UPDATE SESUAI WAKTU SENGGANG HANA
Ziva adalah gadis berusia 16 tahun yang memiliki trauma pada laki-laki. Karena suatu alasan, membuatnya rela untuk bersekolah di Sekolah biasa yang penuh dengan laki-laki.
Namun, ibunya melakukan perjanjian menikah untuknya dan sayangnya, ia menerimanya karena salah paham.
Pernikahannya pun terjadi, dan penculikan langsung dialaminya, ibunya dibunuh. Suatu keanehan ditemukannya setelah pernikahan, yang belum pernah diketahuinya sejak dahulu.
Apakah Ziva akan mencaritahu semua keanehan ini? Apakah ia akan sembuh dari traumanya? Dan, apakah ia bisa mencintai suami yang dinikahinya karena salah paham?
Atau ia malah membencinya?
Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Ikuti terus cerita Halo Tunder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA NH. asuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. HILANG
Sudah sekitar 1 jam lebih sejak dokter Kristi di bawa ke kantor polisi. Dan Sulthan belum juga datang untuk menjemputnya.
Ziva mulai bergumam sendiri. Setidaknya di sini lebih baik dari pada di rumah. Hampa. Hampa… sangat, hampa. Begitulah gumamnya.
Di sela gumamannya, air matanya menetes. Bahkan ia belum melihat ibunya untuk ke terakir kalinya. Membuatnya ragu dengan ‘kepulangan’ ibunya. Ia kembali bergumam, benarkan? Apakah kejadian ini nyata? Gumamnya.
Kesendirian menambah dukanya menjadi berlipat. Tetapi, kesendirian ini juga menguntungkannya, membuatnya bisa menumpahkan sebutir dua butir buah duka berupa air mata.
Ia menengadahkan kepalanya. Memandang langit-langit rumah sakit yang tinggi. Ia menutup matanya dan bersender pada kursi tak empuk yang lumayan membantu melepas penatnya.
“Kenapa terlalu sulit bagi Ziva untuk melalui ujian yang satu ini, ya Allah? Ziva sangat berharap kalau… semuanya sedang bercanda. Ziva belum ikhlas dengan kembalinya umi ke sisi-Mu.
Apa Ziva berdosa? Apakah sia-sia saja keputusan Ziva dengan menikah? Ziva hanya ingin melihat umi tersenyum bahagia, melihat Ziva sudah normal. Namun, ternyata Ziva sudah terlambat.
Tidak ada lagi yang berhak melihat kebahagiaan Ziva. Umi, yang seharusnya melihat Ziva bahagia sudah ‘pulang’. Siapa lagikah tujuan kebahagiaan palsu yang Ziva pertahankan selama ini?”
Ziva tidak tahu, kenapa tiba-tiba kesabarannya goyah dan memutuskan untuk berkeluh kesah pada Allah. Dengan menutup matanya dan kepala yang menengadah ke langit, Ziva memuntahkan semua keluhannya menuju langit.
Ziva tidak berharap banyak, atau seseorang benar-benar akan berkata padanya ‘bahwa ini hanya prank’. Ia hanya inginkan sebuah dorongan dan dukungan.
Di saat yang seperti ini, semua orang menghilang dari sisinya dan memilih untuk mengupas tuntas seorang yang patut disalahkan atas ‘kepulangan umi’. Seandainya saja, Sulthan tidak pergi dari sisinya saat itu, mungkin… mungkin senyumnya tidak akan ikut pergi bersama umi.
Ziva membuka matanya perlahan. Tatapannya masih sedikit kabur karena sudah tertutup selama 2 menit. Saat itu, ada sesosok bayangan laki-laki familiar yang ada di depannya. Ziva menggosok matanya guna untuk menghilangkan bayangan seperti semut dari matanya.
Itu adalah Bram. Pertanyaannya adalah, apa yang diakukan Bram di sini? Apakah hanya sekedar kebetulan? Atau direncanakan?
Bram hanya memandangnya dan tak mencoba untuk mengatur kata. Ia mulai merogoh tasnya yang tentunya bermerk dan bukan asbun atau asal bunyi. Semua orang pasti tau bagaimana bunyi plastik ketika disentuh, pasti akan menimbukan suara yang nyaring bagi sebagian pemilik telinga.
Itu yang sedang di rogohnya dengan susah payah. Tas bermerk itu terlalu sempit dengan harga yang fantastis, membuat sang pemilik dibuat susah olehnya. Dengan susah payah, akhirnya keluarlah beberapa lembar kertas di dalam plastik kaca.
