Zainna Keisha Nugraha, seorang Mahasiswi kampus ternama di Jakarta harus menerima pernikahannya dengan seorang Profesor yang merupakan salah satu dosennya yang berstatus sebagai duda beranak satu. Inna menerima pernikahan ini karena sudah terlanjur sayang pada Putri kecil yang sangat manis dengan nasib yang sama dengannya yaitu ditinggalkan oleh ibu kandungnya. Namun Inna juga harus menelan pahit bahwa suaminya masih sangat mencintai istri pertamanya dan sangat sulit untuk Inna dapat menggantikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desih nurani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Dua
"Kak Jidan?" Inna tidak percaya dengan apa yang laki-laki itu lakukan. Ya, orang yang menariknya adalah Jidan.
" Ada apa Kak?" tanya Inna kesal. Inna menoleh ke arah mobil suaminya dan di sana Samuel sudah berdiri dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kita perlu bicara sebentar." Jidan kembali menarik tangan Inna menjauh dari parkiran.
"Apa sih Kak? Dari tadi Mas El nunggu Nana, Kakak main tarik-tarik aja sih." Kesal Inna. Saat ini Ia takut Samuel salah paham. Padahal hubungan mereka baru saja membaik.
"Kakak tau, tapi ini urgent. Besok Didi ulang tahun, menurut kamu apa hadiah yang cocok buat dia?" tanya Jidan membuat Inna membulatkan matanya.
"Ya ampun kak, cuma mau nanya itu?" Tanya Inna tak habis pikir, ia kira ada sesuatu yang penting. Ya tuhan, ingin sekali rasanya menjitak kepala orang ini.
"Please bantu Kakak kali ini aja." Jidan memohon pada Inna.
Inna memperhatikan wajah lucu Jidan, kemudian ia tertawa karena merasa lucu saat melihat ekspresi cemas Jidan.
"Kok malah ketawa sih?" Tanya Jidan heran.
"Habis kakak lucu, cuma mau tanya hadiah aja setegang itu. Gimana kalau mau lamaran?" Ledek Inna yang berhasil membuat Jidan kesal.
"Nana, Kakak serius." Jidan yang mulai kesal.
Inna pun tergelak. "Ok, ok nanti sore Nana temenin deh cari hadiah. Tapi tunggu deh, bukanya Didi masih di LA?" Tanya Inna penasaran.
"Nanti malam dia terbang Ke Indonesia. Dan satu lagi, Didi akan menetap di Indonesia." Jawab Jidan yang berhasil membuat Inna senang. Sangking senangnya Inna langsung memeluk lelaki itu.
Tanpa Ia sadari dari tadi Samuel memperhatikan mereka. Rahangya mengeras dengan tangan terkepal. Karena kesal, Samuel pun masuk ke dalam mobilnya. Ia benar-benar kesal dengan apa yang dilihatnya barusan. Samuel menekam setir mobilnya dengan erat. Mencoba menahan amarah yang membuncah di dadanya.
Inna yang tersadar pun langsung melerai pelukkannya. "Ya ampun Kak, aku lupa Mas El udah nunggu dari tadi. Aku pulang dulu ya, nanti sore jangan lupa jemput."
Inna langsung berlari ke mobil suaminya. Meninggalkan Jidan yang kini masih mematung.
"Maaf Mas, kelamaan ya?" ucap Inna dengan napas tersengal. Namun tidak ada respon dari Samuel. Inna pun merasa heran, tetapi ia tak terlalu mempermasalahkan itu. Toh suaminya memang seperti itu.
Tanpa aba-aba, Samuel melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Inna sangat terkejut, karena ia belum memasang sabuk pengaman. Dengan cepat Inna langsung memasang sabuk pengaman dan menarik napa panjang. Matanya menatap lurus ke depan dengan sorot takut.
Karena katakutan, Inna melirik Samuel yang sedang pokus menyetir. Lelaki itu sejak tadi terus memasang wajah dingin. Membuat Inna semakin gusar.
"Mas, jangan terlalu kencang. Inna takut," pinta Inna menyentuh lengan suaminya. Dan hal itu berhasil meredam amarah Samuel. Perlahan Samuel mengurangi kecepatan mobilnya. Lalu melirik sang istri yang terlihat menghela napas lega.
Setelah merasa tenang, Inna pun mulai berbicara. "Mas nanti sore Inna minta Izin keluar ya bareng Kak Jidan?"
Tidak ada jawaban apa pun dari Samuel. Dan itu membuat Inna semakin canggung.
