Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.
Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."
Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.
Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.
Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.
Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 NGETUNG DINA
Hari ke-1.
Kami berlima balik ke kota. Bawa taring Asu Kober. Gue yg nyimpen, gue selipin di ikat pinggang. Dinginnya tembus sampe tulang.
Sinta... beda. Sejak ritual semalem, mata kanannya tetap merah. Tidak bisa balik putih. Tapi dia tidak kesakitan. Katanya, “adem”.
“Kayak ada yg nemenin,” katanya. “Lestari sama Asu Kober. Mereka jaga.”
Hari ke-5.
Teror mulai.
Jam 3 pagi, HP gue bunyi. Notifikasi kalender.
“Pengingat: Purnama. 18 hari lagi.”
Dibawahnya ada countdown. Angka merah.
18
Besoknya, 17. Besoknya lagi, 16.
Ardi ngitungin.
Hari ke-10.
Rendi mimpi. Dia cerita pagi-pagi, muka pucat.
“Gue mimpi jadi anjing, Min. Lari di hutan. Terus gue ngejar... gue ngejar Sinta. Mau gigit. Bangun-bangun, gigi gue sakit semua.”
Racun Asu Kober masih ada sisa. Di alam bawah sadar.
Hari ke-15.
Giliran Dina. Dia nemu surat di bawah pintu kos. Kertas coklat, bau menyan.
Isinya tulisan Jawa.
“Sing nancepke, sing nanggung. Getihmu bakal nyampur karo getih e Lonceng.”
Yg nusuk, yg nanggung. Darahmu bakal nyampur sama darah Lonceng.
Itu anceman buat gue. Kalau gue nusuk Sinta, gue ikut ketali kutukan.
Gue remuk suratnya. Bakar.
Hari ke-18.
Tinggal 5 hari lagi.
Sinta ngajak kumpul di rumah gue. Malem-malem.
Dia bawa buku. Buku tulis lusuh. “Diary Lestari,” katanya. “Tadi sore, taring Asu Kober panas. Terus buku ini... tiba-tiba ada di tas gue.”
Kami baca bareng.
Isi diary Lestari: Dia dipaksa Kuncen dulu buat mukul lonceng. Kalau nolak, adiknya yg dibunuh. Lestari milih mukul. Jadi dia mati, adiknya hidup. Adiknya... namanya Laras.
“Laras...” bisik Paklik Joyo lewat telfon. “Laras iku... mbahku. Mbah buyut wedok. Berarti...”
Berarti Lestari itu mbah buyutnya Paklik Joyo. Dan Lestari itu... nenek moyang Sinta.
Sinta adalah keturunan Lestari. Darah Lonceng.
Pantes Sinta yg jadi Lonceng baru. Darah manggil darah.
Sinta nutup diary. Senyum. Senyum pasrah.
“Pantes aku yg dipilih. Utang leluhur.”
Hari ke-22.
Besok purnama.
Kami berlima kumpul di rumah Paklik Joyo di kota. Bukan di Desa Larangan. Ritualnya harus di tempat netral.
Paklik Joyo udah siapin semua. Lingkaran garam. Kemenyan. Obor 4 penjuru.
Di tengah, Sinta duduk. Pake kebaya putih lagi. Rambut diurai. Mata merahnya nyala pelan di tempat gelap.
Di depannya, gue berdiri. Pegang taring Asu Kober.
Taring itu sekarang panas. Tidak dingin lagi. Kayak nunggu darah.
“Janji ya,” bisik Sinta. Air mata darah netes. “Kalau aku lahir lagi... 10 tahun lagi... cari aku.”
Gue angguk. Tenggorokan ketutup. “Janji. Namamu bakal Sinta lagi. Gue bakal cari.”
Rendi, Bayu, Dina, Fajar pada nangis. Tidak ada suara. Cuma air mata.
Jam 11.50 malem.
Tinggal 10 menit lagi ke jam 12. Purnama puncak.
Angin mati. Suara jangkrik mati.
Tung...
Dari jauh. Dari arah Desa Larangan. Suara kenong. Sekali.
Ardi dateng. Nunggu.
Paklik Joyo ngomong pelan. Mantranya. Bahasa Jawa Kuno. Nyuruh roh Asu Kober masuk ke taring. Nyuruh Lestari ikhlas.
Taring di tangan gue... bergetar.
Sinta buka kancing kebaya bagian dada. Nunjukin kulitnya. Di atas jantung, ada tanda lahir. Bentuknya... lonceng kecil.
“Neng kene, Min,” bisiknya. “Tusuk neng kene. Seng jero. Ojo ragu. Nek ragu... aku pecah. Dadi Lonceng selamanya.”
Jam 11.59.
Gue angkat taring itu tinggi-tinggi.
Sinta merem. Senyum.
“Nggo Lestari. Nggo Laras. Nggo Mbak Dewi. Nggo Ardi. Utange lunas.”
Jam 12.00.
TUNG!!!
Kenong bunyi kenceng sekali dari jauh.
Bersamaan itu...