapi, belum sempat ia bereaksi lebih jauh, Keanu sudah lebih dulu bersuara.

"Aku barusan digodain," gumam Keanu pelan.

Nada suaranya langsung berubah, bukan lagi dingin, bukan juga tengil, melainkan manja. Benar-benar manja. Anindia berkedip beberapa kali, jelas tidak menyangka perubahan secepat itu.

Keanu justru semakin santai menyandarkan kepalanya, seolah itu tempat paling nyaman.

"Aku gak nyaman," lanjut Keanu pelan, sedikit menggeser posisinya agar lebih lebih pas di pundak Anindia. "Makanya aku tinggalin."

Anindia menatap lurus ke depan, mencoba memproses. Barusan galak, sekarang malah ngadu. Dan tanpa sadar, seutas senyum tipis terukir di wajahnya. Suaminya ini benar-benar membuat jantung Anindia berdegup dua kali lebih cepat dari sebelumnya.

Anindia langsung menutup wajahnya dengan satu tangan. Bukan hanya malu, tapi juga karena gemas. Senyumnya makin terukir jelas, sementara Keanu sama sekali tidak merasa aneh.

"Aku udah bilang baik-baik," lanjut Keanu lagi, masih dengan nada yang sama. "Tapi dia tetep maksa."

Anindia masih diam, tangannya belum juga turun dari wajahnya. Keanu sedikit menggeser kepalanya, kini menoleh sedikit ke arah wajah Anindia.

"Bahkan aku udah nunjukin cincin," tambah Keanu. "Tapi masih gak percaya."

Nada suara Keanu seperti benar-benar mengadu. Seolah, semua yang ia rasakan langsung keluar begitu saja, khusus untuk satu orang di depannya.

Dan, hal itu yang membuat Anindia tidak bisa berkata-kata. Karena jelas, di depan orang lain Keanu bisa sedingin itu. Tapi, ketika di depan dirinya, Keanu bahkan tidak bisa menyembunyikan apapun.

"Capek juga ya," gumam Keanu pelan, nyaris berbisik.

Anindia yang masih menutup wajahnya kini sedikit menurunkan tangannya, mengintip sekilas.

Keanu melanjutkan, nada suaranya sedikit berubah menjadi tengil. "Capek jadi cowok yang terlalu menarik begini," lanjut Keanu santai. "Ada aja yang nyamperin."

Anindia langsung menatapnya. Senyumnya masih ada, tapi kini bercampur dengan ekspresi tidak percaya.

"Tadi satu," tambah Keanu, seakan sedang menghitung. "Kemarin juga ada."

Anindia akhirnya menyerah, tawanya pecah begitu saja. Bahunya ikut bergetar, benar-benar terhibur dengan tingkah suaminya.

"Kamu tuh, ya," ujar Anindia masih tertawa kecil.

Keanu akhirnya mengangkat kepalanya perlahan. Tubuhnya kembali berdiri tegak, tapi tidak menjauh. Ia menatap Anindia lebih dalam dari sebelumnya. "Kan cuma ke kamu, aku gini."

Anindia masih terkekeh, lalu mencoba menenangkan diri. "Aku liat semuanya, Mas," ujarnya dengan sisa tawa. "Makasih ya, karena... Udah setia sejauh ini." Lanjutnya dengan senyum yang lebih hangat.

Keanu terdiam sesaat, tatapannya kembali melembut. Ia meraih tangan Anindia, menggenggamnya lembut.

"Aku pernah bilang, kan?" Ujar Keanu pelan. "Gak ada seorang pun yang bisa bikin hati aku luluh, selain kamu."

Anindia menatapnya, jantungnya kembali berdebar. Keanu mengangkat sedikit sudut bibirnya, kembali ke ekspresi tengil.

"Yang lain mah gak ada apa-apanya. Modal cantik doang," lanjut Keanu santai.

Anindia menghela nafas kecil, hampir saja memprotes. Namun, Keanu belum selesai. Ia melangkah mendekat, sengaja mempersempit jarak di antara mereka.

"Kalau istri aku cantiknya kebangetan," ujar Keanu menggoda. "Bukan cuma parasnya, tapi juga hatinya."

Anindia benar-benar kehabisan kata. Lalu, buru-buru mengalihkan pandangannya. Jika dilanjut, ia bisa semakin tidak karuan. Ia menghela nafas pelan, mencoba kembali ke mode normal.

Anindia akhirnya menoleh, lalu berdehem kecil. "Kita pulang yuk, Mas?"

Keanu mengangkat alis sedikit, tapi belum menjawab. Anindia cepat-cepat menambahkan, seolah butuh alasan yang kuat.

"Kasihan Shaka, dari pagi ditinggal," ujar Anindia. "Pasti lagi nyariin."

Keanu tersenyum tipis, "Iya, kita pulang." Tangannya yang masih menggenggam tangan Anindia sedikit mengerat. "Jemput jagoan kita."

Anindia mengangguk, tanpa kata lagi keduanya melangkah. Di antara banyak kemungkinan, Keanu sudah menetapkan satu hal sejak awal. Dan Anindia, adalah satu-satunya pilihan itu.

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!