NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gosip

Pagi-pagi sekali Hana sedang membereskan tempat tidur, pagi ini ia tak pergi bekerja karena weekend, ia akan pergi bertemu dengan Salsa yang baru pulang dari 'tugas'nya.

Bunyi bel terdengar, Hana yakin itu bukan Luca, sebab pria itu akan langsung membuka pintu menggunakan password.

Ia melihat lewat layar kecil yang menampilkan area luar, di sana terlihat Helen yang berdiri dan terus memencet bel. Hana diam tak membuka pintu sesuai dengan permintaan Luca.

Tak lama Helen menerima telepon lalu pergi. Hana menghela napas, setidaknya perintah Luca membuat Hana terhindar dari makian perempuan garang itu.

Bercermin untuk memastikan penampilannya sudah pas, Hana mengambil tas dan keluar apartemen menuju lift yang akan membawanya turun ke lantai bawah.

Di lantai 3 ia bertemu Nolan yang terkejut melihatnya.

"Holla, Hana. Kita bertemu lagi." Senyum terkembang di bibir Nolan, pria tersebut tak segan untuk menempeli Hana layaknya lalat.

"Tolong singkirkan tangan anda dari bahu saya."

"Kenapa? Lebih baik begini, kau tahu di sini tempat para hidung belang, aku mencoba melindungimu."

"Dan anda salah satunya."

"Ya, terserah kau saja."

Hana menyingkirkan dengan kasar tangan Nolan yang tak sopan merangkul di bahunya.

"Tolong jaga batasan anda, tuan."

"Kenapa? Aku juga pernah memeluk dan mencium bibir ranummu itu." Ucapan Nolan yang terkesan meremehkan Hana membuatnya geram.

Pintu lift terbuka, Hana segera pergi meninggalkan Nolan yang mencoba mengejarnya.

Ia mempercepat langkahnya sesekali menoleh ke belakang. Nolan berusaha memanggil Hana agar perempuan itu berhenti.

Namun sialnya, Hana menabrak seseorang hingga tubuhnya hampir terjatuh jika tak dipegang oleh orang tersebut.

Satu tangan Hana refleks memegang kerah baju pria itu. Ia membuka mata perlahan dan menatap pria yang menopang tubuhnya.

Kedua matanya melebar ketika menyadari

"T-tuan?!"

Hana segera melepaskan diri dan mencoba berdiri, ia menunduk ketika tahu bahwa Luca-lah pria yang ditabraknya.

"Maaf tuan, saya tak sengaja."

"Apa yang membuatmu berj-"

"Hana!" Luca dan Hana sontak melihat ke arah sumber suara, Hana dengan sigap bersembunyi di belakang tubuh Luca.

"Apa dia mengganggumu?"

"Iya, tuan."

"Siapa kau?" Tanya Luca ketika Nolan tiba di depannya, pria bermanik hijau itu melihat ke arah Hana yang bersembunyi di belakang Luca.

"Aku berurusan dengannya. Kau menyingkirlah."

"Dia milikku, jangan menganggunya."

"Apa? Hana, keluarlah. Aku hanya ingin mengobrol denganmu."

Cengkraman Hana pada mantel Luca membuat majikannya bergerak.

"Dia tak mau. Pergi kau." Luca memberikan perintah pada orang suruhannya lewat kedipan mata. Sekejap Nolan dibawa pergi paksa.

"Hei, apa-apaan kalian! Lepaskan aku!"

"Hana! Hei! Lepaskan!"

"Hana! Urusan kita belum selesai!"

Luca menatap tajam ke arah Hana, gadis itu langsung menunduk.

"Kau berutang penjelasan padaku." Luca berlalu masuk ke lift meninggalkan Hana yang diam.

"Dasar mesum. Urusan apanya, selain mantan majikan." Gerutu Hana memandang sebal Nolan yang dihajar oleh suruhan Luca.

Waktu makan siang Hana kembali ke apartemen, di sana sudah berdiri Luca yang seperti menunggu kedatangannya.

Langkah kakinya perlahan menghampiri pria tampan tersebut sembari menenangkan degub jantung yang tiba-tiba berdebar kencang.

"Tuan, apa anda belum makan siang?" Luca melipat kedua tangan kekarnya di dada dengan tatapan tajam. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kaos dan celana pendek.

"Sudah, kau bagaimana?"

"Saya baru saja makan siang bersama sahabat saya, tuan."

"Bagus. Sekarang, kau jelaskan padaku tentang pria bajingan tadi."

"Dia hanya membual, tuan. Saya sudah menghindarinya."

Hana hati-hati menatap ke arah majikannya.

"Aku tak ingin lagi mendapat laporan tentang kelakuanmu yang menggoda lelaki."

"Saya tidak begitu, tuan."

