NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ke taman hiburan

Sore itu langit ibu kota masih berwarna keemasan.

Matahari belum sepenuhnya tenggelam ketika pintu penthouse terbuka pelan.

Mireya melangkah masuk dengan tubuh yang terasa jauh lebih berat dari biasanya.

Padahal hari ini seharusnya menjadi hari yang membahagiakan.

Ia lolos.

Bukan sekadar lolos.

Ia langsung dipilih untuk memerankan Aurelia, selir ke-11.

Peran yang bahkan mulai membuat penulis novel aslinya tertarik. Dan penulisnya bahkan membuat perlakuan khusus untuk menerima nya langsung.

Namun entah kenapa, kata-kata Luna masih seperti duri kecil yang menempel di kepalanya.

“Kamu cuma beruntung.”

“Karakter seperti itu saja bangga?”

Saat dirinya memilih untuk menjadi karakter yang terpinggirkan itu.

Mireya menghempaskan tubuhnya ke sofa.

Tatapannya kosong ke arah langit-langit.

Rumah yang dulu terasa dingin kini sudah lebih hangat, dengan lampu kuning lembut dan beberapa dekorasi yang ia pilih sendiri.

Tapi hatinya tetap kusut.

“Ah… nyebelin banget.”

Ia memeluk bantal, mengerucutkan bibir.

Tidak lama kemudian, suara pintu utama kembali terbuka.

Mireya langsung menoleh.

Langkah kaki yang tenang dan teratur terdengar dari arah foyer .

Sosok tinggi dengan jas hitam masuk sambil membawa sebuah kotak kecil.

Mireya berkedip.

“Eh?”

Ia langsung duduk tegak.

“Lho… kok kamu udah pulang?”

Di luar, langit bahkan masih terang.

Jam kerja bahkan belum benar-benar selesai.

Zevran mengangkat alis tipis, lalu berjalan mendekat.

Kotak kecil itu diletakkan di atas meja.

“Perusahaannya punya aku.”

Nada suaranya datar seperti biasa.

“Kalau aku mau pulang cepat, memangnya kenapa?”

Mireya melongo sesaat.

Iya juga sih.

Bos besar ya bebas.

Zevran melirik wajah Mireya lebih teliti.

Tatapannya sedikit berhenti di ekspresi lesu perempuan itu.

“Kudengar kamu lolos.”

Mireya mengangguk kecil.

“Iya…”

“Dan?”

“Dan apa…”

“Kamu kelihatan seperti habis kalah perang.”

Mireya langsung manyun.

Ia memeluk bantal lebih erat.

“Ketemu Luna.”

Hening sejenak.

Tatapan Zevran sedikit berubah.

Bukan marah.

Lebih seperti… oh, pantesan.

“Begitu.”

Ia membuka kotak kecil tadi.

Aroma manis langsung menyebar.

Kue stroberi cantik dengan lapisan krim lembut.

Mata Mireya langsung sedikit berbinar.

“Untukku?”

Zevran mengangguk singkat.

“Kata Rhea kamu sedang bad mood.”

“Jadi kamu pulang cepat cuma buat ngasih aku kue?”

“Tidak.”

Ia merapikan manset kemejanya.

“Aku juga mau mengajakmu keluar.”

Mireya terdiam.

“Hah?”

Zevran menatapnya datar.

“Ayo jalan-jalan.”

“Sekarang?”

“Masih sore.”

“Tapi… kerjaan mu?”

Zevran menatapnya seolah pertanyaan itu lucu.

“Bukannya tadi sudah kubilang?”

Ia sedikit menunduk, sudut bibirnya hampir seperti senyum tipis.

> “Perusahaannya punya aku.”

“Terserah aku.”

Mireya menatapnya beberapa detik, lalu tanpa sadar tertawa kecil.

Mood buruknya seperti sedikit retak.

“Ke mana?”

“Terserah.”

Zevran mengambil kunci mobilnya.

“Kamu yang baru menang hari ini.”

“Jadi hari ini aku yang ditraktir?”

Tanya Mireya.

“Kapan aku pernah menagih?”

