NovelToon NovelToon
Sumpah! Arwah

Sumpah! Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:65.6k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..

Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bungkusan aneh di liang lahat Seno

Jenazah Seno di bawa ke belakang untuk dimandikan. Air yang sejak tadi sudah disiapkan akhirnya digunakan. Ustadz Sakari memimpin proses itu dengan tenang, dibantu Jaka, Udin, dan yang lainnya.

"Pelan-pelan," ujar Ustadz Sakari.

Mereka membuka kain penutup jenazah dengan hati-hati. Air disiramkan perlahan, dimulai dari bagian kanan tubuh Seno sebagaimana tata cara memandikan jenazah.

Suasana di belakang rumah sangat sunyi. Hanya terdengar suara air yang mengalir dan sesekali instruksi pelan dari Ustadz Sakari.

Beberapa kali Udin menelan ludah. Ingatan tentang kejadian di ruang tamu tadi masih membuat bulu kuduknya merinding. Namun ia berusaha menenangkan diri dan tetap membantu.

Tak lama kemudian proses memandikan jenazah selesai.

"Alhamdulillah." Ucap Ustadz Sakari pelan.

Tubuh Seno kemudian dikeringkan dengan kain bersih. Setelah itu mereka membawa jenazah kembali ke ruang dalam untuk dikafankan.

Kain kafan putih sudah disiapkan oleh para ibu.

Dengan hati-hati, tubuh Seno dibaringkan di atas kain tersebut. Ustadz Sakari dan beberapa pemuda membantu melipat kain kafan satu per satu hingga seluruh tubuh Seno tertutup rapi.

Tali-tali kafan pun diikat sesuai aturan.

Kini jenazah Seno telah siap.

Setelah jenazah Seno selesai dikafankan, warga kemudian membawanya ke masjid untuk disolatkan. Pagi itu suasana desa terasa sangat sunyi. Tidak banyak percakapan, hanya langkah kaki warga yang berjalan perlahan menuju masjid.

Sholat jenazah dipimpin oleh Ustadz Sakari. Para lelaki berdiri berbaris rapi di belakangnya.

"Allahu Akbar…"

Takbir demi takbir dilantunkan dengan khidmat. Doa-doa dipanjatkan agar Seno mendapat tempat terbaik di sisi Allah.

Setelah sholat jenazah selesai, beberapa pemuda kembali mengangkat keranda yang membawa tubuh Seno. Matahari pagi mulai muncul dari balik pepohonan, menyinari desa dengan cahaya yang lembut.

Pagi itu semuanya sudah siap.

Sejak subuh tadi, para penggali kubur sudah datang ke pemakaman desa. Mereka bahkan sempat mengabarkan kepada Pak Warsito bahwa liang lahat untuk Seno sudah selesai digali.

"Sudah siap, Pak RT." Kata salah satu penggali kubur saat datang ke masjid tadi.

Pak Warsito hanya mengangguk pelan.

Kini warga mulai berjalan menuju pemakaman yang terletak tidak jauh dari desa. Beberapa lelaki memanggul keranda.

Pak Sugeng berjalan di belakangnya dengan langkah berat. Bu Ranti dipapah oleh beberapa ibu karena tubuhnya masih lemah setelah semalaman menangis.

Angin pagi berhembus pelan melewati jalan tanah yang mereka lalui.

Tak ada yang banyak bicara.

Namun di hati masing-masing warga, masih tersimpan satu pertanyaan yang belum terjawab, apa sebenarnya yang terjadi pada Seno. Bahkan, saat sesudah kematiannya pun terasa begitu berat.

Keranda yang dipanggul para pemuda bergerak perlahan menuju pemakaman desa. Jaka dan Udin berjalan di sisi kiri, sementara Daud dan dua pemuda lain di sisi kanan.

Langkah mereka serempak, namun wajah-wajah itu tampak muram.

Sesekali terdengar suara batuk kecil atau langkah kaki yang menggesek tanah.

Pak Warsito berjalan di belakang keranda bersama Ustadz Sakari. Keduanya tampak diam, namun sesekali saling berpandangan seolah memikirkan hal yang sama.

Tak lama kemudian mereka sampai di pemakaman desa yang terletak di pinggir kebun karet. Tanah yang masih merah terlihat di salah satu liang lahat yang baru saja digali.

Para penggali kubur sudah menunggu di sana sejak tadi.

Keranda kemudian diletakkan perlahan di dekat liang lahat.

Beberapa pemuda turun ke dalam kubur untuk bersiap menerima jenazah.

"Bismillah…" Ucap Ustadz Sakari pelan.

Saat kain penutup keranda dibuka dan jenazah Seno hendak diturunkan. Tiba-tiba salah satu pemuda yang berada di dalam liang lahat terdiam.

Wajahnya berubah pucat.

"Pak…" Katanya dengan suara pelan namun jelas.

Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

"Ada sesuatu, di dalam kubur ini."

Semua orang yang berada di sekitar liang lahat langsung menoleh ke arah pemuda itu.

"Ada apa, Rud?" Tanya Jaka dari atas.

Pemuda di dalam liang lahat itu menelan ludah. Wajahnya tampak pucat ketika ia menatap tanah di samping kakinya.

"Pak, di sini ada sesuatu." katanya lagi dengan suara ragu.

Beberapa warga saling berpandangan.

"Sesuatu apa?" Tanya Pak Warsito melangkah mendekat ke bibir kubur.

Rudi perlahan berjongkok. Dengan tangan gemetar ia menyingkirkan sedikit tanah yang masih gembur di sudut liang lahat itu.

