"Slebor banget sih jadi orang?" -Delta
"Emang kayak elo? Udah jalan kek Putri Keraton, muka kayak es batu, mana galak lagi. Gak akan ada cewek yang mau sama lo, gue jamin!" -Alpha
Alpha si cewek slebor dengan bentuk super abstrak. Baju berantakan, rambut diikat asal-asalan dan yang paling penting, dia manusia paling kikir sedunia!
Delta dengan sifat batu dan antisosial, tidak ada yang boleh menyentuhnya karena bisa ditebasnya habis-habisan, wajah dingin dengan aura mencekam di sekitarnya membuat semua orang tidak mau berinteraksi cowok itu.
Hingga Alpha membalikkan semuanya.
"Gue bakal buat lo jatuh cinta sama gue! Ingat itu baik-baik!" -Alpha
"Ogah." -Delta
Ngalahin Sang Raja Es? Emang bisa?
Ice Breaker started
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blackblue_re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 | Delta dan Saga
"Lo..."
"Apa?!"
Eh?
Kenapa balasannya ketus banget sih? Padahal gue pengen nanya hal yang penting, tapi udahlah lagian itu semua gak masuk akal juga. Kalaupun gue tanya yang ada dia bakal memasang tampang aneh sambil ngomel gak jelas.
"G-gak jadi, lupain aja." gue memperbaiki posisi meja yang sempat gue gebrak tadi, sengaja biar dramatis dikit elah.
"Oh."
Selama pelajaran Buk Dara masuk, gue mendengus beberapa kali. Ada yang aneh dengan diri gue sendiri, berharap kalau Delta...
Ish, gue apaan sih?!!
"Alpha? Kamu gak dengerin ibu ya?" tegur Buk Dara membuat puluhan pasang mata menilik gue horor.
"Gak."
SHIITTT!!! AJIGILE, MAK!
Sialan banget nih congor gue, kagak pernah makan bangku sekolahan apa asal jeplak-jeplok aja. Gue terkekeh serem merhatikan komuk Buk Dara yang bisa bikin alien sekalipun nangis darah.
Wokeh, siap dibantai gue.
"Alpha... Keluar kamu dari kelas!" bentak Buk Dara naik pitam, wajar sih beliau pun termasuk guru terkiller di sekolahan. Mungkin dia sepupuan sama Al-Valakun.
"I-iya, buk... Serem amat lu," bisik gue pelan.
"KAMU!"
ALAH MAK JUNK! TERCYDUK.
"Delta! Kamu juga keluar dari kelas saya!" teriak Buk Dara naik beberapa oktaf, gue menatap Delta horor yang kayak temen gue lakukan pas gue dicyduk. Cowok itu bangun dari acara bobo gansnya dengan membawa hoodie hitamnya keluar kelas tanpa beban sedikitpun.
"Kamu Alpha, tunggu apa lagi di sana?!"
"Nunggu takjil buk!" gue langsung ngibrit menyadari Buk Dara bersiap memaki dengan ribuan kata-kata mutiara.
Delta ada di depan gue.
"De," panggil gue pelan.
"Delta..."
"DELTA WOI PEKAK!"
"Apaan sih?!!" balas dia marah. "Lo kenapa sih?" sekarang gue ikutan naik darah.
"Pikirin sendiri!"
"HAAA??! MAKSUD LO APAAN? Udah kek anak gadis aja lo!" hardik gue membuat Delta berhenti hingga tubuh gue terpentok punggung tegapnya.
"Sakit, oy!"
"Lo udah tahu... Atau pura-pura gak tahu?" Delta membalikkan badan menatap gue tajam, jarak kami terlalu dekat membuat gue gagal napas.
"Lo bicarain apa sih?!"
Hening.
"Tch, beneran gak ingat."
"Delta, oy jelasin kek kenapa lo marah-marah sama gue?!" sergah gue menarik ujung seragamnya.
"Karena lo ini semua terjadi."
"HA?"
"Dan mulai hari ini, jangan pernah dekat sama gue lagi."
Deg!
Hancur.
Apa sih yang gue harapin dari cowok brengsek kayak dia? Sadar, Alpha!
"Hiks..."