“Ini kertas ujian. Jangan sampai dilewatkan.” Bram berbicara seolah ia sedang berbicara dengan murid. “Aku tahu kamu trauma dengan yang terjadi kemarin. Kalau kamu mau, aku bisa bantu cari pelakunya. Yah, pastinya kalau kamu mau.” Ia memiringkan kepalanya dan menggaruk kepalanya. Menaikkan kedua alisnya untuk menatap lantai. Mungkin karena malu.
Yang dimaksud Bram adalah tentang penculikan Ziva waktu itu.
Ziva mengambil kertas ujian yang diberikan Bram. Menatap Bram dengan tatapan kosongnya.
“Terima kasih. Tapi, Ziva gak mau. Lebih baik… kita lebih jaga diri, agar kejadian ini gak terulang lagi.” Ziva tak mau teribat dalam masalah dulu. Setidaknya sampai ia mendinginkan batinnya yang sangat terpukul.
Bram mengangguk pelan. Ia duduk sebentar di kursi tunggu itu, hanya berjarak dua kursi dari Ziva yang setahunya tak suka bila berdekatan dengan laki-laki.
Ia sebenarnya mencoba untuk membuka obrolan. Rasa bersalahnya terus meronta karena telah meninggalkan seorang gadis sendirian di tempat sepi. Tapi, ia juga bukan orang yang buta tuli, ia bisa melihat aura Ziva yang sedang tak ingin diganggu.
Ia segera beranjak dari kursi itu dan tak berniat untuk mengganggu, “Aku pamit ya. Hati-hati!” itu pesannya pada Ziva sebelum kepalanya berbalik ke arah berlawanan dan kakinya melenggang pergi dari lorong secepatnya.
Bram terus berjalan dan menaiki lift lalu pergi ke basemant. Kakinya mulai berjalan mencari nama parkiran tempat mobilnya berada, yaitu area B4.
Ia melirik mobil berwarna hitam dari perusahaan Jepang, Mitsubishi. Ia berjalan lagi ke arah mobil itu. Terlihat seorang laki-laki tua tengah menghidupkan mesin mobil.
Bram membuka dan memasuki mobilnya. Sudah lega rasanya, semua urusan yang direncanakan sudah terlaksana. Kini, ia bisa menyenderkan kepalanya di kepala kursi.
“Den, kita jadi ke rumah pak Nicolas?” itu adalah pak Aryo. Membuyarkan ketenangan yang baru dirasakannya.
Bram menggeleng, “Gak jadi, Pak.”
“Tapi den, ini pertemuan keluarga. Adenkan udah lama gak ke rumah utama.” Mobil mulai berjalan, dan pak Aryo berusaha membujuk Bram.
“Seperti biasa aja, Pak. Batalkan. Lagian gak akan aneh bagi mereka kalau saya gak datang.” Bram sedikit kesal dengan pak Aryo yang terus-terusan membujuknya.
“Den, Cuma ini satu-satunya kesempatan bagi aden untuk ketemu non Intan. Apa aden gak mau tahu tentang penculikan itu? Non Intan itu susah dilacak, aden pasti tahu itu.” pak Aryo menekan tepat di lukanya.
Ia membuang muka ke samping, sementara pak Aryo terus memandang reaksinya dari kaca spion mobil.
“Orang yang diculik udah gak peduli lagi, Pak. Kenapa saya harus peduli?” Bram mencoba menghentikan pembicaraan mereka.
“Den, seharusnya aden yang paling tahu perasaan non Ziva. Semalam dia baru kehilangan ibunya. Aden pasti mengerti perasaannya kan? Dia sangat tidak berdaya.”
Mata Bram membesar. Dia tidak tahu kenyataan itu. Ia pun tidak bertanya kenapa Ziva ada di rumah sakit tadi.
“Kenapa bapak gak kasih tahu saya?”
“Bapak gak sanggup, Den. Tapi, bapak yakin, aden yang paling bisa mengerti perasaan non Ziva.”
Keduanya terus diam dalam keheningan perjalanan. Bram sungguh tidak tahu bahwa Ziva sedang berduka. Ia kembali teringat, ketika ia merindukan sosok ibunya. Ia merasa sangat kesepian. Seperti itu jugalah perasaan Ziva. Memang benar, ialah yang paling mengerti Ziva.
“Pak! Ayo kita ke rumah papa!”
Pak Aryo tersenyum dan menatap Bram dari kaca spion. Ia menganggukkan kepalanya. “Baik, Den.”
“Tapi sebelum itu, saya mau ke balik lagi ke rumah sakit.”
...***...
Sementara seluruh keluarganya memberikan kesaksian, Sulthan masih terus menunggu di kursi tempat para pelapor. Wajahnya sangat gelisah sudah meninggakan Ziva sendiri di rumah sakit lantaran mobilnya tidak muat untuk semua orang.
