NovelToon NovelToon
The Sketchbook

The Sketchbook

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Contest / Asmara / Romansa-Teen school / Gadis baik / Tamat
Popularitas:53.4k
Nilai: 4.2
Nama Author: @l_uci_ous

Vita adalah seorang gadis jenius yang merupakan anak angkat, yang sering
mendapatkan perkataan tidak bersahabat dari ibunya. Pada kelas tiga SMA dia
pindah dari Surabaya ke Jakarta dan bertemu dua laki-laki populer yang
menyukainya. Andra dan Rafka. Andra adalah penerima juara umum selama
bertahun-tahun, dan Rafka adalah siswa tukang bolos yang tak asing bagi Vita.
Kemudian Vita berteman dekat dengan keduanya, terutama dengan Rafka.

Di sekolah, bersama teman-teman barunya ini, Vita akan mengalami
pengalaman terasa begitu
manis. Vita akan bertengkar dengan sepupunya, dibully oleh teman sekelasnya,
tapi tidak ada yang dapat membuat Vita takut atau berhenti berteman dengan
Rafka juga dekat dengan Andra.

Hingga beberapa bulan kemudian Vita bertengkar dengan Rafka
setelah Vita menolak Andra. Namun, pertengkaran itu
tidak bertahan lama, Vita dan Rafka kembali bersahabat. Dan Vita pun pergi ke
London. Meninggalkan Rafka yang khawatir dan Andra yang menanti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

“Lo ngapain, sih, Ra, malam-malam ke sini? Rumah lo ‘kan jauh.”

“Nyari temen buat ngobrol aja.”

“‘Kan bisa ngobrol lewat telepon, kenapa harus ke sini? Bukanya apa-apa, Ra, gue khawatir lo pulangnya nanti. Atau lo nginep di rumah Vita?”

Andra membiarkan Tiara melangkah lebih dahulu darinya. Dari pandangannya, keadaan gadis itu sedikit tak baik. Ia terlihat sedang galau parah. Tingkah Tiara yang datang sendirian ke sini malam-malam begini saja sudah menguatkan dugaannya.

Setelah bertahun-tahun, ini kali pertamanya lagi gadis itu datang ke sini. Andra tak masalah. Ia hanya merasa khawatir jika Tiara nanti pulang sendiri, tidak bermalam di rumah Vita.

“Enggak. Gue gak nginep. Gak usah khawatir, gue tak takut lagi pulang sendiri.”

“Gue gak bilang lo bakalan takut, Ra.”

“Duduk sini aja, sih, Ndra,” pinta Tiara sesampainya di teras. Ia melihat kursi kosong di dekat pintu.

Andra menuruti keinginan Tiara. Selama beberapa waktu mereka berdua hanya terdiam. Sesekali Andra mengerling Tiara. Tapi gadis itu sama sekali tak memberikan respon bahwa dia tahu Andra melakukan itu

“Kok, diem aja, Ra?” ucap Andra. “Katanya ke sini mau nyari teman ngobrol.”

“Eh? Oh, iya.” Tiara linglung.

“Kenapa?”

“Gue laper. Belum makan malam.”

“Ya udah yuk masuk,” ajak Andra. Ia sudah beranjak dari kursi.

“Tapi gue mau mie instan.”

Tanpa banyak bicara, Andra mengangguk. Ia membawa Tiara masuk. Sesampainya di ruang keluarga, di mana orang tua dan adiknya berkumpul, Andra bertanya pada ibunya, “Di dapur ada mie instan ‘kan, Ma?”

Ibunya mengangguk, lalu beralih pada gadis di sisinya yang sudah memasang senyum teramah. “Tiara, ‘kan?”

Tiara mendekat pada orang tua dan adik Andra yang memasang tampang berpikir. “Iya, Tante.” Dan ia menyalami orang-orang yang sudah di kenalnya.

“Lama gak ke sini.”

Tiara hanya tersenyum menanggapi ucapan itu.

