Warning!! bijaklah dalam memilih bacaan.
Anggara hanya ingin terbebas dari belenggu keluarganya. Dia ingin menjalani hidupnya sesuka hati, tanpa aturan apalagi kekangan dari sang ayah yang sangat di bencinya.
Persahabatan dengan Andra membuatnya terjun pada pekerjaan yang yang tak pernah dia bayangkan.
Hingga suatu hari mereka bertemu dengan Maharani, dalam sebuah insiden yang membuat Angga terluka, yang tanpa sadar membuat mereka semakin dekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bestfriend
*
*
Angga menghentikan laju motornya di depan sebuah rumah sederhana. Menatap keadaan sekitar yang masih sepi. Pemuda itu merogoh ponsel di saku jaketnya, masih menunjukkan pukul 6 pagi. Tidak mungkin gadis itu sudah pergi bekerja. Dia pasti masih dirumah.
Pintu depan terlihat terbuka dari dalam. Seorang gadis keluar membawa bungkusan, sepertinya sampah yang kemudian dia letakkan di dalam tong di depan pagar.
Semenit kemudian gadis itu menyadari kehadiran Angga yang berdiam diri di depan sana. Masih diatas motor besarnya.
Maharani tertegun.
Angga memutuskan untuk turun lalu menghampiri gadis itu. Maharani mendongak menatap sosok yang berdiri menjulang dihadapannya.
"Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" Maharani bertanya.
Angga terlihat terdiam. Dia bahkan tak membuka helmnya secara benar. Hanya membuka sedikit kacanya keatas.
"Lu kerja lagi kan? mau pergi sekarang?" Angga malah balik bertanya.
"Aku hari ini ijin masuk siang. Mau pergi." Maharani menjawab.
"Mau kemana?" Angga bertanya lagi.
"Ada urusan."
"Kemana?" Angga terus bertanya.
"Ke kampus."
"Ngapain?" secara refleks Angga membuka helmnya, lalu nampak lah wajah lebam dan sudut bibirnya yang sedikit terluka akibat pukulan Andra semalam.
"Angga, kamu kenapa?" Maharani terhenyak. Menatap wajah pemuda dihadapannya yang begitu kusut. Tampaknya dia tak tidur dengan benar semalam.
Angga baru sadar, dia menggeleng. "Nggak kenapa-kenapa." katanya.
"Kamu berkelahi?" Maharani bertanya.
Angga menggeleng lagi.
"Terus kenapa?"
Dengan tergesa gadis itu menarik tangannya dan membawanya masuk kedalam rumah. Menyuruhnya duduk di sofa kecil yang dia ingat pernah menjadi tempat Maharani mengobati lukannya beberapa minggu yang lalu saat dia terkena pukulan dari orang yang kini diketahuinya sebagai suruhan mantan suaminya Wina.
Angga menurut.
Dengan cepat Maharani berlari ke kamarnya, lalu kembali dengan membawa bungkusan kecil. Dia mengeluarkan satu tube salep.
"Kamu udah cuci muka?" gadis itu bertanya.
Angga menggelengkan kepala.
"Cuci muka dulu sana." dia menunjuk ke arah kamar mandi.
Lagi-lagi Angga menurut. Dia bangkit dan berjalan kedalam kamar mandi kecil di ujung dapur, membasuh mukanya dengan air dingin yang terasa bagai es menyentuh kulit wajahnya. Lalu kembali keruangan dimana tuan rumahnya sedang menunggu.
Angga kembali duduk disofa.
"Kamu keluyuran?" Maharani bertanya sambil menyerahkan handuk kecil yang dia bawa dari kamar. Angga menerimanya lalu mengeringkan wajahnya dengan handuk tersebut.
Maharani dengan cepat membuka tube salep, mengeluarkan isinya lalu mengoleskannya kesudut bibir pemuda itu yang terluka. Dia mengulanginya ke beberapa bagian wajah yang lebam dan sedikit lecet. Rasa dingin kembali menyebar di wajahnya.
Angga menatap wajah polos itu dalam diam. Menikmati setiap detiknya dengan debaran didada yang akhir-akhir ini sering dia rasakan. Pandangan mereka bertemu.
Maharani mengerjap-ngerjapkan matanya. Pipinya mulai merona, dia salah tingkah.
"Kenapa lu?" suara Angga memecah keheningan.
Maharani mengulum bibirnya agak keras.
"Kamu nggak pulang?" gadis itu balik bertanya.
"Nggak." jawab Angga, pendek.
"Keluyuran?"
Angga tak menjawab. Hanya terus menatap wajah lugu didepannya.
