Berdua, saudara kandung!!!
Indah, gadis mandiri dengan disiplin yang tinggi membuatnya lebih sering sendiri, dingin dan tak banyak bicara. Pecinta warna biru. Wanita terlalu cengeng dan lebih banyak menggunakan perasaan daripada logika dalam memutuskan dan berbuat sesuatu. Untuk itu dia lebih suka bermain dengan laki - laki daripada teman perempuannya, kecuali cewek yang sepemikiran dengannya.
Ibnu, Pria tampan yang tak mau menyakiti perasaan wanita karena tak ingin adik perempuannya tersakiti.
Indah dan Ibnu terpisah sejak Indah dilahirkan ke dunia.
Konflik batin terjadi saat Indah mengetahui tentang jati dirinya dan berakhir saat ia sadar bahwa dirinya membutuhkan saudara laki - laki dan Indah memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Norma Indah Susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rehab Selesai
Senyum ceria terkembang dari bibir mungil Indah secerah sinar mentari pagi.
Indah berangkat ke sekolah diantar Pak Ahmad. Hari ini, Pak Sukardi hadir di sekolah yang ditempati Indah, karena memang ada Jadwal pelajaran Olah Raga di kelas VI.
Jam pertama, Pak Sukardi memerintahkan pada siswa kelas VI untuk mengganti seragam sekolah dengan pakaian Olah raga.
Indah langsung membuka seragam Pramuka yang Ia pakai karena baju Olahraganya telah di pakai di dalam baju seragamnya.
Setelah berganti pakaian, Indah keluar kelas. Tak hanya Siswa kelas VI yang menggunakan pakaian olah raga dan berbaris di halaman, tetapi juga siswa kelas IV dan V. Mereka telah diperintahkan oleh Pak Sukardi untuk membawa baju Olah raga karena hari ini Siswa kelas IV, V dan VI akan mengembalikan barang - barang yang ada di Madrasah Al - Islah ke Sekolah Dasar R-1
Setelah diberi pengarahan oleh Pak Sukardi, semua siswa mulai memindahkan barang - barang sekolah.
Indah membawa tumpukan buku yang menjadi bagiannya untuk dibawa ke sekolah.
Keluar dari gerbang madrasah, Pak Ahmad lewat dengan becaknya. Melihat Indah sedang membawa banyak buku, Pak Ahmad menghentikan becaknya.
"Indah, ayo naik becak bapak!" Pak Ahmad menawarkan jasa untuk mengantar Indah ke Sekolahnya.
Indah naik ke becak Pak Ahmad bersama Ika dan buku yang dibawanya. "Pak Ahmad, itu Nurika sama Redy!" Indah menunjuk ke arah teman - teman 1 becaknya yang sudah berjalan lebih dulu dari pada Indah.
Pak Ahmad kembali memberhentikan becaknya untuk menaikkan Nurika dan Redy yang juga langganannya.
Mereka berempat diantar Pak Ahmad ke Sekolah R-1. Beberapa teman sekelas menitipkan buku yang mereka bawa ke becak Pak Ahmad, Sedangkan mereka lebih memilih jalan kaki.
***
Hanya butuh waktu dua minggu untuk merehab sekolah. Akhirnya siswa kelas empat, lima dan enam kembali belajar di sekolah mereka.
Hari Senin saat menyampaikan amanatnya, Kepala Sekolah memperkenalkan Guru baru di sekolah Indah. Wahyudi nama guru tersebut. Dia seorang guru baru yang akan mengajar komputer di sekolah R-1. Pelajaran komputer hanya dikhususkan untuk siswa kelas VI.
Indah sangat menyukai pelajaran Komputer. Dengan sedikit penjelasan dan Praktek dari Pak Yudi, Indah langsung paham dan mampu mengoperasikan komputer dengan baik.
Karena sisa waktu yang akan ditempuh oleh Siswa kelas VI tinggal sebentar, maka Kepala Sekolah akan mengadakan Les Komputer yang akan dilaksanakan setiap hari Minggu pagi jam 07:30 sampai selesai.
Di rumah~~~
Indah terbiasa mencuci pakaiannya sendiri sejak kelas V.
Sehubungan dengan jadwal les komputer yang sudah ditentukan oleh Kepala Sekolah, maka Indah memilih mencuci pakaian dan seragam sekolahnya pada hari Sabtu sepulang sekolah.
Malam hari, di saat pulang dari Musholla Winda mengajak Indah jalan - jalan ke sekitar Monumen yang ada di kota mereka. Indah mengiyakan ajakan Winda.