Para warga menahan napas.

Tanah itu terbuka sedikit demi sedikit.

Lalu terlihat sesuatu yang berwarna hitam kecokelatan, seperti kain yang sudah sangat tua.

"Itu apa?" Gumam seseorang dari belakang.

Rudi menariknya perlahan. Ternyata bukan hanya kain.

Ada beberapa benda lain yang terbungkus di dalamnya.

Sebuah kain lusuh, beberapa helai rambut panjang yang sudah mengering, dan sesuatu yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

Sebuah tulang kecil yang entah tulang apa.

Beberapa warga langsung mundur satu langkah.

"Innalillahi…" Ucap salah satu dari mereka.

"Siapa yang menaruh benda seperti ini di kuburan?" Pak Yuda mengerutkan kening.

Ustadz Sakari turun perlahan ke dalam liang lahat untuk melihat lebih dekat. Ia memandangi benda-benda itu dengan wajah serius.

Kemudian ia menarik napas panjang.

Dia memandangi benda-benda itu beberapa saat. Wajahnya tampak serius, namun tetap tenang.

Perlahan ia mengambil kain lusuh yang membungkus rambut dan tulang kecil itu.

"Bismillahirrahmanirrahim…" Ucapnya pelan.

Dia lalu membaca beberapa ayat suci Al-Qur’an dengan suara yang lirih namun jelas. Bacaan itu terdengar menenangkan di tengah suasana pemakaman yang sunyi.

Setelah selesai, ia menghembuskan napas pelan lalu membungkus kembali benda-benda itu dengan kainnya.

Kemudian ia menoleh ke arah Jaka yang berdiri di dekat bibir liang lahat.

"Jaka." Panggilnya.

"Iya, Ustadz."

Ustadz Sakari menyerahkan bungkusan kain itu kepadanya.

"Nanti setelah semua selesai, bakar benda ini sampai habis." Katanya pelan namun tegas.

Jaka menerima bungkusan itu dengan wajah tegang.

"Baik, Ustadz."

Setelah itu, para pemuda kembali bersiap.

"Baik, sekarang kita lanjutkan." Kata Ustadz Sakari.

Dengan hati-hati, jenazah Seno diturunkan ke dalam liang lahat. Beberapa pemuda di dalam kubur menerima tubuhnya perlahan, lalu membaringkannya menghadap kiblat.

Doa kembali dipanjatkan.

Setelah semuanya selesai, papan-papan penutup diletakkan di atas liang lahat. Tanah merah kemudian ditimbunkan perlahan.

Sekop demi sekop tanah jatuh menutup kubur itu.

Tak lama kemudian, liang lahat itu telah rata kembali.

Di dekat kuburan, tangis Bu Ranti kembali pecah.

Pak Sugeng berdiri tak jauh dari sana. Ia hanya menatap gundukan tanah yang baru itu dengan mata yang kosong.

Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Hanya kesedihan yang begitu dalam.

Sementara itu para warga mulai berjalan pulang satu per satu.

Namun di dalam hati mereka, masih tersisa satu pertanyaan yang belum terjawab. Apa sebenarnya yang sedang terjadi di desa mereka dan benda apa yang tadi di temukan itu? Siapa yang menaruhnya? Pertanyaan demi pertanyaan itu terus bersarang di benak para warga yang nantinya pasti akan menjadi buah bibir orang-orang.

1
Yati Susilawati
tomo, terlibat?
lanjut thor.. pinisirin🤣
May Maya
KLO jd ibu nya aning pasti jd depresi
Hani Hadianti
ijin hadirr🙏
Mega Arum
kenapa tomo.. awal2 tomo trlihat baik, bahkan pintar agama..., tp tomo dan bpknya seakan2 dalang dr kematian Aning.. lanjuut thor,
Skay Skayzz: waduhh ada apa dgn mas tomo weee
total 1 replies
Yati Susilawati
pak desa, ditunggu aning tuh... 🤣🤣
kimiatie
jalan cerita yang bagus dan penulisan yang mantap 👍👍👍
kimiatie
menunggu update nya thor💪
kimiatie
kenapa tak panggil polisi sahaja...pak RT nya kenapa??????
kimiatie
hanya itu yang mampu oak warsito lakukan😂😂 betul tu ...mati kubur sahaja
kimiatie
begitu lah manusia akan berasa kuat di hadapan yang lemah tapi akan terjadi sebaliknya bila berhadapan lawan yang lebih kuat
kimiatie
itulah bak kata pepatah " kerana mulut badan binasa "
kimiatie
kenapa tiada tindakan lanjut...mahu sampai bila menahan bu darsia...kerja kepala desa Rt atau yang berpangkat tiada tindakan
Nurr Tika
minta maaf itu mudah tapi hati yg udah terluka tidak mudah untuk melupakanya
Mur Wati
eh pekok yg bikin ulah siapa sebelum nya hah ngatain laknat kelakuan mu laknat 😡
Maya Mariza Tarigan
best
Sandy Nasruddin Rozaq
pak ustadznya kemana ya?
nurul supiati
pantesan kepala desa nya juga ikutan ya jelas takuttt lah
Mamake Nayla
wah...jgn2 kepala desa nya ini tersangka nya jg
Mamake Nayla: metong jg akhirnya nanti buat penghabisan🤭🤭
total 2 replies
Mamake Nayla
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
kimiatie
banyak juga yang memperkosa aning...kalau aku jadi ibunya juga akan ku lakukan apa sahaja untuk balas dendam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!