Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.
.
.
Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.
"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.
.
.
"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.
.
.
"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah malam pertama
Adam mendengus setelah menghempaskan tubuhku ke kasur. Dia menatapku dari samping ranjang dengan mata yang merah.
"Jangan sekali-kali kamu mencoba meminta perhatian pada lelaki lain! Saya bukan suami yang tidak memiliki rasa cemburu!"
"Heh, kamu itu gak nyadar ya? Kamu memang suami seperti itu, Adam! Sadar gak sih? Apa pernah kamu menunaikan kewajiban sebagai seorang suami dengan memberi nafkah batin pada istri?"
"Saya bukan tidak ingin melakukan itu, Winda! Tapi saya memang tidak bisa! Kamu paham tidak bedanya!?" Adam mengajak-ngacak rambut, terlihat seperti tertekan dengan situasi ini.
"Gak. Aku gak paham. Dan aku gak ngerti. Tidak mau dan tidak boleh, bagiku artinya sama aja. No sex!" Bersamaan dengan itu, aku kembali duduk dan memeluk kedua lutut. Sungguh, aku lelah dengan perdebatan yang tidak kunjung henti ini. Entah sampai kapan akan berakhir.
Adam terdiam, sambil memandang keadaan di luar dari balik jendela.
"Terserah apa yang kamu pikirkan. Tapi memang, no sex," ucapnya pelan setelah cukup lama diam.
Baiklah, aku terima kekalahanku. Mungkin dia memang tidak mau melakukan itu denganku. Lagi pula, aku sudah lelah. Terlalu banyak drama air mata hari ini yang menguras tenagaku. Aku capek, aku ingin berbaring mengistirahatkan tubuh.
"Winda-"
"Gak usah khawatir, aku ngerti maksudmu. Udahlah, aku cepek. Aku mau istrahat kekamarku. Koper ini nanti aja bawa. Good night!" ucapku pasrah. Aku dekati Adam dan memeluknya. Dia tidak membalas pelukanku. Begitu hinakah diri ini di matanya?
Kuselami matanya yang penuh dengan pancaran kekesalan dan kuhadiahkan juga senyuman, tapi tidak di balasnya. Hatiku bertambah sakit, sedih. Air mata kembali menggenang, siap kapan saja mengalir.
Kutangkupkan kedua tangan ketelingaya, lalu perlahan aku dekatkan bibir kepipinya. Mata kupejam rapat bersama air mataku mulai mengalir. Lama kubiarkan bibirku di pipinya. Seolah tidak mau lepas.
"Winda, kamu tidak perlu tidur di kamar lain. Kamu tahu kan, kamu bisa istrahat di sini?" Adam berbisik pelan setelah kulepaskan kecupan di pipinya.
"Gak apa-apa, aku tidur di kamar bawah aja. Sweet dream," ucapku dan mengecup pipinya sekali lagi. Dan pada saat aku hendak menjauhkan diri, Adam merangkul pinggangku dan bibirnya lansung menyerang bibirku
Aku terbuai sekaligus bingung dengan perlakuannya ini.
Adam mengecup bibirku beberapa kali, mungkin menunggu responku yang tiba-tiba malah diam karna kaget dengan perlakuannya ini. Tapi tanganku di kedua bahunya meremas pelan bentuk respon ciumannya itu.
Ketika aku masih diam, dia semakin mengeratkan pelukan dan memandang kedalam mataku.
"Winda, sepertinya saya kehilangan akal. Saya merasa sangat bodoh jika menolak keinginanmu itu," desisnya dengan masih merenung kedalam mataku.
Detak jantungku semakin tak menentu dengan perubahan sikapnya ini. Dan tiba-tiba dia mengalihkan 1 tangannya ke wajahku, menyeka air mata di pipiku dengan ibu jarinya.
"Saya minta maaf, karna sering membuat kamu menangis. Tapi jujur, dua Minggu ini amat menyiksa saya. Saya tidak ingin kamu menjauh lagi. Please, jangan pernah lagi merahasiakan apapun dari saya," bisiknya lembut.
"Ya, aku pun minta maaf karna merahasiakan semua ini darimu. Tapi percayalah, aku benar-benar gak pernah hamil, Adam." Bukan Adam saja yang kaget dengan pernyataanku itu, aku sendiri tak menyangka dengan kata-kata yang keluar dari bibirku. Selama ini, aku tidak pernah minta maaf pada orang meski itu salahku sendiri. Tapi sekarang, ego seolah hilang dalam diri.