“Ayo, Ra,” panggil Andra. Tiara melangkah kembali mendekati Andra, mengikutinya menuju tujuan utama mereka, dapur.

Baru beberapa langkah mereka berpindah, Andra mendengar ayahnya bertanya pada ibunya, “Itu Tiara yang dulu suka makan siang di sini itu, Ma? Sama siapa yang satunya?” dan ibunya menanggapi, “Reina?”

“Iya. Udah gede, ya sekarang,” ayahnya lagi.

“Tiara yang disukain sama Kakak dulu, ya, Ma?” Adik ikut nimbrung, dan Andra penasaran sekali bagaimana ekspresi Tiara kini. Rasanya ada kecanggungan yang tercipta karena ucapan adiknya itu.

“Udah gede, ya, Andien.” Tiara duduk di salah satu kursi meja makan. “Perasaan belum lama waktu terakhir kali gue ke sini.”

“Dua setengah tahun,” Andra menanggapi. Ia sibuk membuka-buka pintu lemari dapur. “Semenjak SMA lo gak pernah dateng ke sini lagi. Kalo Reina masih lumayan sering.”

“Reina suka samu lo tahu, Ndra,” ucap Tiara tiba-tiba.

“Goreng atau rebus?”

“Rebus.”

Ia tahu Reina menyukainya, tapi ia lebih suka untuk pura-pura tidak tahu. Ia sudah berteman dengan gadis itu sejak lama. Dan selama itu, ia jauh lebih senang untuk menjadi temannya saja. Reina hanya menyenangkan untuk menjadi teman, tidak lebih dari itu.

Andra menyalakan kompor dan meletakan panci yang selanjutnya diisinya air. “Gue kira Rafka suka sama Vita,” ucapnya, di sela pekerjaannya. Ucapan itu akan menghilangkan segala niatan Tiara untuk membahas perasaan Reina kepadanya.

“Gue tahu,” balas Tiara tenang. Ia berkata lagi, “Gue mau telornya dua, ya, Ndra.”

Andra nyengir. Malam ini mereka berdua tak akan mengatakan apapun tentang perasaan siapa kepada siapa. Itu membuat Andra merasa lebih baik. Setelah mengatakan dugaannya tentang Rafka tadi, bukan hanya membuat perasaan Tiara jadi tak nyaman, tapi juga dirinya. Walaupun Tiara tak mengatakan padanya bahwa ia masih menyukai Rafka, ia tahu. Dan walau ia tak mengatakan pada Tiara bahwa ia menyukai Vita, ia yakin Tiara tahu. Mereka saling tahu walau tanpa saling memberi tahu.

“Mie jadi!” umum Andra. Dengan hati-hati ia membawa dua mangkuk panas itu ke atas meja, di mana tangan Tiara sudah siap dengan sendok dan garpu.

“Mau timun, gak?” tanyanya, setelah meletakkan mangkuk Tiara dan dirinya sendiri.

Tiara mengangguk.

Mengurungkan niatnya untuk duduk, Andra melangkah mendekati kulkas. Ia mengambil dua buah timun yang di cucinya. Selesai di cuci, ia mengabil pisau dan mengiriskan timun ke mangkuk Tiara dan ke mangkuk miliknya.

“Thanks.”

Dan mereka pun makan dengan tenang diselingi obrolan ringan yang sudah lama sekali tak terjadi.

***

Ini adalah malam yang tenang. Angin malam yang sejuk keluar masuk jendela kamar Vita yang ternganga lebar. Vita sendiri duduk bersandar sembari memeluk kakinya di atas kursi belajar. Ia menatap bunga ungu dari toko langganan Rafka. Teringat ia percakapan saat makan malam tadi:

“...Ayah kamu kerja apa, Raf?” tanya ayahnya, basa-basi di sela kunyahannya.

“Dia udah meninggal,” jawab Rafka enteng.

“Ibu?”

