Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.
Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.
Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peti yang Tidak Tenggelam
Mereka meninggalkan Broken Reed Bend lebih cepat daripada saat datang.
Han Lu mendorong perahu keluar dari tepian lumpur dengan tenaga penuh, sementara Guo Fen menahan tombak kait mengarah ke bangkai kapal yang setengah ambruk. River Gnawer tua itu tidak langsung mengejar. Mungkin luka di bawah moncongnya cukup dalam. Mungkin ia lebih marah pada marker yang beresonansi daripada pada manusia yang baru saja menusuknya. Namun tetap saja, selama beberapa puluh napas pertama, tak seorang pun di perahu itu benar-benar bernapas lega.
Air hitam di sekitar tikungan sungai terus bergolak.
Sekali, sesosok bayangan panjang muncul di bawah permukaan, sejajar dengan perahu mereka, lalu menghilang lagi ke kedalaman lumpur. Guo Fen mengangkat tombaknya setinggi dada, keringat bercampur air rawa di rahangnya. Han Lu tak berhenti mendayung sampai cabang sungai menyempit dan buluh-buluh patah di belakang mereka hilang dari pandangan.
Baru setelah arus kembali lebih tenang, ia mengembuskan napas panjang.
“Sialan,” gumamnya. “Aku seharusnya tahu kapal itu tak akan membiarkan kami pulang hanya dengan peti.”
Guo Fen meludah ke sungai. “Kau bilang ini perjalanan pendek.”
“Aku tidak bohong. Aku cuma belum tahu kita akan disambut mulut bergigi.”
Shou Wei duduk di tengah perahu, tubuhnya masih tenang dari luar, tetapi di bawah lengan bajunya, jari-jarinya menekan serpihan kayu busuk yang menyamarkan marker kedua. Benda itu terasa dingin dan berat dengan cara yang aneh. Tidak berat secara fisik. Lebih seperti sesuatu di dalamnya masih menahan arah aliran yang belum sepenuhnya mati.
Ia belum menunjukkannya.
Belum juga berniat.
Bukan karena Han Lu pasti akan mengambilnya, meski itu mungkin. Bukan juga karena ia ingin menipu orang yang baru saja membawanya sampai ke Broken Reed Bend. Tapi karena ia sendiri belum tahu benda ini sebenarnya apa, dan di dunia seperti ini, orang yang belum mengerti nilai sesuatu lebih baik diam dulu daripada berbagi terlalu cepat.
Han Lu menoleh ke arah Shou Wei tanpa menghentikan dayungnya. “Kau baik-baik saja?”
“Ya.”
“Kau tadi menusuk beast itu cukup dalam.”
Shou Wei menatap air di tepi perahu. “Lukanya sudah terbuka.”
Itu tidak bohong.
Han Lu menyipitkan mata sedikit, seolah menimbang apakah jawaban itu cukup. Lalu ia memilih tidak mendorong lebih jauh.
Bagus, pikir Shou Wei. Orang seperti ini lebih berguna daripada orang yang harus selalu menangkap semua rahasia.
Perahu mereka tiba kembali di tepian Stone Reed Town saat langit mulai condong ke sore. Mereka tidak merapat di dermaga utama. Han Lu justru membawa perahu ke sisi timur kota, ke tepian sepi di belakang tumpukan gudang tua dan jaring bekas. Tempat itu tidak resmi, tapi cukup aman untuk memindahkan barang tanpa terlalu banyak mata.
“Turunkan petinya dulu,” kata Han Lu.
Guo Fen menggerutu, tapi bahunya sudah siap mengangkat. Mereka bertiga memindahkan peti dari dasar perahu ke tanah yang lebih kering, lalu membawanya masuk ke gudang kosong kecil yang rupanya memang dipakai Han Lu sebagai tempat singgah barang “yang tak perlu langsung dilihat orang”.
Gudang itu sempit, dindingnya bambu tua yang diperkuat papan, atapnya rendah, dan lantainya campuran kayu serta tanah padat. Bau ikan tidak ada. Yang ada hanya bau tali basah, kulit beast kering, dan sedikit minyak.
Setelah peti diletakkan di tengah ruangan, Han Lu menutup pintu dari dalam.
Guo Fen menatap penutup peti dengan wajah tidak suka. “Kalau di dalamnya cuma batu lumpur, aku akan marah selama seminggu.”
