NovelToon NovelToon
Chef And The Doctor

Chef And The Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Komedi / Enemy to Lovers
Popularitas:67k
Nilai: 5
Nama Author: Hana Reeves

Cerita Chef yang ogah nikah dan Dokter yang juga ogah menikah.

Arletta Peterson, cucu-cicit-buyut chef terkenal dari keluarga Reeves McCloud itu belum kepikiran menikah di usianya yang menginjak 26 tahun. Chef cantik itu sangat menikmati hidup lajangnya. Hingga di bulan Desember, dia melayani pesta natal di sebuah rumah sakit di London Inggris . Disana Arletta bertemu dengan Dokter Jeff Clarke yang 12 tahun lebih tua darinya. Gara-gara sebuah mistletoe dan kecerobohan Arletta, dokter Jeff mencuri dua kali ciuman dari chef cantik itu. Pertemuan kacau mereka, membuat dokter tampan itu jatuh cinta pada Arletta. Bagaimana cara Dokter Jeff bisa meyakinkan chef cantik itu kalau mereka memang berjodoh?

Generasi ke delapan klan Pratomo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan Jeff

Keesokan Paginya

Arletta sudah siap dengan jaket, topi rajut, sepatu UGG dan celana jeans hitam. Gadis itu secara reflek menyiapkan camilan berupa sandwich salmon dan dua botol jus buah naga. Tidak lupa empat botol air putih karena ini penting buat ginjal. Arletta menyiapkan semua ini karena pesan di ponselnya dari Jeff. Arletta juga membuatkan camilan untuk Kenzie dan kedua orangtuanya.

📩 Dokter Clarke Meshum : besok kita piknik, Arletta.

Otomatis, Arletta menyiapkan semua makanan untuk piknik. Gadis itu tampak puas saat semua sudah siap. Hari ini Dokter Lucky dan Daisy, diundang Brayden dan Richard ke Kensington sekalian jalan-jalan ke Buckingham Palace.

Memang enak kalau punya orang yang sangat dalam sekali.

Suara bel di intercomnya terdengar dan Arletta tahu kalau itu pasti Howard yang menghubungi dirinya.

"Yes?" tanya Arletta sambil memencet tombol bicara.

"Lady Peterson, ada Dokter Jeff Clarke hendak menjemput anda," jawab Howard sopan.

"Baik. Aku akan segera turun." Arletta membawa tas piknik dan tas bindle dari brand Morr. Dia pun keluar dari apartemennya setelah menutup pintu yang automatis mengunci sendiri. Arletta masuk ke dalam lift dan memencet tombol turun.

Jeff tersenyum manis saat melihat Arletta keluar dari lift. "Selamat pagi," sapanya.

"Pagi Jeff." Arletta menoleh ke Howard. "Titip buat Dokter Buwono dan Dokter Mancini."

Howard menerima paper bag berisikan kotak makanan yang disiapkan Arletta untuk keluarga Buwono.

"Baik. Nanti saya berikan pada Dokter Buwono," ucap Howard.

"Terima kasih." Arletta menoleh ke Jeff. "Shall we?"

"Ayo." Jeff mengulurkan tangannya. "Tas pikniknya biar aku bawakan."

Arletta menyerahkan tas itu dan Jeff membawanya dengan tangan kanannya. Tiba-tiba tangan kiri Jeff langsung menggandeng tangan Arletta.

"Eh? Eh?" protes Arletta

"Daripada kamu hilang," jawab Jeff cuek.

Mereka pun masuk ke dalam mobil Porsche milik Jeff dan pria itu meletakkan tas piknik di jok belakang.

"Kita mau kemana?" tanya Arletta sambil memasang sabuk pengamannya.

"Kalau aku bilang, nggak seru kan?" senyum Jeff sembari memakai kacamata hitamnya.

"Jangan aneh-aneh, Jeff!" ancam Arletta.

"Nggak aneh. Kamu pasti suka." Jeff melajukan mobil Porsche nya ke jalan raya sementara Arletta penasaran dengan kemana mereka akan pergi.