"Tidak boleh ya, Mas?" tanya Inna untuk meyakinkan.
"Terserah kamu, tidak perlu meminta izin. Karena aku tidak ingin ikut campur dengan urusan kamu." Jawab Samuel dingin namun penuh arti.
Inna yang mengar itu terdiam sejenak, lalu menghela napas berat.
"Terima kasih," ucap Inna memalingkan wajahnya keluar jendela. Ada perasaan kecewa mendengar jawaban Samuel. Bagaimana pun ia istrinya, seharusnya Samuel sedikit saja peduli. Itu sudah cukup membuat Inna bahagia. Bahkan jika Samuel melarang Inna pergi, Inna akan menurut. Sudahlah, itu tidak akan pernah terjadi. Samuel tetaplah Samuel.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di depan sekolah Elya. Inna langsung turun dari mobil untuk menjemput Elya yang sudah menunggu di gerbang sekolah.
"Hai anak Mama. Lama menunggu ya?" Tanya Inna saat melihat Elya yang sudah memasang wajah kesal.
"Mama kok lama banget sih? Elya dari tadi nunggu tapi Mama gak datang-datang. Padahal tadi Elya mau kenalin Mama sama temen-temen. Tapi Mama lama datangnya." Kesal Elya mengerucutkan bibirnya.
"Wah anak Mama marah ya? Mama minta maaf ya? Tadi Mama ada urusan mendadak, Sayang. Sebagi permintaan maaf Mama, gimana kalau sekarang kita makan es krim?" Jelas Inna. Elya yang tadinya kesal kini berubah menjadi senang.
"Mau Ma... ajak Papa juga ya Ma?" Elya terlihat bersemangat.
Inna pun mengangguk menyetujui permintaannya.
"Yee..." sorak Elya senang.
"Ya sudah, ayok kita ke mobil. Kasian Papa nunggu kita lama." Ajak Inna menggendong Elya. Lalu mereka pun memasuki mobil.
"Papa kita makan es krim ya." Ajak Elya pada Samuel.
Samuel pun lagsung menatap Inna. Begitu pun dengan Inna, ia menatap Samuel dengan raut memohon. Dan itu sangat menggemaskan. Samuel yang melihat itu tersenyum tipis, lalu mengangguk tanda setuju.
"Yee... Elya senang deh bisa makan es krim bareng Mama sama Papa." Seru Elya seraya mencium pipi Inna dan Samuel bergantian. Inna yang melihat Elya begitu senang pun ikut tersenyum. Kemudian mereka pun segara beranjak menuju cafe yang cukup terkenal dengan es krimnya yanh lezat.
***
Sesampainya di cafe, Samuel memilih meja paling sudut yang berhadapan langsung dengan jendela kaca.
"Papa, Elya mau es krim rasa vanilla." Pinta m Elya pada Semuel.
Lalu seorang waiter pun datang menghampiri mereka.
"Mas es krim rasa vanilla satu, Capucino panas satu." Pesan Samuel pada sang waiters.
"Baik Mas, masih ada yang lainnya?"
"Hot green tea satu." Sahut Inna.
"Bai, Mbak. Mohon di tunggu," ucap sang waiters sebelum berlalu pergi.
"Mama Elya mau adik kayak itu." Tunjuk Elya pada salah satu pengunjung yang membawa bayi. Inna yang mendengar itu menelan air ludahnya. Permintaan Elya berhasil membuat jantungnya hampir copot. Dengan perasaan takut, Inna menatap Samuel.
Samuel tersenyum tipis saat melihat wajah istrinya yang merona.
"Nanti Papa sama Mama akan buatkan Elya adik." Sahut Samuel tanpa mengalihkan pandangan dari Inna.
"Mas...." Inna hendak protes, tetapi Samuel lebih dulu memotong ucapannya.
"Tidak ada salahnya bukan kita cobak?"
Inna membulatkan matanya seakan tak percaya dengan perkataan Samuel. Inna menggigit ujung bibirnya, ia benar-benar malu saat ini.
"Kamu mau mencobanya?" Tanya Samuel lagi.
"Mas, ini tempat umum." Bisik Inna merasa malu. Samuel sama sekali tidak peduli, karena ia menyukai rona merah di pipi istrinya.
Lalu tak lama pesanan mereka pun datang.
"Terima kasih." ucap Inna yang di jawab anggukan oleh sang waiter.
"Mama, Elya mau disuapin sama Mama." rangek Elya manja.
