NovelToon NovelToon
Fisherman'S Book

Fisherman'S Book

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:92.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Skyligh

[Minggu,Selasa, Jumat libur].
Novel ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda yang, di usia sepuluh tahun, mengalami tragedi pahit—didorong oleh ibu tirinya hingga terjatuh dari tebing ke laut. Dalam perjuangannya bertahan hidup, ia tanpa sengaja menemukan sebuah buku misterius yang tersembunyi di dasar laut. Saat kesadarannya mulai memudar, buku itu menyatu secara ajaib ke dalam pikirannya, menjadi awal dari takdir luar biasa yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemilik Seutuhnya

Tiga minggu telah berlalu.

Kini, pulau kecil yang dulunya hanya menjadi tempat berteduh bagi seorang nelayan sunyi, telah resmi menjadi milik Alvarez sepenuhnya. Di atas tanah berbatu dan hamparan pasir putih itu, ia menyematkan harapan baru—harapan yang perlahan mulai menjelma nyata. Ia tengah bersiap membangun dermaga kecil di sisi timur pulau, tempat perahu-perahunya kelak akan bersandar dengan tenang. Sementara di tengah pulau, ia berencana mendirikan sebuah rumah mungil dari kayu, tempat ia bisa hidup damai bersama laut dan kenangan.

siang itu, Alvarez berada di rumah seorang pria paruh baya yang sangat ia hormati: Paman Sam. Rumah itu terletak di jantung Desa Mosuh, sebuah bangunan sederhana dari kayu tua dengan aroma kopi hangat yang langsung menyambut dari ambang pintu.

Suasana desa beberapa hari terakhir masih diliputi duka. Kepala desa yang lama telah berpulang karena penyakit yang lama ia derita. Di detik-detik terakhirnya, sang kepala desa menunjuk Paman Sam sebagai penerus. Warga menyambut keputusan itu dengan tulus, karena mereka tahu desa mereka kini berada di tangan yang bijak.

Di ruang tamu yang bersih dan teduh, Alvarez duduk sambil memegang secangkir teh hangat. Di depannya, Paman Sam duduk tenang, tatapannya tajam namun bersahabat.

“Paman,” ucap Alvarez perlahan, “Saya ingin mulai membangun dermaga kecil di pulau itu. Kira-kira Paman bisa bantu carikan beberapa orang dari desa untuk membantuku?”

Paman Sam mengangguk, matanya melirik ke luar jendela sejenak sebelum kembali memandang Alvarez. “Tentu. Aku tahu siapa saja yang bisa kamu andalkan. Anak-anak muda sini juga pasti senang bekerja untuk proyek sepertimu.”

Alvarez tersenyum. Hatinya terasa hangat—bukan hanya karena teh yang ia genggam, tapi juga karena dukungan yang mulai mengelilinginya. Ia tahu, mimpi-mimpinya tak lagi dibangun sendiri.

Keluar dari rumah Paman Sam, angin desa Mosuh menyambutnya lembut. Suara ayam jantan terdengar dari kejauhan. Ia menyelipkan tangan ke saku, mengeluarkan ponselnya, dan sempat menulis pesan untuk Max—namun berubah pikiran. Ia langsung menekan tombol panggil.

Beberapa detik kemudian, sambungan tersambung.

“Halo, Bos!” suara Max terdengar ceria dari seberang, penuh semangat khas anak muda.

“Max, kamu lagi sibuk?”

“Baru pulang sekolah, Bos. Ada apa?”

“Aku butuh bantuanmu. Bisa temuin aku sama ayahmu? Aku mau bicara soal pembangunan rumah di pulau, dan butuh arsitek yang cocok buat proyek ini.”

Max terdiam sebentar, lalu menjawab mantap, “Siap, Bos! Kebetulan Ayah juga nggak sibuk. Nanti sore aku jemput kamu. Soal arsitek, aku tahu satu orang—namanya Pak smith, spesialis rumah kayu ramah lingkungan. Tapi aku tanyain juga ke Ayah, siapa tahu ada yang lebih cocok.”