Han Lu menyeringai miring. “Kalau cuma batu lumpur, kubiarkan kau yang menjualnya di pasar.”
Lalu ia menoleh pada Shou Wei. “Kau bilang kalau dipaksa di sana, isinya bisa rusak. Bagaimana sekarang?”
Shou Wei berjongkok di dekat peti.
Segel tuanya kini terlihat lebih jelas setelah lumpur mengering sebagian. Pola setengah lingkar dan node dalam itu memang lemah, tapi masih punya satu fungsi utama: menjaga isi tetap dalam “keseimbangan” selama peti tertutup. Setelah diangkat dari arus dan lumpur, tekanannya sudah jauh berkurang.
“Bisa dibuka,” katanya pelan. “Tapi jangan congkel kasar. Simpul kanan harus diputus lebih dulu.”
Guo Fen mengangkat tombak kaitnya. “Dengan ini?”
“Kalau kau ingin isi di dalam pecah, ya.”
Han Lu mendecak pendek. “Kalau begitu pakai cara bocah.”
Shou Wei meminta pisau kecil, lalu dengan ujungnya ia membersihkan sisa kotoran di sisi kanan penutup sampai simpul pengunci tampak utuh. Bukan utuh sempurna, tapi cukup untuk dibaca. Setelah itu ia menjalankan Mistwater Breathing Method perlahan, menarik sedikit qi ke ujung jari. Tidak banyak—hanya cukup untuk menyentuh jalur luar dan memutarnya ke arah yang seharusnya.
Ia tidak “membuka” segel.
Ia justru membuatnya menyadari bahwa aliran telah selesai.
Simpul kanan meredup.
Lalu node dalam padam.
Terdengar bunyi kecil dari dalam peti. Klik.
“Sekarang,” kata Shou Wei.
Han Lu menarik penutupnya pelan.
Ketiganya langsung menunduk melihat ke dalam.
Untuk beberapa detik, tak ada yang bicara.
Isi peti itu tidak banyak.
Di dalamnya ada lapisan kain minyak tua yang masih cukup utuh karena segel tadi, dan di atas kain itu tersimpan:
satu gulungan kulit peta yang diikat tali biru kehitaman,tiga pelat tipis logam hitam, seukuran dua jari, dengan ujung berlubang seperti pernah dipasang pada sesuatu,satu botol batu kecil tertutup lilin tua,dan sebuah benda bundar seukuran telur merpati, berwarna abu-biru, permukaannya berdenyut sangat lemah seperti batu yang masih mengingat airGuo Fen berkedip sekali, lalu dua kali. “Bukan batu lumpur.”
Han Lu mendekat lebih jauh, matanya menyapu satu per satu. “Dan juga bukan emas.”
Tapi Shou Wei justru berhenti pada tiga pelat logam hitam.
Bentuk lubang di ujungnya.
Ukiran lingkar samar di permukaannya.
Mereka bukan sama persis dengan marker kayu yang ia sembunyikan.
Tapi masih satu keluarga.
Potongan jalur yang lebih kecil. Penahan? Penjepit? Atau titik penghubung.
Darah naganya bergerak tipis lagi.
Han Lu mengambil gulungan kulit peta lebih dulu. Saat ikatannya dibuka, bau air tua dan jamur tipis keluar, tapi kulitnya sendiri masih cukup terjaga. Ia membentangkannya di atas peti.
Semua orang langsung mencondongkan tubuh.
Itu memang peta sungai.
Tapi bukan peta pedagang biasa.
Garis-garis alirannya lebih rumit, penuh lingkar kecil, simbol, dan tanda-tanda yang jelas bukan untuk menunjukkan desa atau dermaga umum. Beberapa bagian hilang dimakan waktu. Namun satu wilayah masih bisa dibaca cukup jelas: cabang utara, tikungan buluh patah, lambang kapal, dan tiga lingkar kecil yang membentuk setengah busur di sekitar satu titik yang ditandai seperti pusaran.
Broken Reed Bend.
Jantung Shou Wei berdegup lebih keras.
Satu lingkar di peta bagian itu sudah dicoret tinta hitam tua. Satu lagi dilingkari setengah. Dan yang ketiga—yang paling dekat ke simbol pusaran—masih utuh.
Han Lu memandang peta itu lama, lalu bersiul pelan.
Guo Fen memiringkan kepala. “Aku tak paham tulisan macam ini.”
