NovelToon NovelToon
Tergoda Janda Kembang

Tergoda Janda Kembang

Status: tamat
Genre:Janda / Romansa pedesaan / CEO / Tamat
Popularitas:720.9k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.

Tapi, nasib justru mempermainkannya. Malam itu, Rayyan menyelamatkan Lilis yang hendak di lecehkan seseorang, tapi Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang membuat warga desa salah paham, hingga mengharuskannya menikahi Lilis, seorang janda kembang.

Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?

Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makin Deg-degan

#17

“Kenapa wajahmu gelisah?” 

Panggilan Rayyan baru saja berakhir, dan Agung yang baru kembali dari balkon kamar mereka, wajahnya shock terlihat seperti baru saja kehilangan sesuatu yang berharga. Padahal baru saja mendengar berita yang seharusnya menjadi kabar bahagia. 

“Mustahil Rayyan membuat masalah.” 

“Dia memang tak membuat masalah, dia hanya menikah.” 

“What!” jerit Rosa, suaranya melengking keras, bahkan jauh lebih keras dari suara suaminya. 

“Ya, begitulah. Dia menikahi seorang janda di desa Nanang, hanya karena warga salah paham karena melihat mereka berduaan di malam hari.” 

“T-tapi Rayyan bukan pria semacam itu, mana mungkin ia mau berduaan malam-malam dengan orang yang baru ia jumpai di desa itu,” sergah Rosa, suaranya penuh kemarahan yang tertuju pada para warga yang sudah berani menuduh Rayyan dengan tudingan keji dan menggelikan. 

Rosa berkacak pinggang. “Antar aku ke desanya Nanang, biar ku bantai para warga disana sekalian kepala desanya!” 

“Ah, tidak, besok pagi saja aku akan mengemudi sendiri kesana.” 

Agung terdiam sejenak, sesaat kemudian ia tersenyum menyetujui ucapan istrinya. “Pergilah, sekalian kamu lihat bagaimana wanita yang dinikahi Rayyan. Apakah layak melahirkan beberapa calon penerus Senopati Group.” 

•••

Wajah-wajah bahagia itu keluar dari pagar peternakan, penyebabnya adalah mereka baru saja menerima gaji serta sedikit bonus dari Rayyan yang mereka tahu seorang mandor. 

Pak Mandor pun menatap kepergian mereka dengan senyum bahagia pula, karena sudah memberikan apa yang menjadi hak para pekerja. 

Senja telah datang, warung Lilis pun sepi pelanggan, karena para petani serta buruh tani sudah kembali ke rumah masing-masing. “Ray, aku pulang juga, ya? Takut Emak nyariin.” 

“Lha, terus aku pulang sama siapa?” 

“Ck, pura-pura? Atau sungguh-sungguh lupa? Tuh ajak istrimu pulang sama-sama.” 

Rayyan menyeringai dengan senyuman aneh, benar juga perkataan Nanang, sesaat ia lupa jika kini sudah menjadi pria beristri. 

Setelah kepergian Nanang, mau tak mau, Rayyan pun menghampiri warung kecil milik istrinya. Wajah Lilis terlihat lelah, setelah seharian melayani para pembeli yang terus berdatangan. 

“Assalamualaikum,” ucap Rayyan kala melangkah masuk ke dalam warung. Ada seorang pembeli yang masih rewel, katanya, sih, karena kopinya terlalu hambar. 

“Waalaikumsalam,” jawab Lilis, senyumnya mengembang, walau wajahnya kelelahan, karena yang ia sambut adalah pria yang kini berstatus sebagai suaminya. “Sudah selesai urusannya, Mas?” 

“Hmmm,” jawab Rayyan, matanya menatap pria yang rewel yang sangat merepotkan itu. 

“Lis, mana kopinya?! Lama sekali!” serunya. 

Lilis terpaksa membuat kopi baru sesuai selera pria itu. Kopi hitam otentik, yang dibuat dengan air panas yang sudah mendidih beberapa selama beberapa saat. 

“Iya, ini sedang diaduk,” jawab Lilis berusaha sabar, meski rasa lelah kian menjalar.

Lilis pun menyuguhkan kopi pesanan pria itu, tapi Rayyan yang tak suka melihat ekspresi wajah pria yang tak henti mengamati semua gerak-gerik Lilis. Rayyan pun mendekati pria itu, “Enak kopinya?” 

“Tentu saja, seduhan kopinya Lilis tetap yang terbaik,” puji pria itu. 

“Begitu, ya?” gumam Rayyan, mendadak perasaannya tak nyaman, tapi mau protes juga gimana. Belum genap 24 jam menikah, masa sudah cek-cok? 

Nanti sajalah dibicarakan lagi, setelah suasana beku di antara mereka mencair perlahan. 

•••

“Biar aku saja, Mas.” 

Lilis merasa tak enak, ketika suaminya dengan cekatan ikut membantunya membersihkan warung, sebelum ditutup. 