Balas Zevran santai.

Mireya akhirnya berdiri dari sofa.

Perasaannya yang tadi kusut perlahan terasa lebih ringan.

Mungkin benar.

Ia tidak seharusnya membiarkan kata-kata Luna merusak hari pentingnya.

Karena hari ini—

kariernya benar-benar dimulai.

Dan tanpa sadar, seseorang sudah diam-diam pulang lebih cepat hanya untuk memastikan ia tidak menghabiskan sore dengan wajah murung.

...****************...

Langit sore mulai berubah jingga saat mobil Zevran meluncur meninggalkan gedung apartemen.

Mireya duduk di kursi samping, masih sesekali melirik laki-laki di sebelahnya.

Sampai sekarang dia masih agak tidak percaya.

Bos besar itu benar-benar pulang cepat hanya untuk membawanya keluar.

Tidak ada tablet kerja.

Tidak ada terminal pribadi dengan berkas hologram yang menganggu penampilan nya.

Tidak ada tumpukan dokumen.

Hari ini benar-benar hanya untuk dirinya.

Perasaan bad mood yang tadi memenuhi dadanya perlahan mulai mencair.

“Jadi kita mau ke mana?”

Mireya menoleh penasaran.

Zevran tetap fokus ke depan.

“Kamu yang pilih.”

“Bebas?”

“Bebas.”

Mata Mireya langsung membesar sedikit.

Wajahnya yang tadi lesu akhirnya mulai hidup kembali.

Ia menatap keluar jendela, memperhatikan jalan-jalan ibu kota yang ramai.

Lalu tiba-tiba sesuatu melintas di kepalanya.

Matanya berbinar.

“Eh!”

Zevran melirik singkat.

“Ada apa?”

Mireya langsung mencondongkan tubuh sedikit.

“Yang waktu pertama aku datang ke ibu kota…”

“Hm?”

“Aku lihat dari kereta cepat… ada taman hiburan besar banget.”

Ia menunjuk ke arah kejauhan seolah tempat itu bisa terlihat dari sana.

“Yang kayak negeri lampu-lampu gitu…”

Zevran terdiam sebentar.

Lalu langsung paham.

“Taman hiburan pusat?”

Mireya mengangguk cepat.

“Iya itu!”

Suaranya sampai terdengar lebih cerah.

“Seumur hidup aku belum pernah ke tempat kayak begitu…”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Lalu ia baru sadar, dan langsung tertawa kecil malu.

“Kayaknya norak ya…”

Zevran menoleh padanya.

Tatapannya tenang.

“Tidak.”

Hening sesaat.

“Kalau kamu mau ke sana, kita ke sana.”

...****************...

Mobil pun berbelok menuju kawasan hiburan pusat ibu kota.

Dari kejauhan, cahaya lampu warna-warni mulai terlihat.

Roda bianglala raksasa berputar perlahan di langit sore.

Wajah Mireya langsung menempel hampir ke kaca.

“Wah…”

Matanya benar-benar berbinar.

Ia seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia baru.

Zevran yang melihat dari samping hanya diam.

Namun sudut matanya sedikit melunak.

Sebelum masuk, mereka melewati area pusat belanja yang terhubung dengan taman hiburan.

Mireya melihat beberapa toko pakaian, aksesori, dan kosmetik.

Zevran langsung berkata santai,

“Kalau ada yang kamu mau, ambil saja.”

Mireya langsung menoleh cepat.

“Hah?”

“Belanja dulu kalau mau.”

“Enggak, enggak usah…”

Ia buru-buru menggeleng.

“Aku baru selesai casting, belum punya uang. Masa dibayarin lagi…”

Ia benar-benar merasa tidak enak.

Sudah dibantu banyak.

Biaya rumah sakit ibunya.

Tempat tinggal.

Sekarang bahkan diajak jalan-jalan dan ditawari belanja.

Zevran berhenti melangkah.

Lalu menatapnya datar.

“Nanti kalau kamu sudah gajian, traktir aku.”

Mireya berkedip.

“Eh?”