"Baik tuan putri." Ucap Inna mengambil es krim milik Elya dan mulai menyuapinya. Dan tentu saja semua itu tak lepas dari pangawasan Samuel. Sampai tak menyadari kedatangan seorang wanita.
"Ya ampun El, gak nyangka kita ketemu disini?"
Samuel maupun Inna langsung menoleh. Dan kini wanita bernama Rayya tengah berdiri tepat di depan mereka.
"Owh sudah jadi keluarga bahagia rupanya?" Tanya Rayya yang langsung duduk disebelah Samuel.
Inna yang melihat itu langsung memberikan tatapan tak suka.
"Apa yang kamu inginkan Rayya?" tanya Samuel dingin.
"Jawaban aku masih sama, El. Aku maunya kamu," jawab Rayya dengan sengaja. Ia melirik Inna dengan tatapan remeh.
Inna sama sekali tidak peduli dengan ucapan wanita itu. Ia memilih untuk pokus menyuapi Elya.
"Tante Rayya ngapain di sini? Tante Rayya mau makan Es krim juga ya?" tanya Elya dengan polos.
"Iya Sayang, tadinya tante mau makan Es krim. Eh malah ketemu yang lebih manis dari pada Es krim. Boleh kan tante gabung di sini?" Sahut Rayya tanpa rasa malu. Bahkan ia berani menyentuh rahang Samuel. Dengan kasar Samuel menepis tangan Rayya. Elya yang melihat itu langsung melemparkan tatapan tidak suka.
"Enggak! Elya gak mau ada pengganggu. Elya cuma mau makan sama Mama dan Papa. Lebih baik tante cari meja lain." Jawab Elya begitu bijak. Inna yang mendengar itu pun tersenyum geli.
Berbeda dengan Rayya, ia terlihat marah dan mengeratkan rahangnya. Bagaimana mungkin ia di permalukan oleh anak enam tahun. Di tambah Elya adalah keponakannya sendiri. Sial! Jika bukan karena El, sudah aku hajar mulutnya. Kesal Rayya.
"Kamu sudah dengar Rayya? Jadi aku mohon tolong tinggalkan kami di sini. Biarkan kami berkumpul layaknya keluarga bahagia." Timpal Samuel yang berhasil membuat Rayya semakin kesal.
"Ok, kali ini aku mengalah. Tapi lain kali... aku akan tetap menggantikan posisinya El. Ingat itu Elya, Sayang." ujar Rayya kembali menyentuh rahang Samuel sebelum pergi meninggalkan keluarga bahagia itu.
Setelah kepergian Rayya, tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Bahkan Inna menutup mulutnya rapat-rapat. Samuel yang merasa jengah pun menarik tangan Inna. Refleks Inna pun menoleh, dan pandangan mereka pun terkunci.
"Mama, Elya mau pipis." rengek Elya mengejutkan keduanya. Inna langsung menarik tangannya dan menatap Elya.
"Iya Sayang, ayok Mama antar. Mas Inna antar Elya ke kamar kecil sebatar." Ujar Inna yang dijawab anggukan oleh Samuel.
"Ayok Mama." Ajak Elya menarik tangan Inna. Lalu mereka pun bergegas menuju toilet.
Selang beberapa menit Inna dan Elya sudah kembali. Inna hendak duduk kembali dikursinya namun tiba-tiba seseorang memanggil namanya. Sontak Inna, Samuel dan Elya pun menoleh.
ceritanya keren,bagus
dan mantap
sukses
semangat
mksh
Ini kata Jidan pada Samuel
"Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"
Tau tidak Jidan itu kekasihnya didi dan di episode 28 dia melamar didi. Ini keistimewaan pebinor di novel2 egois, apapun kelakuannya selalu dibenarkan,
Kenapa novel harus egois dan tidak adil, pelakor dilakanat dibuat hina dan dihancurkan sedangkan pebinor begitu dipuja2, diistimewakan, dispesialkan, apapun salahnya selalu dibenarkan
Simple pertanyaan untuk author
Jika suami atau kekasihmu sangat perhatian dan membela mati matian istri orang lain, dan suami mengatakan seperti Jidan katakan pada samuel, (ini kata Jidan pada samuel "Lepaskan dia kalau lo tdk bisa balas cintanya, karena gue yang akan mencintai dia, biarin dia bahagia, sudah cukup selama ini dia menderita"). Apa kau akan bilang suamiku hebat karena perhatian dan mau merebut istri orang dan mencintai istri orang ituu