"Sepertinya aku jatuh cinta dengan pencuri yang masuk ke rumahku."
-Sandra Ellen-
"Sepertinya aku jatuh cinta dengan pemilik rumah yang barangnya kucuri."
-Senapati-
Suatu hari, Sandra Ellen mendapati rumahnya disusupi pencuri. Seluruh makanan di dapur, isi kulkas dan kue kering di konternya digasak.
Kali pertama, Sandra membiarkannya, ia berpikir si pencuri cukup aneh karena hanya menyasar dapurnya.
Si pencuri datang lagi sebulan kemudian, kali ini Sandra membekali dirinya dengan cctv, pentungan besi dan ponsel.
Lagi-lagi hanya dapurnya yang disasar.
Sandra mencoba memergokinya. Lalu memberikan si pencuri itu sejumlah uang dengan syarat untuk tidak kembali lagi ke rumah Sandra.
Besoknya si pencuri kembali lagi. Kali ini terang-terangan dari pintu depan, tanpa masker yang menutupi wajahnya.
Astaga, tampan sekali!!
Pikir Sandra.
Sena, si Pencuri, berniat untuk memperlihatkan rasa terima kasihnya dengan bekerja untuk Sandra, senilai uang yang kemarin diberikan Sandra padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asal Mula
"Kalian sudah makan?" Tanya Putri dengan mata berbinar.
Sandra mengangguk ceria. Ia sudah tidak memikirkan hal Arman tadi.
Terlebih...
Ia sangat bahagia dengan julukan 'kencan dan pacaran' yang disebutkan Sebastian tadi.
Namun berbeda dengan Sena.
Pria itu memikirkan Sebastian.
Sosok yang berbahaya,
Pikirnya.
Sedikit banyak ia termotivasi dengan Sebastian dan kehidupannya.
Putri yang menyadari perubahan raut muka Sena merasa tergelitik.
"San, kamu temui dulu Mia. Tadi dia sempat cari kamu." sahut Putri sambil mengerling.
Tanda kalau dia ingin berbicara secara privat dengan Sena.
Sandra menatap Putri dengan pandangan bertanya. Namun ia tahu, eyangnya ini tidak dapat diganggu gugat kalau sudah memiliki keinginan.
Dan lagi Sandra sudah banyak belajar, menghadapi tetua yang marah besar, dapat menghancurkan masa depannya semudah menjentikan jari.
Saat itu, yang menghadapi kemarahan Putri adalah Generasi tepat diatas mereka, generasi para cicit.
Setelah seharian Putri bertingkah mengerikan, mengamuk sampai seluruh rumah gempa hebat, tanah satu desa bergetar, akibatnya satu generasi dilanda kemiskinan.
Generasi diatas Sandra, Gerald dan Rama. Para cicit dan menantu-menantu. Termasuk Orang tua Gerald dan Sandra, orang tua Rama, semua bisnis dan perjanjian yang dilakukan gagal, tidak berjalan, atau bangkrut secara misterius.
Kutukan? Bisa jadi.
Karma? Mungkin saja.
Keadaan kacau? Bagaikan menghadapi Armageddon.
Semua menangis.
Akhirnya, karena kehidupan yang tidak jelas dan rasa kasihan menghadapi ke-frustasian orang tua mereka, Sandra, Gerald dan Rama kecil, saat itu usia Sandra seumuran Mia, Gerald sedang menjalani semester terakhir kuliahnya di Jerman rela pulang kembali ke Indonesia, Rama sedikit lebih tua dari Sandra, usia Rama waktu itu sekitar 12 tahun, memberanikan diri pergi ke rumah utama.
Menyusup bagai tikus, melewati berbagai penjagaan.
Rumah utama sangat mengerikan.
Berbagai kejawen berserakan.
Berbagai Makhluk melewati mereka.
Bahkan mereka tidak tahu yang di depan mereka nyata atau fana, manusia atau ghoib, semua campur baur.
Namun mereka bertiga menyatukan tekad untuk membantu orang tua mereka.
mereka tidak gentar, tidak takut.
mereka berpegang teguh satu hal,
Kalau mereka celaka, itu juga karena kehendak Illahi.
Kalau gagal pun, itu juga kehendak Illahi
Dan segala tragedi ini, bukan karena eyang mereka, tapi juga karena izin Illahi.
Saat itulah, sosok yang selalu menyembunyikan diri dari manusia lain, muncul.