“Terima kasih, Max. Seperti biasa, kamu bisa diandalkan.”

“Demi pulau kita juga, Bos! Nanti aku kabari lagi.”

Setelah telepon ditutup, Alvarez melangkah ke dermaga. Laut terbentang luas di hadapannya, tenang namun dalam. Ia membayangkan rumah kayu impiannya berdiri di tengah pulau—atap jerami, jendela besar menghadap laut, dan dinding yang membiarkan cahaya masuk lembut setiap pagi.

Ponselnya tiba-tiba berdering. Ia melirik layar—nama Mr. Franky muncul di sana. Alvarez tersenyum tipis.

“Hampir sebulan sejak pengiriman terakhir,” gumamnya. “Akhirnya dia menelepon juga.”

Alvarez menjawab panggilan itu.

“Halo, Mr. Franky.”

“Hahaha! Tuan muda! Apa kabar?” suara di seberang terdengar lebih ramah dari biasanya.

Alvarez mengernyit, heran dalam hati. Ada apa ini? Kenapa Mr. Franky terdengar begitu bersahabat?

“Baik, Mr. Franky. Ada apa ya?”

“Begini, tuan muda. Apakah kamu masih punya persediaan udang dan lobster?”

Alvarez tersenyum. Insting dagangnya langsung menyala. “Masih ada, tapi jumlahnya terbatas. Banyak yang memesannya akhir-akhir ini. Seandainya Anda memberi kabar tiga minggu lalu, saya bisa menyisihkan sebagian. Jujur, saya kira Anda tak tertarik lagi.”

“Ah, maafkan saya. Pasokan sebelumnya baru tiba lima hari lalu, dan ternyata pelanggan saya sangat menyukainya. Katanya kualitas dan rasanya sangat tinggi. Mereka minta saya pesan lagi dalam jumlah besar.”

Alvarez mengangguk perlahan. “Begitu, ya? Tapi karena stok terbatas dan permintaan tinggi, saya tidak bisa berikan harga seperti dulu. Kalau bukan karena hubungan baik kita, saya mungkin tidak akan menjualnya.”

Mr. Franky terdiam sebentar. Lalu, dengan nada penuh pertimbangan, ia berkata, “Saya mengerti. Berapa harganya sekarang?”

“Lobster Boston sebelumnya 17 dolar per kilo. Sekarang jadi 20 dolar. Udang Tiger dari 12 jadi 15 dolar per kilo. Bagaimana?”

Lagi-lagi Mr. Franky berpikir sejenak. Tapi akhirnya, ia menjawab mantap, “Baiklah, saya setuju. Saya ingin 200 kilogram lobster dan 200 kilogram udang. Bisa dikirim hari ini?”

“Bisa. Akan saya siapkan sekarang juga.”

Segera setelah telepon ditutup, Alvarez langsung bergegas mempersiapkan pengiriman. Ia menyiapkan styrofoam, dry ice, dan gel pack, lalu menghubungi Johan.

“paman, bisa bantu antar kiriman ke Kota F malam ini?”

“Siap, langsung ke dermaga,” jawab Johan cepat.

Menjelang pukul empat sore, terlihat Alvarez dan Johan tengah menaikkan kotak terakhir ke atas bak mobil pick-up. Udara mulai sejuk, dan bayangan matahari semakin panjang.

Alvarez menyerahkan uang ongkos kirim kepada Johan, lalu menepuk bahunya.

“Terima kasih, paman. Hati-hati di jalan.”

Johan mengangguk dan menyalakan mesin. Tak lama kemudian, ia melaju meninggalkan dermaga, membawa hasil laut Alvarez menuju Kota F—dan membawa sebagian dari masa depan pulau itu bersamanya.

Beberapa menit setelah Johan menghilang di tikungan jalan yang membentang dari dermaga, suara mesin mobil lain terdengar mendekat. Debu tipis mengepul di udara saat sebuah mobil tua berwarna abu-abu berhenti di depan dermaga. Dari dalam keluar dua sosok yang sudah sangat akrab bagi Alvarez—Max dan Toni.

