Karna ini adalah novel pendek jadi babnya gak terlalu panjang ya..
Mengandung cerita 21+
Ayunanda saputri harus terima kalau, mama yang ia cintai harus rela memilih lelaki yang baru saja menikahinya. Lelaki itu bernama Thomas Killer dia adalah sahabat papanya dahulu.
Dengan penuh perjuangan dia hidup sebatang kara, untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Suatu hari dia bekerja di sebuah Bank swasta dan terpaksa menjadi simpanan CEO untuk membalas dendam kepada lelaki yang sekarang menjadi suami mamanya.
Adakah cinta di antara keduanya, simak terus kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjebakan Arya terhadap Lian
Arya membawa Yuna ke apartemen, dia begitu mirka terhadap HideYoshi yang sudah berani berbuat seronoh kepada kekasihnya. Tak henti-hentinya Arya memanggil nama Yuna, karna sudah lama sekali Yuna belum sadarkan diri.
Setelah sampai di apartemen, Arya membaringkan Yuna. Saat ia hendak pergi Yuna berteriak, 'tolong, jangan sakiti saya..' Seketika Arya menepuk pipi Yuna agar segera sadar.
"Sayang kamu sudah aman sekarang, saat ini kamu sudah berada di apartemen." Yuna bergegas membuka matanya, dan melihat sosok Arya yang tersenyum kepadanya. Lalu memeluknya dengan erat.
"Kenapa bisa kedua orang itu berbuat kurang ajar kepadamu sayang?." Arya bertanya sambil mengelus punggunh Yuna, agar Yuna mendapatkan ketenangan.
"Aku nggak tau Ar, tadi asistennya Daichi memintaku agar kita berdiskusi di kamar saja. Karena Tuan HideYoshi sedang sakit." Yuna melepaskan pelukannya dan menceritakan yang sebenarnya kepada Arya.
"Sudah jangan takut, selebihnya itu urusanku. Oiya kenapa kamu bisa datang sendiri ke sana, mana Rendi?."
"Rendi sedang ada keperluan bertemu dengan kekasihnya, sepertinya mereka sedang merencanakan pernikahan Ar." Yuna kembali memeluk Arya.
"Kok Rendi gak cerita kalau dia mau menikah, nanti coba aku tanya sama mama."
"Sayang kamu istirahat ya, biar aku periksa dokumen kamu. Oiya bagaimana cara kerja Rendi, apa dia konsisten dengan pekerjaannya?."
"Rendi orangnya terlalu santai Ar, gak begitu memperhatikan saat klien sedang melakukan persentasi. Sehari-hari dia hanya lebih banyak bengong dan main game di labtob."
"Sudah ku duga akan seperti ini." Arya membanting dokumen yang baru saja di bacanya.
"Ada apa Ar?." dokumen ini telah di manipulasi, makanya mereka bisa berbuat seronoh kepadamu." Yuna langsung menyambar dokumen yang tadi ia bawa dari mejanya sewaktu masih berada di kantor.
"Kenapa bisa begini sih, mana mungkin aku berani menjual tubuhku agar mereka bisa melakukan kecurangan kepada kantor kita?." Yang di katakan oleh Yuna terpikirkan juga oleh Arya, ia langsung menghubunhi Lian agar segera menghadapnya di apartemen Yuna.
"Sayang kenapa harus menyuruh Lian kemari, kamu gak takut kita ketahuan pacaran?."
"Saya berniat akan segera memperistrimu, pasti mama suka."
"Sayang kamu yakin?," Yuna seketika langsung duduk di atas pangkuan Arya. Mereka sedang beradu pandang lalu saling bertukar saliva dan merengkuh kenikmatan bersama, tapi tidak sampai melakukan hubungan intim.
Tak lama Lian sampai di apartemen yang tadi di katakan lewat telpon oleh Arya.
'Ini apartemen siapa, apa Tuan Arya pindah? tapi kenapa Tuan Arya pindah dan kapan?." begitulah kira-kira pemikiran Lian, sambil terus berjalan menuju tempat yang Arya bilang.
Tring....
Suara bel apartemen Yuna berdering, Arya segera bangkit dan membukakan pintu untuk Lian.
"Masuklah!." Arya mempersilahkan Lian masuk dan menutup pintu kamarnya kembali.