Mata hazel Arletta makin terbelalak saat mereka masuk ke sebuah bandara kecil yang hanya ada pesawat kecil dan helikopter. Bandara itu hanya dipakai untuk latihan buat terbang dan hangar penyimpan pesawat.

"Kita ... mau ... Terbang?" tanya Arletta bingung saat Jeff memarkirkan mobilnya di sebuah hangar yang ada disana.

"Yuk turun!" ajak Jeff sambil membuka pintu dan mengambil tas piknik mereka.

Arletta Peterson

Arletta pun turun dari mobil dan dia menatap tidak percaya ada pesawat kecil disana.

Pesawat Cessna

"Itu ... Cessna kan?" tanya Arletta yang masih terbengong-bengong.

"Iya." Jeff menggandeng tangan Arletta. "Ayo kita masuk."

Arletta menahan dirinya. "Siapa yang mau menerbangkannya?"

Jeff menatap wajah serius Arletta. "Aku."

Arletta melongo. "Kamu?"

Jeff mengangguk. "Aku punya lisensi pilot, Letta. Jadi kamu tidak usah khawatir."

"Berapa jam penerbangan?" tanya Arletta dengan wajah skeptis.

"Sudah tujuh ribu lima ratus jam penerbangan. Aku juga bisa menerbangkan helikopter. Jadi, kamu tenang saja," senyum Jeff sambil menarik pelan tangan Arletta.

"You're kidding ( kamu bercanda kan )?" ucap Arletta masih tidak percaya.

"Serius. Aku sudah belajar menerbangkan pesawat sejak usia lima belas tahun. Bisa dibilang, aku sudah dua puluh tahun bisa menerbangkan pesawat," jawab Jeff.

Arletta masih tidak percaya pria yang menggandengnya ini bisa menerbangkan pesawat. Dia hanya bisa berharap tidak terjadi apa-apa. Arletta pun masuk dan duduk di sebelah Jeff yang sudah masuk terlebih dahulu. Pria itu lalu memakai headphone dan meminta Arletta memakainya juga agar bisa berkomunikasi.

"Ini gila!" gerutu Arletta.

"Kamu tipe yang tidak suka sesuatu yang biasa dan sederhana bukan? Jadi aku mengajak kamu piknik sambil kencan dengan begini," senyum Jeff sambil menoleh ke arah Arletta.

Dokter Jeff Clarke

Arletta hanya cemberut. "Memang kamu itu ...."

"Romantis?" cengirnya.

"Sinting!" balas Arletta. "Ini kita mau kemana?"

"Loch Lomond & The Trossachs National Park," jawab Jeff kalem sambil menyalakan semua tombol di dalam pesawat.

Arletta mendelik. "Skotlandia?"

Jeff tersenyum sambil memakai kacamata hitamnya. "Yes, Skotlandia."

Arletta hanya melongo sementara Jeff menerbangkan pesawatnya menuju Glasgow Skotlandia.

***

Mesin pesawat Cessna berdengung stabil, memotong langit biru yang cerah. Cahaya lembut matahari pagi hangat menyelinap lewat jendela kecil, menyinari wajah Arletta yang duduk di kursi copilot dengan sabuk pengaman terpasang erat.

Jeff, di kursi pilot, terlihat fokus, tangan kokohnya memegang kendali, mata tajamnya sesekali melirik panel instrumen.

“Jadi …” Arletta memecah keheningan, suaranya sedikit tertelan suara mesin. “Kamu serius bawa aku ke Skotlandia tanpa kasih tahu dulu?”

Jeff tidak langsung menjawab. Ia menyesuaikan throttle, lalu baru melirik sekilas.

“Aku sudah bilang, kita piknik.”

Arletta mengerucutkan bibir. “Itu bukan penjelasan. Itu penghindaran.”

Hening sejenak. Hanya suara mesin dan angin yang mengisi ruang sempit itu.

“Kamu percaya aku, kan?” tanya Jeff akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya.