Setelah menyimpan Mukenah dan Al - Quran, Indah pamit pada Ayah dan Ibu untuk pergi bersama Winda dan teman - teman yang lain.
Ayah dan ibu mengijinkan Indah pergi karena malam ini adalah malam Minggu. Indah berlalu pergi dan tak lupa mengucapkan salam.
Indah dan teman - teman sebayanya berkumpul di rumah Winda. Ketika akan berangkat ke tempat tujuan, tiba - tiba Pak Yusuf menghampiri Indah untuk memberikan uang saku pada anak perempuannya itu.
"Sayang, ini uang jajan mu!" Sambil memberikan sejumlah uang pada Indah.
"Jangan lupa belikan juga teman - temanmu ya!" Pak Yusuf berpesan pada Indah agar berbagi dengan teman - temannya.
Indah pergi bersama teman - temannya dengan riang dan penuh canda tawa diantara mereka.
Sampai di monumen, Indah meminta Musta agar membeli beberapa camilan dan air mineral di toko terdekat. Dengan senang hati, Musta berangkat menuju toko terdekat bersama Habib. Sementara Indah dan teman - teman yang lain duduk di atas hamparan rumput yang bersih dan hijau. Mereka bertukar cerita tentang pengalaman mereka selama seminggu terakhir. Indah lebih banyak menjadi pendengar diantara teman - temannya karena dia berbeda sekolah dengan mereka.
Bercerita pun Indah percuma karena teman - temannya tidak mengenal teman sekolah Indah. Beberapa menit kemudian Musta dan Habib datang membawa camilan dan beberapa botol air mineral yang mereka beli menggunakan uang pemberian Indah.
"Indah.....!" Tiba - tiba terdengar suara seorang yang sudah tidak asing lagi di telinga Indah.
Ternyata benar dugaan Indah, Ika datang dan berlari kecil kearah nya.
Indah memperkenalkan Ika pada teman - temannya dan mengajak Ika untuk bergabung. Ika memperkenalkan diri dan menyalami teman - teman Indah satu per satu.
"Tapi maaf ya, Indah aku tidak bisa bergabung dengan kalian karena aku pergi bersama kakakku yang sekarang sedang membeli makanan diujung jalan itu!" Ika mengarahkan jari telunjuknya ke tempat sang kakak membeli makanan.
"Ya tidak apa - apa, kamu duduklah disini sampai kakakmu datang kemari menjemputmu!"
Tak lama kemudian, terlihat Fauzi kakak dari Ika datang membawa makanan dan mengajak Ika pulang.
Jam delapan tiga puluh atau tepatnya jam setengah sembilan malam, Indah mengajak teman - temannya pulang. Namun mereka tidak langsung pulang. Mereka memilih duduk di halaman rumah Habib dengan beralaskan tikar yang di gelar oleh Pak Dayat, Ayah Habib. Mereka terbiasa begitu setiap malam Minggu. Ngobrol bersama di halaman rumah, dengan atau tanpa camilan.
Ayah Habib menggelar tikar agar anak - anak di kampung tidak bermain terlalu jauh saat jam malam tiba. Satu per satu dari mereka pamit pulang. Kecuali Musta anak Pak Surya yang masih duduk bersama Indah, Habib dan Winda.
Tepat pukul sepuluh malam, Pak Surya datang bersamaan dengan datangnya Pak Yusuf ke rumah Pak Dayat. Mereka menyuruh anak - anak untuk pulang karena hai sudah malam.
Tinggallah para Ayah yang menggantikan tempat duduk anak - anaknya. Tak hanya tempat duduk mereka yang diambil alih oleh para Ayah, camilan yang mereka beli pun diambil alih oleh sang ayah.
Melihat Pak Surya, Pak Yusuf dan Pak Dayat berkumpul di sana, beberapa laki - laki seusia merekapun ikut bergabung termasuk Pak RT.
Para orang tua laki - laki menyukai cara Pak Dayat menyediakan tempat untuk anak - anak di kampung mereka.
Meski tidak pernah mengatakannya, Pak Dayat punya maksud baik dengan caranya itu. Dia ingin anak - anak (termasuk Winda dan Habib anaknya sendiri) duduk di halaman rumahnya saat jam malam tiba. Sehingga para orang tua dengan mudah mengetahui keberadaan anak - anaknya dan mencari sang anak ke tempat Pak Dayat.
Para bapak berkumpul di halaman rumah Pak Dayat layaknya orang yang sedang ronda, padahal mereka berkumpul secara tidak sengaja. Perkumpulan itu berakhir saat jam menunjukkan pukul dua belas malam. Sebelum pulang, Pak Yusuf membantu Pak Dayat menggulung tikar.
Monumen👇