Di saat tidak ada orang lain, termasuk orang tua mereka, kakek-nenek mereka, yang mengetahui sosok yang digembar-gemborkan sebagai relik hidup negara,
Mereka bertiga melihatnya!
Dan sungguh sulit dipercaya.
Bahkan Gerald hampir saja naksir padanya! Karena dia pikir Eyangnya itu seumuran dengannya!
Dan sungguh suatu pemandangan absurb! Tidak jelas! dan Gerald bahkan menyebutnya random.
Seperti biasa, saat itu mereka berlari ketakutan karena ada makhluk besar yang berusaha mengejar mereka, kemungkinan mencegah mereka 'mengganggu' eyang.
Dan Gerald menabrak Putri di selasar, yang baru pulang dari... Supermarket.
Dengan tas plastik putih berlogo khas supermarket.
Memakai hijab kekinian dan sepatu DocMart.
dengan gaya bicara cerianya dan mata binar yang ramah.
Membuat hati Gerald berbunga-bunga saat menjabat tangannya.
Itu sebelum Gerald tahu kalau saat dipegangnya, tangan Putri yang kurus itu berkerut, dengan kulit khas nenek-nenek.
"Aku mengulurkan tangan bukan untuk dijabat loh, tapi untuk dicium. Dasar anak muda ngga ada akhlak, mau dikutuk seperti orang tua kalian?!" sahut Putri penuh emosi.
Gerald yang saat itu tertegun, ikut emosi.
"Kalau begitu, bertindaklah sesuai umur dong, ngga harus menipu kami dengan wajah dibuat awet muda begitu! Mana ada nenek-nenek pakai sepatu DocMart jaman sekarang? Edisi itu sudah tidak diproduksi lagi, Eyang!"
Dan lepaslah tawa Putri.
Wanita itu tertawa begitu keras sampai terjungkal dari berdirinya.
Lalu wanita itu memeluk mereka bertiga dan meminta maaf.
Sambil menjelaskan kalau hukuman yang ia berikan ke orang tua mereka adalah buah dari sikap arogan.
Para cicit dan menantu dibutakan oleh harta sehingga menjalani bisnis kotor yang membuat masyarakat sekitar yang berurusan dengan mereka, tersiksa. Bahkan banyak yang bunuh diri saking frustasi dengan hutang bunga tinggi yang dipinjamkan.
Putri merasa tindakan itu akan mencoreng nama keluarga Bagaswirya.
Saat itu Lembaga Keuangan seperti Perusahaan Finance, Perusahaan Asuransi dan Reksa Dana memang sedang booming.
Namun para cicit tidak menjalankan dengan profesional. Semua hanya mengejar cuan. Perusahaan dibuat sedemikian rupa oleh mereka sebagai rentenir terselubung.
Karena itu Putri marah besar.
Ia mulai merancang rencana agar semua bisnis cicitnya bangkrut.
Putri meminta bantuan ke Bataragunadi dan Beaufort untuk eksekusinya.
Kembali ke masa kini,
Itu sebabnya Gerald, Rama dan Sandra akrab dengan Putri.
Karena masa lalu.
Dan sumber dari kekayaan mereka, kesuksesan mereka dalam karier, sebagai imbalan atas rasa persahabatan dan rendah hati mereka.
Jadi, Sandra hanya bisa menyipitkan mata, memperingati Putri supaya tidak macam-macam ke Sena.
Aku baru kenal Sena kurang dari seminggu, jangan aneh-aneh. Aku suka pria ini!
Begitu arti tatapan Sandra ke Putri. Dengan penuh penghayatan ia beri kode ke Putri. Masa dengan kemampuan indigo sehebat itu, Putri tidak bisa membaca makna yang tersirat? sudah pasti bisa kan?!
Lalu akhirnya Sandra mengambil bubur dari tangan Sena, berasal restoran yang tadi mereka pesankan untuk dimakan Mia, dan ia pun melepaskan lengan Sena, yang mana sangat disesalkan oleh Sandra.
Lalu Sandra masuk ke dalam kamar Mia.
*****
"Ngopi dulu yuk di bawah?" Tawar Putri.
Sena yang merasa Putri adalah wanita berbahaya, tidak merasa aman kalau berduaan saja dengannya.
Pria itu tanpa bicara menunjuk deretan kursi ruang tunggu di samping karangan bunga yang menghiasi foyer.
Putri menyeringai dan mengangkat bahunya. Ia memaklumi keadaan itu. Wajar Sena berperilaku begitu, karena laki-laki ini telah banyak mengalami berbagai hal yang diluar batas nalar.
