Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.
Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lahiran
Sera masih dalam perjalanan ke rumah sakit meskipun jarak tempuhnya tidak terlalu jauh dari kontrakan yang dia sewa tapi tetap saja rasanya tidak bisa bertahan lagi. Saat nyeri menyerang membuat Sera mengerutkan keningnya dan menjepit bibir untuk menghalau rasa sakit.
"Please, jangan sekarang..." rintih Sera terengah-engah, sembari tetap fokus pada jalan di depannya, keringat terus menetes dari pelipisnya.
Hingga ia berhasil masuk area rumah sakit, dengan cepat dan tanpa aba-aba Sera membuka pintu mobil dengan kasar agar orang di luar menemukan dirinya dan mungkin akan membantunya, Sera tidak perduli dengan sekitarnya yang mungkin akan sedikit kesal.
Sera terkulai lemah di dalam mobil itu, seolah menunggu keajaiban menolong mereka bertiga. Seorang satpam rumah sakit mulai tidak nyaman dengan keberadaan mobil Sera sebab peraturan di rumah sakit melarang pasien atau keluarga pasien parkir di depan IGD.
Satpam itu mendatangi mobil dengan niatan untuk memarahi pemilik mobil, "Pak, tolong jangan parkir mobil disini!" teriak satpam itu dari kejauhan.
Satpam itu semakin mendekat, tangannya sudah bersiap untuk mengetuk kaca mobil itu dengan amarah yang mulai memuncak. Namun, ketika melihat sosok Sera yang terkulai lemah di ruang kemudi, ruat wajah yang tadi nampak marah kini mulai merasa khawatir.
Lirikkan matanya kemudian tertuju pada pos satpam berharap salah satu temannya lewat, tidak berselang lama entah sebuah keajaiban temannya yang habis patroli di ruang inap lewat di belakang mobil Sera.
Sontak saja satpam itu memanggil, "Don, tolong Don! Ada ibu mau melahirkan, Don,"
"Lah! Emang keluarnya mana, Gas," ucap Doni seraya berlari menuju arah temannya yang bernama Bagas itu.
"Nggak tau Don, udah cepetan kamu singkirin mobilnya dulu, aku bantu bopong kedalam daripada berojol di jalan," jelasnya dengan nada seolah tidak boleh banyak tanya.
Doni mengangguk cepat, kemudian membantu membopong Sera keluar dari dalam mobil itu, Sera hanya bisa terdiam. Dia harus menyimpan tenaganya untuk melahirkan nanti.
Setelah Bagas membawa Sera dengan langkah tertatih, Doni lalu membawa mobil itu menuju ke parkiran agar tidak menganggu pasien yang buru ke IGD pula.
Setelah beberapa langkah tertatih akhirnya Sera dan Bagas sampai di dalam IGD, "Tolong, Ners ada ibu mau melahirkan," ujar Bagas menoleh pada perawat yang sedang siap di balik mejanya.
Para perawat itu berlari membantu Sera dengan membantu menggantikan Bagas membopong Sera, sedangkan dokter yang berjaga di IGD terlihat sigap memakai sarung tangan karet yang berwarna biru itu dengan masker medis penutup wajah.
"Keluarganya Pak Bagas?" tanya salah satu perawat yang membopong Sera menuju branker.
Bagas menggelengkan kepalanya, "Saya tidak tahu, ibu ini hanya pergi sendirian. Itu sebabnya saya membantu ibu ini tadi,"
"Hish... Bagaimana bisa tidak ada keluarganya? Pasti suaminya hanya pria mokondo," geramnya dengan suara rendah yang hampir tidak terdengar.
"Baiklah... Kalau sempat nanti saya akan bertanya pada ibu ini, sekarang yang terpenting keselamatannya dulu," ujar perawat itu tersenyum ke arah Bagas.
Setelah bersusah payah menaikan Sera ke branker dan merebahkan Sera ke atas matras itu. Kini giliran dokter IGD yang memeriksa keadaan Sera.
Dokter itu sedikit menarik sarung tangannya yang sedikit menganggu pergerakan jarinya, lalu menyentuh perlahan perut Sera dengan lembut.
"Nama ibu siapa? Sudah berapa terasa nyeri seperti ini?"
"Sera, Dok... Sudah hampir dua jam saya tahan terus Dok, semua sudah saya siapkan di dalam tas, administrasi nya juga..." ujar Sera dengan napas terengah-engah menunjuk ke arah luar, ke arah mobilnya yang terparkir.
