NovelToon NovelToon
GILA! IDOLA SMA-KU JADI ATASAN YANG GENIT BANGET

GILA! IDOLA SMA-KU JADI ATASAN YANG GENIT BANGET

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Idola sekolah
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Zea pernah diam-diam mencintai Bara, sang kakak kelas di SMA . Namun sebuah kejadian memaksanya pergi, meninggalkan perasaan itu tanpa sempat terungkap.

Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda yaitu Bara sebagai atasan dan Zea sebagai bawahan.

Perasaan lama yang Zea kira telah hilang, ternyata masih tersimpan rapi. Tanpa ia sadari, Bara pun menyimpan hal yang sama selama ini.

Namun waktu telah mengubah banyak hal. Rahasia masa lalu, jarak yang dulu tercipta, dan keadaan sekarang menjadi penghalang yang tak mudah dilewati.

Kini, keduanya harus memilih bertahan dalam diam, atau akhirnya memperjuangkan cinta yang sempat tertinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia beneran Idola sekolah dulu kan?

Suasana di ruangan masih terasa hangat, sisa bara api dari ledakan rasa cemburu tadi belum sepenuhnya hilang.

Zea masih berdiri mematung di hadapan Bara, jantungnya belum juga kembali tenang setelah menerima perlakuan penuh rasa memiliki dari pria itu.

Bara tersenyum puas melihat Zea yang sudah tak berkutik di hadapannya. Ia lalu mengulurkan tangannya ke depan wajah wanita itu.

"HP kamu mana? Serahin sini." ujar Bara dengan nada tegas yang tak bisa dibantah.

Zea mengernyitkan dahi, tampak bingung. Tangannya perlahan merogoh isi tas, lalu menyerahkan gawai itu dengan ragu.

"Buat apa, Tuan? Mau mengecek isi HP saya segala? Jangan ah, itu privasi lho!" tanya Zea, suaranya terdengar was-was.

Bara tidak menjawab sepatah kata pun. Ia langsung duduk kembali di kursi kerjanya, lalu menarik lengan Zea pelan agar berdiri tepat di sampingnya. Dengan gerakan terampil, ia langsung menyalakan layar ponsel itu dengan mudah.

"Privasi apa'an... sekarang kan kita udah 'satu tim'. Saya cuma mau masukin nomor saya, biar kamu bisa hubungi saya kapan saja, dua puluh empat jam tanpa henti." jawab Bara dengan nada santai, seolah hal itu adalah hal yang paling wajar di dunia.

Dengan jari-jarinya yang lincah, Bara langsung menekan tombol-tombol angka dan memasukkan nomor pribadinya ke dalam daftar kontak.

Zea mengintip dari samping, dan seketika matanya membelalak lebar.

"Eh... itu nomor pribadi Tuan?! Bukan nomor kantor?!" seru Zea kaget, tak menyangka sama sekali.

Bara mengangguk santai sambil terus menatap layar.

"Iya dong. Nomor kantor cuma buat urusan pekerjaan. Kalau nomor ini... khusus disiapkan buat kamu saja. Biar kalau kamu kangen atau butuh apa-apa, langsung telepon saya." ujar Bara dengan nada lembut namun penuh makna.

Selesai memasukkan deretan angka, Bara berhenti sejenak di kolom nama kontak. Ia menoleh menatap Zea dengan senyum miring yang terlihat sangat jahil dan penuh rencana.

"Te... terus disimpan namanya apa, Tuan? 'Tuan Bara' kan? Biar tetap sopan dan pantas." kata Zea, bertanya dengan rasa takut-takut dan penasaran.

Bara terkekeh pelan, lalu jemarinya kembali bergerak mengetik dengan cepat di layar.

"Sopan itu memang penting, tapi memberi kesan yang benar itu jauh lebih penting." gumam Bara pelan, hampir tak terdengar.

JLEB!