Arletta menoleh, menatap profil wajah pria itu. Rahangnya tegang, tapi ada sesuatu di sikapnya, sesuatu yang tidak biasa. Bukan dingin seperti biasanya.

“Aku…” Arletta menarik napas pelan. “Aku percaya. Tapi itu tidak berarti aku tidak boleh kesal.”

Jeff tersenyum tipis. Hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat Arletta terdiam.

“Kesal cocok buat kamu,” gumamnya.

“Dan kamu cocok jadi orang paling menyebalkan di udara saat ini,” balas Arletta cepat.

Jeff terkekeh pelan, suara yang jarang keluar darinya.

Pesawat sedikit berguncang karena turbulensi ringan. Arletta refleks menggenggam sisi kursinya.

“Hei, santai,” kata Jeff, kali ini benar-benar menoleh padanya. “Aku nggak akan biarin kamu jatuh.”

Arletta menatapnya lama. Ada kehangatan aneh dalam kalimat itu, lebih dari sekadar soal pesawat.

“Kamu ngomongin penerbangan … atau yang lain?” tanyanya hati-hati.

Jeff tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap ke depan, tapi suaranya terdengar lebih dalam.

“Keduanya.”

Jantung Arletta berdegup sedikit lebih cepat. Ia menoleh ke jendela, melihat awan yang warnanya sebiru mata Jeff.

“Kamu ini … selalu bikin semuanya rumit,” bisiknya.

“Karena kamu selalu terlalu banyak mikir,” balas Jeff.

Arletta mendengus pelan. “Ya jelas. Aku diculik naik pesawat pribadi oleh dokter yang ....”

"Yang kamu kenal,” potong Jeff cepat.

“ ... yang kadang bertingkah seperti orang gila,” lanjut Arletta tanpa peduli.

Jeff tersenyum lagi, kali ini lebih jelas.

“Kalau aku nggak ‘gila’, kamu nggak akan ada di sini.”

Arletta terdiam. Ada benarnya sih!

Pesawat terus melaju, menembus langit biru cerah seolah memberikan jalan acara mereka berdua.

“Jeff…” Arletta memanggil pelan.

“Hmm?”

“Kalau ini tentang sesuatu yang berbahaya … kamu harus jujur.”

Jeff menarik napas dalam. Tangannya tetap stabil di kemudi.

“Bukan berbahaya,” katanya akhirnya. “Cuma … aku hanya ingin menebus kesalahan.”

Arletta menatapnya, kali ini tanpa candaan.

“Dan kamu pilih kita piknik ke Skotlandia?”

Jeff menoleh. Mata mereka bertemu, hanya beberapa detik, tapi terasa lama.

“Karena kamu spesial, Arletta.”

Keheningan kembali hadir. Tapi kali ini berbeda.

Lebih hangat. Lebih berat.

Arletta menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri.

“Kalau gitu …” katanya pelan, menatap ke depan. “Pastikan kita mendarat dengan selamat dulu, Dokter.”

Jeff tersenyum tipis lagi, lalu kembali fokus ke langit pagi yang cerah.

“Tenang saja,” ucapnya. “Aku pilot yang lebih baik daripada yang kamu kira.”

Dan di antara suara mesin dan langit luas di atas mereka, sesuatu di antara keduanya berubah pelan, tapi pasti.

