Bias Fajar Angkasa
&
Marsya Nanda Pramudita
ORION
Berawal dari sebuah pertengkaran antara seorang ketua geng motor yang bernama Angkasa dengan seorang ratu wacana bernama Marsya. Membuat keduanya saling dekat.
Apakah dihati mereka akan hadir perasaan saling suka ataukah tidak?
Disini juga menceritakan kehidupan suatu club motor di SMA Respati yang benama ORION.
Dengan semboyan mereka yaitu :
Dimana bumi dipijak, disitu kami melangkah.
Jangan lupa vote, like, and komennya ya!
Ini adalah novel kedua yang aku buat.
Semoga kalian suka sama ceritaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Yang Istimewa
...Lo emang beda dari cewek kebanyakan, Sya. Lo itu istimewa, seistimewa tempat lo di hati gue~Angkasa...
..._________________________...
"Yang bener hormatnya. Fokus sama bendera bukan sama yang lain-lain."
"Tidak usah lirik sana sini. Tidak usah banyak ngedumel. Jalanin saja hukuman kalian. Jangan banyakin protes!"
"Makanya saat waktunya jam pelajaran ngikutin, belajar. Bukannya bolos ke luar sekolah ngumpul-ngumpul tidak jelas di warung! Kalian sekolah bukannya belajar malah kelayaban."
Suara tegas nan berwibawa penuh dengan peringatan itu di perdengarkan untuk kumpulan siswa bengal, membuat mereka mendengs kesal. Pasalnya sudah hampir dua jam mereka berdiri di bawah terik matahari yang sedang panas-panasnya sambil menghormat bendera dan tentunya mendapat kalimat-kalimat wejangan dari seorang guru berpakaian olahraga.
Hari ini kumpulan siswa bengal dengan pimpinannya Angkasa ketahuan membolos saat jam pelajaran oleh bu Bunga.
Dan kalian tahu, bu Bunga menggiring para murid bengal tersebut ke hadapan tentara berwujud guru olahraga. Pak Feri. Guru olahraga itu tengah berdiri mengawasi mereka dengan tatapan elangnya sambil memukul-mukulkan tongkat dari bambu pada tangannya.
"Anjir. Pegel bener dah nih kaki. Jongkok bentar gak bakal gempa juga kan?" Munggar celingak-celinguk mencari keberadaan pak Feri. Guru olahraga itu sudah tak nampak batang hidungnya, entah pergi kemana dia.
"Gempa kagak, cuman longsor aja tuh tanah yang lo dudukin, Gar!" ejek Dul.
"Sultan pantun abal-abal. Diem lo. Gak usah nyaut, mulut lo bau bakai tikus!" Munggar mengejek balik Dul.
"Astaghfirulloh, kamu berdosa banget Mas Gar. Hatiku tersakiti ini," Dul memasang raut muka seperti orang teraniaya.
"Najis Dul! Gue jijik liat muka sandal jepit lo!" sahut Angkasa kepada Dul membuat teman-teman yang lainnya tertawa terbahak-bahak.
Dul mengusap-usap dadanya. "Sabar Dul, orang sabar banyak yang minta jadi pacar. Ngalah aja udah, lo gak mau kan pulang tinggal nama gara-gara berhadapan sama kapten biadap macam dia!" Dul melirik Angkasa yang tengah menatap tajam ke arahnya.
"Brisik lo Dul!" ujar Munggar.
Munggar membungkukkan badannya bersiap untuk berjongkok. Namun belum juga ia berhasil seratus persen berjongkok, tiba-tiba sebuah ketukan di kepala datang menghadiahinya.
Tuk
"Berdiri! Saya tidak menyuruh kamu berduri Munggar," Munggar menolrh ke belakang. Menatap pak Feri yang madih anteng memegang tongkat bambu sialannya itu.
Decakan kesal keluar dari bibir Munggar. "Elah kaki saya pegel banget pak. Kejam amat bapak jadi orang. Jongkok bentar gak apa-apa kali pak."
"Gak ada bentar-bentaran. Berdiri!" ucap pak Feri dengan nada tegasnya. "Badan gede kekar gitu gampang lembek cuman gara-gara di suruh berdiri di bawah tiang bendera. Cemen kamu," ejek pak Feri.