“Itu bayaranmu untuk hari ini.”

...----------------...

Mireya terdiam beberapa detik.

Lalu sudut bibirnya perlahan terangkat.

Perasaan kusut yang tadi sejak siang menempel di dadanya akhirnya benar-benar lepas.

Ia tertawa kecil.

“Serius?”

“Ya.”

“Kalau nanti aku sudah sukses…”

Ia menunjuk dirinya sendiri bangga.

“Aku traktir kamu makan di restoran paling mahal!”

Zevran mengangkat alis tipis.

“Jangan lupa.”

Mireya tersenyum lebar.

“Deal!”

Dan untuk pertama kalinya hari itu, semangat Mireya benar-benar kembali.

Bukan karena kata-kata motivasi besar.

Bukan karena nasihat panjang.

Tapi karena seseorang diam-diam mengingatkannya bahwa hari ini adalah hari bahagia.

Dan ia pantas menikmatinya.

...****************...

Begitu melewati gerbang utama taman hiburan, Mireya langsung berhenti.

Matanya membulat.

Cahaya lampu warna-warni mulai menyala satu per satu meski matahari belum sepenuhnya tenggelam.

Di kejauhan, bianglala raksasa berputar perlahan.

Di sisi lain, lintasan permainan sihir melayang membelah langit dengan jalur berputar yang nyaris mustahil.

Suara tawa, musik, dan teriakan pengunjung bercampur jadi satu.

Mireya menoleh cepat ke Zevran.

Wajahnya benar-benar bersinar.

“Bagus banget…”

Nada suaranya nyaris seperti bisikan kagum.

Lalu tanpa aba-aba—

ia langsung menarik tangan Zevran.

“AYO!”

Zevran yang tadinya masih berjalan tenang sedikit terhenti.

Alisnya terangkat.

“Kita ke mana?”

Mireya menunjuk ke atas.

“Bianglala dulu!”

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menyeret bos besar itu.

Namun langkahnya tiba-tiba berhenti lagi.

Tatapannya justru terpaku ke permainan lain.

Sebuah roller coaster sihir.

Tidak ada rel penyangga.

Kereta-kereta kecil itu benar-benar melayang di udara, hanya ditopang lingkaran sihir transparan berwarna biru.

Lintasannya berputar acak.

Kadang menukik tajam.

Kadang melesat lurus ke atas.

Kadang berputar melingkar di udara.

Mireya sampai melongo.

“YA AMPUN…”

Ia langsung berbalik.

Matanya berbinar lebih terang.

“Yang itu!”

Zevran menatap ke arah yang ditunjuk.

Ekspresinya tetap datar.

“…Yang itu?”

“IYA!”

Mireya langsung menarik tangannya lagi.

“Kita naik itu dulu!”

Beberapa menit kemudian…

Mireya mulai menyesal.

Kereta sihir itu melesat naik dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Tubuhnya terangkat dari kursi.

Perutnya terasa tertinggal.

“AAAAA—”

Suaranya langsung pecah.

Ia spontan meraih lengan Zevran.

Sedangkan laki-laki di sebelahnya…

mukanya biasa aja.

Tenang.

Selow.

Bahkan rambutnya hampir tidak berantakan.

Mireya yang tadi sempat meremehkan dalam hati bahwa Zevran pasti bakal teriak, malah sekarang dia yang hampir pingsan.

Kereta itu berputar lagi.

“AAAA ZE—ZEVRAN AKU NYESAL—”

Sementara Zevran hanya menoleh sedikit.

“Kamu yang memilih.”

Mireya hampir menangis.

Begitu turun, langkah Mireya langsung sempoyongan.

Ia memegangi perut.

“Pusing…”

Wajahnya pucat.

Zevran menatapnya sebentar.

Sudut bibirnya hampir seperti senyum tipis.

“Masih mau meremehkan ku?”

Mireya langsung manyun.

“Kirain kamu bakal teriak…”

“Kenapa harus?”

Setelah itu mereka lanjut ke arum jeram.

Kali ini petugas taman menghampiri sambil membawa segel sihir kecil.