“Itu karena kau lahir untuk memukul, bukan membaca,” kata Han Lu.
Lalu pria itu menoleh pada Shou Wei. “Kau?”
Shou Wei tidak berani mengaku terlalu banyak. “Sebagian.”
“Sebagian yang berguna?”
“Cukup untuk tahu peta ini tidak dibuat untuk pedagang biasa.”
Han Lu mengangguk pelan.
Ia tidak bodoh. Ia pasti sudah menangkap bahwa kapal karam itu berkaitan dengan sesuatu yang lebih tua dari sekadar muatan sungai.
Guo Fen mengangkat botol batu kecil dan mengguncangnya. Di dalamnya terdengar cairan kental. “Ini apa?”
Han Lu mengambilnya cepat. “Jangan guncang barang yang disegel orang mati.”
Guo Fen mendengus. “Kalau meledak, setidaknya kita tahu nilainya.”
Han Lu mengabaikannya dan memeriksa benda bundar abu-biru terakhir. Begitu menyentuhnya, wajahnya sedikit berubah. “Qi air.”
Bukan sangat kuat. Tapi nyata.
“Spirit stone?” tanya Guo Fen.
“Tidak murni.” Han Lu memutar benda itu. “Lebih seperti... river pulse bead.”
Shou Wei menoleh cepat.
Nama itu tidak pernah ia dengar, tapi dari cara Han Lu mengatakannya, jelas itu bukan barang biasa.
“Untuk apa?” tanyanya.
Han Lu menatap benda itu lagi sebelum menjawab. “Kadang terbentuk di tempat aliran air tua bertemu qi alam dalam waktu lama. Bisa dipakai menenangkan arus kecil, menjaga wadah air spiritual, atau... membuka sesuatu yang selaras dengan qi sungai.”
Kalimat terakhir itu menggantung cukup lama di udara.
Mereka semua memandang peta sekali lagi.
Tiga lingkar marker.
Simbol kapal.
Pusaran.
River pulse bead.
Guo Fen akhirnya berkata pelan, “Jadi ini bukan sekadar kapal karam.”
“Tidak,” jawab Han Lu. “Dan itu artinya orang yang datang sebelum kita juga bukan sekadar pemburu bangkai.”
Ia jelas memikirkan hal yang sama dengan Shou Wei, meski tak menyebut nama:
Wei Kuan.
Han Lu melipat peta itu perlahan, jauh lebih hati-hati daripada saat membukanya. Lalu ia memandang Shou Wei lama sekali.
“Kau melihat segel peti. Kau membantu membuka. Dan kalau bukan karena kau, kita mungkin meninggalkan ini di lumpur.” Ia mengeluarkan dua koin perak lagi dan meletakkannya di atas peti. “Ini bagianmu untuk hari ini.”
Itu lebih banyak dari yang awalnya dijanjikan.
Shou Wei tidak langsung mengambilnya. “Dan sisanya?”
Han Lu terkekeh pendek. “Bocah, kau mulai cepat belajar.”
Ia menepuk peta yang sudah tergulung. “Sisanya adalah soal masa depan. Barang-barang ini belum dijual. Belum dipakai. Belum jelas juga apakah mereka akan membawa untung atau kubur. Jadi belum ada ‘sisa’ untuk dibagi.”
Jawaban yang adil.
Dan sekaligus peringatan.
Guo Fen duduk di peti kosong sebelah dan menggosok dagunya. “Jadi kita bagaimana? Jual? Pakai? Kubur lagi?”
Han Lu tidak menjawab cepat. Ia menatap tiga pelat hitam tipis, lalu peta, lalu river pulse bead.
“Kita diam dulu,” katanya akhirnya. “Tidak ada yang keluar dari mulut gudang ini malam ini. Besok juga belum tentu. Kalau barang ini memang terhubung dengan jalur tua di Broken Reed Bend, maka menawar orang pertama yang muncul justru sama dengan memberi tahu bahwa kita menemukan sesuatu.”
Guo Fen mengangguk, walau tampak setengah tidak sabar.
Han Lu lalu menoleh pada Shou Wei. “Kau ikut sampai sini. Kalau aku lanjut ke langkah berikutnya, mungkin aku akan butuh matamu lagi.”
“Mungkin?”
“Aku tidak memberi janji cepat pada sungai,” balas Han Lu. “Ia suka memakan orang yang terlalu pasti.”