"Buhahahaha, luar keker dalem lembek," Dul ikutan mengejek dan di hadiahi tatapan bak ingin menerkam hidup -hidup oleh Munggar. Sedangkan teman-teman yang lainnya menahan tawa mereka agar tidak pecah dan terhindar dari amukan Munggar.
Munggar langsung berdiri dari jongkoknya yang tertunda dengan menampilkan ekspresi kesalnya. Pak Feri benar-benar menyebalkan menurutnya.
Teman-teman yang lain tak terkecuali Angkasa pun di buat kesal oleh guru olahraga berjiwa tentara itu. Bahkan sudah beberapa kali Angkasa menjadi santapan tongkat bambu guru itu di tangan, di kaki dan kepala.
"Makanya lain kali patuhi aturan-aturan yang sekolah buat kalau gak mau kena hukum. Jangan di langgar. Jika jam pelajaran kalian tetap di kelas jangan malah bolos dan kelayaban ke luar sekolah."
Pak Feri!" sebuah panggilan yang cukup nyaring terdengar dari arah belakang. Membuat Angkasa dan teman-temannya menoleh ke arah dumber suara. Ternyata itu adalah Marsya dengan suara nyaringnya yang tengah berdiri bersama dengan Laras di sampingnya di koridor kelas sebelas IPS.
"Kalian tetap hormat bendera. Jangan sampai ada yang jongkok atau duduk-duduk santai!" suruh pak Feri.
"Iya pak," jawab mereka pasrah. Pak Feri berjalan menghampiri Marsya dan Laras. Marsya saat ini mengenakan pakaian olahraga, karena memang hari ini ada jadwal pelajaran olahraga di kelasnya. Namun guru olahraga yang mendapat bagian untuk mengajar mereka sedang tidak masuk, jadi kelas Marsya di minta untuk bertanya kepada pak Feri yang merupakan guru olahraga untuk kelas 12.
"Ada apa Marsya? Laras?" tanya pak Feri pada keduanya.
"Itu pak, kelas kita hari ini ada jam olahraga. Tapi pak Guntur lagi berhalangan hadir, jadi kelas kita kosong pak," ujar Marsya.
"Terus kenapa kalian menghadap saya? Ada perlu apa?" tanya pak Feri.
"Minta tugas pak. Disuruh bu Bunga tadi, katanya dari pada kelasnya kosong. Jadi minta pelajaran sama pak Feri deh," jawab Marsya.
Pak Feri tampak mengangguk. "Baik, suruh teman-teman kelas kamu ke lapangan. Terus kalian pemanasan, jogging keliling lapangan tiga kali. Dan setelah itu kalian bisa bermain bola basket, futsal, atau voli!" suruh pak Feri.
"Siap pak. Makasih."
Pak Feri mengangguk singkat lalu berbalik meninggalkan Marsya dan Laras menuju ke arena penghukuman siswa bengal kembali.
Marsya sempat melirik Angkasa, dan Angkasa pun sempat menatapnya hingga beberapa saat mereka saling pandang. Marsya segera mengalihkan tatapannya sedangkan Angkasa tampak mengangkat sudut bibirnya tersenyum sedikit.
"Sya! Pacar gue kasian banget dijemur gitu kek ikan asin," ujar Laras menatap Munggar yang tengah berdiri sembari hormat bendera. "Mana cuacanya terik banget lagi. Ntar kalo pacar gue kepanasan terus sakit kan kasian."
"Lebay lo ah. Buruan balik ke kelas, ngasih tau teman-teman yang lain buat ke lapangan. Kalo pak Feri ngeliat kita madih di sini. Bisa abis kita ikut kena hukum kek mereka," ujar Marsya menarik tangan Laras agar mengikutinya.
Seluruh siswa-siswi kelas sebelas IPS'2 nampak tengah berdiri berjajar dan berbaris rapi di lapangan, untuk mengikuti pelajaran olahraga.
Marsya berdiri di antara Kiran dan Laras, sedangkan Fina dan Qinan berdiri di depannya.
Terik matahari mulai terasa menyengat kulit Marsya. Cuaca hari ini memang sangat cerah. Tak ada satu awan pun. Langit kini tampak bersih tanpa awan putih. Hembusan angin kecil menyeruak menggerakan helaian rambutnya yang tergerai. Tanpa Marsya sadari, Angkasa yang tengah berdiri di bawah tiang bendera tengah memperhatikannya sedari tadi. Senyuman tipis tercipta di bibirnya menatap Marsya yang tengah bersiap untuk melakukan pemanasan olahraga.