"Lu sekarang nggak takut sama gue?" lagi-lagi pemuda itu menjawab dengan sebuah pertanyaan.
Maharani melirik, kemudian menggeleng.
"Kenapa?" tanya nya lagi.
"Karena kita sering ketemu?" Maharani menjawab.
"Gimana Andra?" akhirnya pemuda itu bertanya.
Maharani terdiam setelah selesai mengoleskan salep tersebut diwajah Angga. Dia melirik lagi kearah pemuda itu yang kini jaraknya hanya beberapa jengkal saja. Lalu menarik tangannya turun.
"Nggak gimana-gimana," jawabnya, pelan.
"Kalian nggak jadian?" Angga bertanya lagi.
Maharani menggeleng.
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Lu nggak suka sama dia?"
"Suka. Andra orangnya baik."
"Terus kenapa nggak jadian?" hatinya mulai berdebar-debar lagi. Menerka-nerka apa yang akan diucapkan gadis didepannya ini.
Maharani mendongak, menatap dengan mata bulatnya yang bening. Gadis itu tak yakin dengan hatinya. Tidak terlalu mengerti dengan apa yang tengah dia rasakan. Ada desiran aneh setiap kali dia menatap pemuda dihadapannya ini. Rasa yang belum pernah dia alami sebelumnya. Sesuatu yang dia rasakan sangat indah, dan membuatnya merasa bahagia ketika mengingat pemuda ini.
Menatap wajahnya, menyebut namanya, bahkan dalam bayangannya pun Maharani merasa bahagia ketika mengingat kebersamaannya dengan pemuda ini. Walau hanya sekedar membantunya menata barang di gudang swalayan Vira, atau sekedar makan bersama dalam satu meja. Dia bahkan merasa aman ketika berada didekat pemuda ini, walau hanya berdua.
Kedua pipinya semakin merona.
"Jawab!" suara Angga membuyarkan lamunannya.
"Mm ... itu, ... aku ..."
Tidak mungkin aku bilang kalau aku suka dia kan? rasanya aneh sekali. Kenapa hati ini tidak mendukungku sih? batin Maharani berbicara.
Baru saja gadis itu membuka mulutnya hendak berbicara, suara ponsel Maharani terdengar berdering nyaring, membuat percakapan dua muda mudi ini terjeda.
"Ya Bu?" Maharani menjawab telfon.
"....
"Iya jadi."
" ...
"Iya sebentar lagi Bu."
"...
"Iya Bu." lalu percakapan pun diakhiri.
"Kamu udah sarapan?" tanya nya kemudian kepada Angga, yang dijawab dengan gelengan oleh pemuda itu.
"Mau sarapan? Kebetulan aku juga belum sarapan."
Angga terdiam.
"Kebetulan juga tadi subuh ibu masaknya agak banyak. Kayaknya udah ada feeling bakalan ada yang mampir." Maharani bergurau.
"Masakan ibu?" ucap Angga, bertanya.
Maharani mengangguk.
****
Mereka makan dalam diam. Masing masing berkutat dengan pikirannya sendiri. Maharani sesekali melirik, memperhatikan pemuda dihadapannya yang tengah menikmati sepiring sarapan nasi putih, ikan goreng ditambah sayur capcai buatan ibunya sebelum pergi bekerja tadi subuh.
"Ibu lu kerja dimana? kok perginya subuh amat?" Angga memulai percakapan.
"Di catering, kebetulan seminggu ini lagi ada pesanan nasi box buat pameran di alun-alun. Jadinya pasti perginya subuhan."
Angga mengangguk-anggukkan kepala, lalu kembali pada makanannya. Menikmati tiap suapannya dengan perasaan yang lagi-lagi entah apa dia harus menyebutnya. Karena rasanya sangat menyenangkan. Masakan rumah yang begitu dia rindukan membawa pikirannya kembali pada saat dimana ibunya masih ada.
Namun tiba-tiba tenggorokannya terasa tercekat. Bersamaan dengan rasa sedih yang menyeruak.
Angga meraih gelas disisi tangannya, lalu meneguknya hingga tandas.
"Kenapa?" Maharani yang melihat gelagat aneh pada pemuda itu.
Angga menggeleng, lalu menghabiskan makanannya dengan segera.
"Makanannya enak. Makasih." katanya setelah dia selesai.
Maharani tersenyum, diapun selesai dengan sarapan miliknya, lalu bangkit dan meraih piring milik Angga, menaruhnya pada bak cuci dan membersihkannya dengan cepat.