“Tenang, pakaian Anda tidak akan basah.”

Ia menempelkan rune kecil bercahaya di ujung pakaian mereka.

Lapisan tipis sihir transparan langsung menyelimuti tubuh.

Air yang memercik hanya memantul seperti mengenai kaca tak terlihat.

Mireya langsung kagum.

“Keren banget…”

Selama permainan, dia malah tertawa lepas.

Suara tawanya terdengar ringan dan jernih.

Zevran diam-diam memperhatikannya.

Wajah yang tadi murung kini benar-benar hidup kembali.

Dan itu cukup membuat langkahnya pulang cepat hari ini terasa layak.

Saat langit mulai berwarna jingga tua, mereka akhirnya naik bianglala.

Di bawah, beberapa kotak snack kecil melayang sendiri di udara.

Kotak-kotak itu bergerak perlahan mendekati pengunjung.

Mireya langsung terkejut.

“Hah? Itu bisa terbang sendiri?”

Zevran mengambil salah satunya.

Kotak kecil itu berhenti di depan mereka.

Ia memindai kode pembayaran di permukaan sihirnya.

ting

Kotak itu langsung terbuka sendiri.

Di dalamnya ada popcorn hangat dengan aroma mentega manis.

Mata Mireya langsung berbinar lagi.

“Wahhh…”

Zevran menyerahkannya.

“Pegang.”

Mireya menerimanya sambil tersenyum lebar.

“Enak banget…”

Kabinnya terus naik.

Semakin tinggi.

Semakin tinggi.

Sampai akhirnya berhenti sejenak di puncak.

Dan tepat di saat itu—

matahari mulai tenggelam.

Langit ibu kota berubah oranye keemasan.

Cahaya senja memantul di gedung-gedung tinggi dan kendaraan terbang yang melintas.

Pemandangannya begitu indah sampai Mireya langsung buru-buru mengeluarkan terminal pribadinya untuk memfoto.

“Jangan gerak!”

Zevran menoleh.

“Apa?”

cekrek

Ia memotret langit.

Lalu diam-diam mengarahkan kamera sedikit ke samping.

Siluet Zevran ikut masuk dalam frame.

Mireya tersenyum puas.

“Bagus banget…”

Ia menatap hasil fotonya.

Untuk pertama kalinya hari itu, senyumnya benar-benar tulus.

Dan Zevran yang melihatnya hanya memandang keluar jendela, seolah tidak peduli.

Padahal tatapannya diam-diam terus kembali padanya.

...****************...

Malam itu kota masih dipenuhi cahaya.

Lampu-lampu gedung tinggi memantul di kaca jendela ruang kerja lantai paling atas.

Di balik meja hitam besar, Zevran masih menatap layar terminal pribadinya.

Baris laporan terus bergulir.

Angka.

Kontrak.

Akuisisi.

Laporan berbagai divisi.

Semua berjalan seperti biasa.

Seperti hidupnya selama bertahun-tahun.

Dingin.

Teratur.

Tanpa cela.

Namun jari Zevran berhenti di atas layar.

Tatapannya sedikit kosong.

Entah sejak kapan pikirannya mulai sering teralihkan.

Bukan oleh bisnis.

Bukan oleh rapat.

Melainkan oleh satu sosok perempuan yang kini tinggal di penthouse-nya.

Mireya.

Sudah hampir sebulan.

Satu bulan yang aneh.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, rumah yang selama ini hanya menjadi tempat tidur terasa… hidup.

Dulu, setiap kali pulang, yang menyambutnya hanya keheningan.

Lampu otomatis.

Lorong dingin.

Ruang tamu kosong.

Tidak ada suara.

Tidak ada langkah kaki.

Tidak ada yang menunggu.

Ia bahkan punya beberapa rumah lain di ibu kota.

Penthouse lain.

Apartemen lain.

Tiga rumah pribadi yang jarang disentuh.

Namun anehnya…

kakinya selalu kembali ke tempat yang sama.

Tempat di mana lampu ruang tamu kini sering menyala hangat.

Tempat di mana terkadang ada seseorang tertidur di sofa sambil memegang naskah.