“Dulu dia guru Bahasa Inggris di sekolah saya sama Vita. Tapi Mama juga udah lama meninggal, dari saya masih SD.”

Sebenci itu Rafka pada ayahnya. Ayahnya yang masih sehat walafiat, dikatakannya sudah meninggal dengan begitu entengnya. Tapi Vita tak bisa menyalahkan Rafka yang begitu membenci ayahnya, ia sendiri mungkin juga akan membenci ayahnya jika ayahnya melakukan sesuatu yang dilakukan oleh ayah Rafka.

Bayangkan ayah kandung kalian meninggalkan ibu kalian yang tengah mengadung kalian, apa yang kalian rasakan? Ia sendiri akan membencinya, seperti yang Rafka lakukan.

Tapi mengatakan ayahnya sudah mati padahal belum, menurutnya itu agak keterlaluan. Sebenci-bencinya Rafka, itu agak tak pantas bagi Vita. Ia jadi penasaran, orang seperti apa Adi Anggara itu. Seburuk pemikiran Rafka, kah? Ia juga penasaran, bagaimana ia menanggapi sikap Rafka? Pernahkah ia mencoba memperbaiki hubungannya dengan Rafka?

Ia tak bisa menanyakan semua pertanyaan itu pada Rafka, ia cukup yakin bahwa Rafka tak akan menyukainya. Ia sendiri tak akan suka. Itu terlalu pribadi.

Ponsel Vita yang berada di sebelah pot bergetar dan menyala. Vita mengangkatnya dari meja dan melihat pesan yang masuk.

Rafka: Udah tidur?

Vita: Belum.

Baru saja Vita akan meletakan ponselnya, benda itu kembali bergetar.

Rafka: Kenapa belum tidur?

Vita: Kamu sendiri kenapa belum tidur?

Vita balas bertanya. Ia tetap mempertahankan ponsel di tangannya. Ia kira Rafka akan membalas pesannya. Dan benar saja, lima detik kemudian ada pesan masuk lagi.

Rafka: Aku lagi main PS di rumah Genta sama yang lain.

Ya ampun, jam berapa ini?

Vita melihat jam yang ada di bagian atas ponselnya. 00.13. Besok sekolah dan Rafka masih sibuk bermain. Apa dia tak akan pulang ke rumahnya sendiri?

Vita: Udah malem, Raf, pulang, balas Vita.

Rafka: Aku nginep di sini. Rumah Genta lagi kosong. Kamu kenapa belum tidur?

Vita: Lagi belajar.

Rafka: Rajinnya.

Vita tersenyum. Belajar apanya. Ia sedang memikirkan hidup Rafka. Dan tak mungkin ia berkata sejujurnya.

***

Vita berjalan diapit dua laki-laki yang kadang-kadang bersikap tidak jelas. Rafka dan Genta. Sejak dari gerbang, mereka berdua tak juga membiarkan dirinya melangkah dengan damai menuju kelas. Padahal kelas Genta sudah terlewati, entah apa yang dilakukannya tetap ikut bersama Vita dan Rafka.

“Kenapa gak di pakek hadiah dari aku, Cha?” tanya Rafka tiba-tiba, keningnya mengernyit.

Hadiah apa? Benda sebesar beruang grizly itu? Yang benar saja ia harus menyeretnya ke mana pun ia pergi. Memangnya ia sudah gila. Atau Rafka memang benar-benar sudah gila seperti yang dikatakan Genta kemarin?

“Gue kira hadiah lo segede emak gajah, Raf.” Genta mewakili pemikiran Vita.

“Gak usah sok tahu lo!” Tangan Rafka melayang melewati belakang leher Vita, hingga menghantam kepala Genta.

Genta mengusap bagian kepalanya yang di pukul Rafka, sembari berkata, “Memang bener, kok. Iya ‘kan, Vit?”

Vita mengangguk menyetujui ucapan Genta.