"B-bodo amat... Ngapain gue deket sama lo, HA?! G-gue cuma ngira kita... Bisa jadi temen hiks... Gue cuma berpikir, kalo kita sama! GAK LEBIH!!!"
Saat itu, gue berada di posisi paling hancur. Di mana hati yang gue harapkan bisa luluh malah jadi semakin membatu. Gue kehilangan kata-kata sampai memutuskan buat mundur, menjadi seorang pengecut.
Sekilas, gue memperjelas pandangan gue karena rabun sama air mata. Melihat jelas tampang dingin Delta, rasanya tahu begini lebih baik gue gak pernah ada di hadapan dia.
"Pergi sana."
"I-iya gue pergi!" kesal gue mengelap air mata yang jatuh makin deras, memalukan gak sih?
"Kurang ajar lo De!"
Bruuuk!!!
Kali ini, mata gue terbuka lebar melihat Saga meninju keras rahang Delta.
"Bukannya elo yang kurang ajar, HA?!!" Delta mengamuk sambil mengepalkan jarinya, mendarat tepat di perut Saga. Mereka berkelahi.
"Lo pikir lo siapa, sampe ngusir dia dua kali kayak gitu?!!! LO PUNYA HATI GAK?!"
"Saga, Saga, berhenti oy!" panik gue mencoba melerai, karena koridor sepi selama guru masuk. "Alpha, gue tahu... Lo pasti bakal disakitin lagi sama dia!"
"JADI NGAPAIN LO BERHARAP SAMA COWOK BRENGSEK KAYAK DIA, HAAHH!!!?"
"BUKANNYA DULU LO YANG SELALU NYAKITIN DIA?!"
Gue terkesiap, memegang belakang kepala yang terasa makin nyeri melihat mereka berkelahi. Saga yang terbakar amarah dan Delta yang baru pertama kali ini gue lihat mengamuk. Entah apa yang gue rasakan, kali ini benar-benar remuk.
Apa maksud ucapan Delta dan Saga tadi, gue sama sekali gak ngerti, arrghh!!!
Sudut bibir Delta berdarah sedangkan Saga mimisan, seluruh koridor udah dipenuhi murid yang penasaran karena mereka berkelahi apa lagi mereka pasti berasumsi kalau gue jadi bahan rebutan karena perkelahian mereka.
Kepala sekolah datang, dengan langkah berat beliau mendatangi kami menyuruh kami menyelesaikannya di BK.
Gue menatap Delta lama, tetap sama, masih ada rasa kangen yang membuat hati gue hangat. Dia menatap gue lama, mengerutkan alisnya lalu berpaling muka.
Wajah gue memanas, menahan detak jantung yang makin menjadi sambil mencoba melirik Delta yang sekarang mengarahkan pandangannya ke sebelah kiri. Memalingkan muka.
Kenapa telinganya jadi lebih merah?
"Al..." suara Saga membuat wajah gue mendongak menatap Saga yang lebih tinggi dari gue.
"Apaan?"
"Lo masih mau jadi sahabat gue, 'kan?" tanya dia tiba-tiba membuat gue termasuk Delta terdiam lama.
"Lebih baik lo jauhin dia. Atau gue yang pergi."
Jleb.
Apa-apaan? Sialaaaan!!
"Enggak Ga, kalian berdua kenapa sih? Bilang kek, gue gak ngerti kenapa lo tiba-tiba ngehajar dia," ucap gue menoleh Saga dan Delta bergantian.
Delta, gue gak sanggup kalau disuruh jauh dari dia. Ada rasa kangen yang menggebu membuat gue gak rela kalau dijauhkan dari dia. Setiap hari gue selalu bahagia karena bisa melihat dia duduk di sebelah gue sambil tertidur pulas.
Orangtua Saga dan Delta dipanggil, sedangkan gue hanya disuruh menjelaskan yang terjadi. Gue bersalah. Ayah Delta kelihatan murka, bahkan dari sorot matanya, dia menatap gue penuh hina.
"Gara-gara kamu anak saya kena masalah! Memang dari dulu kamu selalu jadi beban buat dia!" hardiknya kasar, gue meringis sambil menunduk takut.
"Gak usah takut."
Barusan Delta bilang itu ke gue?
Sukses selalu thor
tapi gila keren kak karya mu👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️