Tempat di mana suara kecil akan bertanya, dan mengirimkan pesan khawatir

{“kamu pulang jam berapa?”}

Zevran memejamkan mata sesaat.

Lalu mengembuskan napas pelan.

“Sepertinya pikiranku mulai aneh…”

Kalimat itu keluar pelan dari bibirnya sendiri.

Dan anehnya, ia tidak membantahnya.

Pikirannya tanpa sadar melayang jauh ke masa lalu.

Saat semuanya belum seperti ini.

Saat ia masih terlalu muda untuk memahami kematian.

Saat kabar itu datang.

Ayahnya meninggal.

Kecelakaan.

Begitu laporan resminya.

Kecelakaan kendaraan di jalur privat.

Sistem sihir dan teknologi mengalami gangguan.

Tidak ada saksi.

Tidak ada bukti kuat.

Yang ada hanya satu orang suruhan kecil yang kemudian ditemukan mati.

Ekor.

Selalu hanya ekor.

Dan sejak saat itu Zevran tahu—

ada seseorang yang sengaja memutus semua jejak.

Ia masih terlalu muda saat itu.

Namun dunia tidak memberinya waktu untuk berduka.

Keesokan harinya ruang rapat sudah menunggunya.

Pemegang saham.

Keluarga cabang.

Para direktur.

Semua mata tertuju padanya.

Anak belasan tahun yang bahkan belum selesai sekolah.

Tapi harus duduk di kursi kepala keluarga.

Yang lebih menyakitkan…

itu bukan tragedi pertama.

Ibunya pernah lebih dulu menjadi target.

Penculikan.

Nyaris tidak selamat.

Zevran masih mengingat wajah ibunya yang pucat saat kembali.

Tatapan kosong.

Tangan yang terus gemetar.

Dan beberapa hari setelahnya…

ayahnya pergi untuk selamanya.

Bukan kebetulan.

Ia tidak pernah percaya itu kebetulan.

Ponselnya bergetar pelan.

Sebuah laporan dari Robert.

Robert pasti tau dari Rhea.

Tentang hasil audisi Mireya.

Zevran membukanya.

Lolos — langsung dipilih untuk peran selir ke-11.

Sudut bibirnya bergerak tipis.

Senyum yang nyaris tidak terlihat.

“Dia berhasil…”

Ada sesuatu yang terasa ringan di dadanya.

Perasaan yang sudah lama tidak ia kenali.

Bangga.

Namun laporan berikutnya membuat matanya sedikit menyipit.

Nama lain muncul.

Luna.

Masih ada dalam lingkaran industri yang sama.

Zevran mengetuk layar pelan.

Tatapannya menggelap.

Ia masih belum sepenuhnya yakin.

Apakah semua yang terjadi pada Mireya di masa lalu hanya kebetulan?

Atau ada seseorang yang sengaja mendorong semuanya?

Kecelakaan ibu Mireya.

Karier yang diinjak.

Agensi lama.

Luna.

Semua titik itu perlahan mulai membentuk garis.

Ia bangkit dari kursinya.

Tatapannya mengarah ke luar jendela.

Cahaya senja mulai turun.

Dan tanpa sadar pikirannya kembali menuju satu tempat.

Penthouse.

Tempat Mireya pasti sudah pulang sekarang.

Mungkin sedang murung.

Mungkin memeluk bantal sambil mengomel sendiri.

Mungkin masih memikirkan kata-kata Luna.

Jarinya meraih kunci mobil.

Hari ini…

ia akan pulang lebih cepat.

Di dalam lift privat, Zevran menatap pantulan dirinya di dinding kaca.

Dulu hidupnya hanya:

kerja.

tidur.

olahraga.

ulang.

Namun kini…

ia mendapati dirinya membeli kue di perjalanan pulang.

Hanya karena merasa seseorang di rumah mungkin sedang butuh sesuatu yang manis.

Sudut bibirnya bergerak tipis.

“Benar-benar aneh.”

Tapi untuk pertama kalinya,

keanehan itu tidak terasa buruk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!