Rafka mengerang. “Makanya, kalo di kasih sesuatu itu di lihat yang teliti dulu, jangan langsung di-taro’ ‘gitu aja.” Kemudian berlalu, meninggalkan Vita dan Genta yang menatap punggungnya tak mengerti.

“Kenapa, sih, dia?” tanya Genta.

Vita mengangkat bahunya. Setelah melakukan itu, sesuatu melintasi benaknya. Ia sadar akan sesuatu.

Genta sudah menyusul Rafka. Dipandanginya dua remaja yang saling memukul kepala di depan sana.

Apa yang di kasih Rafka sebenernya?

Sepulang sekolah, Vita berlari masuk ke kamarnya. Ia melemparkan tasnya ke atas tempat tidur sembarangan. Dengan tergesa ia melepas sepatunya dan mengambil langkah panjang-panjang menuju boneka panda raksasa dari Rafka yang duduk di sudut ruangan.

Vita meneliti sekitar tubuh boneka lembut itu. Ia  mengapai tangan boneka. Diangkatnya lengan pendek berbulu itu setinggi matanya. Ini dia. Sebuah kalung, dengan liontin kristal berbentuk panda. Bukankah ia pernah melihat ini sebelumnya? Beberapa minggu yang lalu, di perpustakaan sekolah. Pada pertemuan pertama kelas tambahannya dengan Rafka. Laki-laki itu menanyakan pendapatnya terhadap benda yang berada di tangannya ini. Ia sama sekali tak terpikir Rafka akan memberikan itu padanya. Ia saja tidak menduga kalau Rafka mengetahui  hari ulang tahunnya.

Perlahan, Vita melepaskan kalung yang melingkari lengan besar si panda. Dengan dua jari, diarahkannya kalung itu ke cahaya yang masuk dari jendela. Untuk inikah Rafka menghabiskan uang sakunya? Ah... ini bagus sekali. Tapi berapa harganya ini?

Di antara langkah-langkahnya menuju cermin, Vita mengenakan kalung yang baru ditemukannya. Tidak terlalu sulit.

Ketika berada di depan cermin, diamatinya lehernya yang tak lagi kosong. Liontinnya yang kecil dan berkilau ketika tertimpa cahaya membuat Vita sangat menyukainya. Benda ini juga tak terlalu mencolok di lehernya.

Bagus. Vita tersenyum. Ia menyentuhkan jarinya pada liontin mungil itu. Tak sengaja terpandang olehnya pantulan arloji yang melingkari pergelangan tangannya di cermin, menunjukan pukul 14.13. Ia harus bergegas. Ia akan pergi ke rumah Tiara, mengantarkan kue ulang tahun yang sengaja disimpannya untuk sepupunya itu.

Vita berpaling dari cermin. Ia membuka pintu lemari dan mengambil dua helai pakaian, lalu menghilang di balik pintu kamar mandi.

Angin berhembus kencang masuk melalui jendela kamar yang terbuka. Detik jam berdetak kencang. Suara deru motor ber-knalpot butut yang biasa, melintasi jalanan di depan. Bunyi keran air menyelinap keluar dari celah bawah pintu. Vita masih belum keluar dari kamar mandi.

Lima belas menit berlalu...

Pintu kamar mandi masih tertutup rapat. Denyut jarum detik makin melambat, seperti akan kehabisan daya. Untuk sekejap, jalanan hening. Suara jarum jam semakin menyerupai decakkan cicak dalam interval teratur.

Akhirnya pintu berderit terbuka. Vita berdiri diambangnya. Wajahnya pucat, anak rambutnya lembap. Ia menaikkan kedua alisnya, dan membuka matanya lebih lebar. Ia berdehem, lalu mengerjap beberapa kali.