"Ada apa Tuan memanggil saya kemari?." Sambil terus memperhatikan keadaan yang sepi, Lian mengira kalau Arya ingin bermain-main dengannya. Bahkan keringat dingin sudah mengaliri tubuhnya. Jantungnya sudah berdegup kencang, lalu ia bangkit mendekati Arya, saat Arya sedang memeriksa dokumen melalui email di labtopnya.
"Tuan kenapa tidak menjawab, apa yang Tuan inginkan dariku?."
"Aku menyukaimu Lian, kamu cantik, menarik, dan sangat sexy. Siapa saja yang melihatmu pasti terpesona dengan tingkahmu."
Lian memunggungi tubuh Arya, lalu memelulnya dari belakang. Membuat Arya marah, tapi hal itu tidak di tunjukkannya.
"Tuan menyukaiku, berarti aku boleh memilikimu sekarang?."
Darah Arya seketika mendidih, ia merasa harga dirinya di injak-injak oleh Lian. Bahkan ia tidak tanggung-tanggung membuka kancing kemejanya agar Arya masuk ke dalam jeratannya.
"Duduklah dulu Lian, jangan berdiri di belakangku nanti kau capek." Arya meraih tangan Lian, lalu mendudukkannya di sebelahnya.
"Oiya kamu mau menemaniku minum?, sudah lama sekali aku tidak minum??."
"Apa pun pasti ku lakukan Arya." Lian mencium pipi Arya dan langsung meraih botol yang di bawa oleh Arya.
'Sepertinya dia audah masuk ke dalam perangkapku' Arya menggunakan cara ini agar Lian bisa berkata jujur saat ia menanyakan hal yang penting kepadanya, saat dalam keadaan mabuk.
Arya minum sedikit saja agar ia tidak ikut mabuk bersama Lian, karna di rasa dia sudah mabuk Arya segera membuka dokumen yang di curigainya.
"Lian katakan apa ini dokumen milik Yuna?." Arya menyerahkan dokumen tersebut kepada Lian.
"Kenapa bisa ada di kamu Ar? ini kan dokumen Ellena yang di titipkan padaku agar di berilan Yuna kepada Tuan Jepang itu." Lian menutup bibirnya saat sadar kalau omongannya tidak terfilter.
"Baiklah, kalo begitu pulanglah aku sudah menyiapkan taxi online di bawah." Arya mengusir Lian dari kamar apartemen.
"Loh bukannya kamu mau mengajakku bersenang -senang hari ini?." Lian kecewa karna Arya menyuruhnya pergi.
"Jangan GR aku sudah mempunyai calon tunangan mana mau aku sama kamu, yang suka di tiduri lelaki lain." Perkataan Arya membuat Lian sakit hati ia merasa patah hati.
Setelah beberapa saat Yuna keluar dari kamar, dan memeluk Arya, dia tau kalau Arya melakukan ini untuk menjebak Lian agar berbicara jujur kepadanya.
Arya seperti tau pertanyaan apa yang akan di tanyakan oleh kekasihnya itu, lalu ia menceritakan apa yang akan di lakukannya apa bila ketahuan siapa dalang ini semua.
"Sayang jangan khawatir besok akan ku urus semuanya, bersabarlah dan beristirahatlah. Aku akan kembali ke kantor mencari pelakunya." Arya mengantar Yuna ke pembaringan, menyelimutinya lalu membantunya untuk tidur sampai dia terlelap.
Entah apa yang membuat Arya begitu mencintainya, mungkin karena ketulusan hati Yunalah yang bisa meluluhkan sifat Arya yang play boy dan tiada kasiahan terhadap pasangannya.
Yuna juga begitu mencintai Arya, walaupun ia tahu bahwa dia lelaki play boy dan tidak bisa setia dengan satu wanita. Yuna yakin kalau dirinya bisa merubah sifat Arya, dengan memberikannya cinta dan kasih sayang.
Bahkan saat mama Arya mengetahui perihal hubungan antara Arya dan Yuna dari Diego, ia tak mempermasalahkannya. Menurut pandangannya Yuna adalah sosok wanita yang baik, berhati lembut dan mampu menjadi wanita tegar saat dirinya harus berjuang untuk hidup sendiri. Di tengah kota yang kejam ini.
Dasar Mak lampir...
ngga bisa lihat orang bahagia.
visualnya thort