Pun Putri hanya ingin mengajak bicara Sena, sebagai orang asing yang memiliki hubungan spesial dengan canggah kesayangannya.
Namun karena belum pasti akan menikah, Putri merasa rahasia ini adalah hak Sena seorang, sebagai wali dari ketiga anak nya.
"Mau bicara apa?" Tanya Sena sambil duduk bersandar.
Putri duduk di sebelahnya sambil menyilangkan kakinya.
Wangi... Melati? Zaitun? Cendana? Minyak dengan aroma membumi.
Bukan wangi manis seperti Sandra.
Wangi berbeda yang samar.
Wangi khas orang-orang jaman dulu.
Pikir Sena.
Ia teringat wangi sesajen di ruang guru sejarahnya saat SMA, sering menjadi bahan pembicaraan teman-temannya.
"Kalau tidak keberatan, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan." Kata Putri.
Sebenarnya keberatan, tapi aku bisa apa?
Pikir Sena.
Sena memutuskan tidak membalas kalimat Putri, ia hanya diam.
Biar Putri mengambil kesimpulan sendiri.
"Ini... Bukan mengenai hubungan kamu dengan Sandra. Ini mengenai Mia." Kata Putri.
Sena langsung mencurahkan perhatian penuh ke Putri sambil mengernyit.
Apa ada yang aku lewatkan?!
Apa aku terlalu lama pergi tadi?
Pikir Sena.
"Begini, Sena. Saya dikarunia kekuatan yang sedikit lebih special dibanding manusia pada umumnya. Dan itu terdapat di bagian sini." Putri menunjuk area kepalanya dengan gerakan memutar.
"Mata batin, atau populer dengan istilah indera keenam. Saya bisa merasakan suatu itikad jahat ataupun seringkali mendapat penggambaran akan masa depan. Memang tidak harus dipercaya, saya anggap itu suatu pertanda untuk lebih waspada pada sekitar kita." Kata Putri.
Wanita itu menunggu sesaat.
Tidak ada respon dari Sena. Pria itu hanya menatapnya.
"Dan mohon maaf kalau kamu tersinggung. Makanya saya menarik kamu untuk bicara berdua saja." Putri menarik napas dan menghembuskannya.
"Apakah... Mia benar-benar anak kamu? Anak kandung?"
Sena mengernyit.
Kenapa Putri bertanya begitu?
Kurang ajar sekali wanita ini!
Sena diam, dia malas menjawabnya karena dipikirnya, bukankah sudah jelas?!
Lalu ingatan pria itu melayang ke tempo lampau, saat Mia akan dioperasi, saat dokter jaga menanyakan mengenai golongan darah.
Setahu Sena, golongan darah Mia juga B. Karena dulu saat kejadian itu Vou, yang setahu Sena juga bergolongan darah B, mendonorkan darahnya untuk Mia.
Memang prosesnya agak lama, karena katanya menunggu kondisi Vou stabil, terkait kadar hemoglobinnya karena saat itu Vou sedang haid.
Saat itu Sena bermaksud menggantikan Vou agar lebih cepat, namun kata Vou, kadar protein Sena tidak cocok dengan Mia.
Ia juga merasa ganjil mengenai itu.
Tatapan Sena menyiratkan segalanya. Tanpa ada ucapan meluncur dari mulut, Putri bisa menangkap maksud Sena.
"Maaf Sena, memang tidak ada kepentingan bagi saya untuk mencari tahu. Tapi saya peduli akan Mia. Suatu saat dia akan menikah, dan yang akan menikahkannya harus ayah kandungnya kalau masih hidup, dan wali yang ditunjuk pengadilan kalau tidak ada saudara lain sebapak."
"Maksud kamu apa?" terdengar nada tidak suka dalam kalimat Sena. Ia ingin cepat-cepat mengakhiri perbincangan ini.
"Saya dan Rama barusan melakukan penyelidikan atas kasus kamu. Dan yang mendonorkan darah tercatat bukan atas nama Vonny Utomo ataupun Senapati. Tapi atas nama Ronny Utomo"
"Siapa?!"
"Ronny Utomo."
Sena mengernyit. Ia tidak mengerti.
"Sena, " panggil Putri hati-hati. "Golongan Darah Vonny Utomo B. Sama seperti kamu. Sedangkan golongan darah Mia A, sama seperti... Kakeknya."