Namanya Diandra,wanita berusia 27 tahun sudah menikah dengan suaminya yaitu Bagas berusia 30 tahun,dan usia pernikahannya sudah sampai di 4 tahun. Tetapi hingga kini mereka belum dikarunia seorang anak. Diandra dan Bagas bersabar karena mereka percaya semua itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi tiba tiba Diandra merasa ada yang berubah dari suaminya terutama sikap Bagas. Diandra mencoba menepis perasaannya itu dan masih berpikir positif pada suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yasmin Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Cerita Diandra pada Nina
Diandra sudah sampai di rumahnya, setelah masuk kedalam dan mengunci pintu bergegas dia menuju ke kamarnya, manaruh tas mungilnya di atas nakas kemudian langsung saja Diandra membersihkan dirinya, karena hampir satu hari dia berada di luar rumah dan pastinya sudah cukup membuatnya gerah, ditambah lagi cuaca yang lumayan panas hari ini.
Selesai itu Diandra kembali ke kamarnya dan membuka tas untuk mengambil ponselnya. Sesaat dia melihat kertas putih yang tadi berikan oleh Wisnu padanya, deretan angka tertera dan juga nama Wisnu. Wisnu Arbi, itulah nama panjangnya. Nama yang pernah hadir dalam hidupnya sebelum dirinya menikah dengan Bagas.
Teringat lagi dimasa itu, saat Diandra harus memutuskan hubungan mereka yang sudah lama terjalin, dan memilih menikah dengan Bagas.
Diandra ingat sekali wajah Wisnu yang tidak bisa menyembunyikan kekecewaan, dan pasti juga rasa sakit,dan sejak itu dia tidak pernah lagi bertemu dengan Wisnu sampai hari ini tadi, tiba tiba bertemu lagi.
Diandra menatap lagu kertas mungil itu,,entah apa yang harus dia lakukan, apakah dia harus menyimpan nomor itu, kemudian menyapa Wisnu terlebih dahulu agar Wisnu juga tahu kalau dia sudah menyimpan nomor ponselnya.
Tentu saja Diandra tidak akan melakukan itu, sampai detik ini saja dia masih belum percaya kalau dia akan bertemu lagi dengan Wisnu, dan bagaimana bisa dia benar benar sudah lupa wajah Wisnu, padahal mereka tidak pernah bertemu bukan puluhan tahun yang lalu, yang mampu membuat ingatan sedikit melemah, kalau saja Wisnu tidak berbicara mungkin benar benar sulit dia menerka siapa laki laki tadi.
Yaaa,,, suara itu, suara lembut itu yang masih terngiang ditelinga Diandra.
Bel rumah tiba tiba berbunyi, Diandra mengernyitkan keningnya.
"Siapa yang datang?" tanya Diandra dalam hati sambil beranjak dari kamarnya menuju keluar untuk membuka pintu. Tapi sebelumnya Diandra mengintip dari balik jendela, dan ternyata sahabatnya Nina yang ada di depan pintu. Langsung Diandra membuka pintu karena girang melihat Nina yang datang.
"Hai Nin" sapa Diandra saat pintu terbuka lebar.
"Hai juga, kamu lagi apa? Sibuk gak?" tanya Nina sambil masuk ke dalam ruangan tamu.
"Enggak" jawab Diandra sambil menutup pintu dan kemudian duduk bersama Nina dikursi ruangan tamu.
"Kamu gak bawa anak anak?" tanya Diandra kemudian.
"Enggak Di, aku tadi habis ketemuan sama calon customer aku"
"Di mana?"
"Di kafe biasa aja"
"Gimana hari ini, berhasil belum dapat kerjaan?" tanya Nina kemudian ingin tahu.
"Belum lah, gak segampang itu" jawab Diandra
"Kerja bareng aku aja lah" tiba tiba Nina menawarkan kerja sama pada Diandra.
Diandra tersenyum sambil memandang sahabatnya itu.
"Aku harus kerja apa?" tanya Diandra kemudian.
"Ya apa aja, kan kegiatanku berhubungan sama customer, kamu bisalah bantu bantu aku saat aku terlalu repot menghandel pekerjaanku, apalagi kamu punya bakat deh soal merangkai rangkai"
" Sekarang ini aku benar kuwalahan Di, aku butuh orang yang bisa aku percaya buat bantu aku"
"Hemmm,,, boleh aja Nin, daripada aku harus jadi pengangguran terus" jawab Diandra menyetujui tawaran Nina.
"Mulai kapan aku kerja?"
"Nanti aku kabari, kalau aku sibuk aku pasti hubungi kamu"
"Jadi aku bakalan kerja freelance aja nih, saat kamu panggil aja?"