Tulisan di layar HP itu tampak jelas dan menyala terapa di depan mata Zea:

Suamiku ❤️

Zea langsung berteriak kaget, dan refleks berusaha merebut kembali ponselnya itu.

"HAH?! SUAMIKU APA-APA'AN SIH, TUAN?! GILA YA TUAN INI! CEPAT GANTI NAMA ITU! MALU BANGET TAU!" seru Zea panik setengah mati, wajahnya memerah padam antara marah dan malu luar biasa.

Zea berusaha meraih gawai itu berkali-kali, tapi Bara dengan mudah mengangkat tangannya ke atas tinggi jauh dari jangkauansambil tertawa lepas karena merasa sangat puas.

"Kenapa harus malu?! Kan emang itu kenyataan! Di hati saya, di pikiran saya, dan di masa depan saya, kamu itu calon istri saya! Jadi wajar dong saya simpan namanya begitu!" seru Bara sambil menahan tawa melihat wajah merona wanita itu.

Zea memukul lengan Bara pelan berkali-kali, kesal bercampur malu yang tak bisa ia sembunyikan.

"MAU DISEBUT CALON APA'AN JUGA! KAN BELUM ADA LAMARAN ATAU APA-APA! TUAN SUKA SENDIRI AJA ITU! UBAH SEKARANG JUGA!" desis Zea dengan nada tinggi.

Bara menggeleng kepala dengan mantap, lalu menurunkan tangannya dan mengembalikan HP itu ke tangan Zea namun dengan cepat, ia langsung menggenggam tangan wanita itu erat-erat, menahannya agar tak pergi.

"Nggak mau. Udah tersimpan permanen, nggak bisa dihapus atau diganti. Dan dengerin baik-baik ya, Zea... Mulai sekarang kalau saya telepon, wajib diangkat. Kalau saya kirim pesan, wajib dibalas secepatnya. Karena yang menelepon atau kirim pesan bukan lagi Bos kamu... tapi 'SUAMI' kamu." ujar Bara tegas dan sangat serius, tak ada nada bercanda sedikit pun.

Ia mendekatkan wajahnya hingga sangat dekat, lalu berbisik dengan nada menggoda yang berat.

"Siap kan, Sayang?"

Zea hanya bisa menunduk dalam, memeluk HP-nya erat-erat di dada. Senyum bahagia tak tertahankan mengembang di bibirnya, meski mulutnya masih tetap manyun pura-pura kesal.

"Astaga... Orang ini bener-bener mau bikin gue gila nih ya! Save nama 'Suamiku' segala... Padahal gue aja belum siap mental nerima semua ini!" gumam Zea dalam hatinya yang kacau tapi berbunga-bunga.

 

Sore harinya, jam kerja sudah usai. Biasanya di jam-jam begini Zea pasti disuruh lembur atau ditahan-tahan oleh Bosnya yang suka menjahili orang, tapi hari ini rasanya berbeda sekali.

Bara terlihat sibuk membereskan dokumen-dokumen penting ke dalam tas kerjanya, wajahnya tampak sedikit lebih serius dan terburu-buru dari biasanya.

Zea yang sudah rapi dengan tas tergantung di bahu, menatap bosnya itu dengan tatapan bingung sekaligus rasa lega yang besar.

"Tuan... Kalau tidak ada pekerjaan yang mendesak, boleh tidak saya izin pulang tepat waktu hari ini? Soalnya ada sedikit keperluan penting di rumah." ujar Zea pelan, memberanikan diri mengajukan permintaan.

Bara berhenti bergerak sejenak, lalu menoleh dan menatap Zea dengan senyum tipis yang hangat.

"Boleh banget. Hari ini kamu tidak perlu lembur sama sekali. Kamu boleh pulang sekarang juga." jawab Bara dengan nada santai dan lembut.

Mata Zea langsung berbinar terang, senyum lebar mengembang di bibirnya tanpa sadar.

"BENERAN?! Wah, makasih banyak ya, Tuan! Rasanya bahagia banget bisa pulang pagi begini!" seru Zea antusias, suaranya terdengar sangat gembira.

