NovelToon NovelToon
Orang Malas? Tidak Saya Adalah Immortal

Orang Malas? Tidak Saya Adalah Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Xianxia / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Pencari Dao Sejati

​"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
​Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
​Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
​Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuh Klan

Puncak Gunung Ming tidak lagi berwarna putih bersih. Kabut salju yang turun kini membawa bau anyir yang pekat, sementara hamparan es di lereng atas mulai retak, menyemburkan uap merah samar dari dalam perut bumi.

​Di sanalah, pusaran keserakahan dari tujuh klan terbesar Kota Luo berkumpul.

​Panji-panji perkasa dari Klan Huang, Zhou, Shang, Lin, Bai, Ji, dan Zhang berkibar di antara badai. Para kultivator dari tujuh faksi ini saling melempar tatapan waspada, bersiap saling tikam demi apa yang mereka kira sebagai 'Warisan Makhluk Abadi'. Namun, ilusi kejayaan itu hancur berantakan ketika tanah di bawah kaki mereka meledak.

​BOOOM!

​Sesosok makhluk raksasa keluar dari celah es. Itu adalah Ular Purba bertubuh kelabu kehijauan, namun yang mengerikan, di bawah sisiknya yang sekeras logam, aliran darah pekat berdenyut layaknya pembuluh darah yang hidup. Makhluk ini adalah mahakarya kuno—sebuah kutukan yang lahir dari sisa kegilaan Leluhur Setan Laut Darah lebih dari tiga juta tahun yang lalu.

​Tiga juta tahun silam, sang Leluhur adalah seorang kultivator puncak Mahayana yang tidak bisa menembus ranah Immortal hanya karena kutukan Akar Spiritual Kelas Rendah. Didorong oleh kegilaan untuk menantang takdir langit, dia membantai jutaan nyawa di seluruh penjuru dunia demi menciptakan sebuah Kolam Darah raksasa. Tujuannya hanya satu: menyaring esensi kehidupan makhluk hidup untuk merekayasa tiruan Akar Spiritual Kelas Atas yang sempurna. Ular purba di depan mereka ini adalah salah satu produk gagal yang bermutasi dari eksperimen gila jutaan tahun lalu tersebut.

​Siapa yang menyangka, wadah baru dari monster mengerikan ini sebenarnya adalah anak dari Nenek tua di gubuk lapuk desa. Tubuh fananya yang ringkih hancur saat menyentuh warisan utama Laut Darah, mengubah wujudnya menjadi monster pemakan manusia.

​"Mundur! Makhluk ini berada di puncak ranah Nascent Soul!" teriak salah satu sesepuh klan.

​Di barisan depan, Zhang Hui—Kepala Klan Zhang yang baru saja menembus ranah Nascent Soul lapisan pertama—membiarkan keserakahan membutakan akal sehatnya. Melihat kabut merah di belakang ular itu yang dia kira sebagai gerbang pusaka, dia meraung egois.

​"Hahaha! Warisan ini milik Klan Zhangku!"

​Zhang Hui melesat, pedang spiritualnya memancarkan cahaya keemasan yang membelah badai. Namun, ular purba itu bahkan tidak berkedip. Dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi ukurannya, ekor raksasa bersisik darah itu mengibas.

​BLAAAR!

​Perisai Qi milik Zhang Hui pecah seperti kaca murah. Dalam satu pukulan telak, tubuh seorang kultivator ranah Nascent Soul itu hancur menjadi serpihan daging dan tulang yang membeku di atas es. Mati seketika akibat kecerobohannya sendiri.

​Melihat seorang penguasa ranah Nascent Soul tewas dalam satu kedipan mata, moralitas bertempur dari klan-klan lain langsung merosot tajam hingga ke titik nadir. Wajah para tetua memucat.

​Hanya Bai Tuo, Kepala Klan Bai yang berada di ranah Nascent Soul senior, yang masih mampu berdiri tegak sambil menahan gemetar di tangan. Sementara lima kepala klan lainnya terpaksa merapatkan barisan, membuang ego mereka untuk membentuk formasi pertahanan darurat.

​Namun, di tengah amukan badai dan hantaman ekor ular yang mematikan, retakan aliansi tujuh klan itu langsung menganga lebar akibat keserakahan mereka sendiri.

​"Lin Tian! Zhou Chenglong! Apa yang kalian lakukan, bangsat?!"

​Raungan penuh amarah itu keluar dari mulut Shang Zi Wei, Kepala Klan Shang. Wajahnya memerah menahan geram, jubah hijaunya sudah robek di beberapa bagian akibat serpihan es tajam. Dengan pedang spiritual yang masih menyala di tangannya, dia melompat mundur dari garis depan dan menudingkan senjatanya langsung ke arah rombongan Klan Lin dan Klan Zhou.

​Saat Klan Shang, Huang, Bai, dan Ji sedang bertaruh nyawa menahan gempuran racun ular raksasa, barisan pasukan Klan Lin dan Klan Zhou justru masih berdiri diam di barisan belakang, menjaga utuh energi Qi mereka sambil terus menonton.