"Ayo-ayo cepat dong. Pemanasan mau mulai nih. Mana seksi olahraga? Buruan ke depan buat bimbing!" ujar Raffa ketua kelas Marsya pada teman-teman lain yang nampak baru datang ke lapangan.
"Baiklah, sebelum pemanasan di mulai, mari kita berdo'a terlebih dahulu sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing," ujar seksi olahraga yang bertugas membimbing pemanasan di barisan depan. "Berdo'a dimulai!"
Semua siswa maupun siswi nampak mengikuti komando yang di berikan oleh seksi olahraga tersebut. Mereka menundukan kepala dengan kedua mata yang terpejam dan mulai merapalkan do'a di dalam hati.
Dan setelah selesai menuntaskan do'anya. Mereka kembali mengangkat kepala mereka dengan tangan yang di usapkan ke wajah sambil mengucap kata 'amin.'
"AYO RENTANGKAN TANGAN KE SAMPING!"
Semuanya nampak kembali mengikuti komando. Mereka merentangkan kedua tangan ke samping. Marsya pun begitu. Ia merentangkan kedua tangannya hingga ujung-ujung jarinya bersentuhan dengan ujung-ujung jari milik Kiran dan Laras.
Pemanasan pun di mulai. Diiringi oleh hitungan angka dari satu sampai dengan angka ke delapan. Menggerakkan setiap anggota tubuh. Seperti kaki, tangan, dan leher.
Cahaya matahari kian terasa semakin panas. Mrmbuat Marsya menyipitkan pandangnya. Dan mengangkat sebelah tangannya di dahi.
"Sekarang kita keliling lapangan 3 putaran. Terus kita berbaris lagi di sini."
Marsya mulai berlari mengelilingi lapangan. Menyusul keempat temannya yang sudah berlari lebih dulu.
Namun, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik rambutnya dari belakang. Dan ketika ia menoleh, ternyata itu adalah Jaka. Cowok itu tersenyum lebar ke arahnya. Membuat ia mendengus kesal dan berniat melayangkan pukulan pada lengan atas cowok menyebalkan tersebut.
"Wleee! Gak kena! Lelet sih lo kek bekicot sawah!" Jaka memeletkan lidahnya mengejek Marsya ketika berhasil menhindari pukulan cewek itu. Dan berlari mendahului kaki Marsya yang menurutnya sangat lamban.
"Kampret lo, Jak!" teriak Marsya.
"Bekicot sawah. Sini kejar gue kalo lo bisa," kata Jaka mengejek.
Marsya mendengus kesal menatap Jaka tang tengah berlari menjauhinya. Ia pun semakin menambah kecepatan laju larinya untuk mengejar Jaka. "Beraninya lo ngejekin ratu Wacana Respati sekaligus muridnya Thanos. Gak tau ya elo, kalo gue mantan atlet lari jarak 100 cm!" teriak Marsya.
"Buahahaha. Lari jarak 100 cm aja bangga lo, Munaroh. Buruan sini kejar gue! Lelet amat sih lo!" Jaka semakin gencar mengejek Marsya.
Akhirnya mereka saling kejar-kejaran sembari melontarkan ejekan-ejekan dan juga kata-kata kasar. Dan itu pun tak luput dari penglihatan Angkasa. Cowok itu nampak geleng-geleng kepala melihat tingkah Marsya yang mengomel-ngomel dan menggerutu kesal sambil mengejar Jaka.
"Lo emang beda dari cewek kebanyakan, Sya. Lo itu istimewa, seistimewa tempat lo di hati gue," gumam Angkasa dengan sudut bibirnya tang mengukir sedikit senyuman.
...√...
Bersambung...
Wajib kasih vote, like, dan komen ya!!!
mulai ada konflik nih,,,, kaya nya bakalan ada baku hantam dan pengorbanan dan air mata nih hahahahahaha,,,
aku pembaca baru nih,,,, baru semalem nemu nya novel ini,,,,,
jadi aku bacanya marathon sampe skrg,,,,, semoga kedepannya ga bikin kecewa dengan menunggu up lama
konflik nya sedang aja jangan yg berat2