Namun senyum cerah itu langsung pudar perlahan saat melihat Bara sudah berdiri tegap dan kembali mengenakan jas kerjanya dengan rapi.

"Tapi sayangnya, saya harus pergi duluan. Ada pertemuan penting di luar kota yang harus saya selesaikan sendiri malam ini. Jadi kamu pulang sendiri ya, hati-hati di jalan." lanjut Bara menegaskan dengan nada sedikit berat.

Zea mengangguk mengerti, meski ada rasa kecewa kecil menyelinap di hatinya karena tak bisa diantar pulang seperti yang ia harapkan.

"Oh gitu ya... Oke, Tuan. Hati-hati juga di jalan, semoga segala urusannya berjalan lancar ya." ujar Zea sopan, berusaha menutupi kekecewaannya.

 

PESAN TERAKHIR SEBELUM PERGI

Bara berjalan menuju pintu ruangan, tapi tiba-tiba ia berbalik badan dan kembali berjalan mendekati Zea yang masih berdiri diam di dekat meja kerja.

Jantung Zea kembali berdegup kencang, entah karena apa.

"Tapi ingat satu hal ya... Meskipun saya nggak ada di sini, pengawasan saya tetap berjalan. Jangan kelamaan main atau keluyuran nanti malam. Langsung pulang ke rumah dan istirahat." ujar Bara sambil menyandarkan satu tangannya di kusen pintu, menatap Zea dengan tatapan lembut namun penuh perintah.

Zea mendecakkan lidah kesal, geram tapi senang diperhatikan.

"Iya, iya! Tuan ini emang nggak ada capeknya ngatur hidup orang ya! Saya kan sudah gede, sudah dewasa lho!" desis Zea sambil memutar bola matanya malas.

Bara tersenyum miring, lalu ia menunjuk tepat ke arah tas Zea tempat HP itu disimpan.

"Dan yang paling penting... Kalau saya telepon atau kirim pesan nanti malam, wajib diangkat dan dibalas secepatnya. Ingat baik-baik siapa nama kontak yang ada di HP kamu itu..." ujar Bara dengan nada yang menggodanya.

Ia mendekatkan wajahnya sedikit lagi, berbisik pelan sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.

"Jangan sampai 'Suamiku' nelpon berkali-kali tapi nggak diangkat lho, Sayang... Nanti saya bisa marah besar dan langsung balik lagi ke sini cuma buat jemput kamu pulang." lanjut Bara dengan nada mengancam tapi penuh kasih.

DEG!

Wajah Zea langsung memerah padam sampai ke telinga. Ia buru-buru memeluk tasnya erat-erat di dada, seolah itu bisa menyembunyikan rasa malunya.

"Iya-iya, Tuan! Saya janji bakal angkat!" seru Zea tak berdaya.

Bara tertawa renyah mendengar jawaban itu, lalu akhirnya membuka pintu ruangan lebar-lebar.

"Baguslah. Sampai ketemu besok pagi, Sayang!" ujar Bara terakhir kali, sebelum melangkah keluar dan menutup pintu pelan-pelan.

Pintu tertutup rapat. Zea berdiri sendirian di ruangan luas itu dengan wajah yang tak bisa disembunyikan tersenyum senang-senang sendiri.

"Aduhh please Zea... kenapa rasanya jadi begini sih? Dia beneran Kak Bara idola masa SMA gue kan? Apa ini nyata, atau gue yang lagi berhalusinasi aja? Ahhh... pokoknya jangan sampai gue terjebak perasaan ini, kali aja dia cuma sekadar mau menguji gue doang..." gumam Zea pada dirinya sendiri, berusaha menenangkan hati yang makin berantakan karena cinta.

1
paijo londo
aduuuh zea kamu bikin bara gregetan campur penasaran tuh🤦🤦🤭🤭🤭
paijo londo
lucu ya kalo malu malah g mau ketemu🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!