***

Orang-orang biasanya selalu punya alasan setiap kali ia berada di suatu tempat. Walau alasan itu lemah, setidaknya mereka punya. Mereka tahu untuk apa mereka ke sana, kenapa mereka datang ke sana. Semakin dekat langkah-langkah mereka ke tujuan, semakin jelas alasan mereka untuk datang. Tapi Rafka, ia sama sekali tak begitu. Berkali-kali kakinya membawanya melintasi jalanan di depan rumah Vita, dan berhenti sejenak memandangi rumah putih itu.

Kenapa ia melakukan itu? Ia tak tahu. Ia cuma selalu menipu dirinya bahwa ia sedang berjalan-jalan santai untuk menunda kepulangannya. Dan jalan ini tak begitu jauh dari rumahnya. Padahal ia cukup yakin itu tidak benar. Ada jalan yang lebih dekat lagi daripada jalan ini ke rumah... itulah.

Rafka melirik jendela yang terbuka di rumah Vita. Ia yakin itu jendela kamar Vita. Berhari-hari, bahkan bermalam-malam jendela itu selalu terbuka begitu. Bila ia jarang membuka jendela kamarnya, Vita malah tak pernah menutupnya.

Saat Rafka hendak memalingkan wajahnya, ia melihat Vita menuruni undakan rendah di teras depan rumahnya. Diurungkannya niat untuk pergi. Ia akan menyapa Vita terlebih dahulu. Kalau Vita bertanya padanya, apa yang dilakukannya di sini, ia akan menjawab... Apa, ya? Ia akan berpura-pura lewat, tapi dari mana?

Itu urusan nantilah.

Rafka menyeberangi jalan, dan langsung berdiri di hadapan Vita yang terkejut melihatnya muncul tiba-tiba. Apa Vita tak melihatnya di seberang jalan tadi?

“Mau ke mana?”

“Kok, kamu di sini, Raf?” Vita balik bertanya.

Rafka berdecak. “Suka-suka aku mau ke mana, di mana. Di sini, di sana.”

Vita mendesis.

“Sinian dikit, Cha,” pinta Rafka yang sudah berdiri di bawah naungan pohon, “panas.”

Dengan enggan, Vita mengikuti Rafka berteduh di bawah pohon. Gadis itu menjinjing kantong plastik di satu tangannya.

“Kamu mau ke mana?”

“‘Suka-suka aku mau ke mana, di man...’”

“Iya, iya,” Rafka menyela Vita. Gadis itu tak mau kalah. Jadi, ia berkata, “Aku dari joging.”

“Siang bolong ‘gini?” Kening Vita mengernyit, sangsi.

“Iya,” Rafka meyakinkan.

Yang benar saja. Rajin sekali ia joging di siang hari secerah ini. Alasannya payah sekali. Anak SD saja lebih baik darinya jika mengarang.

“Pakek seragam sekolah, sambil bawa tas?” Vita melirik tas Rafka.

“Ini lagi tren.”

Vita mendengus. Jelas sekali kenapa gadis itu melakukannya. Rafka sendiri tak percaya dia mengatakan hal itu. Jawabannya semakin ngawur. Pantas saja orang-orang mengatakannya sinting. Baru disadarinya betapa sintingnya ia.

“Kamu mau ke mana?” Rafka bertanya, untuk ketiga kalinya.

“Mau ke rumah Tiara,” Vita akhirnya menjawab, ia mengangkat plastik yang dijinjingnya, “Nganterin kue semalem,” lalu kembali diturunkannya.

Rafka baru menyadari benda itu ada di sana, menggantung indah di leher Vita. Ia senang Vita sudah menemukannya. Kalung itu cocok sekali untuk Vita. Karena memang gadis itu yang memilihnya sendiri.

“Suka, enggak?”

“Eh? Apanya?” Vita memasang wajah tak paham. Kemudian ia melihat arah pandangan Rafka dan seketika itu juga mengerti.

“Bagus,” jawab Vita, tersenyum.

“Suka... enggak...?”

Vita mengangguk pelan. “Suka. Tapi menurutku ini terlalu mahal jadi hadiah ulang tahun buat temen.”