“Hei, Bos!” teriak Max sambil melambaikan tangan dari balik kaca jendela yang terbuka.

Toni, yang duduk di samping sopir, ikut tersenyum lebar. “Kami datang tepat waktu, kan?”

Alvarez mengangkat tangan membalas lambaian itu, lalu menghampiri mereka. “Pas sekali. Aku baru saja menyelesaikan urusan pengiriman.”

“Wah, sibuk terus ya sekarang,” sahut Max sambil tertawa kecil.

“Kalau begitu, aku harus ke pulau dulu sebentar. Mau mandi dan siap-siap. Kalian tunggu di sini ya, cuma sebentar.” Alvarez menepuk bahu Max dan Toni bergantian sebelum menaiki perahunya yang terikat di sisi dermaga.

Ia menyalakan mesin, dan suara lembut motor tempel itu mengantar kepergiannya melintasi air yang mulai berkilau keemasan tertimpa sinar senja. Max dan Toni duduk di bangku panjang dekat pos jaga dermaga, menunggu sambil mengobrol ringan dan sesekali memandang pulau kecil yang kini berdiri sebagai lambang tekad sahabat mereka.

Beberapa saat kemudian, di tengah pulau, terlihat siluet Alvarez melangkah cepat ke arah gubuknya . Ia menyiapkan air bersih dari tandon, mengganti pakaian, dan menyisir rambutnya seadanya. Dalam benaknya, ini bukan sekadar pertemuan dengan wali kota—ini adalah langkah besar untuk mewujudkan visinya tentang pulau ini. Tempat yang akan menjadi rumah, bisnis, dan warisan.

Air laut yang hangat seakan mengalirkan ketenangan dalam tubuhnya. Setelah membersihkan diri, ia mengenakan baju polo putih dan celana panjang warna hitam. Gaya sederhana, tapi cukup rapi untuk bertemu dengan orang penting.

Setelah memastikan semuanya siap, Alvarez kembali menyebrangi laut kecil itu dengan perahunya. Senja mulai menyelimuti desa Mosuh, cahaya jingga memantul di permukaan air, dan angin laut membawa aroma garam yang akrab.

Setibanya di dermaga, Max berdiri dan memberikan jempol. “Wah, rapi juga. Udah kayak orang kota.”

Alvarez tertawa kecil. “Ya, masa mau ketemu wali kota pakai baju nelayan?”

Mereka bertiga masuk ke mobil, dan mesin dinyalakan. Dengan iringan deru roda yang menggilas kerikil di jalan desa, mobil itu melaju pelan keluar dari Mosuh, menuju pusat kota G—tempat pertemuan penting antara seorang pemuda pulau dan wali kota yang bisa membuka jalan menuju masa depan.

Langit di atas mereka perlahan berubah ungu, menandai malam yang mulai turun, sementara semangat Alvarez justru baru menyala. Hari ini, ia bukan hanya seorang nelayan—ia seorang pembangun. Pemilik pulau. Dan sebentar lagi, mungkin juga seorang pengubah sejarah kecil di pesisir yang damai ini.

1
Urang sunda
luar biasa
Hary
perempuan usia 40tahun lagi enak2nya jangan coba2 bangun gairah birahinya, pasti sangat luar biasa, legit menggigit
Laizajiloh
Hai.. kapan d lanjut ceritanya kak..
Dhewa Shaied
apakah hiatus?
Kinashi Minata
he opo iki?
Kinashi Minata
🤣
Kinashi Minata
🤭
Kinashi Minata
🤭 endi
Kinashi Minata
🤭 opo iki?
Swikong
Mantul👍
Swikong
Lanjutkan........
Swikong
Ayo semuanya semangat💪💪
Swikong
👍👍👍
Swikong
👍
Swikong
Alvarez 👍👍
Swikong
Bos Alvarez👍
Swikong
Ho oh
Swikong
Mengharukan/Cry/
Swikong
Oke
Swikong
Lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!