​"Klan Zhang sudah kehilangan kepala klan mereka karena maju bertempur!" Shang Zi Wei meludah ke atas salju, matanya menatap tajam Lin Tian dan Zhou Chenglong bergantian. "Sedangkan kalian berdua... kalian sengaja membiarkan kami menjadi umpan agar bisa merebut isi gua sendirian, bukan?! Sungguh licik!"

​Lin Tian, Kepala Klan Lin, hanya menanggapi tuduhan itu dengan dengusan malas. Dia merapikan jubah bulunya yang mewah, wajahnya tetap tenang tanpa memperlihatkan rasa bersalah sedikit pun.

​"Shang Zi Wei, jaga bicaramu," ucap Lin Tian dengan nada suara yang dingin dan berbobot. "Zhang Hui mati karena kebodohannya yang ceroboh. Jika klanmu ingin meniru langkah bunuh diri itu, silakan saja. Klan Lin tidak akan mengorbankan tetua kami hanya untuk menguji ketebalan kulit seekor monster purba tanpa rencana."

​"Rencana pantatmu!" Zhou Chenglong, Kepala Klan Zhou, ikut menyela dengan senyuman sinis di bibirnya. She menyilangkan dada, berdiri kokoh di samping Lin Tian. "Shang Zi Wei, jika klanmu sudah tidak kuat menahan beban di depan, mundurlah. Biarkan kami yang mengambil alih... setelah monster itu sedikit kelelahan, tentu saja."

​"Kalian—!" Shang Zi Wei hampir saja menebaskan pedangnya ke arah Zhou Chenglong jika saja sebuah hantaman ekor ular tidak kembali menghantam tanah di dekat mereka, memaksa ketiganya melompat menghindar dengan gusar. Cekcok politik itu membuktikan betapa busuknya moralitas para penguasa Kota Luo di hadapan harta karun.

​Di kaki bukit, memanfaatkan kekacauan total yang menelan perhatian seluruh kultivator, sebuah bayangan kecil bergerak dengan senyap.

​Lin Ling, yang baru saja tersadar dari komanya akibat kelelahan fisik, merayap di antara celah-celah batu yang tertutup salju. Tubuhnya masih terasa perih, dan pusaran es di dantiannya masih sangat tidak stabil. Namun, matanya yang hitam legam menatap lurus ke arah puncak gunung yang membara oleh sihir, darah, dan teriakan pertengkaran para kepala klan.

​Bagi orang fana atau kultivator lemah, situasi ini adalah neraka. Tapi bagi Lin Ling, ini adalah kesempatan emas yang tidak akan datang dua kali. Ketika tujuh klan besar sibuk saling curiga dan bertaruh nyawa memperebutkan monster, perhatian mereka terhadap lingkungan sekitar berada di tingkat terendah.

​Saat dia menyelinap melewati batas pertahanan luar klan, pandangan Lin Ling mendadak terkunci pada barisan belakang pasukan Klan Lin—klan kandung yang telah membuang dan menyiksanya.

​Di sana, di bawah perlindungan para pengawal berzirah perak, berdiri pria paruh baya yang baru saja berdebat dengan egois tadi.

​Lin Tian. Ayah kandungnya sendiri.

​Melihat sosok pria yang pernah menatapnya dengan pandangan menjijikkan karena dirinya hanya memiliki akar spiritual kelas rendah, tidak ada ledakan amarah atau air mata di wajah kecil Lin Ling. Dunianya sudah mati sejak dia dibuang. Yang tersisa sekarang hanyalah perhitungan logis yang kejam.

​Lin Ling menarik napas pendek, membiarkan hawa dingin gunung meredam detak jantungnya. Dia memalingkan wajahnya dari rombongan Klan Lin tanpa keraguan sedikit pun. Prioritas utamanya saat ini adalah mencapai puncak, mencari sumber energi yang memicu pusaran es di tubuhnya, dan membiarkan para serigala klan itu saling gigit sampai mati.

​Dengan langkah kaki yang nyaris tanpa suara, bocah berbaju merah tua itu menghilang di balik ketebalan kabut darah, bergerak mendaki menuju takdir baru yang sedang menunggunya di dalam kegelapan gua purba.

1
Boqin Changing
mantap
Alia Chans
keren thor
Arena Breakout1
lanjut
Arena Breakout1
mantap ceritanya lebih enak di baca dan alurnya mulai menari👍👍👍
Pencari Dao Sejati
Sekali lagi saya ingatkan untuk membaca ulang buat yang belum baca
Jiwa Kuno
lanjutttttttttt
yayat
lanjut lah kapan terungksp kebenarn lin ling
Jiwa Kuno
Jangan lama lama upnya
Arena Breakout1
lanjut thorrr
Arena Breakout1
bagus juga
Arena Breakout1
oke 👍
Jiwa Kuno
Cepetin upnya thor bikin penasaran
Wu Xin
up lagii🙏🙏
Wu Xin
lanjutt thorr penasaran
yayat
kapan jd kuatnya lin ling
Pencari Dao Sejati: entar di bab 17-20
total 1 replies
yayat
biasa itu konspirasi untuk mengulingkan pimpinan klan
yayat
ok alus alurnya mudah dipahami moga ga mengecewakan para pecinta fantim
Wu Xin
peakkk/Scream/
Jiwa Kuno
bro~~~~~~
Wu Xin
haha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!