“Enggak, kok. Seribu dapet tiga.”

“Syukurlah.”

Tak tahan Rafka tidak nyengir mendengar tanggapan Vita. Ia kira Vita akan mengatakan sesuatu seperti, ‘serius, Raf’ atau semacamnya. Namun ia senang, Vita tak mengatakan hal semacam itu. Lagi pula, kalung yang diberikannya tidak terlalu mahal. Liontin pandanya ‘kan bukan berlian atau batu berharga atau sejenisnya, itu hanya kristal. Hanya kalung emas putihnya yang bernilai.

“Kamu ke rumah Tiara mau naik apa?”

“Bus. Kamu mau ikut?”

“Mmm... karena kamu maksa banget... enggak deh. Aku mau lanjut joging aja. Bye!” Rafka berlari pergi. Ia melambaikan tangannya saat semakin menjauh.

“Jangan dijual, ya, kalungnya!” teriak Rafka.

Sekali lagi Vita mendesis, tapi ia tersenyum kecil juga akhirnya.

***

1
Ochi_Ara Alleta
aku kira Vita bakalan gak ada gara2 penyakitnya,tapi gak nyangka banget dia gak ada gara2 kecelakaan pasca lolos dari penyakit kronisnya☹️ini drama mengaduk aduk perasaan banget...menguras emosi,menguras air mata di ujung cerita
Ochi_Ara Alleta
ini skenario terburuk yang pernah kamu buat kak....tapi aku tetep like karya kamu.jahat banget lho kak kamu......
Ochi_Ara Alleta
kok jadi drama kayak gini sih kak😭😭😭😭
Ochi_Ara Alleta
kak Vita sedang berjuang dengan penyakitnya,vindhy....
Ochi_Ara Alleta
gak bisa bayangin,seandainya Vita pas udah gak ada tapi mereka pada belum baikan.....bakal semenyesal kayak apa temen2nya😭😭.waktu gak bisa diputar kembali
Ochi_Ara Alleta
berarti ini yang kemarin Vita kasih tau ke rafka ya???
soal rahasia
gak sebuah rahasia cuma selama ini gak ada yang nanya,jadi gak ada yang tau
Ochi_Ara Alleta
nangis kejer we😭😭😭😭😭😭
ternyata Vita anak angkat,pantes Bu Helena ke vita dah kayak ibu tiri
Ochi_Ara Alleta
kak Uci ini pindah lapak berbayar???apa emang udah gak nulis cerita lagi ???
lihat dr profil nya kak Uci banyak cerita gak sampai ending.
padahal bagus banget lho karya2 dari kak Uci ini....pemilihan katanya oke,penataan kosakata-good,sama perbendaharaan katanya tuh banyak,ceritanya tuh jadi kaya karya penulis2 profesional tau gak.berkelas gitu.
wajib dicetak kedalam buku kak....kaya karya2 kak shephinasera bagus2 semua.
sayang ya q baru sekarang nemu karya sebagus ini....telat banget
Ochi_Ara Alleta
next karya ke-2 dr kak Uci yg aq baca❣️❣️❣️
Ochi_Ara Alleta
sad ending😭😭😭
Trusthi Widhi
keren pake bangett😍💝
yul,🙋🍌💥💥💥
ceritanmu kenapa tidak ada oksiginya thor.. bikin aq sesak nafas...
yul,🙋🍌💥💥💥
hik hik hik
MWi
sukaa
MWi
sukaaa
MWi
sukaaaa
MWi
like
Suri Hadassa
Buka Hati sudah mendaratkan jempolnya ❤️❤️❤️

jangan lupa feedbacknya 😊🙏😊

semangat up Thor 💪💪
Ruliyah Yu Yah
makasih thor udah nurutin emak2 kayak kita buat nerusin ceritanya biarpun yg ngasih jempol dikit.cumungut ya thor lupyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
Pitara Lusiana: Thank u udah mau nyempetin baca cerita gak jelas ini
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!