Shou Wei akhirnya mengambil dua koin perak itu dan menyimpannya. “Aku mengerti.”
Percakapan berhenti di sana.
Tapi sebelum mereka menutup peti lagi, Shou Wei memperhatikan satu detail kecil di peta yang tadi belum sempat ia lihat jelas. Di sisi simbol pusaran, ada satu tanda seperti setengah cincin dengan garis mengarah ke bawah.
Sama seperti potongan aliran pada marker kayu yang ia sembunyikan.
Jadi memang terhubung.
Bukan kebetulan.
Ia menurunkan pandangan cepat sebelum terlalu lama menatap.
Saat keluar dari gudang, malam sudah turun sepenuhnya.
Stone Reed Town tampak seperti biasa dari luar—lampu minyak, teriakan kedai, riuh langkah orang, bau ikan, lumpur, dan obat kering. Tapi bagi Shou Wei, kota kecil itu kini terasa seperti simpul kecil di atas jaringan yang jauh lebih besar.
Ia berjalan kembali ke penginapan lewat jalur memutar, seperti biasa.
Di bawah baju dalamnya, marker kayu kedua terasa dingin di kulit.
Di kepalanya, peta sungai utara terus terbuka kembali:
Broken Reed Bend,
tiga lingkar,
kapal karam,
simbol pusaran.
Satu marker di tangan Wei Kuan.
Satu marker di tangannya.
Dan mungkin satu titik lain masih tertinggal di suatu tempat.
Begitu ia hampir sampai ke jalan belakang Mud Heron Inn, langkahnya melambat.
Seseorang berdiri di bayangan tiang hujan dekat gang sempit.
Tinggi.
Kurus.
Jubah gelap.
Shou Wei tidak langsung bergerak ke pisau.
Sosok itu melangkah sedikit ke bawah lampu.
Wei Kuan.
Ekspresinya tenang seperti biasa. Bahkan hampir sopan. Tapi ada sesuatu yang berbeda malam ini—matanya lebih tajam, lebih hidup, seolah seseorang baru saja membisikkan rahasia di telinganya.
“Kau pulang larut,” katanya ringan.
Shou Wei menatap balik. “Begitu juga.”
Wei Kuan tersenyum tipis. “Stone Reed Town kecil. Orang yang keluar sebelum fajar dan pulang setelah gelap jarang tak membawa cerita.”
“Aku kerja.”
“Ya.” Wei Kuan mengangguk pelan. “Aku juga.”
Keheningan tipis turun di antara mereka.
Lalu pria itu melangkah mendekat setengah bayang. “Aku dengar ada orang sungai pergi ke Broken Reed Bend pagi ini.”
Shou Wei tidak berkedip.
“Aku juga dengar,” jawabnya.
Senyum Wei Kuan tidak berubah, tapi rahangnya mengeras sangat tipis. “Kalau suatu hari nanti kau mendengar sesuatu yang terdengar seperti jalur tua, kapal karam, atau marker sungai... datang padaku dulu. Aku membayar lebih baik daripada kebanyakan orang rawa.”
Shou Wei menjawab tenang, “Kalau suatu hari nanti aku mendengar sesuatu yang terdengar seperti orang terlalu ingin tahu, aku akan jalan lewat gang lain.”
Wei Kuan terkekeh pelan.
“Bagus,” katanya. “Aku mulai mengerti kenapa Gao Sen suka melihatmu.” Ia mundur satu langkah. “Hati-hati, Wei Shou. Tempat seperti Broken Reed Bend tidak hanya membangunkan beast sungai. Kadang ia juga membangunkan keserakahan orang.”
Setelah itu ia berbalik dan pergi ke arah jalan utama, langkahnya ringan dan nyaris tanpa bunyi.
Shou Wei tetap diam sampai sosok itu benar-benar hilang.
Barulah ia masuk ke gudang belakang penginapan dan menutup pintu rapat.
Malam itu ia tidak langsung menyalakan lampu.
Ia berdiri dalam gelap sambil mendengarkan detak darahnya sendiri.
Wei Kuan belum tahu apa yang didapatnya.
Tapi pria itu sudah mencium adanya gerakan.
Itu berarti waktu tenang tak akan lama lagi.
Akhirnya Shou Wei menyalakan lampu kecil, mengeluarkan marker kayu dari balik bajunya, dan meletakkannya di atas peti.