Flora, putri sulung keluarga Amor, kehilangan ibunya saat usianya baru 17 tahun—sebuah luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Kepergiannya ke luar negeri untuk kuliah menjadi pelarian, hingga tanpa ia sadari, hidupnya berubah.
Di sana, ia bertemu seorang pria yang membuatnya bisa melupakan kesedihan nya.
Namun kedua nya hanyalah hubungan Tampa status.lebih tepat nya keduanya hanya teman tidur saja.mereka tidak tahu identitas masing masing.
hubungan mereka berakhir dengan damai.
Flora kembali ke tanah air, bersiap mengambil alih perusahaan peninggalan ibunya. Tapi hidup tak pernah sesederhana rencana. Ayahnya telah menikah lagi, dan dunia yang ia tinggalkan kini terasa asing.
Di sisi lain, pria yang pernah mengisi malam-malamnya—Evan—terpaksa menerima perjodohan demi kepentingan politik keluarga.
Keduanya melangkah ke masa depan masing-masing… tanpa tahu bahwa takdir belum selesai mempermainkan mereka.
Karena ketika rahasia mulai terungkap, dan masa lalu kembali .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran
Flora duduk diam di bangku taman, membiarkan angin malam menyapu rambutnya yang tergerai. Suasana sunyi itu perlahan pecah saat langkah kaki Evan mendekat. Tanpa banyak bicara, pria itu duduk di sampingnya.
“Aku minta maaf… sudah mengacaukan pesta pernikahanmu,” ucap Flora pelan, matanya tetap lurus menatap ke depan.
Evan malah tertawa ringan, seolah kata-kata itu terdengar lucu baginya.
“Kenapa? Kamu tidak ingin melihatku menikah dengannya… atau sebenarnya kamu yang ingin menikah denganku?”
Flora ikut tertawa, tapi tawanya terasa hambar.
“Aku bukan anak kecil lagi, Evan.”
Ia akhirnya menoleh, menatap pria itu dengan mata yang lebih dalam dari biasanya.
“Aku tahu Kamu tidak ingin menikahi ku"
Senyum di wajah Evan perlahan menghilang. Ekspresinya berubah.“Sebenarnya.....Aku."
"Sama seperti aku juga menganggap mu seperti itu.”Flora memotong nya.
Evan menarik napas dalam, rahangnya menegang. Ia ingin menjelaskan—bahwa sejak awal dia memang tidak pernah berniat menikahi Agnes. Bahkan tanpa kejadian malam ini pun, dia sudah menyiapkan cara untuk membatalkannya.
Namun sebelum satu kata pun keluar dari bibirnya flora melanjutkan.
“Sebenernya…” suara Flora lebih dulu terdengar, pelan tapi tegas, “aku mendekati kamu dari awal… untuk balas dendam.”Tubuh Evan langsung menegang.
Flora menatap lurus ke arahnya, tanpa ragu.
Seolah ada sesuatu yang menghantam dada Evan. Bukan keras, tapi cukup dalam untuk membuatnya sesak.Ia ingin marah.
Tapi anehnya… dia tidak bisa.
Karena di lubuk hatinya, dia tahu—mereka memang sama. Sama-sama saling memanfaatkan. Tidak ada yang lebih baik dari yang lain.
Namun tetap saja… ada yang terasa salah.
Tatapan Evan berubah, lebih gelap dari sebelumnya.
“Sejak kapan?”
Flora tidak menjawab.
Evan melangkah mendekat, suaranya menurun, tapi justru terdengar lebih menekan.
“Sejak awal?” jedanya singkat, matanya mengunci wajah Flora, “Sejak pertama kita ketemu di laut itu?”
Flora masih diam.
Rahang Evan mengeras.
“Jadi…” suaranya mulai serak, “kejadian kamu hampir mati di laut itu juga rencana kamu?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu di mata Evan—bukan marah, bukan kecewa sepenuhnya… tapi lebih ke arah terluka.
Seolah dia benar-benar ingin mendengar jawaban yang berbeda.
Seolah dia berharap… semuanya itu tidak pernah direncanakan.
Flora terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis—senyum yang tidak benar-benar sampai ke matanya.
“Memangnya itu penting?” ucapnya ringan, seolah pertanyaan Evan barusan tidak berarti apa-apa.
Kalimat itu… seperti pisau yang ditarik perlahan di dada Evan.
Wajah pria itu berubah. Bukan marah yang pertama muncul, tapi sesuatu yang lebih dalam—terluka.
Ia tidak pernah menyangka… Flora bisa sekejam ini.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Evan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebatang rokok. Tangannya sempat berhenti sebentar sebelum akhirnya ia menyalakannya. Api kecil itu menyala di tengah gelap, lalu perlahan padam saat ia mengisapnya dalam.
Asap putih keluar dari bibirnya, tapi tidak mampu menyembunyikan sorot matanya yang dingin.
“Flora…” suaranya rendah, serak, seolah menahan sesuatu yang hampir pecah,
“kamu sangat kejam.”
Flora tidak langsung membalas. Ia hanya menatap Evan beberapa detik, tatapannya sulit dibaca.
“Aku cuma melakukan apa yang perlu aku lakukan,” jawabnya akhirnya, datar.
Evan tertawa kecil—tawa tanpa rasa.
“Termasuk pura-pura hampir mati di depan aku?”
Tidak ada jawaban.
Dan diam itu… justru terasa lebih menyakitkan dari kata-kata apa pun.
“Ibuku… meninggal karena Nadira.”
Flora tidak melihat ke arahnya, pandangannya kosong ke depan.“Nadira itu mantan kekasih Papah.”