***

Yuhuuu up Siang yaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu

1
shinta
memang keputusan yang sangat berat, dengan profesimu apa yang diinginkan Arletta seperti egois, tapi kamu memang tidak harus jadi dokter yang sempurna, karena kami juga butuh pegangan, butuh cinta dan dicintai. Ayok Jeff berjuanglah untuk Arletta 😍😍
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Aku itu macam Letta, egois.. Karena dari usia 2 tahun, aku sudah di pesantren sampai masuk SD. Jadi sekarang setelah menikah aku gak mau jauh² dari suami, karena sudah sering merasa kesepian dari kecil🤧
Septi Lahat
nah jeff tinggal dirimu yg berpikir n mengambil keputusan yg sesuai dg pemikiran mu,, Letta egois krn ada sebabnya,, mnurut aq ya wajar Letta minta dinomor satukan,, semua wanita juga demikian kan😁😁😁
shinta
aku paham dengan perasaan mereka...
awesome moment
jeff mungkin akan menjauh dr letta. umroh. menenangkan hati. menyerahkan keputusan kepada pemilih hidup. jg utk menguji hatinya dalam memilih, memantabkan hati, menyiapkan hati utk keputusan terburuk dan memberi ruang utk letta memutuskan.
awesome moment
nha kn...bnr. letta memilih tdk married krm dia liat mamanya. sepanjang p pun jeff ngomong, g mempan. cm elfesya ato daisy yg bisa. letta lupa bhw jeff bisa tersiksa klo spt tu. egois boleh. btooll malah. tp...jk passionnya adalah negara ato masy...mjd yg kedua adalah kebijakan yg tulus. letta punya contoh yg buanyak. elfesya jg sdh beri clue. nilai dan tgg jwb yg akhirnya utk kelg jg. smg letta ingat bgmn dok luck meninggalkan ken dan dash utk tandem dgn jeff menyelamatkan ibu dan anak. smg pengertian sgra menyusup ke hati letta. krn cinta bukan menyakiti, mengekang, tp memahami. kt...org pintar lho😄😄😄
Meeta Baggio
Mungkin apa yg Letta utarakan tentang keluarga adalah Egois,tp apa yg Letta katakan aq sangT setujuu, keluarga yg paling urama, Letta ga mau klo apa yv d alami orang tua nya terulang di kembali di kehudupan nya, mungkin ini semacam trauma buat Letta
Sayem Sayem
yupiii setuju sama letta KLO udh nikah prioritas utama adalah keluarga g peduli serempong apa seribet apa keluarga - istri itu no 1..tp jarang ada org yg bisa melakukan itu ..
~AruN~
ternyata ada semacam..entah trauma ato apalah namanya yaa 🤔 jd ada ketakutan tersendiri yg melatarbelakangi alasan g pengen punya pasangan apalg nikah
Sayem Sayem
yakin lh klo udh jodoh pasti akan bersama & cinta akan pulang kerumahnya 🖤🖤
awesome moment
letta mmg butuh memantapkan hati utk menerima jeff. mungkin salah 1 penyebab letta milih tdk menikah dlu krn liat org2 terdekatnya LDM. restu ibu mmg tiada 2nya. tpt slese bicara, jeff dtf👍😄👍
shinta
bakal dipeluk apa dicemberutin tuh jefnya 🤭🤭🤭
amilia amel
semoga Letta bisa memahami profesi Jeff yang memang mengutamakan kemanusiaan
Meeta Baggio
Semoga Letta mau mengerti dan menerima Jeff dengan segala resiko nyaa, meski pun rasa tertarik ke Jeff masih sedikit lahh
Elsa Fanie
wah arletta benar an udah tertarik m Jeff ini,dan benar kata mommy mu letta 🤗,,
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Setidaknya, momen bersejarah itu kelak akan menjadi cerita yg seru untuk anak cucu kalian, nantinya😉
awesome moment
jgn smp luka jeff membuat dia hrs 'libur' dlu jd dokter. q wor2 n..tp...alhmdulillah. letta mulai goyah. bnr2 ditelateni. modelan steven dlu sm shea. telaten. sabar. jd jodoh bnr.an. mmg tdk d yg mengalahkan do'a ibu, letta. restu ibi manjur utk smuanya. terutama...melembutkan hati. dan...jeff. sdh mengantongi tu.
Lusy Aristiani
Mulai goyah kaaaannn 🤭🤭🤭🤭🤭❤️❤️❤️❤️❤️
Septi Lahat
kayaknya nggk ada tempat yg beneran aman buat kencan selama insting jeff sbgai dokter tetap berjalan😅😅😅
shinta
sederhana banget romantisnya mereka, aku suka... aku suka ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!