"Sekali lagi, kau akan terkena hukuman."

Luca berbalik menaiki tangga menuju kamarnya, dibanding kesal, Hana menatap sendu punggung lebar pria tersebut, Luca mungkin sedang sedih karena gosip tentang tunangannya, pikirnya.

Ia memiliki ide untuk membuat camilan manis agar perasaan majikannya lebih baik. Dirinya merasa kasihan dengan berita yang ia dengar kemarin tentang tunangan Luca.

Hana mengetuk pelan pintu kamar Luca, terdengar sahutan dari dalam, lalu ia membuka pintu dengan membawa makanan yang baru selesai ia hidangkan. Dengan pelan ia melangkah menuju balkon dimana pria tersebut sedang duduk.

"Saya membuat bubur manis untuk menemani tuan."

Hana meletakkan mangkuk yang mengepulkan asap di atas meja yang berada di sisi Luca. Pria itu diam menatap ke pemandangan gedung-gedung tinggi di depan balkon kamarnya.

"Menurutmu, hidup ini indah?" Ucapan itu keluar dari bibir Luca. Matanya memandang kosong. Hal itu membuat Hana yakin, majikannya sedang terpuruk dengan berita yang beredar.

"Ya, tuan. Akan indah bagi orang-orang yang bersyukur." Hana berdiri di sisi Luca yang duduk di sofa single.

"Kau mensyukuri hidupmu, Hana?"

"Ya, tuan."

"Kau mempunyai hutang yang cukup besar. Dan itu bukan ulahmu."

"Setidaknya saya jauh dari orang yang berulah. Saya anggap itu sebagai balas budi sperma yang dia titipkan pada rahim ibu saya."

Luca tersenyum kecil mendengar penuturan Hana yang terdengar sedikit menggelikan di telinganya.

"Kau merindukan ibumu?"

Hana mengangguk.

"Ya. Setiap malam saya berdoa agar hidup saya lebih baik dari kemarin. Saya ingin Ibu saya bahagia melihat hidup saya tanpa dirinya."

"Usiamu masih muda."

"Ya, tuan."

"Mungkin gadis seusiamu akan memilih menikah dari pada banting tulang membayar hutang."

"Bagi saya, menikah adalah tujuan terakhir saya."

"Jika kau menikah denganku, itu bukan tujuan terakhirmu. Kau bisa menggunakan hartaku sebagai jembatan mewujudkan mimpimu."

"Itu terdengar menggiurkan, namun saya menolaknya."

"Kenapa kau begitu enggan menikah denganku?"

"Haruskah saya mengatakannya?"

"Aku harus mendengar jelas alasanmu."

"Anda sudah bertunangan, dan alasan lainnya."

"Sebelum aku bertunangan, aku sudah menawarkannya padamu."

"Itu ada alasan lain."

"Apa?"

"Saya tidak ingin terikat hubungan dengan seseorang yang bisa menghambat saya berkembang."

"Aku tak akan melakukannya."

"Saya tidak yakin."

"Kau meremehkanku."

"Orang yang menikah pasti ingin memiliki keturunan."

"Benar. Tapi itu tidak akan menghambatmu, setelah kau melahirkan kau bisa mengepakkan sayapmu. Anak-anak kita akan di urus oleh pengasuh." Luca terkejut ketika mengucapkan "anak-anak kita" itu membuat perasaannya bahagia.

"Terlebih perbedaan latar belakang kita, tuan. Itu sangat mustahil."

"Tak ada yang mustahil bagiku."

"Maaf, saya lancang membicarakan ini dengan tunangan seseorang. Mohon anggap saja anda tak pernah mendengarnya. Saya permisi."

Hana segera berlalu ke luar dari kamar Luca, ia menepuk mulutnya yang sudah lancang berbicara secara intim dengan pria bertunangan.

"Dasar keras kepala." Gumam Luca sembari meniup bubur yang dibawakan oleh Hana.

Saat makan siang, Luca bertemu dengan Helen dan kakeknya untuk membahas tentang berita yang menyebabkan beberapa investor ragu untuk terus menanamkan modal pada proyek yang sedang dibangun.

Helen dengan keras menyangkal tuduhan tersebut, ia mengatakan itu hanya rekan kerja yang kebetulan selesai melakukan pemotretan di salah satu hotel, dan hal itu digunakan oleh seseorang untuk mendapat keuntungan yang menyebabkan masalah pada dua perusahaan.

Tuan Madelaine sangat menyayangi cucu perempuannya berusaha untuk membasmi berita yang sempat mengacaukan pekerjaan mereka.

Luca hanya diam menerima, kali ini biarlah ia bertindak sebagai korban. Ia ingin melihat bagaimana usaha perusahaan Madelaine bekerja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!