Ah, kenapa denganku?
"Ya, saya maafkan kamu. Tapi setelah ini, jangan merahasiakan apapun lagi dari saya, oke? Saya begitu sayang kamu, Winda," ucapnya, lalu mencium bibirku sebentar dan kembali bicara. "Saya sangat menyayangi kamu, Winda. Sangat sangat teramat sayang," Sama seperti tadi, bibirku kembali di kecup, tapi kali ini tangannya ikut meraba tubuhku dan berhenti tepat di dadaku.
Ah, aku tidak tahan lagi. Lantas aku balas kecupannya. "Aku juga sayang kamu," ucapku meluahkan perasaan, tapi tiba-tiba Adam berhenti menciumku. Dia menatap mataku dengan kening berkerut.
"Apa tadi? Saya tidak begitu jelas mendengar. Bisa kamu ulang lagi?" pintanya dengan senyum kecil dibibir
Aku kalungkan kedua tangan di lehernya, lalu menunduk, malu. "Aku juga sayang kamu," ucapku pelan tanpa melihat reaksi wajahnya.
Mungkinkah dia tersenyum?
"Saya lebih menyayangi kamu, Winda!" Duguku diangkat, lalu batang hidungnya yang mancung di gesekkan ke batang hidungku.
Aku sedikit mendongak memandangnya, dan saat itu dia lansung menyambar bibirku dengan bibirnya. Aku pun tak tinggal diam, mulut kubuka, mempersilahkan lidahnya masuk.
Tangan Adam yang mengusap pinggangku, aku ambil dan bawa kedada, tapi Adam malah melerai ciuman dan tertawa kecil.
Iiih! Nyebelin. Gak tau apa kalau aku lagi ON. Aku perlu penuntasan dengan klimaks yang indah. Tolonglah.
"Sabar, sayang. Malam masih panjang," godanya dengan senyum nakal. Tubuhku di dorong agar kembali terlentang di atas kasur.
"Gak bisa. Besok pagi aku ada kelas programming. Aku gak mau telat lagi, karna dosen yang mengajar mata kuliah itu galak. Nanti aku di marahinnya," balasku, membuat Adam semakin terkekeh.
"Oh, begitu ya? Baiklah." Adam memandang nakal, sebelum menjatuhkan tubuhnya menindihku. Bibir kami bertaut kembali, dan dengan tekanan tubuhnya yang tegap, aku yang di bawahnya semakin lemas dengan lautan asmara
"Tidak ada batasan," bisiknya saat mencium leherku.
"Ya, gak ada batasan. Aku milikmu dan miliki kah aku seutuhnya," balasku.
Terasa satu senyuman lebar di ukirnya saat mencium leherku.
Kemudian Adam melepaskan ciuman di leherku dan bersimpuh diantara kedua lutut yang sudah di sibaknya kesamping. Dengan mata tak lepas menatapku, perlahan tangannya mengangkat baju kaos berkerah-V dari tubuhnya.
Susah payah aku meneguk saliva melihat roti sobek di perutnya yang terlihat begitu sempurna. Dan sungguh, jantungku seperti mau lepas dengan debaran ini.
"Kamu siap?" tanyanya padaku yang masih terlentang pasrah menanti apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Biar, saya yang melakukannya." Adam menambahkan ketika tanganku tanpa di suruh naik ingin membuka kancing kemeja sendiri dan tangannya lansung menggantikan tugas yang terbengkalai itu.
Aku menanti dengan debar setelah kancing terakhir berhasil di bukanya.
Setelah berhasil, tangannya bergerak pelan, dari perut naik ke dada dan meremas pelan di sana.
Aku yang tak dapat lagi menahan nikmat ini, tanpa sadar mengeluarkan desahan membuatnya tersenyum miring.
Gerakannya begitu lembut, matanya tak lepas dari mataku saat menunduk dan mencium perutku. Kecupan kecil di hadiahkan ke sensitifku, membuat tanganku reflek menggapai kepalanya, ingin dia tetap berada di sana.
Rasa nikmat ini benar-benar membuat melayang. Aku inginkan lebih dari ini. Aku ingin dia menyatu denganku.
Adam, please! Sekarang!