Perawat yang tadi menanyakan berkas Sera terlihat senang bukan karena sesuatu yang menunjuk ke egoisan namun berkas itu sangat penting untuk tujuan persalinan Sera. Perawat itu kemudian meminta Bagas untuk menjemput berkas itu.
Sedangkan dokter dan perawat lain nampak siap disana dengan segala kemungkinan terutama dengan perawat yang menunggu instruksi selanjutnya dari dokter.
Dokter segera melakukan pemeriksaan cepat menggunakan alat bantu untuk mengukur tingkat bukaan. Setelah beberapa saat, dia mengangkat kepalanya dengan raut wajah tenang.
"Bukaannya sudah tujuh dan terus bertambah. Kita tidak bisa menunda lagi segera siapkan ruang bersalin dan hubungi bagian Spog," dokter itu memberikan instruksi pada perawat di sekelilingnya.
"Baik Dok," jawab para perawat menganggukkan kepalanya dengan berlari untuk menjalankan tugas mereka.
Ada yang berlari keluar IGD untuk menanyakan pada perawat lain, menyiapkan ruangan bersalin. Ada pula yang menelpon dokter Spog dan bidan senior, untuk menanyakan kesiapan mereka atau ada pasien lain yang sedang mereka tangani.
Dan yang lain mencoba menenangkan Sera serta memasangkan infus pada tangan Sera untuk menambah energi serta cairan pada Sera dalam proses melahirkan nanti.
Tidak lama beberapa perawat yang tadi pergi kembali dan mendatangi dokter, "Ruangan bersalin clean, Dok,"
"Dokter Spog dan Bidan Sari sedang bisa Dok," ujar salah satu perawat menoleh pada dokter IGD dengan gagang telepon yang masih menempel di telinga.
Perawat sudah tahu tindakan selanjutnya, dengan sigap mengambil kursi roda kemudian membantu Sera berpindah dari branker. Lalu, mendorong kursi roda itu menuju ruang persalinan.
Tidak berselang lama mereka akhirnya sampai di ruang persalinan, para perawat yang menjaga di tempat itu telah siap mengikuti perawat IGD yang lebih dulu masuk ke dalam ruangan bersalin.
Setelah Sera ditempatkan di ranjang khusus dengan posisi membantu proses persalinan. Para perawat ruangan bersalin sudah siap di tempatnya kalau-kalau dokter membutuhkannya. Sedangkan perawat dan dokter IGD yang membawa Sera kesana, kembali pada tempatnya sebab ada tugas lain yang menanti mereka.
Seorang perawat nampak memastikan infus berjalan dengan lancar, memantau tekanan darah serta jantung Sera dan bayinya. Sedangkan Dokter Spog nampak mengecek lagi bukaan Sera.
"Bu Sera, saya rasa bukaan sudah pas," ucap Dokter Spog menoleh pada Bidan Sari yang nampak menyusun posisi tidur Sera agar persalinan tidak terganggu.
"Saat kontraksi datang lagi, cobalah untuk menarik nafas dalam lalu dorong dengan perlahan. Seperti di tiup-tiup balon," ajak Bidan Sari mencoba menopang tubuh ibu muda itu.
Ketika rasa nyeri itu datang lagi, Sera mengerang pelan dan mendorong sesuai instruksi dari bidan senior itu. "Iya Bu, bagus Bu," ujar Dokter Spog memberikan jempolnya yang menggunakan sarung tangan karet berwarna biru itu, di balik penutup biru yang juga sedang dipakai Sera itu.
Bidan senior itu nampak mengelap keringat Sera yang terus bercucuran, Sera hanya terus mencoba meskipun sangat melelahkan.
Setelah beberapa jam berkutat dengan persalinan itu akhirnya sang anak akhirnya lahir, "Anak pertama sudah lahir, laki-laki beratnya 2,9 kilogram, sehat dan ganteng,"
Sera nampak melirik ke arah putranya yang merah, masih di tangan Dokter Spog, Sera nampak tersenyum lega. Namun, ini bukan yang terakhir, Sera masih ada satu lagi.
"Kok, saya masih merasa..."
"Iya Bu, simpan tenaga dulu, kita harus berjuang," ujar Dokter Spog mengelap keringatnya.