Ia menggenggam erat handphone layar sentuhnya, lalu menghidupkannya. Jarinya bergerak lincah dan mencari kontak yang dinamakannya Ziva.
Ia menekan tombol panggil dan menunggu balasan Ziva beberapa saat. Telepon Ziva masuk, namun belum diangkat juga. Hatinya terus gelisah. Sulthan belum tahu perkara handphone Ziva yang tertinggal di gudang itu.
Tak lama berselang, dokter Hadji datang dan menghampirinya. Hanya melihat Sulthan sekilas saja, semua orang pasti berfikir ia sedang diterpa badai yang dahsyat.
Dokter Hadji memegang bahu Sulthan, menatapnya dengan tersenyum.
“Pergilah, Sulthan. Saya tahu apa yang sedang kamu rasakan. Saya bisa menyetir mobil. Kamu pakailah motor saya.” Ia memberikan kunci motornya dan memajukan telapak tangannya, seperti sedang meminta sesuatu.
“Apa?” Tanya Suthan dengan kerutan keningnya.
“Kunci mobilnya mana?” Sulthan tersenyum dan meminta maaf.
Suthan bergegas ke luar ke tempat parkiran, dan tersenyum riang. Tiba-tiba terbesit sesuatu ingatan dipikirannya. Senyumannya kembali terkikis ketika ia menghidupkan motor milik dokter Hadji. “Aku lupa, aku kan gak bisa bawa motor.”
Ternyata itulah masalahnya. Dia tidak bisa mengendarai motor. Ia berdecak, kembali masuk ke dalam kantor polisi, ruangan di mana keluarganya berada.
“Bang! Nih, motornya gak jadi saya pinjam. Terima kasih ya, Bang.” Belum jadi dokter Hadji menjawab, Sulthan sudah lari lagi ke tepian jalan raya.
Ia melambai-lambaikan tangannya ke salah satu taksi yang mulai menepi.
“Rumah sakit jalan Ampera ya, Pak.” Ucap Sulthan setelah membuka pintu dan melompat masuk ke kursi belakang.
...***...
Ziva masih terduduk dan termenung di kursi tunggu itu. Ia butuh hiburan yang akan menarik kembali garis senyuman di bibirnya.
Ia terus mendengar suara tapak sepatu menapakkan diri di lantai rumah sakit sekitar ruang operasi. Namun, ia abaikan. Tetapi, suara tapak itu berhenti di sisinya.
Ziva menoleh ke sebelahnya, ingin memastikan seseorang itu. Sesosok lelaki bertubuh tinggi dan gagah. Berwajah baby face dan wajahnya yang mulus. Ziva menyipitkan matanya, ia belum tanda dengan laki-laki di sampingnya yang masih sedikit ter-engah.
“Jajan?” Tanya Ziva. Ternyata ia mulai pikun. Nama Wajan berubah menjadi ‘jajan’.
“Apa maksudnya, Wajan ya Ziva?” ia tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya.
Ziva sedikit menggeleng. Ia ingin menyadarkan tatapannya yang melayang dalam senyuman Wajan yang ‘sedikit menggoda’.
“Innalillahi wa inaillaihi roji`un. Aku ikut berduka, dengan kepulangan umi ya, Va. Tetap tabah, jangan patah semangat.” Wajan memberikan motivasi itu pada Ziva. Hal yang sangat dibutuhkannya dalam keadaan itu.
Ziva mengangguk. Ia kembali diam dan melamun lagi. Cukup lama, ia membuat Wajan kesepian dalam keramaian.
“Eiy, Vava. Jangan sedih gitu dong!” Wajan mencubit pipi Ziva.
Tentu saja Ziva terkejut. Matanya melotot pada Wajan yang duduk di sampingnya. Ziva berdiri dengan tegas dan penuh amarah.
“Kamu-” ucap Ziva sebelum ucapannya dipotong habis oleh Wajan.
“La tardhob wa lakal jannah. Jangan marah, bagimu surga. Ingat? Film Nusa dan Rara?” potong Wajan.
“Apa?” kali ini kening Ziva mengkerut menatap Wajan.
“Ingat, Vava?” Wajan memajukan wajahnya lebih kurang 10 senti dari wajah Ziva yang sedang berdiri. Ziva semakin mengkaku, matanya tambah melototi Wajan.
Dari balik lorong di kiri dan kanan, ada Sulthan dan Bram yang sedang menangkap penampakan itu. Hati dua remaja yang sedang kasmaran itu pastinya patah dan sedih. Apalagi, Wajan yang mereka anggap saingan itu merupakan saingan yang cukup unggul.
Ziva, yang sangat kasihan itu harus memilih siapa?
...***...