"Ya gak juga Di, tapi untuk sementara ini ya seperti itu. Tapi kalau lagi sibuk banget kamu bakalan kerja terus deh, kamu tahu sendiri kan kerjaan aku gimana?" jelas Nina
"Yaa,,,boleh Nin, kabarin aku aja kalau kamu butuh bantuanku"
" Bukan butuh bantuan, tapi kamu bekerja bareng aku, kamu dapat gaji yang sesuai dengan jam kerja kamu"
"Oke lah Nin" jawab Diandra sambil tersenyum.
"Nin, kamu tahu gak, tadi aku ketemu Wisnu" tiba tiba Diandra memberitahu soal pertemuannya tadi dengan Wisnu.
"Hahhhhhhh,,, yang bener? Serius? Padahal kemarin kita baru ngomongin dia, panjang umur deh dia" Nina tampak antusias.
"Iya ya panjang umur banget dia"
" Gimana ceritanya kamu ketemu dia?"
"Entahlah, aku juga kaget banget tadi" jawab Diandra membuat Nina memasang wajah penasaran ingin tahu kelanjutan cerita Diandra.
"Di Mall tadi setelah capek masuk toko sana sini buat cari kerjaan, aku putusin buat makan siang di tempat biasa kita makan. Tiba tiba aja ada laki laki duduk didepan kursi aku, aku kaget karena kok lancang banget tiba tiba duduk aja"
"Terus terus terus?" Nina tampak tidak sabar.
"Sumpah Nin aku sama sekali gak mengenali dia"
"Haahhhhh,,, gimana bisa?"
"Bener Nin, aku gak kenal siapa dia,,tapi saat dia bersuara ya udah dari situ aku ingat, suara itu aku gak pernah lupa" jelas Diandra lagi.
"Aneh kamu, perasaan kamu gak ketemu dia baru beberapa tahun aja, bukan yang puluhan tahun gak ketemu, kok bisa kamu lupa?" tanya Nina merasa aneh.
"Entahlah,, aku juga bingung secepat itu aku ngelupain dia"
"Kamu terlalu bucin sama Bagas"
"Hemmmm,,,itulah" Diandra tampak menyesali.
"Oh iya kalian ngobrol?"
"Enggak,,dia cuma temani aku makan siang, dia yang bayarin makan siangku" jelas Diandra.
"Serius? Setelah itu?"
"Ya udah dia pamit, tapi dia tinggalkan kartu nama isinya cuma nomor telepon dia"
"sudah kamu simpan nomor dia?"
"Enggak"
"Belum kamu simpan?" tanya Nina lagi memastikan.
"Aku enggak simpan, bukan belum"
"Kenapa?"
"Buat apa?" Diandra malah balik bertanya.
"Ya buat menyambung lagi tali kasih yang lama terputus" jawab Nina sedikit mengejek Diandra.
"Hhhhhhh,,,,kurang kerjaan banget"jawab Diandra sedikit kesal.
"Dia tahu kamu sudah pisah sama Bagas?"
"Kamu ini aneh, buat apa aku cerita soal itu sama dia?"
"Bisa jadi bakal ada CLBK"ledek Nina sambil tertawa kecil.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Bisa jadi dia sudah punya istri dan anak" jelas Diandra mengingatkan Nina soal kemungkinan status Wisnu saat ini.
"Tapi dia kasih kamu nomor teleponnya, bisa jadi dia berharap kamu menghubungi dia"
"Terus berharap apa? Berharap aku bakal disemprot sama istrinya karena sembarangan hubungin suami orang"
"Di, kalau dia beristri gak akan sembarangan kasih kamu kartu nama dia" jelas Nina mencoba menerka nerka.
" Yang pasti dia yang akan minta nomor kamu untuk dia save dan dia yang bakal menghubungi kamu" lanjut Nina lagi.
Diandra terdiam dan tampak berpikir untuk mencerna kata kata Nina.
"Tapi aku gak akan hubungi dia Nin, aku gak akan save nomor dia" jelas Diandra pelan.
"Bisa jadi dia masih menyimpan rasa kecewa sama aku, dan juga sakit hati yang belum hilang"
"Semoga saja sudah enggak, pasti dia sudah move on dengan keadaan Di"
"Yaa aku harap begitu"
"Sudah malam nihhh,, aku pulang aja ya" pamit Nina kemudian sambil berdiri dari duduknya.
"Hemmm,,,padahal masih pengen ngobrol" Diandra tampak sedikit kecewa karena Nina pamit pulang.
"Kamu istirahat aja Di, kan kamu capek habis cari kerjaan hehehehe"
"Hemmmm,,,"
Dan akhirnya Nina pamit pulang, kemudian Diandra bergegas masuk ke dalam kamar setelah mengunci semua pintu rumahnya.