Angin malam berhembus, membawa suara Flora yang mulai bergetar—meski ia berusaha menahannya.“Wanita itu tahu Papah sudah punya istri… tapi Nadira tetap mendekatinya. Sengaja. Seolah-olah mereka masih punya hubungan.”
Evan perlahan menoleh.
“Dia membuat ibuku percaya… kalau suaminya selingkuh,” lanjut Flora, suaranya makin pelan, “ibuku depresi… sampai akhirnya…”Ia tidak melanjutkan, tapi semuanya sudah jelas.
Keheningan menyelimuti mereka.“Semua itu… karena mereka,” bisik Flora, kali ini penuh emosi yang akhirnya keluar, “Ibu dan anak itu… mereka hidup seolah tidak pernah melakukan apa-apa.”
Tangannya mengepal.“Aku cuma ingin mereka merasakan… apa yang ibuku rasakan.”
Evan menatap Flora, ekspresinya berubah—bukan lagi hanya terluka, tapi juga mulai memahami.
“Itulah kenapa…” Flora akhirnya menoleh, menatap Evan dengan mata yang dingin sekaligus rapuh,“aku mendekatimu.”
Tidak ada lagi senyum. Tidak ada lagi topeng.
Hanya seseorang… yang sudah terlalu lama hidup dengan luka.
Evan menyadari di balik semua kekejaman Flora… ada alasan yang bahkan lebih menyakitkan.
Evan membuang puntung rokoknya ke tanah, menginjaknya kasar.
Evan menatap Flora lekat, seolah mencoba mencari celah kecil—sedikit saja kejujuran yang bisa dia pegang.
“Jawab aku satu hal…” suaranya lebih pelan sekarang, tapi justru terasa lebih berat, “apa kamu pernah… mencintaiku?”
Flora tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pelan, lalu menggeleng.“Di antara kita… tidak mungkin ada cinta.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, dingin dan tegas.
Evan mengernyit, langkahnya maju satu langkah.
“Kenapa tidak mungkin.Flora Aku benar benar jatuh cinta padamu.bukan kah kamu ingin membalas dendam? Aku akan membantumu." Suara Evan melembut.
Angin malam terasa semakin dingin.
Namun ekspresi Flora tidak berubah. Tidak terkejut, tidak juga goyah.
“Aku tidak mencintaimu, Evan.”Jawabannya sederhana.
Evan terpaku untuk sesaat.
Flora melanjutkan, suaranya tetap datar, tanpa getaran,“Di hatiku… cuma ada kebencian.”
Seolah kata “cinta” tidak pernah punya tempat di sana.
Ada sesuatu di mata Evan yang runtuh saat itu juga.
Ia tertawa kecil, tapi suaranya kosong.
“Jadi selama ini…” ia menggeleng pelan, “Ternyata aku satu-satunya yang bodoh.”
Flora tidak menjawab.Dan sekali lagi—diamnya… lebih menyakitkan dari segalanya.
“Hebat,” lanjutnya pelan, “aku pikir… setidaknya ada satu hal di antara kita yang nyata.”
Ia menatap Flora lagi, kali ini lebih lama.
“Ternyata… semuanya cuma permainan buat kamu.”
Ada jeda panjang.
Untuk pertama kalinya, Evan terlihat benar-benar kehilangan kendali—bukan karena marah, tapi karena dia tidak tahu harus mempercayai apa lagi.
Flora menatap Evan tanpa ekspresi, lalu berkata ringan seolah semuanya hanyalah tawaran biasa.“Hei, Tuan Evan… aku tahu kamu sangat marah.”
Ia tersenyum tipis.“Bagaimana kalau begini? Kamu bisa menikahi ku… lalu mengurungku di sisimu selamanya.”
Kalimat itu terdengar seperti candaan—tapi nada suaranya tidak mengandung sedikit pun kehangatan.
Evan tidak langsung bereaksi. Ia hanya diam, mendengarkan sampai Flora selesai. Lalu perlahan, ia kembali mengisap rokok di tangannya, dalam dan lama, seolah mencoba menenangkan sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya.
Asap keluar perlahan dari bibirnya.Matanya menatap Flora… kosong, tapi penuh luka.
“Hatimu…” suaranya rendah, hampir seperti bisikan,“sangat dingin.”
Flora tidak bergerak.Dan di saat itulah—tanpa suara, tanpa peringatan—setetes air mata jatuh dari sudut mata Evan.Ia sendiri seperti tidak menyadarinya.
Pria itu mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras. Dengan gerakan pelan tapi tegas, ia menekan rokoknya ke asbak hingga bara merahnya padam.
Tidak ada kata perpisahan.Tidak ada tatapan terakhir.Evan berdiri… lalu berjalan pergi, meninggalkan Flora sendirian di taman.
Flora memalingkan wajahnya, menolak melihat punggung Evan yang semakin menjauh.
Ia tahu… jika ia melihat lebih lama, pertahanannya akan runtuh.Matanya mulai memanas. Air mata yang sejak tadi ia tahan hampir saja jatuh, tapi ia menegakkan kepalanya, memaksa dirinya tetap kuat.
Tidak.Dia tidak boleh lemah sekarang.
Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya.
Evan… tidak seharusnya terlibat.Semua ini adalah urusannya. Lukanya. Dendamnya.
Bukan milik Evan.
“Cukup sampai di sini…” bisiknya lirih, hampir tidak terdengar.Ia mengedip cepat, menahan air mata yang terus mendesak keluar.
Biarlah Evan membencinya.Biarlah pria itu menganggapnya kejam, dingin, bahkan tidak punya hati.Itu jauh lebih baik… daripada menyeret Evan masuk ke dalam kegelapan yang ia jalani.
Flora menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.“Sekarang… semuanya harus berjalan sesuai rencana.”
Suaranya kembali datar, seolah tidak terjadi apa-apa.