****
"Angga! aku turun disini aja." Maharani tengah berteriak sambil menepuk bahu Angga yang tengah mengemudikan motornya menuju kampus.
"Kenapa?" Angga balas berteriak.
"Nggak apa-apa. Aku disini aja." teriak Maharani lagi.
"Tanggung, udah deket." Angga melanjutkan laju motornya.
"Nggak! aku turun disini aja." Maharani tetap meminta.
Tak lama, motor tersebut berhenti disebuah halte beberapa puluh meter dari gerbang kampus.
"Lu ribet deh," keluh Angga.
Maharani segera turun dengan susah payah.
"Lu nggak mau datang ke kampus bareng gue? Lu malu?" ucap pemuda itu, tiba-tiba merasa agak kecewa.
Maharani hanya mengulum senyum sambil menggeleng. Lalu berjalan mendahului Angga yang masih tertegun. Namun setelah beberapa langkah gadis itu berhenti lalu berbalik.
"Aku takut kamu yang akan malu kalau kita datang ke kampus sama-sama." katanya, kemudian segera berlari masuk ke sebuah gang yang arahnya menembus ke belakang kampus mereka.
Tubuh Angga menegang, dia tertegun.
Sesaat kemudian pemuda itu kembali menjalankan CBR merahnya memasuki gerbang kampus yang mulai ramai.
*
*
Suasana ruang kelas langsung riuh begitu Angga masuk, beberapa orang melihat wajahnya yang masih lebam tampak berbisik-bisik. Namun pemuda itu tetap melangkahkan kaki panjangnya ke tempat itu.
Angga ragu-ragu untuk menempati kursi disamping sahabatnya yang semalam mengamuk. Pemuda itu mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan untuk mencari tempat kosong. Dia merasa mungkin harus menghindar terlebih dahulu dari Andra agar sahabatnya itu tak terlalu merasa marah lagi kepadanya.
Satu-satunya tempat kosong diruangan itu adalah satu kursi yang terletak sudut belakang. Yang dia ingat pernah ditunjuk Andra sebagai tempat duduk Maharani dulu sebelum gadis itu cuti kuliah.
"Kemana lu?" suara Andra menghentikan langkah Angga yang bermaksud menuju kebelakang. "Duduk sini!" katanya, mendongakkan wajahnya, menatap sahabatnya yang tertegun didepannya.
Dengan ragu, pemuda itu menuruti perintah sahabatnya yang kini berwajah dingin. Rasa segan tiba-tiba menyeruak.
"Lu nggak apa-apa?" Andra bertanya.
"Nggak," jawab Angga, pendek.
Andra menyandarkan punggungnya dikepala kursi, lalu menghela napasnya pelan.
"Sorry, Ga. Gue emosi." katanya tiba-tiba.
Angga menoleh, merasa tak percaya dengan pendengarannya.
Andra pun menoleh kearahnya, menatap wajah sahabatnya itu yang masih agak lebam. Dia mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.
"Lu udah nggak marah sama gue?" Angga menatap uluran tangan sahabatnya itu.
Angga terkekeh sambil menggeleng. "Lu kayak yang baru kenal gue sehari aja."
"Tapi, ..." Angga mengusap tengkuknya sendiri, merasa canggung dengan suasana ini, sekaligus tidak percaya.
"Masa persahabatan kita mesti hancur gara-gara satu cewek doang, kan Nggak lucu. Lagian, dia kan bukan pacar gue. Hak apa gue sama dia? Gue cuma kesel aja." Andra tergelak hingga kepalanya tertarik kebelakang.
"Sialan lu!" Angga menendang pelan kaki Andra yang berada di dekat kakinya.
"Aduh, sakit pea! semalaman kaki gue nyut nyutan nih gara-gara nendangin elu!" Andra mengeluh, sambil mengusap-usap kaki bagian bawahnya yang memang terasa sakit. Tendangannya kepada Angga semalam juga mengakibatkan dirinya kesakitan pula.
"Tangan gue juga, nih agak bengkak." sambungnya, memperlihatkan jari-jarinya yang semalam dipakai meninju tubuh sahabatnya kini terlihat membiru.
"Salah lu sendiri pake ngamuk." Angga mendorong pundak sahabatnya agak keras.
Lalu mereka berdua pun bersalaman sambil terus tertawa seolah tak pernah terjadi hal buruk apapun sebelumnya.
*
*
*
Bersambung ....
Hadeh, ... kirain masih marah?
lega rasanya.. mereka udah pacantel gaess ....🤣🤣🤣
Awas lho like koment sama vote nya jangan lupa!