“Aku sudah biasa melakukan pekerjaan begini, jangan khawatir. Sebaiknya kamu selesaikan saja piring-piring kotor itu, agar bisa lekas pulang.” Rayyan tak bohong, karena ia pun sering membantu kakak iparnya di warung nasi milik Nyonya Marina yang kini dikelola sang kakak ipar. 

Lilis menurut saja, karena tubuhnya sudah sangat letih, efek semalam tak bisa memejamkan mata. Belum lagi di rumah nanti harus menyiapkan makan malam untuk Arimbi dan Bu Saodah, ah, iya, kini bertambah satu orang lagi. 

“Lis pegangan,” kata Rayyan setelah merasa Lilis sudah duduk di atas motor. 

“Eh, sudah, Mas,” sahut Lilis cepat, padahal ia hanya berpegangan di ujung kaos Rayyan. 

Rayyan yang tak sabar pun melingkarkan lengan Lilis di pinggangnya, “Ini baru pegangan yang benar.” 

Blush! 

Merona lagi wajah Lilis, peristiwa yang tadi pagi saja belum sepenuhnya Lilis percayai, kini Rayyan seolah membuat mereka kembali mengulang adegan pagi tadi. Jantung Lilis makin deg-degan, aliran darahnya berdesir semriwing gimana gitu. 

Mereka berdua pasti akan jadi bahan tontonan para warga lagi, duh, rasanya Lilis ingin menyelam ke dasar bumi saja. 

“Waduh, senangnya pengantin baru,” cetus tetangga Lilis ketika motor baru saja berhenti di teras rumah. 

“Lis, bikin iri saja.” Tetangga yang lain ikut nyeletuk. 

Lilis buru-buru masuk ke rumah, tak sanggup lagi mendengar ledekan para tetangganya. 

“Mari, Bu. Kami masuk dulu,” pamit Rayyan sopan. 

Baru juga melangkah masuk ke rumah, Rayyan sudah mendengar ocehan Bu Saodah. 

“Iya, Bu. Aku mandi sebentar.” Hembusan nafas Lilis terdengar lelah, namun, Bu Saodah mana pernah peduli. 

“Nanti saja mandinya, masak dulu! Kami lapar, kasihan Arimbi, pulang sekolah tidak ada yang bisa dimakan.” 

“Lapar? Kalian tidak lumpuh, masih punya tangan, kan? Kenapa tak ada yang mau menggerakkannya? Atau jangan-jangan Ibu dan Arimbi lebih suka disebut orang-orang jompo?” 

Bu Saodah melotot ke arah menantunya, ia pikir Lilis pulang sendirian, tak tahunya pulang bersama suaminya yang ternyata kata-katanya sungguh pedas seperti cabai mematikan. 

1
Asiati
nggak ada yang mengorbankan diri sendiri kalian tau itu kan pasti kalian akan mau di hukum semah Allah subahnawataala dunia kita akan mau kiamat dan kita harus pergi gedung atau yang tempat yang aman dan slamat sekarang itu 🤣😄🤭😍👍
pipi gemoy
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼
pipi gemoy
anak Nanang n cantik apa Thor
bonchap dong🌹
pipi gemoy
vote Thor ✌🏼
pipi gemoy
👍🏼👏🏼☕🙏🏼
pipi gemoy
welcome to the world baby boy 🌹
pipi gemoy
😆😆😆😆😆😆😆
pipi gemoy
😂😂😂😂😂😂😂👻
pipi gemoy
gasssssd Nang👻😂
pipi gemoy
gegara si cantik ini, Nanang jadi tantrum 😂😂😂😂😂
pipi gemoy
mantap ini cantik emang anak Agung 😂🌹
Cahaya: Permisi.
Mampir di karya pertama sahabatku ku ya mbak.
tentang gadis cantik gembul dan cadel, yang kehadirannya tidak diketahui ayah biologisnya.
terlahir dari hasil hubungan terlarang sepasang insan dimsa kuliah
terimakasih sebelumnya 🙏🥰
total 1 replies
pipi gemoy
congrats Rayyan 👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼🌹
pipi gemoy
Dio mamam tuh bini yg katanya supel berpendidikan n tidak kampungan 😆👻
pipi gemoy
Rosa 👍🏼👏🏼🌹
pipi gemoy
maling.........😂👻
pipi gemoy
kalo gua jadi Rayyan itu uang sengaja ta kipas kipasan biar Bu Odah mupeng 😂😂😂👻
pipi gemoy
😂😂😂😂😂😂😂😂
ini si ibu tiri nga sadar diri👻
pipi gemoy
Ray 😆😆😆😆😆😆👍🏼🌹
pipi gemoy
😂😂😂😂😂😂😂
pipi gemoy
tadi pas bikin sambal turunan Marina
sekarang ketemu ulat bulu real anak bos Gustam 😆😆😆😆😆👻🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!